Email: Password:   Lupa Password?
GAYA KORUPSI VERSUS TELEVISI
oleh Yoseph Indra Kusuma (Mahasiswa STFT Widya Sasana Malang): 01-07-2010, Dibaca: 1953kali

Kata “korupsi” menghasilkan 14 juta laman di mesin pencari (search engine) Google. Sedangkan kata “kejujuran” dan “Tuhan” menghasilkan laman pencarian yang jauh lebih banyak (masing-masing 48.300.000 dan 154.000.000). Jumlah nominal ini memang tidak membuktikan apa-apa. Namun, dari jumlah yang cukup besar ini penulis dapat menyimpulkan bahwa kata korupsi cukup kerap muncul dalam pembahasan di situs-situs internet. Selain itu, dari data kecil di atas dapat dilihat juga bahwa sebetulnya nilai kejujuran dan Tuhan masih menjadi topik yang lebih sering dibahas daripada korupsi. Namun, mengapa nilai kejujuran dan Tuhan ini seakan-akan tidak berdaya melihat korupsi yang semakin merebak kemana-mana?

Secara garis besar penulis menggunakan sudut pandang pendidikan nilai-nilai agamis. Namun, terinspirasi dari korupsi yang sudah menjadi kompleks, tulisan ini bisa disebut juga multiperspektif. Metode multiperspektif ini digunakan karena penulis ingin melibatkan berbagai perspektif dalam upaya pemberantasan korupsi.

FENOMENA KORUPSI

Korupsi Sebagai Sebuah Lingkaran

Banyak orang mengatakan bahwa korupsi sudah menjadi lingkaran setan di negeri ini. Jargon ini muncul di kalangan masyarakat karena korupsi sudah masuk dan meresap ke hampir seluruh bidang kehidupan masyarakat, mulai dari ekonomi, politik, sosial, dan bahkan sampai-sampai dalam dunia hukum. Mungkin korupsi memang mau meniru “kecerdasan” PKI di jaman lampau yang masuk melalui ipoleksosbudhankam sehingga bisa “menancapkan kuku-kukunya” dalam berbagai segi kehidupan.

Begitu banyak orang yang terlibat dalam korupsi membuat para penegak hukum seringkali kewalahan untuk menentukan siapa yang menjadi dalang korupsi. Jika penegak hukum mau merunut satu-persatu, maka kasus korupsi akan melibatkan begitu banyak orang, mulai dari pedagang di pasar yang memakai timbangan yang tidak standar sampai para jenderal bintang lima yang sering menggunakan mobil dinas bak mobil pribadi. Mencari titik awal penyebab korupsi tidaklah mudah karena korupsi itu sendiri bagaikan lingkaran yang tidak memiliki titik awal dan akhir. Sama seperti “Angin yang bertiup ke selatan, lalu berputar ke utara, terus-menerus ia berputar, dan dalam putarannya angin itu kembali” (Pkh 1:5-6). Obafemi Awolowo (1909-1987), seorang pengacara dan politikus Nigeria, bahkan berpendapat bahwa pemberantasan korupsi di berbagai negara bukan hanya sekadar tugas yang sulit: bahkan tanpa ragu-ragu, menyebutnya sebagai pekerjaan yang tidak mungkin (impossible objective).

Korupsi Sebagai Sebuah Spiral

Korupsi bukan hanya seperti lingkaran setan melainkan justru seperti sebuah spiral, maksudnya, ada unsur lingkaran juga di dalamnya tetapi lingkaran tersebut berputar setiap saat dan semakin lama semakin menuju ke arah dalam, ke arah titik pusat (seperti sebuah spiral). Analogi ini hendak menggambarkan bahwa tindak korupsi terus menerus “berputar” di sekeliling kita dan perlahan korupsi mendekat dan semakin mendekat lagi ke arah titik pusat.

Bentuk spiral juga mau mengatakan bahwa korupsi juga memiliki “titik henti.” Korupsi akan “berhenti” tepat di tengah-tengah spiral tersebut. Perhentian korupsi di tengah ini dapat dijadikan gambaran sudah merasuknya korupsi dalam mentalitas dan jatidiri bangsa Indonesia. Korupsi sudah “mendarat” dan mendarah daging dalam tiap segi kehidupan. Jika sudah demikian, maka cita-cita bangsa Indonesia untuk mengusahakan “Masyarakat yang adil dan makmur” akan menjadi utopis belaka.

DIMENSI APA DAN BAGAIMANA KORUPSI ITU

Apa itu Korupsi?

