Email: Password:   Lupa Password?
MAHASISWA KRISTEN: PEMBERANTAS KORUPSI ATAU PELAKU KORUPSI?
oleh Paulus Teguh Kurniawan (Mahasiswa Universitas Ciputra Surabaya): 01-07-2010, Dibaca: 2570kali

Bangsa Indonesia terus-menerus digerogoti oleh korupsi. Namun ironisnya, korupsi sudah terlanjur menjadi “budaya” bangsa. Sebagai seorang mahasiswa jurusan IBM (International Business Management), penulis mengamati betapa banyaknya korupsi yang dilakukan para pengusaha maupun pelaku ekonomi. Indonesia sudah mengumandangkan perang melawan korupsi ketika memasuki era reformasi, namun hingga saat ini, korupsi masih sulit untuk diberantas. Dalam sebuah penelitian mengenai korupsi, Yogi Suwarno dan Deny Junanto memaparkan hasil penelitiannya sebagai berikut1:

 

Dilihat dari upaya-upaya pemerintah dalam memberantas praktek korupsi di atas sepertinya sudah cukup memadai baik dilihat dari segi hukum dan peraturan perundang-undangan, komisi-komisi, lembaga pemeriksa baik internal maupun eksternal, bahkan keterlibatan LSM. Namun, kenyataannya praktek korupsi bukannya berkurang malah meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan Indonesia kembali dinilai sebagai negara paling terkorup di Asia pada awal tahun 2004 dan 2005 berdasarkan hasil survei dikalangan para pengusaha dan pebisnis oleh lembaga konsultan Political and Economic Risk Consultancy (PERC). Hasil survei lembaga konsultan PERC yang berbasis di Hong Kong menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling korup di antara 12 negara Asia. Predikat negara terkorup diberikan karena nilai Indonesia hampir menyentuh angka mutlak 10 dengan skor 9,25 (nilai 10 merupakan nilai tertinggi atau terkorup). Pada tahun 2005, Indonesia masih termasuk dalam tiga teratas negara terkorup di Asia.

 

            Bagaimana dengan mahasiswa Kristen yang diharapkan menjadi inspirator dalam memberantas korupsi?  Di saat organisasi-organisasi Islam seperti Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah mendeklarasikan gerakan anti korupsi, mahasiswa Kristen malah nyaris tidak bersuara sama sekali. Penulis khawatir selama ini dalam pemberantasan korupsi, justru para mahasiswa Kristen banyak berhutang budi kepada mereka. Korupsi sudah membudaya di kalangan mahasiswa Kristen. Dalam hal korupsi,  mahasiswa Kristen tidak ada bedanya dengan masyarakat Indonesia lainnya; bahkan mungkin lebih buruk. Berapa banyak mahasiswa Kristen yang rajin membayar persepuluhan? Berapa banyak mahasiswa Kristen yang menggunakan dengan bertanggung jawab uang yang mereka miliki? Bukankah seharusnya kita menunjukkan diri pada dunia sebagai anak-anak Allah yang jujur dan bertanggung jawab dalam menggunakan uang?

            Bagaimana seharusnya mahasiswa Kristen bersikap? Bisakah mahasiswa Kristen yang sudah terjangkit korupsi, berubah menjadi inspirator bangsa dalam memberantas korupsi? Tidak ada kata terlambat untuk bertindak. Dalam artikel ini penulis akan membahas permasalahan yang kerap kali menjadi kendala mahasiswa Kristen dalam memberantas korupsi, diikuti dengan solusi yang bisa diaplikasikan sehingga mahasiswa Kristen menjadi inspirator bangsa dalam pemberantasan korupsi.

 

Permasalahan yang dihadapi mahasiswa Kristen

            Setelah pemberantasan korupsi menjadi isu utama pada tahun 1998, semangat  masyarakat untuk memberantas korupsi berangsur-angsur berkurang. Penulis tercengang saat menonton di televisi acara debat cawapres menjelang pemilu 2009. Setelah cawapres (saat ini sudah menjadi wapres) Boediono memaparkan visinya mengenai good governance, pemerintahan yang bersih dan bebas korupsi, salah satu analis stasiun televisi tersebut mengatakan bahwa masalah good governance hanyalah isu bagi kalangan berpendidikan menengah ke atas. Analis tersebut memberi contoh tentang petani. Jika terjadi korupsi dalam pemerintahan, ia hanya akan merasakan sedikit saja dampaknya, begitu kata analis tersebut. Demikianlah saat ini korupsi sudah mulai menjadi isu yang “ketinggalan zaman” bagi sebagian kalangan di Indonesia.

