Email: Password:   Lupa Password?
LINTAH, GARAM DAN MAHASISWA KRISTEN
oleh Isanna A. Muskananfola (Sastra Inggris Uiversitas Kristen Petra Surabaya): 04-07-2009, Dibaca: 3325kali

Lintah adalah hewan yang dapat hidup di daratan, air tawar, dan laut. Beberapa jenis lintah, telah lama dimanfaatkan untuk pengeluaran darah secara medis. Adapun semua spesies lintah adalah karnivora. Beberapa merupakan predator, mendapat makanan dari berbagai jenis invertebrata seperti cacing, siput, larva serangga, dll[1]. Pernahkah anda melihat lintah yang sedang menempel pada suatu binatang atau pada kulit manusia? Bagi yang pernah melihatnya, pastilah mengetahui fakta bahwa lintah sangat sulit melepaskan diri atau dilepaskan dari permukaan kulit yang ditempeli. Sebagai hewan karnivora, lintah mendapatkan makanan dengan menghisapi darah dari kulit binatang atau manusia. Yang dapat dilakukan untuk melepaskannya adalah dengan menaburkan garam pada tubuh lintah. Seketika itu juga lintah tersebut akan menggelinjang tak berkutat dan lama kelamaan akan mengerut serta mengeluarkan cairan tertentu. Kecenderungannya itu merupakan pertanda bahwa lintah tersebut telah mati.  

Dunia saat ini ibarat sebuah permukaan kulit yang sedang ditempeli lintah-lintah. Ketidakjujuran, kebohongan, kemunafikan, keserakahan dan kelicikan dari manusia-manusia di dalamnya membuat bangsa ini makin terpuruk, dan makin kacau. Dan akibatnya kepentingan rakyat yang dikorbankan. Rakyat tidak memiliki keteladanan akan karakter yang benar. Yang tinggal hanya serpihan-serpihan kemelaratan, kemiskinan, kelaparan, kebodohan, ketertinggalan serta kejahatan yang merajalela. Jika dilihat kembali realita yang sedang terjadi dan berkembang setiap harinya di bangsa ini, membuat miris setiap orang yang masih berhati nurani. Bagaimana tidak? Yang didapati adalah makin banyaknya angka kejahatan baik itu yang dilakukan kaum intelektual berdasi maupun kaum melarat yang hidup biasa-biasa saja. Keadaan ini terjadi hampir di seluruh pilar yang menopang bangsa ini. Mulai dari politik, pendidikan, media massa, dan bahkan gereja yang sudah mulai tidak ambil pusing dengan kondisi ini.

Sebagai contoh, penulis menemukan berbagai kasus KKN di Indonesia diantaranya 3 kasus besar yaitu kasus mantan presiden RI, Soeharto yang melakukan tindak korupsi di enam yayasan sebesar Rp 1,4 triliun[2]. Ditambah dengan kasus Jaksa Ketua Pemeriksa Kasus Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) II Urip Tri Gunawan yang tertangkap tangan menerima suap senilai U$ 660 ribu dari pengusaha Syamsul Nursalim yang menunggak dalam kasus BLBI[3]. Serta kasus dugaan praktik penyuapan anggota Komisi IV Fraksi Persatuan Pembangunan DPR RI Al-Amin Nur Nasution oleh Sekda Kabupaten Bintan Azirwan yang ditengarai telah berlangsung selama enam bulan sejak diketahui[4]. Sebagai informasi, data dari lembaga Indonesia Corruption Watch (ICW) menunjukkan hingga akhir tahun 2006 sampai awal 2007 terjadi peningkatan kasus korupsi hingga Rp14,4 triliun dari 161 kasus korupsi[5].

