Email: Password:   Lupa Password?
MAHASISWA KRISTEN SEBAGAI TELADAN DALAM PERUBAHAN KARAKTER BANGSA
oleh Elroy (Teknik Kimia - Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya): 04-07-2009, Dibaca: 3326kali

SIAPAKAH MAHASISWA KRISTEN?

Kalau kita mengingat tonggak sejarah Reformasi 1998 saat para mahasiswa di tanah air bergejolak untuk menggulingkan rezim Soeharto sekaligus memutus mata rantai orde Baru, masyarakat Indonesia sejenak termenung. Perjuangan itu membawa sebuah perubahan. Perubahan yang dipelopori oleh kaum muda, cerdik cendikia yang mengenyam pendidikan tinggi, yang kental dengan segudang idealisme patriotik membela bangsa dan negara! Meminjam pekik Bung Tomo, pahlawan dari Surabaya seolah-olah para mahasiswa itu berteriak lantang: Hidup atau Mati! Saat ini, semua orang pun masih memekikkan semangat yang sama melawan musuh yang berbeda. Bukan lagi angkat senjata, tetapi seperti saat para mahasiswa di tanah air menggulingkan rezim otoriter ala Soeharto, saat ini kaum muda berhadapan dengan penjajahan yang lebih sistematis, yang mengobrak-abrik idealisme dan semangat kebangsaan untuk membangun bangsa dan negara Indonesia.

Kalau boleh kita merenungkan sejenak tentang sosok dinamis pembawa perubahan yang bernama mahasiswa itu, kita tentu bertanya: apakah mahasiswa Kristen turut ambil bagian dalam perjuangan itu? Siapa mahasiswa Kristen saat itu? Apakah semangatnya masih sama dengan sepuluh tahun silam sejak Reformasi bergulir? Tentu, pertanyaan ini menggelayuti pikiran kita sebagai orang-orang Kristen dan bagian dari negeri Ibu Pertiwi ini. Tentu saja, mahasiswa Kristen harus turut ambil bagian dalam setiap perjuangan yang mengarah pada perubahan-perubahan yang radikal di berbagai bidang di negeri ini, seperti di bidang politik, ekonomi, hukum dan bidang-bidang lainnya. Mahasiswa Kristen adalah bagian dari perjuangan membangun dan menyejahterakan negeri Indonesia! Mahasiswa Kristen adalah tulang punggung perubahan segala aspek kehidupan bangsa. Dan bagaimana mahasiswa Kristen mengambil bagian di dalam perubahan itu?

Dalam aras dasar pengajaran Kristen, setiap orang percaya dituntut untuk menjadi garam dan terang bagi dunia ini. Setiap orang yang mengaku dirinya Kristen (baca: pengikut Kristus) yang sungguh (bukan Kristen KTP) harus mengingat bahwa dirinya menjadi bagian dari orang-orang yang gemar melakukan hal-hal yang benar di hadapan Allah. Tidak terkecuali mahasiswa Kristen. Justru sebagai kaum muda Kristen, harapan dan tulang punggung gereja di masa depan, mereka dihadapkan pada suatu situasi yang sangat kompleks untuk menanggulangi adanya pembusukan bahkan kehancuran identitas dan jati diri bangsa Indonesia. Pembusukan dalam sikap-sikap dan karakter yang salah tetapi terus dilakukan, bahkan menjadi semacam budaya yang dianggap wajar oleh sebagian orang. Pembusukan yang menjadi hegemoni, yang telah menguasai pikiran setiap orang yang berdiam di negeri ini. Dan dari kesemuannya itu, yang lebih parah lagi muncul sebuah pernyataan bahwa kalau memang selama berlaku, tidak terjadi masalah apa-apa, mengapa diributkan untuk diubah? Lalu, bagaimana mahasiswa Kristen menghadapi “kebudayaan” praktis semacam ini? Apakah mahasiswa Kristen mampu mendobrak tradisi yang ada untuk melakukan perubahan yang radikal? Nampaknya, apa yang dikatakan oleh Kitab Suci tidak pernah tidak relevan! Mahasiswa Kristen harus tetap menjadi garam dan terang! Menjadi pelopor di dalam perubahan-perubahan karakter bangsa yang rusak oleh budaya pragmatisme, hedonisme dan eksklusivisme berkedok kesalehan rohani yang tidak mau ikut campur dengan urusan bangsa dan negara!

 

MENILAI ZAMAN, MENGUBAH KARAKTER BANGSA..

