Email: Password:   Lupa Password?
TUMPAS KORUPSI SEJAK DINI
oleh Hendy (Mahasiswa Institut Teknologi Bandung): 01-07-2010, Dibaca: 2296kali

Di pekarangan rumah saya terdapat sebatang pohon kelapa yang bengkok. Segala daya upaya yang pernah saya lakukan untuk meluruskan batang pohon kelapa tersebut tiada guna. Apalah daya, pohon kelapa tersebut telah tumbuh menjadi batang yang keras. Andaikata kami melakukan usaha pelurusan pohon kelapa tersebut lima belas tahun lalu saat masih berbentuk tunas, tentulah pohon kelapa tersebut kini telah menjadi lebih lurus.

Dari pohon kelapa tadi, saya merenungkan mengenai upaya pemberantasan korupsi saat ini. Saya melihat bahwa kebanyakan usaha yang dilakukan dalam memberantas korupsi seperti batang kelapa bengkok. Pemberantasan banyak dilakukan saat seorang sudah menjadi pejabat atau pun pegawai. Saat seseorang tersebut sudah mempunyai suatu idealisme yang terbentuk sejak kecil. Tentulah upaya itu sama seperti meluruskan batang kelapa yang telah keras atau menjadi pohon. Upaya itu sudah sedikit terlambat mengingat orang lebih sulit diajari jika sudah merasa lebih pintar dan benar dari yang lainnya.

Karena itu, korupsi perlu dilihat sebagai batang kepala yang bengkok. Jika pohon kelapa ini mau diluruskan, haruslah sejak dini, sejak pohon kelapa ini masih memiliki batang yang tidak terlalu keras. Saat pohon kelapa itu memiliki batang yang dapat berubah batangnya. Pohon kelapa yang kalau diibaratkan sebagai manusia merupakan manusia yang masih mencari atau membentuk idealisme dalam dirinya. Sekolahlah salah satu tempat yang sesuai untuk meluruskan hal tersebut. Coba bayangkan, seorang yang menjadi pejabat itu berada di sekolah minimal selama dua belas tahun (sampai menyelesaikan SMA). Masa itu belum ditambah dengan perguruan tinggi yang tidak tahu seberapa tinggi diduduki. Jika ada urusan dengan korupsi yang begitu hebohnya meruak di Indonesia, sekolah perlu juga ditelaah. Jangan-jangan sekolah yang harusnya menjadi tempat memperoleh pendidikan malah menjadi tempat penumbuhan benih korupsi.

Kenapa sekolah patut untuk dicurigai? Coba kita lihat beberapa metode yang diterapkan oleh sekolah-sekolah Indonesia dalam mendidik siswanya. Pertama, fokus kepada nilai yang terlalu besar. Nilai merupakan sebuah alat ukur yang dipakai sekolah dalam menilai penguasaan murid terhadap materi pelajaran yang diberikan. Siswa yang memperoleh nilai yang lebih besar dianggap menguasai materi lebih baik dari siswa yang memperoleh nilai kecil. Yah, memang tidak sepenuhnya salah menimbang penguasaan murid terhadap penguasaan materi dengan timbangan yang bernama nilai. Namun jika menilik lebih dalam sistim yang telah dibuat, nilai tersebut malah membuat para siswa melupakan tujuan utama dari sekolah yaitu menimba ilmu sebanyak mungkin. Dari beberapa wawancara singkat yang saya lakukan dengan teman-teman di kampus, memperoleh nilai yang tinggi lebih menjadi sesuatu yang menggiurkan daripada mengerti ilmu yang diajarkan.

Nilai yang dituntut oleh sekolah itu cenderung membuat siswa menggangap nilai segalanya dalam sekolah. Selain nilai menjadi tuntutan untuk diraih, nilai dapat menghasilkan kebanggaan-kebanggaan lain dalam diri siswa. Nilai yang tinggi dapat membuat para siswa memperoleh penilaian lebih terhadap dirinya sendiri dari lingkungan. Penghargaan akan pujian orang tua, pujian dari guru, penghargaan dari teman-teman, dan beberapa penghargaan lainnya. Seorang anak dapat dipuja bak dewa yang telah menyelamatkan dunia jika memperoleh nilai yang tinggi sedangkan akan dihujat bak pengkhianat jikalau memperoleh nilai yang rendah.

Penghargaan terhadap nilai yang tinggi juga membuat antar siswa saling bersaing untuk memperoleh nilai yang tinggi. Dalam diri para siswa pun memiliki ambisi yang sangat kuat dalam memperoleh nilai tersebut. Para siswa tersebut pun mulai mengeluarkan segala daya upaya untuk memperoleh nilai yang tinggi. Upaya yang dirasa tidak cukup mencapai target tersebut pun mendorong siswa mencari cara lain. Muncullah peristiwa seperti menyontek, kerja sama saat ujian, menyogok guru, dan kecurangan lainnya untuk mencapai nilai yang didambakan.

