Email: Password:   Lupa Password?
Karakter Kepemimpinan dari Seorang Murid yang Radikal
oleh Charles Christano: 29-03-2011, Dibaca: 3630kali

Pengantar:

Judul ini menuntut penggalian makna yang kompleks. Pemahaman mengenai murid itu sendiri sudah dapat menghabiskan banyak halaman, belum lagi murid yang radikal. Jangan pernah kita lupa ketika berbicara tentang murid, sesungguhnya kita juga harus memikirkan tentang calon pemimpin masa depan kita. Tetapi begitu ada murid harus ada gurunya! Murid yang memiliki karakter pemimpin tanpa dapat ditawar harus mendapatkan guru yang berkarakter pula. Guru semacam itu jelas manusia yang semakin langka. Dia bukan hanya orang yang pandai tetapi yang dapat digugu (dipercayai) dan ditiru (dijadikan teladan), yakni manusia yang berkarakter unggul!

 Untuk “menghasilkan” murid yang radikal, dibutuhkan karakter dari calon murid yang memiliki “keunggulan” pula, paling tidak secara potensial. Bukan rahasia lagi bahwa pada umumnya, tidak sedikit yang pandai dan cerdas malah tidak dapat membeli bangku karena biaya pendidikan semakin tidak terjangkau. Alih-alih sampai menjual sawah atau “warisan” yang memang tidak seberapa, yang diterima malah hanya mereka yang dapat membayar harga tertinggi.Sejak seleksi penerimaan calon murid saja sudah membutuhkan “modal” yang mahal. Di situlah dibuka pintu awal untuk lahirnya para koruptor bagi para “pemimpin” hari esok kita; dari kepolisian, militer, para ahli hukum (calon hakim, jaksa, advokat), juga calon camat, bupati, walikota, gubernur, bahkan petinggi negara yang lebih tinggi lagi.

 Dengan datangnya era reformasi dan demokratisasi menjanjikan fajar baru! Ternyata sampai pemilukada juga bermetamorfosa menjadi pemilu-kadal! Bukannya orang-orang yang memiliki kecerdasan, kemampuan, ketrampilan - istimewanya yang memiliki integritas, kredibilitas yang terbaik - yang “terpilih”, tetapi siapa yang bisa membayar lebih mahal. Ternyata pesta demokrasi, sistim pemilu langsung malah “menyemai” orang-orang licik. Begitu mereka menduduki kursi yang dapat dibeli, mereka langsung menggunakan kalkulator bagaimana harus mengembalikan modal untuk membeli suara rakyat! Parahnya, rakyat yang semakin banyak yang termis-kinkan justru terus diiming-imingijenis kehidupan yang semakin materialistis dan konsumeristis! Pada hal begitu banyak pemilih pada dasarnya memang juga kurang berpendidikan! Betapa mudahnya mereka tergiur dan terbeli hanya dengan sejumlah uang “receh” yang menjadikan banyak mereka terbuai mimpi janji-janji “membela nasib wong cilik” dsb.dsb.

 Kita dipusingkan dengan semakin sarat dan begitu banyaknya mafia yang mengepung bangsa dan negara kita.berbagai mafia tadi memang memiliki jaringan dan jejaring yang begitu sophisticated. Siapa lagi orang-orang kuncinya yang merekayasa dan berkolusi kalau bukan “orang dalam” bahkan para petinggi yang semakin gendut dan buncit, baik lingkar pinggang maupun rekening banknya. Mafia yang satu belum terbongkar sampai tuntas, ditemukan mafia lainnya. Ujung-ujungnya tercium bau bahwa

 Membatasi diri (hanya) dalam bidang murid dan pemuridan, betapa kita dikejutkan bahwa untuk penyediaan buku-buku pelajaran (yang seharusnya menuntut seleksi dari yang tersedia dan ditawarkan di pasar, masih harus juga melalui tender), ternyata malah ada mafianya juga. Kalau hal ini terbukti benar—mengingat konteks mafia hukum kita yang sudah begitu njlimet, ribet dan ruwetnya, pasti bukan tugas yang sukar—ke depan mutu SDM kita jelas lebih ditentukan oleh mafia penyediaan buku pelajaran dan bukan pada anak bangsa yang lebih berhak mendapatkan kesempatan untuk menjadi murid! Ironis sekali ketika kita semakin dituntut untuk bersaing dengan semua Negara dan bangsa yang masing-masing berlomba begitu sengitnya untuk menyediakan SDM yang handal sehingga memiliki nilai “jual” yang tinggi, bagaimana kita akan dapat menemukan calon pemimpin yang berkarakter yang dapat dibanggakan?

