Email: Password:   Lupa Password?
MENYATAKAN KEBENARAN DI TENGAH DUNIA YANG TIDAK BENAR
oleh Redywan James (Psikologi Universitas Pendidikan Indonesia Bandung): 04-07-2009, Dibaca: 2615kali

Hidup Mahasiswa…! Hidup Mahasiswa…! Hidup Mahasiswa…! Mungkin inilah seruan yang pertama kali akan didengar oleh mahasiswa baru pada hampir seluruh universitas yang ada di Indonesia. Bagaimana tidak, semboyan ini sepertinya masih mampu menumbuhkan dan membangkitkan idealisme sang calon agen perubahan (Agent of Changes). Namun, apakah status mahasiswa itu masih cukup berarti untuk dibanggakan? Kenyataannya, mahasiswa saat ini cenderung melakukan hal-hal yang negatif seperti demonstrasi yang mengarah kepada perkelahian atau hanya mengorupsi waktu dan ilmu. Bagian inilah yang semestinya direnungkan kembali.

 

PERAN STRATEGIS MAHASISWA

            Tak dapat dipungkiri, mahasiswa merupakan aset paling berharga sekalipun memiliki presentasi hanya sekitar 2 % dari total jumlah penduduk Indonesia (Statistik Indonesia, 2009). Mahasiswa mendapat tempat istimewa karena mereka dianggap kaum intelektual yang diharapkan dapat mengimplementasikan ilmunya untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat. Selain itu, mahasiswa juga masih dianggap sebagai suatu kelompok yang dapat menyuarakan sebuah perubahan dalam segala bidang.

Rekam jejak sejarah reformasi tahun 1998 juga menunjukkan kenyataan bahwa mahasiswa memiliki peranan yang penting saat terjadinya proses reformasi. Pada peristiwa Mei 1998, ribuan mahasiswa berhasil memaksa Presiden Soeharto untuk mundur dari jabatannya. Sejarah juga mencatat Pergerakan Boedi Oetomo (1908) menandai munculnya sebuah angkatan pembaharu dengan kaum terpelajar dan mahasiswa sebagai aktor utama. Misi utamanya adalah menumbuhkan kesadaran kebangsaan dan hak-hak kemanusiaan di kalangan rakyat Indonesia untuk memeroleh kemerdekaan dan membebaskan diri dari penindasan kolonialisme. Perjuangan itu tidak pernah berhenti hingga saat ini dan masih akan terus berlanjut. Mahasiswa memang masih dianggap sebagai komponen penting sekaligus oposisi dalam kelangsungan roda pemerintahan bangsa.

Tidak hanya di Indonesia, mahasiswa di berbagai bagian dunia telah mengambil peran penting dalam sejarah suatu negara. Perancis setidaknya menjadi salah satu negara yang terkenal dengan perjuangan kemahasiswaan yang memicu Krisis Mei yang tercatat dalam sejarah sebagai krisis paling hebat di Prancis sepanjang abad ke-20. Mereka juga memelopori pemogokan umum menyeluruh selama dua bulan pada Mei - Juli 1968. Di Hungaria, Dewan Mahasiswa Revolusioner  menuntut kemerdekaan, kebebasan, dan pengusiran Uni Soviet melalui Manifesto 14. Di Korea Selatan, gerakan mahasiswa menuntut pemilu ulang yang demokratis pada tahun 1960. Pada akhirnya, tuntutan mahasiswa memaksa militer untuk mengambil alih kekuasaan dan menurunkan rezim Dr. Syngman Rhee yang telah berkuasa selama 12 tahun. Setelah pemilu ulang disetujui, mahasiswa membentuk sebuah jaringan organisasi mahasiswa untuk melakukan pemantauan pemilu.

            Peran mahasiswa menjadi strategis di saat perjuangan dalam sebuah negara sudah mencapai klimaks. Karena dari mahasiswa lah akan muncul sejuta ide, pergerakan, dan kebersamaan yang memungkinkan pergerakan itu akan bertumbuh kembali. Semangat memperjuangkan keadaan itu memang menjadi nilai strategis dari mahasiswa sendiri.

            Namun, apakah nilai perjuangan saat ini masih memiliki cita rasa yang sama seperti saat pertama kali muncul? Inilah bagian yang seharusnya menjadi pertanyaan besar yang perlu dijawab dan direnungkan.

 

KRISIS KARAKTER BANGSA

            Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama dan mempunyai kesamaan (Anthony, 1986). Kesamaan inilah yang akhirnya membawa mereka pada semangat nasionalis. Seiring berjalannya waktu dan proses yang dilalui oleh masyarakat yang memiliki kesamaan, maka akan muncul suatu keinginan. Salah satu keinginan yang mungkin muncul adalah keinginan untuk membawa bangsa ke arah yang lebih baik. Namun, seiring proses itu juga, peluang dan kecenderungan munculnya krisis akan ada. Tinggal bagaimana orang-orang yang ada di dalamnya tetap teguh memegang cita-cita yang dicetuskan oleh pendiri bangsa.