Jangan salah! Di sekolah saya, upaya seperti ini bukan dilakukan oleh siswa yang memiliki nilai yang buruk saja. Siswa yang bernilai rendah melakukan upaya ini untuk menyelamatkan dirinya sedangkan siswa yang berprestasi melakukan kecurangan untuk mempertahankan posisinya atau malah meningkatkan prestasi dirinya.

Upaya curang ini dapat menanamkan benih korupsi kepada para siswa. Para siswa akan berpikir kalau tanpa perlu kemampuan sendiri pun mereka bisa mendapatkan nilai yang tinggi yang diselingi dengan pujian orang tua, prestasi, dsb. Pemikiran ini akan menjadi sesuatu benih yang tertanam dalam pemikiran. Benih yang mungkin akan tumbuh subur jikalau menghadapi kondisi yang sama. Tentu saja kondisi yang sama ini akan ada. Dunia kerja masih mengenal dan mengutamakan nilai. Hanya saja wujudnya berbeda. Nilai tersebut bisa dalam bentuk uang, posisi, kehormatan,

Pada saat bekerja nanti, upaya-upaya ini pun menjadi satu benih yang tumbuh subur. Sepertinya mereka tidak perlu lagi kompromi pada hal-hal tersebut. Toh, mereka bisa berdiri di tempat kerja mereka saat ini juga dengan melakukan upaya korupsi dini terlebih dahulu. Mereka pun menarik garis sinambungan yang sama kalau bisa menumpuk kekayaan dengan cara curang yang pernah dicobanya saat bersekolah. Jabatan yang tinggi pun bisa diperoleh dengan cara tersebut pula.

Salah satu efek samping dari pengejar nilai secara habis-habisan selama masa sekolah adalah kurangnya perhatian terhadap penguasaan ilmu. Siswa cenderung tidak peduli apakah ilmu yang diberikan sudah diserap secara maksimal atau pun belum. Mereka hanya tahu kalau ujian sudah selesai dan harus menghadapi ujian lain. Pelajaran yang diajarkan sebelumnya sering dilupakan begitu saja. Akibatnya, pada saat pengaplikasian ilmu pada dunia kerja, mereka tidak percaya diri dengan kemampuan yang mereka miliki karena mereka memang mungkin tidak pernah belajar dengan baik sebelumnya. Ujung-ujungnya, korupsi jugalah yang terjadi.

Orang cenderung takut kehilangan pekerjaan dan berusaha mempertahankan diri. Korupsi mungkin menjadi pilihan paling mudah dan cepat dalam upaya mempertahankan diri itu. Ya, memang banyak orang yang saya temui berusaha mengejar mati-matian dengan belajar lagi pelajaran yang dulu tidak dilewati begitu saja di sekolah. Namun orang seperti ini tergolong minoritas jika mengingat salah satu ciri yang diberikan Mochtar Lubis dalam bukunya “Manusia Indonesia Sebuah Pertanggungjawaban” yaitu punya watak yang lemah, karakter kurang kuat, dan bersedia mengubah keyakinannya.

Hal kedua dari sekolah yang turut menanamkan benih korupsi adalah penyelengaraan Ujian Nasional (UN). UN merupakan suatu sidang yang memutuskan keberhasilan mereka belajar selama tiga tahun dijenjang akhir para siswa. Mereka akan berhasil jika sidang itu menorehkan pernyataan “LULUS” dan “TIDAK LULUS” jika siswa tersebut dinyatakan gagal.

Secara wajar, tentu saja para siswa/i takut menghadapi kegagalan dalam ujian penentu berskala nasional tersebut. Kegagalan yang bakal membuat mereka dicap sebagai orang yang gagal selama bersekolah. Rasa malu baik dari diri sendiri maupun dari keluarga akibat kegagalan tersebut juga masuk ke dalam daftar ketakutan mereka. Ketakutan akan masa depan akibat adanya kemungkinan tidak dapat melanjut ke jenjang yang lebih tinggi turut meramaikan rasa takut mereka yang telah menggunung.

Sidang ini tentu saja dapat dipandang sebagai suatu ketidakadilan mengingat banyak sekali yang bisa terjadi dalam beberapa hari penyelengaraannya. Tentu ada beranekaragam penyebab selain dari alasan akademik yang bisa menyebabkan ketidaklulusan: sakit, gugup, dan takut berlebihan. Hal ini terbukti dari beberapa siswa/i terbaik dari beberapa sekolah tahun-tahun lalu yang bahkan tidak berhasil lolos pada ujian nasional yang diikuti.

Berarti tidak ada sesuatu pun yang bisa menjamin peserta ujian nasional itu untuk bisa lulus. Akibat tekanan oleh berbagai arah untuk bisa lulus: keluarga, orang tua, dan diri sendiri, para siswa itu pun mulai cari cara untuk bisa lolos dari ujian penentu tersebut. Pada bagian inilah mereka diperhadapkan kepada dua karakter: jujur atau curang.

