Email: Password:   Lupa Password?
MEMILIKI KARAKTER ILAHI : LANDASAN SEMANGAT PERJUANGAN MAHASISWA KRISTEN SEBAGAI AGEN SOSIAL PERUBAHAN UNTUK MEMBENAHI KRISIS KARAKTER DI I
oleh Ricky Septian (Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada Yogyakarta): 04-07-2009, Dibaca: 4534kali

Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang lahir pada tanggal 17 Agustus 1945, saat ini dihadapkan pada tantangan pembangunan yang kian kompleks untuk mengatasi dampak krisis global, sebagaimana dialami pula oleh bangsa-bangsa lain. Globalisasi yang ditandai dengan perkembangan teknologi informasi telah membuktikan bahwa hanya bangsa yang memiliki karakter kuat dan tangguh yang akan sanggup menghadapi berbagai tantangan pembangunan. Semua negara, termasuk bangsa Indonesia, mendambakan menjadi bangsa yang kuat dan tangguh, karena bangsa yang tangguh akan sanggup untuk mengubah berbagai tantangan menjadi peluang yang menguntungkan bagi kemajuan rakyatnya.

Namun, sayangnya perjalanan bangsa Indonesia menuju bangsa yang tangguh dan mandiri, serta berjiwa pancasilais menemui tembok tebal. Penyebabnya adalah hilang atau memudarnya  ”karakter bangsa” kita.

Dalam setahun terakhir saja, kita dapat melihat fenomena meresahkan berupa merebaknya seks bebas di kalangan pelajar dan mahasiswa. Tahun 2008, publik diresahkan dengan munculnya geng motor dan geng nero di berbagai kota yang beranggotakan remaja pelajar SMP dan SMA, yang tak segan melakukan aksi perampasan dan penganiayaan. Kekerasan di lingkup perguruan tinggi juga terjadi, dimana mahasiswa senior ”mengerjai” adik angkatannya secara berlebihan, hingga berujung kekerasan fisik. Masalah tidak berhenti disitu. Semakin banyak generasi muda yang terjerumus dalam pemakaian narkoba dan obat-obat terlarang. Kesemuanya itu adalah komplikasi sedikit dari banyak kasus demoralisasi dan dehumanisasi di negara ini.

Bukan hanya di kalangan rakyat biasa, di kalangan elit pemerintahan pun kita dapat melihat bahwa degradasi karakter terlihat pada sektor kepemimpinan yang mengalami krisis. Kehidupan berbangsa telah kehilangan tokoh panutan yang seharusnya mampu mengayomi masyarakat. Konsep demokrasi yang digembor-gemborkan oleh para pemimpin hanya menghasilkan politisi tamak, rakus, dan korup. Rasanya wajar jika banyak orang mengatakan banyak pemimpin yang haus akan kekuasaan. Mereka berlomba-lomba menjadi penguasa untuk mendapat fasilitas, uang, dan pengaruh. Kekuasaan dimanfaatkan untuk kepentingan kelompoknya. Mereka seakan lupa bahwa kekuasaan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.

Para politisi mempertontonkan aroma persaingan dan permusuhan di hadapan rakyat banyak. Sindir-menyindir rasanya adalah hal yang biasa untuk menimbulkan kesan ”buruk”lawan politiknya di mata masyarakat. Kemajuan bangsa, yang dapat diukur dengan menurunnya angka kemiskinan, kebodohan, dan pengangguran yang seharusnya menjadi prioritas mereka, luntur dan mereka abaikan sementara hanya untuk mengejar obsesi menjadi pemimpin negeri. Namun, setelah menjadi pemimpin, belum tentu mereka akan benar-benar fokus menangani permasalahan bangsa dan memenuhi harapan masyarakat. Korupsi dan godaan duniawi mudah menjerat seluruh elemen bangsa ini, dari tingkat tertinggi sampai terendah. Kepentingan pribadi dan golongan akhirnya muncul sebagai pemenangnya, mengalahkan kepentingan bangsa.