            Melihat bangsa Indonesia sejak proklamasi mungkin akan mendekatkan kita pada proses dan perkembangan yang terjadi. Selama itu pula mahasiswa yang datang silih berganti, entah sudah berapa mahasiswa yang dihasilkan oleh bangsa ini. Tapi, sudahkah kita melihat sebuah perubahan yang berarti? Jangankan berharap terjadinya sebuah perubahan, mungkin saja mahasiswa yang sudah lulus dari angkatan sebelumnya justru menjadi beban dan penyebab krisis karakter di bangsa sendiri.

            Mari kita melihat sejenak pada mahasiswa angkatan 66 yang idealis dan “berhasil” menumbangkan tampuk kekuasaan Ir.Soekarno. Mungkin puncak kepemimpinan telah lewat dari para mahasiswa angkatan  ini, tapi apakah ada hasil yang terlihat? Mahasiswa angkatan 71 yang sempat berusaha menggulingkan orde baru, walaupun tidak berhasil namun setidaknya sudah mencoba, saat ini masih tetap saja tidak menunjukkan hasil yang lebih baik. Angkatan 98? Mungkin lebih berdengung. Secara analisis beberapa tempat-tempat strategis pemerintahan juga diisi oleh angkatan ini, minimal tahap memasuki. Namun, adakah dampak yang begitu berarti?

            Bagi sebagian orang, krisis merupakan topik yang tidak asing untuk dibicarakan. Namun, ketika krisis diarahkan pada krisis karakter, maka yang harus difokuskan adalah pribadi yang ada di Indonesia. Hanya satu yang menjadi masalah utama dalam krisis karakter manusia Indonesia saat ini yaitu, saat orang yang mengetahui kebenaran tidak lagi menyatakan kebenaran itu, namun menyembunyikan bahkan membalikkan segalanya demi gelar, pengakuan, dukungan hingga untuk sejumlah uang. Bagian ini menjadi dasar dari segala permasalahan yang muncul.

Douglas Groothuis dalam bukunya Pudarnya Kebenaran (Momentum, 2003) sekali lagi menggambarkan bagaimana kebenaran dan orang-orang yang menyatakan kebenaran itu diserang dari segala arah. Orang yang merangkul kebenaran sebagai yang utama telah direndahkan sedemikian rupa. Karena itu wajar orang cenderung memilih untuk tidak menyatakan kebenaran. Ketidakberanian menyatakan kebenaran sejati menjadi masalah serius dan menjadi sumber segala krisis karakter bangsa Indonesia. Postmodernisme menjadi begitu diagungkan sebagai kebenaran dalam hidup. Kebersamaan, rasa tolong-menolong, dan saling percaya menjadi tidak begitu penting.

            Saat ini masyarakat kita telah kehilangan sifat tolong-menolong yang dulu menjadi ciri khas masyarakat Indonesia. Saling mencurigai dan eksklusivisme semakin meningkat. Kearifan lokal semakin memudar, serta berbagai masalah dalam bidang sosial, budaya, agama, ekonomi dan politik. Kebersamaan dan rasa saling percaya sepertinya menjadi sebuah barang yang begitu mahal harganya. Nilai kebhinekaan sepertinya sudah pudar dan tidak lagi dihiraukan. Oleh karena itu, tidaklah heran jika semakin banyak muncul perilaku yang mengarah pada penindasan dan diskriminasi hak banyak orang. Di sana-sini kita melihat pelanggaran moral, etika, dan hukum.

Kita juga masih melihat terjadi penindasan rakyat kecil. Calon anggota dewan yang semula menjanjikan sesuatu bagi rakyat tidak lagi menghiraukan bahkan melupakan janjinya saat berada di kursi dewan. Pemerintahan dari pusat hingga aparat daerah menjadi lebih mementingkan kekuasaan kelompok tertentu dari pada kepentingan masyarakat banyak. Ironisnya, semua itu sering dilakukan dengan menyembunyikan kebenaran yang ada.

Merupakan hal yang lumrah jika aparat pemerintahan dari yang rendah hingga atas terlibat kasus korupsi. Masyarakat semakin bosan menerima berita masuknya sang wakil rakyat dalam bui penjara. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Kejaksaan Agung setali tiga uang. Kondisinya tidak begitu berbeda. Orang-orang yang ada di dalamnya juga turut serta dalam kasus pelanggaran hukum.

Kondisi seperti ini akan merusak rasa kebersamaan dan kerja sama yang pada akhirnya akan mengarah pada disintegrasi bangsa. Kondisi ini semakin tidak menguntungkan karena bangsa ini sedang diperhadapakan  pada tantangan globalisasi yang begitu pesat.

 

MAHASISWA KRISTEN SEBAGAI AGEN PERUBAHAN SESUNGGUHNYA

            Melihat kondisi demikian, mahasiswa Kristen seharusnya menyadari peran kebenaran yang sejati dalam kehidupan berbangsa. Mahasiswa memiliki peran sebagai agen perubahan karena intelektualitasis dan idealismenya akan kebenaran. Tentunya, yang menjadi agen perubahan adalah mahasiswa yang mengerti nilai kebenaran itu sendiri.