 Murid dan Pemuridan dalam Alkitab.

Harus diakui istilah murid dalam PL sedikit sekali disebutkan. Yang dekat dengan istilah murid justru agak mengejutkan, yakni abdi! Misalnya saja “[S]esudah Musa hamba TUHAN itu mati, berfirmanlah TUHAN kepada Yosua bin Nun, abdi Musa” (Yosua 1:1).

 Agar kita langsung dapat melihat kesamaannya, kita akan membandingkan dengan tulisan seorang rabi Yahudi. Inilah pesannya kepada salah seorang murid (anak rohaninya). ‘[A]pa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap me-ngajar orang lain.’ (2 Timotius 2:2).

 Tidak ada salahnya kita dapat membandingkan juga dengan apa yang ditulis oleh seorang rasul yang tidak menjadi martir sampai di usianya yang sangat lanjut! ‘[A]pa yang… telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, yang telah kami saksikan dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup – itulah yang kami tuliskan kepada kamu.’ (1 Yohanes 1:1).

 Dari ketiga ayat di atas ada persamaan mendasar yang mencolok. Hubungan antara guru dengan muridnya tadi bukan hanya semata-mata pada ketika terjadi penyampaian (pemindahan) sejumlah pengetahuan, tetapi ada sesuatu yang lebih esensial dan substansial dari hanya sekedar penyampaian (ilmu) pengetahuan. Kehidupan sang guru begitu erat lekat dengan muridnya. Bukan hanya apa yang didengar oleh murid, tetapi apa yang dilihat, disaksikan, bahkan “diraba”. Adanya “alat peraga” yang hidup secara konkret.

 Yosua hidup begitu dekat dengan Musa selama puluhan tahun. Mutu relasi antara guru dan murid tadi jauh lebih dekat dari pada hubungan bahkan antara Harun (dan Miriam) dengan Musa! Yosualah yang diajak oleh Musa ikut naik ke gunung ketika Musa mempersiapkan diri untuk menerima Dekalog (Sepuluh Hukum)!

 Dalam terang semacam itulah kita menemukan ayat yang berikut dalam PL! “[A]ku harus menyimpan kesaksian ini dan memeteraikan pengajaran ini di antara murid-muridku (Yesaya 8:16).

 Yesaya diperintahkan Tuhan bahwa dia harus menyimpan apa yang Tuhan sampaikan kepadanya dan melindunginya secara rapi dan aman. Dari ungkapan ini kita tahu betapa ada kepercayaan yang sangat besar dari guru kepada para murid! Dalam bagian lain dari kitabnya kita akan tahu mengapa apa yang diberikan Tuhan harus dirahasiakan begitu rupa!

 Sungguh menarik bahwa untuk murid, digunakan לכןיך (limmuwd) atau למןך (limmud) dari akar kata למך (lamad). Memang ada kaitan dengan “ilmu” juga. Bagi kita mungkin berlebihan. Kata (lamad) tadi mengandung makna: orang yang telah diberi pelajaran secara baik, orang yang sudah menjadi terbiasa karena menerima pengajaran.akar kata (lamad) mengandung makna: akar. Dari kata tadi kita mengenal istilah “radix,” lalu istilah bentukannya, “radikal”. Jadi murid yang radikal adalah murid yang mengacu pada akarnya, dari gurunya sendiri! Sedangkan

 Yang tidak kurang menariknya, sekali lagi walau kita kurang nyaman dibuatnya, dalam hal didik-mendidik, akar kata “lamad” tadi dikaitkan erat dengan “galah rangsang” (bdk. Kis. 26:14). Semacam bambu yang diruncingkan ujungnya, sehingga bukan saja menjadikan kita akan sakit kalau menendangnya, bahkan melihatnya saja sudah membuat kita menjadi segan dan kurang nyaman!