Secara etimologis, kata korupsi berasal dari kata Latin corruptus yang merupakan bentuk past participle dari kata corrumpere yang artinya melanggar/mematahkan secara total (break completely). Dari sudut etimologi ini dapat dikatakan bahwa aktivitas korupsi berarti aktivitas melanggar atau mematahkan sesuatu secara total. Dalam kehidupan sehari-hari, korupsi itu seringkali dimengerti sebagai tindakan pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang yang memiliki kepercayaan masyarakat untuk menduduki posisi tertentu dengan menyalahgunakan otoritas dan sarana-sarana publik demi keuntungan diri sendiri.

Apa sebenarnya yang menyebabkan seseorang melakukan tindak korupsi? Sekurang-kurangnya ada tiga hal yang menyebabkan korupsi, antara lain:

-                      Penyalahgunaan kepercayaan dan kebebasan

Rakyat memberikan kepercayaan kepada orang-orang tertentu untuk memegang tampuk pemerintahan dengan harapan orang-orang tersebut akan memerintah dengan tulus demi kesejahteraan umum. Tindak korupsi jelas-jelas merupakan penyalahgunaan kepercayaan dan kebebasan yang diberikan rakyat karena dengan melakukannya seseorang akan mengejar keuntungan pribadi alih-alih keuntungan rakyat. Agama dan kepercayaan yang dianut oleh para pelaku tindak korupsi tidak mampu lagi membuat hati nurani mereka peka akan dosa. Rasul Paulus mengidentifikasi penyebab dari penyalahgunaan semacam ini adalah cinta uang “karena akar segala kejahatan adalah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1Tim 6:10).

-                      Disposisi batin yang mulai mendua

Korupsi bukanlah sesuatu yang baru, sejak jaman Perjanjian Lama korupsi sudah menjadi sebuah kejahatan publik yang terus menerus dikritik oleh para nabi. Nabi Yesaya merupakan contoh seorang nabi yang berani menentang korupsi secara terang-terangan melalui suara-suara kenabiannya, “Bagaimana ini, kota yang dahulu setia sekarang sudah menjadi sundal! Tadinya penuh keadilan dan di situ selalu diam kebenaran, tetapi sekarang penuh pembunuh. Perakmu tidak murni lagi dan arakmu bercampur air. Para pemimpinmu adalah pemberontak dan bersekongkol dengan pencuri. Semuanya suka menerima suap dan mengejar sogok. Mereka tidak membela hak anak-anak yatim, dan perkara janda-janda tidak sampai kepada mereka.” (Yes 1:21-23). Dari perkataan Yesaya di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang melakukan tindak korupsi karena disposisi batinnya sedang mendua. Disposisi batin seorang penguasa awalnya selalu mengarah kepada kesejahteraan umum (bonum commune), tetapi disposisi ini mulai teralihkan dan tergantikan dengan disposisi yang mengarah pada keuntungan pribadi.

-                      Pandangan hidup yang hedonis dan opportunis

Arus globalisasi menjadi gerbang utama masuknya “isme-isme” dari seluruh dunia. Ada beberapa ideologi yang bisa menjadi dasar tindakan korupsi. Hedonisme mengajarkan seseorang untuk menikmati hidup sepenuh-penuhnya. Jargon yang menyertai hedonisme adalah “Hidup sekali saja kok dibikin susah? Enjoy aja!” Jargon seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru. Ideologi yang sama pernah dihadapi oleh Rasul Paulus dengan bunyi yang agak sedikit berbeda, “marilah kita makan dan minum, sebab besok kita mati” (1Kor 15:32). Jargon-jargon di atas secara tidak langsung juga mengandung ideologi kaum opportunis yang berpegang pada prinsip aji mumpung. “Mumpung masih hidup (selagi masih hidup), mumpung masih berkuasa, mari kita gunakan kuasa tersebut untuk menikmati hidup!” merupakan contoh jargon dari kaum opportunis tersebut.

Bagaimana sifat korupsi itu?

Korupsi mempunyai beberapa sifat yang jika tidak disadari akan semakin membahayakan jatidiri bangsa Indonesia. Sebaliknya, dengan mengetahui ciri khas korupsi maka dapat dipikirkan cara-cara untuk mengatasinya. Beberapa ciri khas korupsi yang dapat dilihat adalah: pertama, korupsi merupakan semacam wabah penyakit yang menular dan berkembang. Korupsi berkembang cepat di negeri tercinta ini karena pemerintah tidak segera menindak tegas para pelakunya. Korupsi sama seperti penyakit yang jika tidak diatasi menjadi semakin parah. John Dean, mantan ketua parlemen Amerika tahun 1973, bahkan mengidentikkan korupsi dengan penyakit kanker ganas yang terus bertumbuh dan berkembang semakin meluas dari hari ke hari. Korupsi membutuhkan analisis dan diagnosis yang tepat agar dapat “disembuhkan” dengan tuntas.