Disisi lain, tidak bisa disangkal bahwa diskriminasi masih menjadi bumbu pahit dalam perjalanan bangsa yang hampir menginjak usia 64 tahun ini. Kita sebagai umat Kristiani menyadari, bahwa sebagai agama dengan jumlah penduduk minoritas di Indonesia, kebebasan sepenuhnya belum dapat kita rasakan. Buktinya adalah perusakan kantor Persekutuan-Persekutuan Gereja di Indonesia ( PGI ) di Salemba, Jakarta Pusat, tahun lalu yang menunjukkan masih ada kekerdilan dan kurangnya jiwa besar untuk menghargai dan menerima perbedaan. Ada pula sebuah gereja di Jakarta Utara yang masih menggunakan mall sebagai tempat beribadah jemaatnya, ingin pindah ke suatu lokasi yang lebih besar untuk memperlebar pelayanan, namun niat itu urung terealisasi karena mayoritas penduduk di lokasi tersebut tidak menghendaki berdirinya gereja di tempat itu. Kejadian ini tidak hanya terjadi di Jakarta Utara saja. Banyak sekali pendirian gereja di seluruh penjuru tanah air yang diperhambat segala prosesnya, mulai dari perijinan, hingga dicurigai akan menyebarkan ajaran yang kurang baik dan tidak sesuai dengan ajaran agama yang memiliki jumlah penganut lebih besar di Indonesia.

Sederet kasus diatas telah mencabik-cabik hati nurani kita. Krisis karakter telah mewarnai perjalanan bangsa ini. Lantas, mari kita bertanya dalam diri kita apa sebenarnya salah agama Kristen ? Bukankah semua agama itu baik, jadi mengapa banyak oknum yang tidak memberi keleluasaan bagi pemeluk agama Kristen untuk menjalankan kewajiban memuji dan menyembah Tuhan ? Selama ini, yang saya tahu, agama Kristen maupun Katolik telah membuktikan bahwa agama ini bukanlah agama yang menghasut dan memecah belah persatuan dan kesatuan di Indonesia. Di dunia, agama Kristen terbuka dan kooperatif untuk memecahkan permasalahan yang mendera dunia di berbagai bidang, dengan memberikan sumbangsih ide dan pemikiran, maupun tindakan nyata untuk mewujudkan perdamaian dunia. Jadi, benarkah krisis karakter yang melanda bangsa kita sedemikian parah ?

 

KRISIS  KARAKTER  SEBAGAI  RESISTEN  BAGI  KEMAJUAN  BANGSA

Krisis karakter telah mengancam persatuan dan kesatuan yang seharusnya menjadi modal dasar untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur yang menghargai keberagaman. Semangat kebangsaan yang digelorakan seakan-akan tidak ada artinya jika masih ada benih-benih ketidakakuran diantara pemeluk agama yang berbeda keyakinan, serta di kalangan mahasiswa, pelajar dan elit pemerintahan yang cenderung lebih mementingkan ego pribadi serta keinginan untuk lebih unggul dari yang lain.

Jika krisis karakter bangsa Indonesia tidak segera dibenahi, maka tujuan pembangunan bangsa Indonesia dikhawatirkan tidak tercapai. Hal itu karena karakter bangsa umumnya bersifat kolektif atau akumulasi dari karakter pribadi seluruh warga bangsanya. James Madison, salah satu peletak dasar konstitusi Amerika Serikat, pernah menyatakan bahwa, “the character of a nation is determined by the character of its people” atau karakter yang dimiliki suatu bangsa ditentukan oleh karakter warga bangsanya. Oleh karena itu, keberhasilan atau kegagalan sebuah bangsa menjadi sangat tergantung pada upaya pembangunan karakter warga bangsanya.

Untuk menumbuhkan karakter yang baik perlu dilakukan pembinaan, dan hal itu sangat erat korelasinya dengan kekuatan yang dimiliki bangsa dalam menyelenggarakan pembangunan. Karakter positif adalah energi penggerak utama yang akan mendayagunakan semua modal yang dimiliki suatu bangsa dalam mencapai cita-cita pembangunan. Presiden Amerika Serikat ke-32, Franklin Delano Roosevelt, pernah menyatakan bahwa karakter bangsa sama pentingnya dengan sumber daya fisik yang dimiliki bangsa itu, untuk mencapai kemajuan bangsanya.

 

PERAN  STRATEGIS  MAHASISWA  KRISTEN  HARUS  DIREALISASIKAN

“Pola pikir seseorang akan menentukan cara seseorang memandang kehidupannya”. Itulah perkataan bijak yang ditulis Carol Dweck dalam bukunya. Sayangnya tidak banyak penduduk Indonesia yang menggunakan pola pikir growth mindset dalam pemecahan segala aktivitas. Lantaran itulah belenggu krisis di segala bidang masih membelit bangsa ini.

Kita harus menyadari bahwa pemuda masa kini, khususnya pemuda Kristen, tidak lagi berada dalam bayangan masa 1998 yang heroik menurunkan rezim otoriter. Namun pergumulan pemuda dan mahasiswa saat ini adalah bagaimana menghadang dan memerangi masalah kemiskinan, pengangguran, dan ketidakadilan. Dengan kata lain, pemuda diharapkan sebagai penggerak pemberdayaan yang populis untuk menyelesaikan degradasi karakter bangsa.

