Email: Password:   Lupa Password?
MAHASISWA KRISTEN SEBAGAI AGEN PERUBAHAN MELAWAN KORUPSI BERBEKAL INTEGRITAS DAN TAKUT AKAN TUHAN
oleh Ricky Septian (Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta): 01-07-2010, Dibaca: 3098kali

MUNGKINKAH KORUPSI DIHENTIKAN ?

Jika mengacu pada realitas terkini Indonesia sebagai negara terkorup di Asia dan keenam di dunia, mungkin banyak diantara kita tersenyum kecut dan menggelengkan kepala tanda pesimis. Fight Against Corruption ! Itulah jargon indah yang sering terdengar sebagai keprihatinan atas korupsi yang sulit diberantas. Sebagai generasi muda, siapa yang rela kemajuan bangsa ini terhambat karena ulah koruptif banyak pihak yang berkoar-koar ingin membangun negeri ini? Namun, dorongan untuk memperkaya diri sendiri dan kelompoknya telah membutakan hati nurani sebagian besar penguasa. Korupsi memang membawa implikasi negatif di segala bidang, yang merusak sendi-sendi kehidupan suatu bangsa yang ingin menjadi bangsa yang maju.

 

Survei yang dilakukan Bank Dunia menunjukkan bahwa 55.3% (110 juta) penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, 70 juta penduduk setiap malam masih dirundung kegelapan dan tanpa listrik, dua pertiga penduduk masih mengonsumsi makanan kurang dari 2100 kalori per hari, 50 juta penduduk miskin di perkotaan tidak memiliki akses terhadap air bersih (penyediaan air bersih saat ini baru menjangkau 9% dari total penduduk Indonesia). Sederet fakta miris ini membuat hati nurani saya terusik. Namun, jika ditelaah lebih lanjut, penyebab kemiskinan yang melanda bumi pertiwi kita disebabkan oleh satu kata, KORUPSI ! Benar, korupsi adalah penghambat utama pemberantasan kemiskinan di Indonesia. Ibarat penyakit akut yang menggerogoti tubuh penderitanya.

 

Robert Klitgaard berujar bahwa korupsi terjadi jika ada monopoli kekuasaan yang dipegang oleh seseorang yang memiliki kemerdekaan bertindak atau wewenang yang berlebihan, tanpa ada pertanggungjawaban yang jelas. Dalam pengertian sempit, korupsi adalah tindakan seseorang yang menggelapkan uang yang bukan miliknya. Korupsi bukanlah perilaku baru bagi manusia, namun juga perilaku yang tidak akan pernah ada habisnya karena sifat manusia yang tidak pernah puas. Nabi Musa, dalam Ulangan 16:19, berujar : Janganlah memutarbalikkan keadilan, janganlah memandang bulu dan janganlah menerima suap, sebab suap membuat buta mata orang-orang bijaksana dan memutarbalikkan perkataan orang-orang benar.

 

Ironisnya, ternyata korupsi bukan hanya monopoli oknum penguasa, atau pengusaha sukses, tetapi juga rohaniwan yang kehilangan ‘mata rohani’nya. Amos, dalam teguran keras di kitabnya, membuka kebusukan para pemimpin politik dan imam yang memanipulasi persembahan dan persepuluhan untuk kepentingan sendiri. Mereka memperjualbelikan kebenaran, memeras orang miskin. Hati nurani tidak lagi bersuara, yang ada hanya semangat dan hasrat tinggi untuk korupsi. Sungguh suatu degradasi moral yang sangat meresahkan. Korupsi ternyata telah ada sebelum Yesus dilahirkan dan hingga kini tetap menjadi trend. Alkitab juga mencatat perumpamaan bendahara yang tidak jujur dalam kitab Lukas.