Kedua, walaupun sebagai sebuah fenomena buruk dalam masyarakat, Korupsi tetap saja sulit untuk dihilangkan. Penulis kitab Pengkhotbah menuliskan secara tajam penyebab mengapa korupsi sulit sekali dihentikan, “Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan.” (Pkh 4:1). Adanya penguasa di balik setiap kasus korupsi menjadikan korupsi seakan-akan kebal hukum. Theodore Roosevelt (1858-1919), seorang Presiden Amerika yang membebaskan Amerika dari The Great Depression, menambahkan bahwa usaha menghentikan korupsi merupakan usaha yang membutuhkan keberanian yang luar biasa. Usaha menghentikan korupsi selalu berkaitan dengan kekuatan-kekuatan politik yang tidak kelihatan. Usaha menghentikan korupsi dengan sembarangan hanya akan membuahkan kematian yang sia-sia.

SOLUSI MASALAH KORUPSI

Akar Permasalahan

Setelah melihat berbagai fenomena dan dimensi dalam korupsi penulis berusaha merangkaikannya agar semakin jelaslah akar permasalahan korupsi. Korupsi merupakan tindakan pribadi yang menyalahgunakan kepercayaan dan kebebasan yang diberikan rakyat demi kepentingan pribadi. Tindak korupsi ini menjadi semacam gerakan spiralisasi yang terus berputar ke dalam karena semakin banyak orang yang terlibat di dalamnya. Putaran ke dalam ini membuat semakin banyak orang tidak lagi merasa risih dengan tindak korupsi karena korupsi sudah semakin dekat dengan kenyataan hidup sehari-hari. Bahkan, bukan tidak mungkin korupsi akan menjadi suatu adat kebiasaan yang diterima oleh semua lapisan masyarakat. Jika demikian, cita-cita mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur akan tinggal kenangan.

Prinsip penyelesaian masalah korupsi

Prinsip pertama yang seringkali digunakan untuk menyelesaikan kasus korupsi adalah dengan menghentikan gerakan spiralisasi tersebut dari luar. Analogi yang tepat untuk memberi gambaran proses ini adalah mekanisme rem pada sepeda. Untuk menghentikan putaran pada ban sepeda orang menarik tuas rem agar karet rem menjepit pelek sepeda sehingga putarannya berhenti. Bentuk konkret penyelesaian korupsi dengan prinsip semacam ini terwujud dalam pemberlakuan hukuman mati pada para pelaku tindak korupsi. Hukuman mati diberlakukan untuk menghentikan sumber-sumber penggerak roda spiralisasi korupsi. Sejauh mana efektifitas cara ini masih perlu dievaluasi terus-menerus. Namun, yang pasti penyelesaian dengan cara ini menimbulkan rasa sakit terutama pada keluarga yang ditinggalkan. Proses peradilan dengan vonis hukuman mati itu sendiri bisa diragukan keabsahannya karena peradilan jaman sekarang pun jarang lepas dari spiralisasi korupsi. Prinsip pertama ini mengandaikan “karet rem” yang benar-benar bersih dari korupsi. Oleh karena tidak memadainya prinsip pertama, penulis mengusulkan prinsip yang lain untuk menyelesaikan kasus korupsi.

Prinsip yang penulis ajukan mendapat inspirasi dari mesin kipas exhaust dalam rumah tangga. Jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh, ketika tali pengubah putaran kipas ditarik, dan mengganti aliran udara “masuk” (in) ke “keluar” (out), kipas tidak langsung berhenti melainkan berhenti secara perlahan-lahan dan akhirnya berbalik arah putarannya. Dalam mekanisme ini, mesin tidak langsung menghentikan putaran baling-baling kipas, tetapi justru memberi gaya putar ke arah sebaliknya. Gaya putar yang sebaliknya ini membuat putaran kipas menjadi melambat dan akhirnya berhenti lalu langsung membalik putaran baling-baling kipas tersebut. Singkat kata, penulis mengusulkan untuk menghentikan spiralisasi korupsi dengan mengusahakan gaya putar yang berlawanan dengan arah spiralisasi korupsi saat ini. Mengapa penulis memilih cara ini? Cara ini lebih tidak menimbulkan rasa sakit akibat penghentian yang tiba-tiba. Selain itu, cara ini menjamin perubahan yang lebih baik. Ketika proses spiralisasi ini bisa berbalik arah menjauhi inti maka timbul “efek penyembuhan” di dalamnya. Cara ini memungkinkan penghentian proses spiralisasi korupsi walaupun masih ada gaya korupsi yang lama. Untuk membantu lebih memahami prinsip ini penulis menyediakan gambar pada lembar lampiran.  