 Dalam budaya Timar Tengah, sebagai insentive untuk mengajar murid digunakan “pentung” atau “tongkat” (bdk. Amsal 10:13; 13:24; 26:3; 29:15). Tetapi kalau kita mau jujur, di zaman modern pun kita mengenal istilah “carrot and stick”. Wortel (carrot) merupakan insentif untuk yang berhasil dan berdaya guna, tetapi “pukulan” atau hukuman bagi yang gagal atau tidak produktif! Adanya reward dan pusnishment!

 Kembali pada inti permasalahan kita: para pendidik yang ahli dan piawai, dalam memberikan pelajaran kepada anak didik, bila perlu digunakan pentung, atau tongkat! Istimewanya kepada murid (anak didik) yang nakal dan bandel (bukan hanya malas).

 Mudah-mudahan kita akan lebih mudah memahami makna ayat-ayat yang justru menggunakan istilah murid dalam PL! “[T]uhan ALLAH telah memberikan kepada-ku lidah seorang murid, supaya dengan perkataan aku dapat memberi sema-ngat baru kepada orang yang letih lesu. Setiap pagi Ia mempertajam pendengaranku untuk mendengar seperti seorang murid. Tuhan ALLAH telah membuka telingaku, dan aku tidak memberontak, tidak berpaling ke belakang. Aku memberi punggungku kepada orang-orang yang memukul aku, dan pipiku kepada orang-orang yang mencabut janggutku. Aku tidak menyembunyikan mukaku ketika aku dinodai dan diludahi.’ (Yesaya 50:4-6).

 Menurut logika yang wajar, murid seharusnya mendengar dan bukan untuk (banyak) berbicara (apalagi untuk menasihati atau mengajar orang lain!). Tetapi ayat kita mengejutkan kita! Bukannya murid hanya mendengarkan sebaliknya malah (seakan-akan mendahulukan) agar murid diberi lidah untuk “memberi semangat baru kepada orang yang letih lesu”. Ada semacam filsafat “On the job training”!

 Cara Tuhan Allah dalam memberikan pendidikan kepada para murid rupanya berbeda dari cara kita mendidik orang lain! Allah tidak menghendaki para murid untuk belajar dan terus belajar sehingga kepalanya dipenuhi banyak ilmu tetapi menjadi pasif atau yang lebih buruk lagi pandainya hanya mengeritik! Para murid tidak dilarang untuk mengambil prakarsa, lebih “cepat lebih baik” dalam melakukan praktik pelayanan!

 Ada apa dengan kebanyakan lembaga pendidikan teologia yang ternama yang meluluskan banyak alumni cemerlang? Rupanya untuk menjaga dan memelihara citra dan nama baik kelembagaan, maka para murid dilarang untuk berkhotbah, apalagi mengajar orang lain selagi masih menjadi murid. Minimal mereka harus “menguasai” ilmu berkhotbah. Dan untuk itu para murid harus “menguasai” bahasa-bahasa asli Alkitab! Termasuk bahasa Latin!

 Sementara itu di sekitar kita ada semakin banyak orang yang menderita. Mereka kebingungan! Mereka menjadi putus asa karena harus menunggu giliran yang lama untuk dilayani. Ironisnya para “hamba Tuhan” yang punya nama dan memiliki “jam terbang yang tinggi”, menjadi kelewat sibuk dan semakin tertindih oleh begitu banyak “tugas” dan pelayanan yang sudah antri panjang! Yang sukar dimengerti, seandai-nya mereka-mereka tadi berhasil mendidik murid, bukankah pelayanan yang ter-bengkalai tadi dapat diatasi dengan sistem multiplikasi dan delegasi!

 Janganlah ada yang menyimpulkan bahwa saya menganjurkan untuk siapa pun boleh terjun dalam pelayanan tanpa ada kualifikasi mendasar yang terpenuhi! Saya yakin yang saya apungkan di atas merupakan benang merah yang diajarkan oleh Alkitab.

 Keluaran 18:14 malah cukup dini mengoreksi Musa, hamba Tuhan yang luar biasa! Dia ditegor dan dinasihati oleh mertuanya. Perhatikan ayat 17-26! Bandingkan juga dengan Bilangan 11:11-17!

 Di PB, kita membaca, “[I]a memanggil orang-orang yang dikehendaki-Nya dan mereka pun datang kepada-Nya. Ia menetapkan dua belas orang untuk menyertai Dia dan untuk diutus-Nya memberitakan Injil dan diberi-Nya kuasa untuk mengusir setan.’ (Markus 3:13-15).