Bukan hanya di ranah politik, kecurangan juga tak jarang terjadi di dunia pendidikan. Wajah dunia pendidikan Indonesia telah dicoreng dengan realita jual beli gelar oleh oknum-oknum tertentu. Hanya dengan menyerahkan uang sebesar 10-25 juta, seseorang dapat memilih gelar apa yang diinginkan; S1, S2, atau S3. Fakta lain di sebuah harian Kompas, didapati sekitar 5.000 guru di NTB memiliki ijazah ilegal[6]. “Hanya dengan berkuliah selama 4 bulan, seorang guru sudah dapat menjadi sarjana pendidikan,” tutur Ali A. Rahim, Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Nusa Tenggara Barat. Inilah potret dunia pendidikan Indonesia yang diwarnai ketidakjujuran dan jalan pintas. Yang penting dapat, entah dari mana asalnya. Lalu bagaimana mendapatkan kader bangsa yang berkualitas?, sedangkan pendidiknya tidak jujur sama sekali. Belum lagi media massa di Indonesia yang tidak lagi bersifat mendidik, malah makin sering mengarahkan penduduk Indonesia ke paham-paham seperti konsumerisme, matrealisme, dan hedonisme. Bisa kita lihat isi dari tayangan-tayangan yang ada di media massa seperti televisi. Yang ada hanya sinetron-sinetron bodoh yang berisi cerita omong kosong dan tidak mendidik serta tidak mengungkapkan kebenaran. Juga, permainan cerita fiktif yang memanjakan perasaan penontonnya. Begitu parah kondisi yang sedang terjadi dan hal ini berlangsung terus-menerus. Melihat kondisi ini, gereja bukannya segera bertindak namun seolah-olah hendak bersembunyi dalam kungkungan zona nyaman dan membuat jemaat terlena dengan khotbah-khotbah yang memanjakan telinga. Kembali ke analogi lintah diawal, dunia termasuk bangsa ini seperti disedot oleh ribuan lintah dari berbagai sisi.  Lalu bagaimana menyikapi kondisi dunia seperti ini? Segera dibutuhkan garam untuk mengusir lintah-lintah tersebut pergi. Bangsa ini butuh “senjata” sebagai pegangan dan penuntun untuk melihat kebenaran itu sendiri. Juga untuk keluar dari kondisi yang semakin parah ini. Dibutuhkan bukan orang Kristen yang ecek-ecek dan hanya berpangku tangan saja sementara bangsa ini menuju keterpurukan.  Dibutuhkan orang Kristen yang menjadi garam untuk menetralisir kondisi dunia ini, dan siap berperang melawan arus jaman serta memproklamirkan iman percayanya.

            Lalu yang menjadi pertanyaan adalah siapakah orang Kristen itu? Apa cirinya? Apa yang membedakan dengan orang non Kristen? orang Kristen adalah pengikut Kristus, menurut 2 Kor 5:15; Kristus telah mati untuk menebus setiap orang sehingga mereka yang hidup tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka.  Dengan pernyataan inilah hendaknya setiap orang Kristen dimana pun, yang telah ditebus bukan lagi hidup untuk dirinya sendiri melainkan untuk Kristus sendiri. Hal ini dilakukan bukan hanya pengakuan dalam hati dan mulut yang bersaksi namun diwujudnyatakan dalam tingkah laku yang tidak lagi hidup menurut kehendak sendiri, dan mengikuti teladan yang diberikanNya. Keteladanan hidup Kristus adalah sebuah penyangkalan diri atas keinginan daging setiap manusia. Jika Kristus hidup saat ini pastilah Dia tidak akan tinggal diam dalam menyikapi kondisi bangsa saat ini, kondisi yang parah dan rapuh serta sangat sulit ditemukan nilai kebenaran Alkitabiah. Jika Kristus tidak akan tinggal diam, maka itulah yang harus dilakukan pengikutNya yaitu orang Kristen saat ini. Dibutuhkannya orang-orang yang dengan konsisten melakukan keteladanan-keteladanan kecil bagi orang-orang disekitarnya. Keteladanan kecil di sekolah seperti tidak menyontek, jujur dan berintegritas dalam setiap tanggung jawab yang dipercayakan dimanapun termasuk ditempat kerja.