Pertama-tama, mahasiswa Kristen harus melihat bahwa bangsa Indonesia masuk di dalam pusaran semangat zaman yang saat ini sedang menjangkiti seluruh manusia di muka bumi. Semangat zaman macam apa? Semangat zaman yang mengobarkan pertalian antara sikap pragmatis dan kemunafikan yang berkedok kesalehan. Sederhananya, semua orang telah mengenal apa itu kebenaran. Tetapi, bagaimana mereka mengimplementasikan kebenaran itu? Baik sikap pragmatis dan kemunafikan berkedok kesalehan selalu berusaha untuk mengatakan yang benar itu benar dan salah adalah salah. Kata Adolf Hitler, kalau kepalsuan diucapkan seratus kali, maka akan menjadi kebenaran. Wah, sungguh itulah penyakit yang saat ini sedang menjangkiti setiap orang.

Sikap dan karakter kita telah dirusak oleh pikiran-pikiran praktis semacam itu. Kita seakan tersekap dalam batasan teori dan praksis. Kita seolah-olah sulit untuk mengejawantahkan kebenaran itu sebagai sesuatu hal yang harus, dan bukan ditawar-tawar! Ditambah lagi kita terlalu permisif dengan menginjinkan semua hal memenuhi pikiran kita tanpa ada filter yang menyaring semua informasi yang kita terima. Jadilah setiap orang di negeri ini bimbang, limbung dan tidak memiliki standar yang jelas dalam memutuskan sesuatu. Alangkah berbahayanya jika suatu bangsa terjebak dalam keadaan seperti ini! Bangsa yang bingung terhadap jati diri, karakter dan prinsip-prinsip kehidupan berbangsa dan bernegara. Bangsa yang sedang bergerak menuju sebuah kehancuran peradaban manusia yang penuh dengan kebimbangan dan ketidakmengertian terhadap apa yang benar dan salah!

Mahasiswa Kristen harus melihat permasalahan sikap dan karakter bangsa sebagai bagian integral proses ke arah perubahan yang akan dilakukan. Semua perubahan itu harus lahir dari diri sendiri, disadari, dan tidak bisa dimanipulir sesuai kepentingan kelompok atau golongan tertentu. Mahasiswa Kristen harus memiliki semangat yang berbeda dalam melakukan adanya perubahan yang radikal itu! Mahasiswa Kristen harus terlebih dahulu menjadi model dan strategi dalam perubahan karakter bangsa. Sederhananya Mahasiswa Kristen menjadi agen-agen perubahan! Mahasiswa Kristen yang berisi orang-orang cerdik-cendikia, pemikir yang bijak-bestari dan kaum idealis yang senang memompa semangat orang lain untuk bergerak maju, menyongsong sebuah perubahan!

Karakter bangsa yang harus diubah tentu sangat kompleks dimensinya. Dimensi-dimensi itu meliputi semua hal yang bersentuhan dengan kehidupan manusia-manusia Indonesia yang hidup dari waktu ke waktu, dan bergerak dalam zaman yang senantiasa silih berganti disertai semangat yang selalu berbeda. Saat ini, secara real kita melihat bagaimana bangsa ini sedang mengalami apa yang disebut krisis karakter bangsa. Krisis yang meliputi bidang-bidang kehidupan seperti krisis karakter dalam politik, dimana para politikus lebih senang bermain-main dengan kekuasaan, dan melupakan amanah rakyat. Krisis karakter dalam ekonomi mengantar bangsa menuju kehidupan rimba yang menekankan kekuatan modal yang dikuasai oleh pihak-pihak tertentu yang cenderung memonopoli perekonomian, menghalau kaum marginal, dan menghempaskan kompetitor ekonomi dengan cara-cara yang merusak moral dan etika dalam dunia ekonomi. Krisis karakter dalam hukum, membutakan bangsa ini terhadap hadirnya kebenaran dan keadilan. Dan yang lebih parah lagi, krisis karakter di dalam kehidupan keberagamaan. Pernyataan-pernyataan tolerasi hanya sebatas di bibir, dan pada prakteknya seringkali melukai sesama pemeluk agama dan cenderung menelurkan tendensi berbau keagamaan yang lebih kepada sikap menjelek-jelekkan dan menyudutkan salah satu pihak. Memang suatu hal yang ironis, namun telah membudaya dalam mata rantai generasi bangsa ini. Dan bila diurai lebih jauh, maka kita bisa melihat bahwa negeri ini memang sedang mengalami krisis berkepanjangan, kalau tidak mau disebut krisis akut!