 Betapa menarik ketika kata “menetapkan” (ποιεω, poieoo) mengandung makna dan penterapan yang sangat luas termasuk antara lain: terlatih dan memberlakukan, juga menggenapi tanpa harus menunda-nunda. Ketika kata tadi dikaitkan dengan istilah “untuk menyertai Dia” semakin lebih menarik lagi. Para murid ditetapkan untuk bukan hanya mendengar ajaran dan perintah-Nya tetapi juga sesegera mungkin mempraktikkan pelayanan dalam bermacam bentuk dan cara, tetapi mereka juga harus selalu memiliki keterkaitan dan keterhubungan (persekutuan) dengan pribadi Yesus secara dekat dan hangat.

 Kebenaran yang barangkali tidak secara eksplisit segera kita tangkap menjadi begitu jelas apabila kita hubungkan dengan konteksnya, “[K]emudian rasul-rasul itu kem-bali berkumpul dengan Yesus (perhatikan Markus 6:6b-7) dan memberitahukan (melaporkan) kepada-Nya semua yang mereka kerjakan dan ajarkan” (Markus 6:30).

 Untuk diutus-Nya (αποστελλο, apostelloo) mengandung makna: yang disisihkan, dikhususkan, dikuduskan untuk disuruh keluar dengan tugas tertentu. Tetapi kata apostelloo juga terdiri dari kata απο (apo) yang berarti dari sesuatu yang dekat, misalnya berhubungan dengan tempat, waktu atau dari hubungan dengan yang mengutusnya! Itulah sebabnya kita diingatkan, “[A]ku berkata kepadamu: Sesungguhnya barangsiapa menerima orang yang Kuutus, ia menerima Aku, dan barangsiapa menerima Aku, ia menerima Dia yang mengutus Aku.” (Yoh. 13:20).

 Kita menjumpai paralel Markus 6:7 dalam Lukas 9:1-2. Kita mungkin ingin menge-tahui berapa lama Yesus telah beserta dengan para murid dan mengajar mereka sebelum mereka diutus sebagai wakil-Nya. Tetapi rasa ingin tahu kita semakin menjadi-jadi ketika kita membaca,[K]emudian dari pada itu (Luk. 9:1,2) Tuhan menunjuk tujuh puluh murid yang lain, lalu mengutus mereka berdua-dua mendahului-Nya ke setiap kota dan tempat yang hendak dikunjungi-Nya. Kata-Nya kepada mereka (tujuh puluh murid yang lain!): “Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu. Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala. ” (Luk. 10:1-3).

 Keterbatasan ruang tidak mengijinkan kita untuk membahas masalah ini lebih panjang lebar. Yang jelas Yesus hanya mengajar dan mendidik para murid dalam waktu yang pendek, sekitar tiga setelah tahun. Itu pun di antaranya Dia sudah mempercayai mereka untuk segera diutus agar melakukan praktik pelayanan dan pengajaran! (bdk. Yes. 50 di atas!). Dan Yesus pernah “gagal” ketika murid-murid-Nya tidak mampu melayani sebagaimana yang diharapkan! (bdk. Mrk. 9:14-19). Apakah Yesus menjadi malu karena citra-Nya dirusakkan oleh kinerja para murid? Tidak! Sebaliknya kegagalan para murid dijadikan rangsangan untuk para murid mau belajar secara lebih mendalam lagi!

 Keempat Injil memang tidak pernah secara eksplisit mengisahkan di mana dan kapan Yesus mengajar tujuh puluh murid yang lain di luar dua belas rasul! Kira-kira siapa yang mengajar mereka? Kapan dan di mana? Bukankah dapat saja para rasul juga sudah melaksanakan ajaran dan perintah Tuhan untuk merekrut dan mengajar mereka?(cf.2 Timotius 2:2). Kalau rasul-rasul saja bisa gagal, lalu mengapa pula Yesus berani mengutus tujuh puluh murid yang lain? Apakah Yesus memang mau citra-Nya semakin hancur? Yesus tahu benar bahwa kegagalan bukan akhir segala-galanya!