Kita dapat mundur sejenak dan melihat bahwa pada era 1990 sampai 2000-an demonstrasi masih marak di berbagai tempat untuk menurunkan penguasa orde baru. Pada masa itu mahasiswa dan pemuda menyebutkan dirinya sebagai Gerakan Moral. Sedangkan pada mahasiswa yang lain gerakan mahasiswa menyebutkan dirinya sebagai gerakan Politik. Mahasiswa menjadi pecah dan terkadang pragmatis. Bukan rahasia umum lagi bahwa mahasiswa dibayar untuk berdemonstrasi.

Namun, peran pemuda saat ini terlihat  berperan hanya sebagai konsumen saja. Pemuda dan mahasiswa berperan sebagai “penikmat” bukan yang berkontemplasi ( pencipta karya untuk perubahan ). Pemuda yang semestinya membantu pemerintah memerangi narkoba justru mengonsumsinya, yang memunculkan kehancuran besar bagi bangsa Indonesia. Jika kehancuran itu dimulai dari generasi muda yang menjadi tunas pembangunan, kita patut bertanya dalam hati kita, mau dibawa kemana perjalanan bangsa kita di masa mendatang ?

Pemuda Kristen tidak harus berada di depan perjuangan warga masyarakat, posisi mahasiswa adalah posisi yang sederajat / egalitarian, acapkali ini kurang disadari mahasiswa, lantaran bersemangat, maunya selalu di depan. Kita patut berkaca pada Gerakan Mahasiswa Kristen dan Katolik di Filipina yang memiliki moto “serve the people”, dimana orientasi gerakan mereka adalah untuk rakyat. Berbeda halnya dengan mahasiswa dan pemuda di Indonesia yang  cenderung terbawa arus globalisasi yang digagas neoliberal. Globalisasi tentu saja berpengaruh langsung atau tidak langsung terhadap orang muda. Sistem ekonomi pasar bebas dalam kacamata kaum pengusaha sudah jamak berparadigma bahwa kaum muda adalah pasar yang potensial.  Orang muda dianggap sebagai pasar untuk membeli produk. Hal itu boleh-boleh saja, namun sebaiknya pemuda dan mahasiswa Kristen harus melakukan asimilasi dan sintesis, dimana hal-hal yang baik diambil, dan hal-hal yang kurang baik dan dapat merusak moral ditinggalkan.

Seorang filsuf bernama Habernas pernah mengatakan : “Ketika menginginkan wujud nyata kepedulian ilmu pengetahuan terhadap kemasyarakatan Jika pada masa klasik dan modern ilmu pengetahuan diharuskan bebas dari kepentingan maka sudah saatnya ilmu pengetahuan berpihak pada kemanusiaan.” Hal inilah yang seharusnya kita teladani dalam misi kita untuk membenahi karakter bangsa ini.

Pemuda Kristen selayaknya dan seharusnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan gereja ( lembaga maupun dalam makna persekutuan orang percaya ). Apa yang dilakukan oleh gereja dan apa yang dilakukan oleh mahasiswa  hendaknya saling mencerminkan dan saling mendukung. Tugas panggilan gereja adalah membawa damai dan menjadi berkat serta menyejahterakan manusia yang biasanya dituangkan secara praktis lewat kegiatan pelayanan, kesaksian, dan penggembalaan.  Dengan demikian apa yang menjadi tugas dan panggilan gereja secara otomatis juga menjadi tugas dan panggilan bagi pemuda Gereja atau pemuda Kristen. Mahasiswa Kristen yang menjadi pengikut Kristus harus meneladani Kristus dalam segala tingkah laku.  Kristus tidak haus akan kekuasaan dan pujian. Kristus selalu melayani dan tidak menuntut dilayani. Intinya, dengan kolaborasi antara pemuda Kristen dan gereja, yang ditunjukkan dalam bentuk melayani sesama yang berbeda agama, kita tunjukkan bahwa mahasiswa Kristen adalah agen perubahan dalam menciptakan perdamaian dan pembenahan terhadap krisis karakter di Indonesia.

Mahasiswa Kristen dituntut untuk berkiprah di masyarakat di berbagai bidang.  Yang terpenting adalah peranan itu harus transformatif,  yang membawa perubahan dan ditujukan untuk semua golongan di masyarakat tanpa memandang suku, agama dan sebagainya. Karena itu, penguatan jejaring antar pemuda gereja dan lembaga/organisasi lain yang sevisi harus dilakukan. Visi di sini lebih secara universal, yaitu untuk kesejahteraan dan kebenaran dan keadilan masyarakat / dunia. Jejaring mulai di tingkat lokal sampai tingkat nasional bahkan internasional, akan lebih bermakna.