 

KEBENARAN – PROGRESIF – RADIKAL – REVOLUSIONER 

Mahasiswa-mahasiswa Kristen memiliki senjata yang tangguh dalam menghadapi krisis karakter yang melanda bangsa ini. Apakah itu? Waktu! Mahasiswa Kristen harus berlomba dengan waktu untuk dapat segera berbenah, mengatur strategi, menjadi model perubahan karakter bangsa. Satu-satunya cara untuk menjadi agen perubahan yang efektif adalah dengan menjadi teladan di dalam setiap gerak-langkah kehidupan. Perjalanan kehidupan menuju perubahan adalah perjalanan panjang bagaimana memberikan teladan yang benar kepada setiap elemen bangsa. Mulai dari kaum papa hingga orang kaya yang hidup dalam belantara persaingan yang berderap tiada akhir. Sebuah teladan. Sebuah kesadaran untuk menjadi agen peubah, dan bukan diubah oleh zaman.

Teladan pertama mengajarkan bahwa mahasiswa Kristen semestinya menjadi orang-orang yang memihak kepada kebenaran. Kebenaran yang bukan menjadi milik sekelompok orang, tetapi kebenaran Allah saja. Kebenaran yang tidak dimanipulir oleh segelintir orang karena memiliki kepentingan khusus dibalik pernyataan-pernyataan kebenarannya, dan juga bukan kepalsuan yang diucapkan seratus kali hingga menjadi kebenaran! Lalu, bagaimana kebenaran Allah itu dikenali? Kuncinya hanya satu, mahasiswa Kristen harus digodok dalam suatu pembinaan Kristen yang memberikan orientasi berpikir untuk mengenal Allah dan kehendak-Nya. Itu berarti mahasiswa Kristen harus memiliki keintiman dengan Allah, kehidupan spiritualitas yang berpusat pada Allah. Mahasiswa Kristen menyadari bahwa setiap aspek dalam kehidupan ini adalah panggung kemuliaan dimana Allah menyatakan kehendak-Nya atas setiap umat manusia. Dan mahasiswa Kristen harus kembali pada dasar kehidupan kerohaniannya yang sejati: hidup bagi Allah!

Teladan kedua memberikan ide kepada mahasiswa Kristen untuk bergerak maju di dalam sebuah perjuangan bagi perubahan karakter bangsa. Mahasiswa Kristen harus memiliki semangat yang progresif! Semangat untuk maju! Maju bukan asal hantam kromo, asal nekat, tetapi maju dengan strategi-strategi otentik, ide-ide baru yang menyegarkan pemikiran, yang menjadi kekuatan untuk menghantam kebobrokan moral dan etika zaman ini. Semangat untuk maju berarti siap untuk ditempa, dididik, digembleng untuk tekun dalam mengerjakan studi, menggunakan waktu yang ada dengan sebaik-baiknya, memanfaatkan kemajuan teknologi dan komunikasi untuk bergerak mengarahkan perubahan karakter bangsa ini. Mahasiswa Kristen memanfaatkan semua fasilitas itu sebagai sarana membentuk diri menjadi makin progresif, bukan mandek, tetapi terus menggedor pintu-pintu kemapanan yang bobrok dan menina-bobokkan bangsa ini.

Teladan ketiga menginspirasi kita untuk menuntut segala perubahan itu secara radikal. Bukan setengah-setengah, apalagi suam-suam kuku, berkubang dalam kepura-puraan, tetapi sejujurnya mengenal apa yang benar sebagai benar dan salah adalah salah. Mahasiswa Kristen tidak berkompromi untuk melegalkan sikap dan karakter yang salah di dalam perilaku kehidupan sesehari. Semua permasalahan dilihat tuntas sampai ke akar-akarnya sehingga jelas bagaimana bersikap dan bertanggung jawab untuk menyelesaikannya. Memandang permasalahan karakter bangsa hanya di permukaan saja, sama halnya membiarkan makna kebenaran dikaburkan dan mengizinkan pembusukan terjadi di dalam kehidupan setiap pribadi.