 

Dunia membutuhkan tokoh pendobrak kemampanan dunia yang makin tercemar oleh kejahatan ini. Muncullah Amos, seorang peternak, dengan semangat dan keberanian. Ia berbicara pada kerajaan Israel di utara dan Yehuda di selatan, dan menelanjangi ketidakadilan dan ketidakbenaran yang merajalela di jamannya. Kita membutuhkan tokoh seperti Amos yang dalam kapasitasnya sebagai seorang rohaniwan berani memperjuangkan kebenaran, dengan terlebih dahulu menunjukkan dirinya sebagai penolak sesuatu yang bukan haknya.

 

Diakui atau tidak, memang sulit   memberantas korupsi di Indonesia. Beban hidup yang semakin berat, dan standar gaji yang dirasa kurang memadai untuk mencukupi kebutuhan hidup membuat “keterpaksaan” itu tetap dilakukan. Para pemimpin bukannya memikirkan nasib rakyat yang semakin sengsara, namun justru ingin lebih kaya dan lebih kaya lagi. Jual beli kepentingan dan politik balas budi begitu dominan. Seseorang yang mencalonkan diri menjadi bupati/walikota/gubernur menghabiskan dana kampanye milyaran, padahal penghasilan yang akan mereka peroleh sampai akhir masa jabatan jika akhirnya mereka terpilih berdasarkan suara rakyat, tidak mungkin mencapai titik impas dengan uang kampanye yang telah mereka gelontorkan.

 

Solusinya, mereka akan berlomba-lomba mengeruk sebanyak mungkin uang dan mencari peluang memperkaya diri sendiri selama menjabat. Uang pelicin bukanlah hal aneh di Indonesia untuk memuluskan membangun bisnis yang tidak berujung pada kepentingan rakyat. Toh bila ketahuan pun, lama hukuman penjara sangat tidak sebanding dengan nilai korupsi dan efek jera yang pantas mereka terima. Penjara ibarat surga di Indonesia. Uang adalah alat kekuasaan, yang mampu merobohkan tembok nurani dan sendi-sendi keimanan di hati kecil setiap insan. Jika saja Indonesia mencontoh China, yang memberlakukan hukuman mati bagi pelaku korupsi, mungkin Indonesia akan segera melepaskan status sebagai negara terkorup di benua terbesar di dunia ini.

 

Sayangnya, hukum dapat diperjualbelikan di Indonesia, yang membanggakan dirinya sebagai negara hukum. Mafia hukum meresahkan masyarakat, dimana kepercayaan masyarakat digadaikan untuk menggelembungkan pundi-pundi kekayaannya. Lembaga penegak hukum yang seharusnya menjadi otak pemberantasan korupsi justru disusupi oknum-oknum pelaku korupsi. Benarkah hukum masih menjadi panglima tertinggi negeri ini untuk menjerat pelaku korupsi ? Jika disurvei, saya yakin lebih dari separuh masyarakat mengatakan tidak. Rakyat telah kehilangan kepercayaan, dan bosan akan keadaan statis ini. Dampak negatifnya, mereka akan terdorong untuk berbuat korupsi, dimanapun mereka bekerja, karena menyadari biaya sosial untuk korupsi yang rendah, dimana hukuman lebih ringan dari kejahatan. Korupsi benar-benar sulit dihentikan.

 

PENGHARGAAN KURANG, KORUPSI BERKEMBANG

Banyak orang menganggap melakukan korupsi adalah keharusan atau keniscayaan. Seolah-olah tanpa korupsi seseorang tidak mungkin hidup berhasil. Ini adalah pandangan yang salah. Respek dan pujian mengalir bukan karena kekayaan seseorang, namun karena budi pekerti luhur, moral dan akhlak yang baik, dan integritas untuk melawan ketidakbenaran. Mantan Wakil Presiden Mohammad Hatta, yang terkenal karena kejujuran dan kesederhanaannya mendefinisikan korupsi telah menjadi budaya bangsa ini. Artinya, mental korupsi telah merasuki jiwa dan menjadi perilaku sehari-hari banyak orang, dilakukan sendiri-sendiri atau bersama-sama, diam-diam dan terang-terangan. Korupsi dianggap sesuatu yang wajar, atau bahkan wajib. Bahkan banyak yang menganggap orang yang tidak pernah korupsi adalah orang bodoh atau sok pahlawan. Para pemegang kekuasaan bukannya menjadi panutan masyarakat, namun justru“mengajarkan” budaya korupsi ke masyarakat.