            Di kalangan mahasiswa Kristen pun ada kecenderungan menyepelekan masalah korupsi. Sebagian mengatakan ini bukanlah isu yang terlalu penting, sebagian lagi mengatakan bahwa ini adalah tugas pemerintah dan polisi. Korupsi jarang menjadi perhatian di KTB maupun Gereja; seringkali kita hanya memfokuskan perhatian pada penginjilan, pengajaran doktrin, ataupun prinsip dalam mencari pasangan hidup.

            Mahasiswa Kristen hidup di tengah masyarakat yang terjangkit korupsi, sudah tentu ini mengakibatkan kita ikut terbawa budaya korupsi. Hidup melawan arus zaman sama sekali bukan sesuatu yang mudah; dibutuhkan usaha sangat keras dan berkesinambungan untuk bisa melakukannya. Inilah yang seringkali dilupakan mahasiswa Kristen, sehingga tanpa sadar ikut terbawa budaya korupsi. Kita seringkali lupa bahwa kita harus mempengaruhi dunia, bukan dipengaruhi dunia.

            Dalam artikel Yogi Suwarno dan Deny Junanto yang penulis sebutkan1 , disebutkan pula bahwa Cina menjadi negara yang sangat sukses dalam memberantas korupsi. Hal tersebut disebabkan Cina menerapkan cara tanpa kompromi dalam memberantas korupsi, yaitu dengan memberlakukan hukuman yang berat bagi para koruptor. Prinsip ini merupakan prinsip yang sangat kontras dengan prinsip Kristen. Dalam prinsip Kristen, kita menghindari dosa karena kita mengasihi Tuhan dan berusaha dengan segenap hati untuk menaati perintah-Nya, bukan karena takut kepada hukuman. Namun justru prinsip Cina tersebut terbukti sangat sukses. Kristen adalah agama iman, bukan agama peraturan. Apakah ini berarti prinsip Kristen kalah dari prinsip dunia? Tentu tidak. Prinsip Kristen inilah yang seringkali disalahgunakan oleh mahasiswa-mahasiswa Kristen; “karena perbuatan kita tidak mempengaruhi keselamatan kita, maka tidak apa-apalah sekali-sekali berbuat korupsi”. Akibatnya, mahasiswa-mahasiswa Kristen menjadi bersikap begitu lunak terhadap dosa. (Penulis akan menjelaskan lebih lengkap mengenai kekontrasan ini nantinya).

 

Bahayanya sikap cinta uang

            Penulis ingin menekankan di sini betapa berbahayanya sikap cinta uang. Sepanjang zaman, orang-orang Kristen seringkali lupa pada bahaya ini. Marilah kita memandang kembali pada sejarah Kekristenan; pada abad kegelapan, Gereja Katolik yang mendapat dukungan dana dari masyarakat dan pemerintah, lambat laun menjadi gila harta dan merampok pemerintah maupun masyarakat. Mereka menuntut pajak yang besar dari pemerintah dan masyarakat, dengan alasan “Tuhan yang memintanya”. Mereka menjual indulgensi untuk mendapat uang2. Tepatlah yang dikatakan 1 Timotius 6:10, “Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.”.

            Kita harus mengingat bahwa kita senantiasa butuh hikmat dari Tuhan dalam mengelola uang yang kita miliki. Seringkali kita lupa pada Tuhan ketika kita sudah memiliki uang yang berkecukupan. Banyak Gereja-gereja yang ketika sudah mapan, sudah punya dana yang besar, akhirnya berfokus untuk memperkaya diri, bukan menggunakan uang tersebut untuk bermisi atau melakukan kegiatan sosial. Begitu pula banyak orang Kristen, bahkan hamba Tuhan, yang lebih berfokus untuk mencari uang, namun tidak mempersembahkannya kepada Tuhan.