Ludwig Witttgenstein dalam bukunya Culture and Value mengatakan, “Kebenaran hanya bisa dikatakan oleh seseorang yang telah berada di dalamnya; bukan oleh seorang yang masih hidup di dalam kesalahan dan hanya sekali-kali keluar dari kesalahan kepada kebenaran”. Seseorang tidak akan pernah melakukan kebenaran jika hidupnya belum berada dalam terang kebenaran itu sendiri. Begitu juga dengan mahasiswa sang agen perubahan yang ingin menyatakan kebenaran itu. Mahasiswa sebagai agen perubahan haruslah memiliki dua syarat:

1. Mahasiswa Kristen yang hidup taat, mengerti prinsip kebenaran karena terang itu sudah ada didalam dirinya. Hal ini sekali lagi menegaskan bahwa mahasiswa yang hidupnya berada di luar Kristus tidak akan pernah menjadi agen perubahan itu. Tidak peduli seberapa pintar, cerdas, taat, dan seberapa visionernya dia, semua hal yang dia lakukan hanyalah kesemuan dan tidak bernilai kekal.

2.  Kualitas Hidup yang berintegritas

     Bagian ini berbicara tentang kualitas hidupnya. Sebagaimana Kristus menginginkan kita hidup taat menjadi garam dan terang di dunia ini (Mat 5:13-16). Mahasiswa yang menjadi agen perubahan adalah mahasiswa yang hidupnya terus berjuang untuk taat. Mahasiswa Kristen tidak cukup sekedar tahu arti kebenaran namun dia harus melakukannya dalam kehidupan ini.

Melakukan kebenaran di tengah-tengah dunia yang tidak benar tidak lah mudah karena menuntut perjuangan hidup yang berintegritas.

 

AGEN PERUBAHAN DALAM KRISIS KARAKTER BANGSA

            Krisis memang bagian sebuah bangsa, namun apakah kondisi itu adalah bagian yang menguntungkan?  Tidak dapat dipungkiri bahwa negara maju pun pada awalnya mengalami krisis. Krisis seolah-olah menjadi satu bagian yang tak terpisahkan dalam proses majunya sebuah negara. Di dalam proses inilah, dibutuhkan peran mahasiswa yang mengerti kebenaran sejati. Di saat dia mengerti kebenaran, maka dia akan menyatakan kebenaran itu.

Krisis karakter bangsa yang sudah terjadi di Indonesia menjadi tantangan bagi orang-orang yang disebut agen perubahan. Hanya satu yang perlu dilakukan yaitu berjuang untuk menyatakan kebenaran di mana pun, dalam hal apa pun dan dengan cara apa pun. Integritas hidup anak TUHAN menjadi harga mutlak yang harus dihidupi. Sebagaimana Daniel yang hidupnya hanya taat kepada Allah, ia menyatakan apa yang benar dalam kondisi apa pun. Bagaimana dia dapat menyatakan kebenaran itu jika dia tidak menghidupi Allah di dalam dirinya? Melalui relasi yang dekat dengan Allah, dia takut akan TUHAN. Bagian inilah yang mendasari kehidupan Daniel.

            Terjun dalam segala bidang yang ada memang menjadi tujuan utama dari mahasiswa agen perubahan. Namun, ada waktunya bagi kita untuk hadir dalam bidang-bidang tersebut. Sebelum kita diberi kesempatan untuk hadir dalam bidang dan tanggung jawab yang lebih besar, mari kita memulai menyatakan kebenaran dari hal-hal terkecil dan sederhana. Belajar bersungguh-sungguh sebagaimana tanggung jawab utama kita saat ini karena kita tahu bahwa itulah yang harus dilakukan. Tidak melakukan korupsi seperti menitip absen atau laporan copy paste karena itu adalah yang benar. Mengerjakan ujian dengan sungguh-sungguh dan dengan kemampuan sendiri. Mencintai produk dalam negeri dan membantu masyarakat sesuai bidang ilmu yang kita pelajari untuk menyejahterakan masyarakat di sekitar kita.

Semangat seperti inilah yang harusnya dibangun oleh mahasiswa Kristen untuk dapat mengambil peran besar yang TUHAN anugerahkan untuk kita lakukan. Jika kita telah menyatakan kebenaran itu dalam hal-hal terkecil di sekitar kita, maka TUHAN pun akan mempercayakan bagian yang besar yang akan kita lakukan nantinya. Jika Anda bertanya kepada saya, apakah saya sudah melakukannya dengan baik? Maka jawabannya adalah saya masih sedang berjuang! Dan saya akan kembali bertanya kepada Anda, maukah Anda ikut bersama saya? Menyatakan kebenaran di tengah dunia yang tidak benar!


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA

1499222

Saat ini ada 81 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
asw...
   Hacked D4RK FR13NDS, 2017-11-04 01:56:02
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09