 

Fakta menunjukkan, kebocoran dana pembangunan Indonesia mencapai 45-50%; pungutan tidak resmi mencapai 30% biaya produksi; utang negara dipakai untuk korupsi, bukan untuk membiayai kegiatan pembangunan dan mensejahterakan rakyat kecil. Kesemuanya itu masih ditambah dengan kurangnya penghargaan terhadap insan-insan berprestasi di Indonesia.

 

Banyak bibit potensial yang mengharumkan nama Indonesia dengan sederet prestasi di bidang olahraga, ekonomi, serta bidang lainnya, terpaksa hengkang ke luar negeri karena insentif yang amat minim. Kita sering membaca berita kurang terjaminnya nasib olahragawan berprestasi di Indonesia setelah pensiun. Ironisnya, negara lain sangat menghargai nasib atlet kebanggaannya, dengan memberikan jaminan seumur hidup bagi keluarganya untuk dapat hidup layak, seperti yang terjadi di China. Di Indonesia, jangankan dihargai, terkadang diskriminasi terhadap etnis tertentu masih terlihat.

 

Saya pernah membaca cerita tentang seorang pelatih bulutangkis kelahiran Indonesia yang terpaksa kembali ke negara leluhurnya hanya karena dipersulit pengurusan SBKRI-nya, padahal pelatih tersebut telah membawa Indonesia menjadi negara bulutangkis yang disegani. Setelah mencoba berkali-kali mengurus SBKRI namun tetap tidak ada hasilnya, saat ini pelatih tersebut berhasil membawa negara “pelariannya” menjadi negara terkuat bulutangkis saat ini. Penyesalan tidaklah cukup, namun ini bagai lagu lama di Indonesia. Sayangnya, pemimpin terkesan menutup mata, saling melempar tanggung jawab. Amanah sering disalahgunakan. Anggaran sulit dipertanggungjawabkan. Uang rakyat yang menjadi sumber pendanaan beberapa cabang olahraga diragukan transparansinya. Beginilah potret negeri ini. Terlalu banyak masalah yang mendera, namun tidak ada aksi nyata untuk memerangi dan mencari solusinya. Dapat dimaklumi jika banyak kalangan menganggap keterpurukan prestasi olahraga di Indonesia disebabkan oleh korupsi, selain kurangnya perhatian dan penghargaan dari pemerintah.

 

MAHASISWA KRISTEN, SUDAHKAH KAU BERJUANG ?

Praktek korupsi sudah semakin menggurita dan susah diurai akarnya. Berbagai cara untuk mencegah dan memeranginya telah diupayakan, termasuk menggunakan institusi pendidikan ( tempat mencetak calon pemimpin bangsa ) sebagai media untuk memperbaiki moral bangsa dan menanamkan nilai-nilai antikorupsi. Mahasiswa sebagai akademisi muda dituntut mengambil alih tongkat estafet pemberantasan korupsi melalui sederet pemikiran kritisnya. Terlebih mahasiswa Kristen sebagai garam dan terang dunia yang diharapkan menjadi agen pembaharu negeri. Mahasiswa Kristen tidak boleh diam saja melihat penindasan dan ketidakadilan yang diterima masyarakat kecil sebagai implikasi kejahatan moral pemimpinnya.