Bentuk konkret pelaksanaan prinsip exhaust

Satu-satunya cara menghentikan korupsi tanpa kekerasan ialah dengan proses penanaman nilai-nilai. Nilai-nilai ini akan menghasilkan gaya putar yang memiliki arah berlawanan dengan proses spiralisasi korupsi. Nilai-nilai yang harus ditanamkan sungguh-sungguh adalah kesadaran bahwa korupsi ini lambat laun menghancurkan cita-cita bangsa untuk mewujudkan masyarakat yang adil dan makmur. Korupsi tidak boleh dilakukan bukan semata-mata karena ada hukum yang melarangnya (positivisme hukum) melainkan karena dari dirinya sendiri (secara kodrati) perbuatan korupsi itu sudah jahat dan harus dihindari.

Bagaimana menjadikan nilai-nilai ini menjadi populer dalam masyarakat? Media massa dapat dimanfaatkan sebagai sarana penanaman nilai-nilai. Media massa yang mendapat tempat utama dalam masyarakat saat ini ialah Televisi. Televisi mempunyai daya pengaruh yang sangat kuat pada masyarakat. Anak-anak sering dilarang menonton film yang berbau kekerasan karena dampaknya yang sangat besar bagi mereka. Masih segar dalam ingatan publik bagaimana seorang anak bergulat mematahkan tangan dan kaki teman sebayanya akibat tontonan pertandingan gulat professional (misalnya: Smack Down) yang sempat  populer beberapa waktu yang lalu. Sadar bahwa televisi mempunyai pengaruh yang kuat seperti ini, mengapa justru media ini tidak digunakan untuk melawan arus spiralisasi korupsi? Film tentang efek tragis korupsi belum pernah ditayangkan. Melalui film, para agen perubahan budaya dapat menanamkan prestise yang jelek pada orang-orang yang melakukan korupsi. Bukankah orang sekarang melakukan korupsi karena dianggap “sudah umum”/biasanya sudah begitu? Ada peluang  untuk menanamkan nilai ini kepada anak-anak dengan membuat superhero-superhero yang jelas mempromosikan nilai antikorupsi. Kepada para ibu-ibu rumah tangga, ada peluang untuk membuat kisah-kisah telenovela/sinetron yang mengupas tentang korupsi agar tidak hanya soal percintaan dan masalah keluarga melulu yang dikupas.

Hal yang sangat penting diperhatikan adalah film, superhero, dan sinetron yang akan membawa misi antikorupsi harus dikemas sepopuler mungkin dan tidak canggung dan wagu. Seringkali film-film yang bernuansa penanaman nilai-nilai agama terkesan canggung, aneh dan akhirnya membosankan (contoh: acara TV mimbar agama kristen, mimbar agama katolik). Kemasan yang tradisional semacam ini sudah tidak diminati lagi. Mengapa negara tidak mencoba memberi kepercayaan dan anggaran pada para pembuat iklan untuk mengemas suatu iklan yang membawa misi menanamkan nilai antikorupsi? Atau kepada rumah-rumah produksi film agar membuat sinetron dan film kartun untuk membawa misi yang sama? Di tangan kreatif mereka ini negara bisa berharap bahwa suatu saat nanti gaya putar yang ditimbulkan oleh nilai-nilai ini akan menjadi gaya yang mengimbangi bahkan lebih besar dari gaya spiralisasi korupsi saat ini. Dengan demikian korupsi bergerak menjauhi jatidiri bangsa tercinta ini.

 

Lembar Lampiran

VISUALISASI PRINSIP EXHAUST UNTUK MENGHENTIKAN SPIRALISASI KORUPSI

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA
Surat Doa Banyuwangi, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 197 kali
Surat Doa Papua, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 197 kali
Surat Doa Mojokerto, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 224 kali
Surat Doa Mataram, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 200 kali
Surat Doa Jember, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 193 kali
Surat Doa Kediri, Mei-Juni 2017
21-06-2017, Dibaca: 219 kali
Lihat Semua Berita >>


1255908

Saat ini ada 100 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09
:)...
   intha, 2011-10-31 10:57:53