 PB menggunakan istilah μαθητης (mathetes) untuk murid, yakni orang yang belajar! Mathetes berasal dari kata μανθανω, manthano, dari akar kata μαθ, math. Kita juga mengenal istilah matematika. Dengan demikian menjadi seorang murid dituntut muatan usaha yang keras, penuh tantangan dan perhitungan. Para murid harus benar-benar belajar secara sungguh-sungguh, tetapi juga mempraktikkan apa yang diajarkan oleh guru mereka, dan … masih ada “nilai tambah” lainnya yang merupakan ciri istimewa.

 Di atas sudah sempat disinggung keterkaitan dan keterhubungan (persekutaun) yang begitu kental, kuat dan hangat antara murid dengan gurunya. Itulah sebabnya PB dengan jelas menyebutkan istilah: “murid-murid Yohanes (Pembaptis)” Matius 9:14; Markus 2:18. Sedangkan orang-orang Farisi mengklaim sebagai murid-murid Musa (Yohanes 9:28).

 Lalu apa yang dapat membedakan antara murid Yohanes Pembaptis dari murid Musa dan dari murid Yesus? Apakah dari ajaran-ajarannya? Tentu bisa, tetapi tidak mutlak. Dalam praktek hidup pelayanan, betapa ada saja orang terkecoh ketika menilai seseorang karena lembaga pendidikan dan guru-guru yang pernah mengajarnya. Lebih dari pada mencermati ajaran-ajaran (yang memang penting!) ternyata ada faktor lain yang begitu sukar ditangkap!barangkali mengenal mereka yang tamat dari seminari Injili ternyata kepribadiannya tidak injili. Sebaliknya ada juga yang jebolan dari seminari liberal yang terbukti injili benar! Bukan saja ajaran-ajarannya, tetapi kehidupannya begitu otentik, memiliki integritas dan karakter yang mendatangkan kemuliaan bagi nama Tuhan! Anda

  Apanya?

Tanpa banyak membuang waktu marilah kita simak ayat berikut ini! “[S]eorang murid tidak lebih dari pada gurunyaCukuplah bagi seorang murid jika ia menjadi sama seperti gurunya.” (Mat. 10:24,25).

 Dalam dunia persilatan, para guru (suhu) biasanya tidak akan memberikan segala ilmu dan keahliannya kepada para murid agar jangan sampai terjadi ada murid yang dapat menyainginya atau mengalahkannya. Siapa tahu, mungkin ada juga di antara para pemimpin kristiani yang begitu rupa menjaga reputasinya sehingga secara sadar para muridnya tidak diberi “peluang” untuk menjadi sama dengannya, apalagi menjadi lebih baik atau lebih unggul darinya.

 Dari ayat di atas, guru atau lebih tepatnya mentor – pembimbing atau pengasuh yang memiliki hubungan pribadi yang begitu dekat dengan muridnya – akan mengupayakan sedemikian rupa sehingga paling tidak muridnya akan menjadi sama seperti gurunya. Dan ketika ia berhasil, orang lain akan dengan mudahnya mengindentifikasikan murid tadi sebagai murid sang guru.

 Menjelang perpisahan-Nya, Yesus menyatakan beberapa hal yang sangat penting. Dia secara khusus memberi tahu para murid-Nya relasi yang begitu indah, “[K]amu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuattuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yoh. 15:14,15).   oleh

 Hanya dari satu ayat ini saja kita menemukan tambang permata yang kaya raya! Adanya relasi yang sungguh istimewa. Para murid tidak lagi hanya sekadar tetap murid! Mereka mempunyai teladan—contoh konkret—dari Sang Guru dari (segala) yang (telah) diperbuat-Nya di depan mata mereka. Para murid diangkat pada tataran sahabat.bukan tanpa syarat kecuali mereka juga mengikuti jejak teladan sang Guru, mereka juga bukan hanya mendengar tetapi mereka juga bersedia dan siap membayar harga sebagaimana yang dijelaskan dalam Yesaya 50 yang telah kita kutip sebelumnya. Tentunya

 Dari murid menjadi sahabat dibuktikan dengan melakukan atau berbuat apa yang diperintahkan Guru mereka. “Tidak memberontak, tidak memalingkan wajah, bahkan mereka membiarkan ketika punggungnya dipukuli oleh orang, ketika janggutnya dicabuti (dalam budaya Timur Tengah merupakan penghinaan yang mencolok!), bahkan wajahnya diludahi”.