 

MAHASISWA KRISTEN MAMPU MENGUPAYAKAN GERAKAN PEMIKIRAN

Diakui atau tidak, saat ini peran mahasiswa Kristen dan organisasinya dalam upaya membenahi krisis karakter bangsa belum terlalu terlihat. Hal ini disebabkan karena ketidakjelasan orientasi program. Mahasiswa Kristen hanya sibuk menjaring anggota organisasi mahasiswa pemuda, tanpa pernah mau merinci dengan detail tentang gerakan yang diinginkan.

Ditinjau dari corak gerakan, saya melihat ada beberapa yaitu gerakan moral, gerakan demonstratif, gerakan politik,  gerakan massa dan gerakan pemikiran.

Gerakan yang disebut terakhir inilah yang cocok untuk dikembangkan mahasiswa Kristen. Gerakan massa kurang cocok karena hanya akan memancing fanatisme sempit, sedangkan gerakan politik tidak cocok karena partai yang bercorak Kristen amat sedikit di Indonesia. Kita dapat melihat fakta pada Pemilu 2009 lalu bahwa tidak ada partai kristen yang mendapat prosentase suara diatas satu persen.

  Oleh sebab itu, menurut saya gerakan pemikiran adalah hal yang dapat kita lakukan bagi bangsa ini. Banyak yang belum menyadari bahwa sebenarnya mahasiswa Kristen memiliki visi dan  pemikiran yang kontributif bagi bangsa. Hanya semua itu tidak akan berarti jika aplikasi dari pemikiran tersebut belum terlihat.

Leimena pernah berkata “Umat Kristen bukanlah suatu minoritas, dilihat dari sudut kewarganegaraan, ia bukan warganegara kelas dua atau kelas tiga, Ia adalah warganegara yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan warganegara lain.”. Ucapan Leimena seharusnya menginspirasi kita bahwa keberadaan kita akan diakui bila umat Kristen dapat menunjukkan aksi nyata, seperti berhasil mendamaikan suku bangsa yang sedang konflik, berprestasi di bidang olahraga, pendidikan, serta menunjukkan toleransi yang tinggi akan keberagaman di Indonesia.

Marilah kita menghargai pluralitas yang ada, dan mengakui perbedaan pandangan hidup dan agama sebagai keniscayaan. Jika semua itu berhasil dilakukan, komunikasi dapat dibangun terhadap semua kultur dan keyakinan secara bebas. Rasa saling curiga, dan permusuhan berkedok agama harus dihilangkan. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu berdiri kokoh di tengah keberagaman. Sebagai agen sosial perubahan, mahasiswa Kristen melalui gerakan pemikiran hendaknya mendayagunakan seluruh potensi yang dimiliki untuk bangsa. Berbuat untuk maju, selangkah demi selangkah tanpa pantang mundur. Perbedaan adalah pemersatu, bukan pemecah belah dan alat pengadu domba. Jika mindset berpikir seperti itu dapat diterapkan, kemajuan bangsa akan segera kita raih.

Generasi muda Kristen, dengan integritasnya sebaiknya tampil memiliki jati diri dan siap menjadi pemimpin yang berkarakter, siap menggemakan semangat bangkit dari keterpurukan dan rasa saling menyakiti antar komponen bangsa, dan siap menjadi pioner gerakan nasionalisme sebagaimana semangat Sumpah Pemuda yang mengakui bahwa kita adalah satu bangsa. Mari berbuat yang terbaik untuk bangsa, karena kemajuan bangsa adalah kebanggaan bangsa tersebut. Mahasiswa Kristen harus menjadi garam dan terang dunia dimanapun berada untuk mewartakan cinta kasih sebagaimana Tuhan Yesus telah ajarkan. Milikilah karakter Ilahi, yang rela melayani sesama tanpa minta dilayani, serta tidak membeda-bedakan dan siap bekerjasama dengan siapa saja.

 

-TUHAN MENGUTUS KITA SEBAGAI DOMBA DI TENGAH-TENGAH SERIGALA-


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA
Surat Doa Banyuwangi, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 197 kali
Surat Doa Papua, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 197 kali
Surat Doa Mojokerto, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 224 kali
Surat Doa Mataram, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 200 kali
Surat Doa Jember, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 193 kali
Surat Doa Kediri, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 219 kali
Lihat Semua Berita >>


1255921

Saat ini ada 108 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53