 

Solusi untuk mahasiswa Kristen

            Lalu bagaimanakah solusi untuk mengatasi semua masalah ini? Alkitab memberikan berbagai kisah yang inspiratif dalam menangani uang. Marilah kita menyimak beberapa di antaranya.

            Kisah pertama adalah kisah Zakheus di Lukas 19:1-10. Zakheus, pemungut cukai yang serakah, langsung bertobat dari sikap koruptornya hanya karena Yesus menumpang di rumahnya. Penulis merasa kagum dengan pertobatan Zakheus yang luar biasa ini; ia tidak hanya berhenti korupsi, ia juga memberikan uangnya pada orang-orang miskin dan orang-orang yang pernah diperasnya! Yesus tidak mengancam, “Zakheus, kelak Aku akan menghukummu jika kau terus melakukan korupsi!”. Yesus juga tidak memarahi ataupun memerintahkan Zakheus untuk menghentikan sikap korupsinya tersebut. Tapi kenapa Zakheus bisa berubah total seperti itu? Karena saat ia bertobat dan menerima Yesus, ia menjadi pembenci dosa. Sekalipun Yesus tidak memberikan ancaman hukuman baginya, namun Zakheus tidak lagi melakukan korupsi. Bandingkan hal ini dengan prinsip “hukuman berat bagi koruptor” yang diterapkan Cina, yang sudah penulis singgung sebelumnya. Berapa banyak mahasiswa Kristen yang sudah sungguh-sungguh bertobat seperti Zakheus, sehingga membenci dosa? Penulis yakin, seandainya para mahasiswa Kristen sungguh-sungguh membenci dosa seperti Zakheus, maka kita dapat menunjukkan bahwa prinsip Kristen tidak kalah dari prinsip Cina.

            Kisah berikutnya adalah kisah janda miskin di Lukas 21:1-4. Terhadap janda yang memberikan persembahan hanya dua peser tersebut, Yesus memberikan pernyataan paradoks, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak dari pada semua orang itu.”. Yesus tentu tidak bermaksud mengajarkan supaya kita hanya memberi persembahan dua peser, yang Yesus maksudkan ialah: Tuhan melihat kesungguhan hati, bukan jumlah uang yang diberikan. Tuhan sangat menghargai janda tersebut, yang memberikan 2 peser di saat sebenarnya sangat membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan perekonomiannya. Tuhan sangat menghargai penggunaan uang secara bijaksana, meskipun itu hanya menyangkut uang 2 peser. Yesus sebelumnya juga sudah mengajarkan prinsip ini di Lukas 16:10, “Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar.”. Kita harus belajar menggunakan uang dengan bijaksana, sekalipun mungkin itu cuma menyangkut jumlah uang yang sedikit.

            Dalam seminar bertema “How To Handle Money”, Pendeta Joseph Tong sebagai pembicara memaparkan bahwa orang Kristen wajib membayar persepuluhan. Memang benar bahwa hukum Taurat sudah digenapi oleh Yesus, namun kewajiban membayar persepuluhan bukanlah hukum Taurat; konsep persepuluhan sudah ada lama sebelum hukum Taurat diberikan (Kejadian 14:22; 28:20). Membayar persepuluhan adalah bentuk pengakuan bahwa uang kita peroleh adalah pemberian Tuhan. Jika orang Kristen tidak membayar persepuluhan, itu sama saja tidak mengakui bahwa uang yang dia peroleh adalah pemberian Tuhan. Penulis menyarankan bagi kita semua untuk membayar persepuluhan sebagai langkah awal untuk hidup bebas dari korupsi. Dengan membayar persepuluhan, kita akan senantiasa disadarkan bahwa uang yang kita miliki adalah pemberian Tuhan. Dengan adanya kesadaran yang makin ditingkatkan tersebut, kita akan tergerak untuk makin bijaksana dan bertanggung jawab dalam menggunakan uang.

            Langkah berikutnya adalah membentuk KTB-KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang memiliki perhatian besar pada penggunaan keuangan. Pemimpin KTB sebaiknya mengoreksi cara keuangan tiap anggota KTB, dan setiap anggota KTB pun sebaiknya bersikap terbuka tentang keuangannya. Setiap pemimpin KTB hendaknya mendorong anggota-anggota KTB untuk menggunakan uangnya dengan bijaksana, termasuk membayar persepuluhan dan menyumbangkan uang untuk kebutuhan Gereja. Dengan proses pengoreksian yang berkesinambungan tiap minggu seperti ini, setiap anggota KTB akan semakin bijaksana dalam menggunakan uangnya. 