Teladan keempat menuntun kita menjadi kaum muda yang revolusioner. Kaum muda yang tidak asal menjiplak, meniru kebudayaan orang lain kemudian mengeterapkan dalam kehidupannya. Revolusioner itu berarti menjadi kaum muda yang benar-benar beda di dalam garis-garis perjuangan dan semangat pergerakannya. Bukan asal beda, tetapi memang berbeda dengan apa yang sedang ditawarkan oleh zaman ini! Bukan ikut arus, tetapi berani menerjang arus yang saat ini seolah-olah menjadi tren dan digemari oleh banyak orang. Jika sebagian orang berpikir bahwa hidup hanya sekali, sehingga harus dipuas-puaskan untuk menghisap kenikmatan dunia, kaum muda Kristen tidaklah demikian! Kaum muda Kristen justru harus berani mengatakan hidup memang sekali, tetapi bukan untuk mencari kesenangan diri, kenikmatan dunia, tetapi bagaimana kita menjadi manusia-manusia yang memaknai kehidupan sebagai medan perjuangan untuk menyuarakan apa yang benar, apa yang baik, apa yang suci, dan apa yang sedap didengar oleh telinga! Itu berarti kehidupan kaum muda Kristen benar-benar diberdayakan sebagai sebuah kehidupan yang dianugerahkan Allah kepada kita! Kaum muda Kristen benar-benar menyadari bahwa kiprah juangnya tentulah untuk kepentingan, kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara.

 

MISSION IMPOSIBBLE?

Tentu setiap orang yang berharap terhadap adanya perubahan karakter bangsa tidak hanya ingin melihat sebatas wacana, hitam di atas putih, dan kata-kata yang manis. Perubahan karakter bangsa berarti keberanian dan kesiapan setiap orang untuk berani melangkah, mengambil keputusan dan melakukan apa yang menjadi komitmen bersama di dalam memperjuangkan perubahan itu sendiri. Kaum muda Kristen sebagai penggerak, pendorong, atau lebih tepatnya sebagai teladan harus memiliki sikap yang demikian. Tidak ada lagi keraguan untuk menyuarakan kebenaran, tidak ada lagi kesungkanan untuk mengatakan benar adalah benar dan salah adalah salah. Karakter yang dibentuk, ditempa dengan cermat di dalam upaya menumbuhkan generasi siap juang menghadapi tantangan zaman haruslah menjadikan perubahan itu sebagai awal terbentuknya generasi baru yang berbalik menantang zaman! Generasi yang berubah karakternya dan berbalik memberikan tantangan kepada zaman ini. Mungkinkah?

Misi kaum muda Kristen sebagai agen perubahan tidak akan menjadi mission imposibble jika setiap mahasiswa Kristen berani menegaskan sikap dan menjadi teladan di dalam kehidupan sesehari. Teladan di dalam kebenaran dan kekudusan hidup. Bukan karena muda, kemudian dianggap remeh dan diabaikan, tetapi justru mahasiswa Kristen berani membuktikan bahwa dirinya adalah tulang punggung perjuangan Gereja dan bangsa di masa depan. Sekecil apapun teladan yang diberikan seperti membuang sampah pada tempatnya, menghentikan kendaraan ketika lampu merah menyala, sabar dalam menunggu antrean adalah sikap-sikap kecil (baca: sepele) yang kadang justru diremehkan dan membawa malapetaka.

Sudah saatnya mahasiswa Kristen mengambil peranan yang lebih luas di dalam perubahan karakter kehidupan bangsa. Mahasiswa Kristen harus menjadi teladan, contoh yang sehat di dalam seluruh tingkah lakunya. Bukan hanya ortodoksi yang kokoh, tetapi juga ortopraxis yang dipertajam dengan semangat-semangat juang seorang militan yang siap berkorban demi sebuah perubahan. Seorang mahasiswa Kristen yang injili, bahwa dalam bertutur dan bertindak selalu seiring-selaras, tidak meniru ilmu katak yang menyikut kanan-kiri, dan menjilat ke atas. Kaum muda Kristen yang dengan kesungguhan memiliki kerinduan untuk menghadapi setiap permasalahan dengan pikiran dan wawasan yang luas, sikap-sikap moderat yang berani berdiskusi merangkai ide, gagasan dengan segenap kaum revolusioner untuk menyusun strategi perubahan yang bijak lagi bermanfaat bagi seluruh umat di tanah air.

Kaum muda Kristen, kamulah kampiun-kampiunnya pena, maka gerakkanlah penamu setajam ujung jemarinya Rama, kamu kampiun-kampiun organisasi, susunlah benteng harapan manusia menjadi benteng yang menahan gempa, kamu kampiun-kampiunnya mimbar, dengungkanlah suara bentengmu hingga menggetarkan udara. Tumpakanlah segenap jiwa ragamu ke dalam perjuangan di dalam kebenaran. Tumpahkanlah segenap jasmani dan rohanimu ke dalam perjuangan menggapai perubahan, tumpahkanlah seluruh hidupmu sebagai persembahan yang hidup dan berkenan di hadapan Allah.

Selamat berjuang wahai kaum muda Kristen! Jadilah teladan di dalam kekudusan hidupmu!

 

 


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA

975285

Saat ini ada 35 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53