 

Mahasiswa Kristen harus menyadari bahwa pemberantasan korupsi dapat dimulai dari kampus, dengan membuktikan bahwa mereka adalah pemberi contoh yang mampu menjadi pelaksana keorganisasian internal kampus yang bersih dari korupsi dan sebagai pengawal kebijakan-kebijakan kegiatan akademik maupun nonakademik di kampus. Kebiasaan untuk berlaku tidak jujur dalam ujian maupun titip absen harus dijauhi, termasuk korupsi waktu. Mahasiswa dapat menjadi agen pencegahan korupsi, dengan cara memberikan pengajaran kepada masyarakat sehingga nantinya masyarakat mampu menjadi “pengerem” dan pemantau kegiatan publik yang mungkin di dalamnya terdapat celah-celah kasus korupsi. Selain itu, mahasiswa dapat mengkritisi dan mengawal proses-proses yang dilakukan pemerintah terkait dengan penggunaan dana dan fasilitas negara. Mahasiswa Kristen dengan idealisme dan semangatnya harus menjadi garda terdepan pemberantasan korupsi. Katakan pada diri sendiri, korupsi merugikan diri sendiri dan orang lain, dan tularkan semangat tersebut tiada henti pada orang-orang yang dijumpai.

 

Menurut penelitian, 85% tindakan korupsi disebabkan oleh kebutuhan dan 15%-nya karena keserakahan. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa korupsi terjadi sebagai pertemuan antara niat dan kesempatan. Niat terkait dengan perilaku, dan perilaku tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai (values). Kesempatan terbuka karena kelemahan sistem. Karenanya, mahasiswa Kristen sebagai pengikut Kristus harus berani mengatakan tidak untuk korupsi, karena menyadari dampak korupsi terhadap rendahnya kualitas infrastruktur dan pelayanan publik, meningkatnya kemiskinan dan kesengsaraan rakyat, bertambahnya masalah sosial dan kriminalitas. Jika sedari muda dibiasakan untuk berlaku jujur, niscaya calon-calon pemimpin bangsa ini akan menjadi garam dan terang dunia yang menginspirasi orang-orang yang dipimpinnya kelak, melalui keteladanan dan integritasnya, sebagai perwujudan karakter kokoh yang melekat dalam dirinya.

 

PENDIDIKAN  KARAKTER : BENTENG PERTAHANAN MELAWAN KORUPSI

Menurut Undang-Undang Nomor 30 tahun 2002 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi, peran serta masyarakat amatlah penting, karena pencegahan dan penindakan korupsi dilakukan dalam perspektif pertumbuhan ekonomi untuk kesejahteraan rakyat. Namun realitanya, pemberantasan korupsi tidak mengikutsertakan partisipasi masyarakat; tidak memadai pada komponen pencegahan; bagus hanya pada beberapa tahun pertama; diarahkan pada penghukuman, tidak cukup perhatian pada pelacakan aset hasik korupsinya. Kesemuanya itu membuktikan bahwa pemberantasan korupsi di Indonesia belum berjalan efektif.

 

Untuk memerangi korupsi, diperlukan tekad dan karakter kuat, yang dapat dibina melalui pendidikan karakter. Mengapa pendidikan karakter penting? Karena sebagai bangsa yang ingin merdeka dari korupsi, kita menegakkan kehidupan nasional berdasarkan ideologi negara sesuai dengan amanat UUD 1945, terutama  “.......memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa.....” dapat bermakna sebagai visi-misi:”...... nation and character building......”. dengan prasyarat : sosial ekonomi rakyat sejahtera. Artinya, manusia yang berbudaya dan beradab, serta berkarakter luhur, dan bermartabat yang memiliki dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai pengabdiannya. Sadarkah kita, bahwa karakter adalah modal terbesar kemajuan bangsa yang tidak terlihat? Jika belum, belum terlambat untuk menjadi pribadi dengan karakter positif sehingga dimanapun kita berada kita mampu menjadi pelita bagi sesama, tentunya dengan semangat antikorupsi.