            Dari semua tingkatan umur yang ada, penulis akan lebih fokus pada tingkat mahasiswa. Selain karena penulis yang saat ini adalah seorang mahasiswa, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi. Yang pertama adalah di tingkat ini seseorang telah cukup dibekali dengan ilmu pengetahuan. Pendidikan telah didapat dari tingkat sekolah dasar bahkan playgroup sampai universitas, sehingga semakin matang dalam pemikiran dan perencanaan. Yang kedua, dari sisi emosional. Di tingkat ini, adalah mereka yang berusia 17-22 tahun dimana  kondisi emosionalnya semakin matang jika dibandingkan dengan remaja. Serta cenderung bertindak berdasarkan idealisme yang ada, yang berdasarkan fakta dan kebenaran serta keinginan untuk menampilkan yang terbaik. Yang ketiga, ditingkat ini seseorang akan sangat fokus dengan apa yang dikerjakan. Dalam arti mahasiswa belum membentuk keluarga sehingga dapat benar-benar fokus mengembangkan diri dan dapat diandalkan. Yang terakhir, dari tingkatan mahasiswalah seseorang akan makin dibentuk untuk memimpin bangsa ini kedepannya. Jika diperkirakan, pemimpin bangsa ini dalam kurun waktu 5 atau 10 tahun mendatang adalah para mahasiswa saat ini. Dari keempat alasan inilah, maka penulis menyimpulkan yang dapat memberikan andil besar bagi negara ini adalah mahasiswa terutama mahasiswa Kristen atau intelektual Kristen. Yang menggembirakan adalah tidak perlu menunggu hingga 5/10 tahun mendatang. Jika memiliki tekad yang kuat, seorang mahasiswa dapat saja memberikan dampak yang besar bagi bangsa ini. Bila kita ingat kejadian tahun ‘98 dimana mahasiswalah yang memporak-porandakan pemerintahan bangsa saat itu dari Orde Baru dan berubah menjadi Reformasi. Itu semua terjadi karena pergerakan kaum intelektual di Indonesia ini. Jadi bukanlah sesuatu yang tidak mungkin untuk kaum intelektual Kristen memberikan dampak sebagai agen Kristus di tengah krisis karakter yang melanda bangsa ini.

            Melihat betapa strategisnya posisi seorang mahasiswa sebagai kaum inetelektul, harusnya kaum inteletual Kristen tidak boleh hanya tinggal diam dalam menyikapi bangsa yang makin hancur perlahan ini. Mahasiswa Kristen hendaknya menjadi agen pembaruan dalam bangsa ini, menjadi bagian dari solusi dan bukan menjadi bagian dari masalah yang memperparah kondisi bangsa. Harus ada sesuatu hal yang dilakukan oleh setiap kita sebagai mahasiswa. Ini semua mesti berawal dari kesadaran setiap mahasiswa melihat betapa strategis dan signifikan posisi dirinya berada. Dengan kesadaran inilah setiap mahasiswa mesti bergumul dihadapan Tuhan mengenai panggilannya atau visi hidupnya masing-masing. Pergumulan akan visi hidup akan terus berlangsung seumur hidup, dan dibutuhkan ketekunan untuk itu. Tuhan memperlengkapi setiap orang dengan talenta yang berbeda-beda bentuk dan jumlahnya. Talenta yang diberikan mesti dimaksimalkan untuk mengarah ke sebuah visi dari Tuhan. Tentu saja untuk mencapainya dibutuhkan hubungan yang intim dengan Tuhan melalui waktu teduh yang konsisten. Bukan hanya merenungkan namun juga berkomitmen untuk melakukan kebenaran tersebut, sehingga hidup setiap mahasiswa bukan hanya berharga tapi juga berarti. Memiliki wawasan dunia Kristen, membangun pola pikir Kristiani serta membentuk nilai-nilai Kristiani dalam kehidupan sebagai agen Kristus dalam dunia ini. Yang menjadi pertanyaan, sudahkah setiap kaum intelektual Kristen menggumulkan visi hidupnya untuk memuliakan nama Tuhan, atau malahan mengejar ambisi pribadi? Kedua hal ini begitu tipis perbedaannya, visi berdasarkan panggilan Tuhan sedang ambisi untuk mengerjakan keinginan diri sendiri. Untuk mengejar visi seseorang cenderung mengorbankan diri sendiri sedang mengejar ambisi lebih pada mengorbankan orang lain.

            Untuk poin ini, penulis juga sedang dalam proses pergumulan akan visi hidup. Saat ini penulis sedang berkuliah di tingkat akhir jurusan Sastra Inggris Universitas Kristen Petra, dan merasakan kesempatan yang dibukakan Tuhan untuk memberikan kontribusi terhadap realita krisis karakter bangsa. Dalam kurun waktu beberapa bulan belakangan ini, penulis dan beberapa orang teman memiliki sebuah komunitas yang kami sebut “Sunday Community”, dimana kami mengajar sekitar 10 orang anak dari keluarga kurang mampu. Kami mengajar setiap hari minggu sore dan itu telah berlangsung sejak pertengahan tahun 2008. Anak-anak yang dididik adalah anak-anak dari kaum seberang yang sangat kurang dalam hal pendidikan dan keuangan. Penulis merasa tetap perlu mempertahankan komunitas ini karena dari sinilah kami bisa berbagi hidup dan berbagi kasih dengan mereka.  Adakalanya juga kami membagikan beberapa nilai Kristiani seperti saling menghargai, saling mengasihi, dan saling peduli. Penulis merasa sedang dipakai Tuhan untuk menjadi agen pengubah karakter bangsa walaupun dalam skop yang sangat kecil, namun penulis bersyukur diberikan kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi anak-anak tersebut. Kita bisa menjadi agen Kristus dimana saja kita ditempatkan dan lewat hal kecil sekalipun. Yang pasti tetap setialah untuk melakukan apa yang ada di depan mata dan berani melangkah dalam melakukan perubahan.  Sebab langkah kecil pun sangat besar dampaknya bagi orang lain jika dilakukan dengan tujuan yang benar.