 Pemuridan tanpa usaha pembelajaran yang sungguh-sungguh, tanpa kesediaan dan siap membayar harga mahal karena mematuhi perintah gurunya (jangan lupa istilah tongkat, pentung, pemukul) bukanlah pemuridan yang dikehendaki oleh Yesus. Betapa pun tidak mudah dan beratnya, para murid tidak dibiarkan hanya pandai berteori atau bermimpi! Mereka telah diberi teladan yang begitu mencolok. Dapat dilihat, dipegang atau diraba karena kehidupan-Nya selalu dekat dengan para murid! Istilah “Segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku” membuktikan secara kuat sekali ketaatan sang Anak Tunggal Bapa.

 Untuk dapat lebih memahami kedalaman ketaatan Yesus, Anak Tunggal yang Dikasihi Bapa dan yang seharusnya kita dengar perintah dan kehendak-Nya (cf.Markus 9:7), kita hanya perlu diingatkan akan ayat-ayat ini. “[D]an Ia, yang telah mengutus Aku, Ia tidak membiarkan Aku sendiri, sebab Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepada-Nya” (Yoh. 8:29). “[D]alam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelematkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan. Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah diderita-Nya” (Ibr. 5:7,8).

 Bayangkan apabila Sang Anak Tunggal Bapa agar menjadi berkenan di hati Bapa, dan agar misi-Nya dipenuhi, “Dia sendiri harus belajar menjadi taat.” Dan ketaatan-Nya tadi diwujudnyatakan dengan “Apa yang diderita-Nya,” bagaimana halnya dengan kita? Saya yakin bahwa tidak mungkin seseorang dapat menjadi murid Yesus tanpa mengenal Dia semakin dekat dan mendalam! (bdk. Fil. 1:20,21 dengan 3:10-14). Dan tidaklah mungkin seseorang dapat mengikut jejak langkah-Nya tanpa dia sungguh-sungguh mengenal Dia!

 Oleh seorang murid yang tadinya sering bicara besar tetapi membuktikan dirinya tidak lebih baik dari murid yang lain,dia meninggalkan warisan yang tidak boleh diremehkan. Bayangkan ketika dia harus memalingkan wajah, menyangkal bahwa dia mengenal Yesus hanya karena dituding oleh seorang wanita – tanpa dicabuti janggutnya atau dilidahi mukanya­­—dia bermetamorfosa begitu rupa! setelah direhabilitasi,

 ‘[S]ebab dapatkah disebut pujian, jika kamu menderita pululan karena kamu berbuat dosa? Tetapi jika kamu berbuat baik dan karena itu kamu harus menderita , maka itu adalah kasih karunia pada Allah. Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1Pet. 2:20,21 perhatikan juga ayat-ayat 22-24).

 Orang lain, khususnya yang lagi susah dan menderita serta berputusasa, akan dapat dibangkitkan lagi semangatnya oleh “murid yang diberi lidah untuk menghibur mereka”. Hal itu terjadi karena murid yang memakai lidahnya telah terlebih dahulu dipertajam pendengarnnya oleh Gurunya, setiap pagi, dalam upaya untuk semakin mengenal Sang Guru! Dia tidak sedang mengikuti study “on line” untuk meraih gelar lebih tinggi tetapi mengadakan “direct on line in hot communication dengan Gurunya” sebelum dia memulai pekerjaan dan pelayanannya atau terjebak dalam kesibukan yang begitu melelahkan! Kapankah anda menikmati saat teduh anda yang terakhir dengan Guru anda? Luar biasa bukan?

 Percaya atau tidak, hanya mereka yang pernah disakiti hatinyamereka yang pernah menangis karena diperlakukan secara tidak adil dan terkena fitnah—merekalah yang paling tepat untuk menghibur orang lain yang sedang menderita! Hanya orang yang pernah menangis akan dapat lebih mudah berempati kepada mereka yang sedang menangis.

 Murid-murid akan memiliki karakter pemimpin yang baik dan handal apabila mereka menemukan guru yang juga berkarakter unggul. Sebaliknya, pemimpin yang baik adalah mereka yang tidak takut atau merasa terancam oleh kelebihan muridnya. Sekali lagi hanya Yesuslah yang memberikan keteladanan yang istimewa. Bukan saja semuanya telah Dia berikan kepada murid-murid-Nya, termasuk hidup-Nya, bahkan Dia telah mengangkat mereka menjadi sahabat! Kita juga mendengar, “[A]ku berkata kepadamu: Sesungguhnya jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah” (Yoh. 12:24).