 

Pendidikan antikorupsi diharapkan dapat memotivasi mahasiswa, utamanya mahasiswa Kristen, untuk mengenali dahulu segala hal tentang korupsi, sebagai pedoman untuk menjadi agen perubahan melawan korupsi. Tak kenal maka tak mampu melawan. Korupsi telah membuat penegakan hukum dan layanan masyarakat menjadi amburadul, pembangunan fisik terbengkelai, hilangnya kesempatan orang-orang berprestasi untuk menduduki posisi penting karena tidak punya uang atau kekuasaan, demokrasi tidak berjalan baik, perekonomian menjadi tidak efisien karena siapapun yang ingin membuka usaha dengan modal kecil akan kalah dengan perusahaan besar yang dekat dengan pemegang kekuasaan. Buntutnya, orang asing malas berinvestasi di Indonesia, sehingga rakyat kecil menjadi korban karena untuk mencari kerja demi bertahan hidup menjadi sulit.

 

Saya menawarkan pelaku korupsi di Indonesia dicabut kewarganegaraannya (bukan justru pahlawan bangsa yang dipersulit mendapat status kewarganegaraan), karena pelaku korupsi sebenarnya tidak nasionalis, karena mereka membuat citra Indonesia di dunia internasional tercoreng. Hukuman mati mungkin masih pro dan kontra, namun jika saya adalah pembuat kebijakan, maka pelaku korupsi wajib membayar minimal tiga kali lipat dari jumlah uang yang dikorupsi, untuk menimbulkan efek jera. Bentuk hukuman lain, pelaku korupsi setelah dibebaskan wajib menjadi pembicara dalam Sekolah Anti Korupsi, sehingga peserta kegiatan tersebut memperoleh pengalaman berharga untuk sedini mungkin membangun komitmen melawan korupsi. Remunerasi adalah solusi efektif di lingkungan birokrasi untuk mencegah korupsi yang dilakukan oleh orang dalam. Walaupun sebenarnya orang yang berintegritas menyadari bahwa nilai bekerja bukan hanya untuk mencari uang, namun sebagai perwujudan aktualisasi diri sebagai umat ciptaan Tuhan yang bermanfaat bagi kebaikan orang banyak.

 

Akhirnya, dengan semangat menjadi garam dan terang dunia, saya ingin mengajak mahasiswa Kristen memerangi korupsi dengan semboyan ”Jauhi Korupsi, Cerminan Integritasmu”. Marilah menjadi agen perubahan bangsa ini dengan saling mengingatkan bila suatu saat kita tergoda untuk melakukan korupsi. Ingatlah bahwa langkah orang-orang benar disertai Tuhan, dan Ia tidak akan membiarkan orang-orang benar meminta-minta, apabila ia jatuh tidak sampai tergeletak, bahkan anak cucunya memberi pinjaman. Kiranya hal ini menjadi motivasi kita untuk hidup kudus di jalannya Tuhan.

 

Selamat mencoba wahai mahasiswa Kristen! Jadikan hidupmu berkenan di mata Tuhan!

 


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA
Panggilan menjadi MURID KRISTUS
27-05-2017, Dibaca: 7 kali
Promo Buku - GEBYAR HUT PERKANTAS KE 44
18-05-2017, Dibaca: 52 kali
The Radical Disciple
24-04-2017, Dibaca: 76 kali
Surat Doa Papua, Maret-April 2017
24-04-2017, Dibaca: 58 kali
Surat Doa Mataram, Maret-April 2017
24-04-2017, Dibaca: 63 kali
Surat Doa Jember, Maret-April 2017
24-04-2017, Dibaca: 66 kali
Surat Doa Kediri, Maret-April 2017
24-04-2017, Dibaca: 65 kali
Surat Doa Mojokerto, Maret-April 2017
24-04-2017, Dibaca: 67 kali
Lihat Semua Berita >>


1033110

Saat ini ada 57 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53