Di samping itu, mahasiswa Kristen tidak boleh hanya tinggal diam dalam kehidupannya. Hendaknya mahasiswa Kristen ikut bergabung dengan sebuah lembaga pelayanan baik itu di gereja atau di dunia mahasiswa, dimana lewat pelayanan-pelayanan yang ada mahasiswa boleh ambil bagian dalam memberikan kontribusi untuk membagikan kasih Kristus pada sesama. Hal itu sangatlah berarti sebab dengan melakukan pelayanan yang ada akan membuat semakin banyak orang mengenal Yesus Kristus. Pelayanan penginjilan di kampus atau tempat lainnya, bisa menjadi kesempatan untuk memberikan perubahan bagi kader-kader ke depan. Selain itu tetap diperlengkapi dan didampingi dalam pemuridan yang konsisten sehingga makin banyak kaum intelektual Kristen yang memiliki karakter takut akan Tuhan dan mengikuti teladan Kristus sendiri. Terinspirasi oleh seorang pembicara yang mengatakan bahwa hanya Tuhan yang bisa mengubahkan dunia ini. Sebab Tuhan yang memiliki dunia ini. Segala kebobrokan, kejahatan moral, ketidakjujuran, keegoisan dan karakter buruk lainnya hanya Tuhan yang bisa mengubah. Yang dapat dilakukan oleh orang Kristen termasuk mahasiswa adalah melayani dengan sepenuh hati, mengasihi dengan tulus dan peduli pada orang lain. Saat ini dunia membutuhkan orang-orang dengan karakter yang baik untuk dijadikan teladan. Mahasiswa mesti menyadari bahwa hidupnya mesti berbuah dan berdampak, dan itu tidak akan terjadi tanpa pengenalan Tuhan yang intim. Kaum inteletual Kristen harus benar-benar memperlengkapi diri untuk mewarnai dunia ini dalam berbagai aspek. Dunia politik, perekonomian, pendidikan, pemerintahan serta aspek lainnya membutuhkan peran intelektual Kristen yang dapat dijadikan panutan terutama dalam hal karakter.

Adapun saat ini penulis sedang aktif dalam organisasi Pelayanan Mahasiswa di kampus. Fokus pelayanan ini adalah penginjilan dan pemuridan. Selain diajarkan untuk peka terhadap realita yang sedang terjadi, penulis juga bergabung dalam kegerakan penginjilan dan pemuridan dimana lewat kegiatan-kegiatan inilah penulis terlibat dalam mempersiapkan karakter kader-kader agen Kristus kedepan. Lewat semua inilah karakter dari penulis juga semakin terbentuk, mengikuti keteladanan Yesus Kristus. Penulis juga ingin berpesan pada setiap mahasiswa Kristen untuk jangan pernah berhenti belajar sehingga dapat menjadi mahasiswa Kristen yang memiliki kemampuan yang baik di setiap bidang yang digeluti. Lewat ini juga mahasiswa akan memiliki wawasan tentang bangsa ini, serta dapat menjadi bagian dari solusi akan permasalahan karakter bangsa. Yang takkan pernah terlupakan adalah jangan pernah berpikir untuk memberi dampak jika setiap kita jauh dari Tuhan dan tidak mengandalkanNya. Sebab Ia memegang kendali atas semuanya. Semoga setiap mahasiswa Kristen di bangsa ini dapat menjadi garam di tengah keterpurukan bangsa, untuk mematikan setiap lintah yang siap menggerogoti karakter bangsa kita.  

 


[1] (www.wikipedia.org/lintah)

[2] tempointeraktif.com, 25 Oktober 2004

[3] LIPUTAN 6.com, 24 April 2008

[4] kompas.com, 10 April 2008

[5] kapanlagi.com, 22 Agustus 2007

[6] harian kompas, 4 Mei 2009


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA

1566889

Saat ini ada 92 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
asw...
   Hacked D4RK FR13NDS, 2017-11-04 01:56:02
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09