 Seorang pemimpin yang berkarakter unggul tidak akan puas untuk mempertahankan dirinya terus menerus, bercokol di atas kursi kepemimpinannya. Dia akan tahu kapan saatnya dia harus Turun, bahkan “mati” agar terjadilah alih generasi.Hanya dengan cara demikian sajalah masa depan lembaga, termasuk gereja dan lembaga kristiani lainnya, akan mempunyai hari esok yang lebih cerah karena akan tersedia lebih banyak lagi pemimpin pada masanya.

 Murid-murid yang telah belajar dari guru yang berkarakter hari ini, pasti akan menjadi pemimpin yang berkarakter pula di masa depan! Janganlah tergoda mengikuti filsafat: No matter what, I have it MY way!

 Sekali lagi sebelum berpisah dari murid-murid-Nya Yesus berkata, ‘[A]ku berkata kepadamu: Sesungguhnyaia akan melaku-kan juga pekerjaan-pekerjaan yang Aku lakukan, bahkan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar dari pada itu. Sebab Aku pergi lepada Bapa.’ (Yoh. 14:12). barangsiapa percaya kepada-Ku,

 Seorang guru dan pemimpin yang berkarakter unggul, pasti tidak akan merasa terancam oleh murid-murid yang baik dan berpotensi. Kepergiannya tidak akan meningglkan kekosongan, sebaliknya malah akan mempersiapkan parapenggantinya yang lebih hebat lagi karena apa yang ada pada pemimpin dan guru tadi akan dilipatgandakan!

 What is next?

Akan berkepanjangan kalau tulisan ini tidak segera diakhiri. Tetapi sebelumnya, masih ada satu hal yang sangat penting untuk kita pahami semua yang memiliki aspirasi untuk menjadi murid dan sekaligus calon pemimpin yang berintegritas dan berkarakter unggul. Di sekolah yang memiliki disiplin tinggi yang didirikan oleh Tuhan Yesus, tidak mengenal wisuda! Janganlah terkejut dengan ungkapan itu. Walau untuk menggapai dan mengoleksi gelar akademis tidak pernah ada batasnya—asal mau dan punya waktu serta tersedianya dana yang mahal—di sekolah yang bernama “Sekolah yang menjadikan para murid mengumpulkan berbagai bekas luka atau benjolan” memang tidak pernah akan berakhir walau para murid tidak akan mendapatkan gelar kecuali dikenal sebagai murid Yesus Kristus!

 Sekali lagi, menjelang Dia berpisah dari para murid-Nya, Dia berkata, [M]asih banyak hal yang harus Kukatakan kepadamu, tetapi sekarang kamu belum dapat menanggungnya. Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran ....” (Yoh.16:12,13).

 Oh, kiranya tidak seorang pun di antara kita akan berputus asa ketika kita sedang didisiplin sebagai murid-murid Kristus. Kata disiplin itu senditi menunjuk dari kata disciple, murid! Kalau ada yang kelelahan karena sedang memikul beban yang berat, undangan-Nya yang begitu manis tersediakan bagi kita semua. “ [M]arilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.”

 Tetapi kalau kita simak dengan cermat, undangan yang tersedia bagi semua orang yang menjadi lesu dan berbeban berat tadi terbukti bukan untuk semua orang! Bukan karena Yesus berdusta atau tidak konsisten, sama sekali tidak! Simak pula ayat kelanjutannya!

 “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan” (Mat. 11:28-30). Semoga!

 

Oleh Charles Christano (Pendeta Emeritus GKMI Kudus, Jawa Tengah)


Topik Terkait :
Mengembangkan Gaya Hidup Sederhana Dalam Pemuridan
Mengembangkan Gaya Hidup Memberi dalam Pemuridan
Indonesia Mencari Pemimpin: Sebuah Kehausan akan Pemimpin Berintegritas dan Membumi
Mengembangkan Kepemimpinan yang Berintegritas
Green Gospel: Dimensi Ekologis Panggilan Seorang Murid
0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA

1562305

Saat ini ada 80 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
asw...
   Hacked D4RK FR13NDS, 2017-11-04 01:56:02
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09