            Langkah berikutnya yang penulis sarankan adalah dengan mengadakan secara rutin kegiatan sosial di mana setiap mahasiswa Kristen ikut turun ke lapangan, menyaksikan secara langsung kemiskinan masyarakat terlantar. Dengan kegiatan inilah kita akan semakin menyadari betapa banyak orang yang membutuhkan uang kita, dan betapa korupsi telah banyak merugikan rakyat. Sebab, kita tidak akan pernah sepenuhnya menyadari hal itu sampai kita turun lapangan dan menyaksikannya sendiri. Setiap mahasiswa juga hendaknya didorong untuk membuat komitmen persembahan bagi kegiatan-kegiatan sosial ini.

            Dalam seminar bertema “How To Handle Money” yang penulis sebutkan itu pula, Joseph Tong menceritakan suatu sistem yang sangat menarik di Gereja yang beliau pimpin. Beliau mengatakan bahwa di Gerejanya, ada sistem pemberian pinjaman kepada jemaatnya. Sistem tersebut adalah sebagai berikut: Gereja mengalokasikan sebagian kas Gereja ke dalam kas jemaat. Jemaat yang merasa butuh uang diperbolehkan meminjam uang dari kas jemaat ini, namun dengan membuat komitmen kapankah ia akan mengembalikan uang tersebut. Penulis menyarankan sistem tersebut sebagai solusi untuk diterapkan di Gereja-gereja (terutama gereja yang sudah mapan) maupun organisasi-organisasi Kekristenan lain, seperti Perkantas. Dengan sistem seperti ini, para jemaat bisa belajar berbagi keuangan mereka satu sama lain, saling tolong menolong, dan juga belajar bertanggung jawab menggunakan uang Tuhan yang mereka pinjam tersebut. Selain itu, ini juga bisa membantu mencegah Gereja-gereja yang sudah mapan supaya tidak menjadi serakah.

 

Kesimpulan

            Tugas kita adalah mempengaruhi dunia, bukan dipengaruhi dunia. Apabila kita mau dan bersungguh-sungguh, penulis yakin, kita bisa hidup bebas dari korupsi, dan lebih dari itu, mempengaruhi masyarakat untuk bebas dari korupsi. Jika kita mampu melakukan ini, tentu bisa menjadi sarana penginjilan yang luar biasa; kita bisa menunjukkan pada bangsa kita, jati diri kita sebagai anak-anak Allah, yang hidup kudus, bebas dari korupsi! Tentu ini bukanlah suatu hal yang mudah; namun dengan iman disertai usaha, penulis yakin, kita bisa melakukannya. Penulis mengajak kita semua untuk mulai hidup kudus, melawan arus zaman. Setiap dari kita harus mengambil komitmen; mungkin kita bukan pemimpin KTB, mungkin kita hanya mahasiswa biasa, namun kita semua adalah anak-anak Allah! Jika kita sungguh-sungguh melakukannya, menunjukkan identitas sejati kita sebagai anak-anak Allah, maka tentu akan menjadi suatu batu loncatan bagi penginjilan di Indonesia, dan Allah kita pun dimuliakan. Soli Deo Gloria!

 

 

 

Footnote:

1. Artikel tersebut bisa didownload di http://www.stialan.ac.id/artikel%20yogi.pdf .

2. Lebih lengkap mengenai ini bisa dibaca di buku “Jenderal Tuhan: Gebrakan Para Pahlawan Reformasi Iman” karya R. Liardon yang diterbitkan Metanoia tahun 2006.            


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA
Surat Doa Banyuwangi, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 197 kali
Surat Doa Papua, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 197 kali
Surat Doa Mojokerto, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 224 kali
Surat Doa Mataram, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 200 kali
Surat Doa Jember, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 193 kali
Surat Doa Kediri, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 219 kali
Lihat Semua Berita >>


1255920

Saat ini ada 107 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53