Namun, pilihan yang mempertaruhkan integritas itu tentulah menjadi mudah jika seorang anak—yang belum memiliki idealis, masih bergantung pada orang tua, dan jati diri yang sedang dicari—disuruh untuk memilih. Tentu, jika saya  sebagai anak tersebut, saya akan memilih sesuatu yang pasti-pasti saja: lulus, walaupun harus menghalalkan segala cara. Bahkan, dari pengakuan beberapa orang yang saya kenal, mereka cenderung memilih cara curang sebagai salah satu jaminan kelulusan pada sidang akhir tersebut.

Pilihan untuk curang ini tentunya akan sangat tidak menguntungkan bagi bangsa. Karena ada kemungkinan, kecurangan yang dilakukan akan menjadi suatu toleransi yang tertanam dalam karakter. Toleransi untuk berbuat sesuatu yang tidak benar kala sedang dalam keadaan terjepit untuk dapat lepas dari keterjepitan itu. Terlebih lagi, hal ini dilakukan oleh para remaja yang masih muda, masih dalam pencarian jati diri. Saat mana mereka sedang mencari sesuatu untuk dibangun menjadi karakter. Sesuatu yang buruk itu nantinya bisa menjadi seperti bibit korupsi yang akan disimpan dan tumbuh pada saatnya. Bibit korupsi seperti itu tentu akan menjadi salah satu karakter yang buruk, karakter korupsi.

Pada dua gambaran di atas (nilai dan UN) telah dapat dilihat sedikit besar pengaruh sekolah terhadap mental siswa. Siswa tidak lagi yakin terhadap dirinya dalam memperoleh sesuatu. Siswa tidak lagi memiliki percaya diri dalam memperjuangkan segala sesuatu dengan usahanya sendiri. Tentunya gambaran sekolah seperti ini tidak baik. Sekolah yang diharapkan menjadi suatu tempat peningkatan kualitas pendidikan malah menjadi tempat penurunan moral para penerus bangsa. Karena itu, penting sekali untuk memulihkan sekolah agar dapat menjadi tempat peningkatan kualitas pendidikan dan peningkatan moral bangsa. Kepercayaan diri bangsa harus ditegakkan. Kebencian terhadap kecurangan dan korupsi harus ditumbuhkan. Kejujuran dalam mencapai segala sesuatu harus ditegakkan sejak masa sekolah.

Keberhasilan siswa di sekolah harus mengesampingkan nilai sebagai alat pengukurnya. Sebagai gantinya, sekolah dapat mengajak para siswa untuk membuat suatu karya sebagai salah satu bentuk pengaplikasian ilmu mereka. Tentunya karya ini tidak terlalu rumit sampai harus memaksakan sesuatu yang di luar bakat atau kemampuan si anak. Hati-hatilah! Jika memaksakan si anak terlalu berlebihan mungkin karya ini akan memaksa si anak untuk melakukan korupsi jenis yang berbeda lagi. Karya si anak ini akan membuatnya semakin percaya diri pada kemampuannya sendiri. Selain itu, karya si anak tersebut juga akan mendorongnya untuk terus berkarya lagi kemudian hari. Untuk membuat suatu karya itu sendiri, si anak akan semakin giat untuk belajar dan menyerap ilmu yang diajarkan di sekolah supaya dapat membuat karya yang baik.

Salah satu cara lain yang dapat dilakukan yaitu menyelenggarakan pengabdian masyarakat bagi para siswa. Para siswa diajak untuk mengerjakan suatu proyek sederhana sebagai bentuk pengabdian diri pada masyarakat. Pengabdian masyarakat ini bukanlah suatu kegiatan yang terlalu memaksakan suatu hasil yang baik pada akhirnya. Namun pengabdian ini bertujuan menumbuhkan kecintaan siswa pada masyarakat dan ilmu yang ia miliki. Pengabdian masyarakat ini membuat para siswa layaknya dapat mengerti tujuan mereka menuntut ilmu di sekolah. Siswa-siswi tersebut disadarkan bahwa harapan masyarakat banyak ditimpakan di pundak mereka. Harapan bahwa mereka dapat mengabdikan diri secara penuh segala ilmu mereka untuk mensejahterakan masyarakat.

Salah satu solusi terakhir yaitu agar UN tidak lagi menjadi standar akhir atau penentu kelulusan. UN bisa tetap diadakan namun hanya sebagai suatu alat ukur kemampuan siswa dalam menempuh suatu jenjang pendidikan. Dapat juga menjadi alat ukur sekolah dalam mengukur tingkat keberhasilannya memberi materi kepada siswa. Namun UN tidak dijadikan sebagai suatu alat untuk menentukan masa depan para siswa. Si anak pun tidak perlu lagi dipaksa melakukan kecurangan dalam menghadapi UN. Mereka dapat lepas mengerjakan UN sesuai kemampuan mereka. Hal ini juga menjadi salah satu keuntungan bagi penyelenggara UN karena UN dapat lebih ampuh lagi melaksanakan perannya sebagai alat ukur. Pada UN yang terselenggara akan terlihat jelas kemampuan para siswa dan sekolah tanpa ada kecurangan dalamnya.

Berharap jika dibenahi sejak dini, korupsi dapat berkurang bahkan musnah di kemudian hari di Indonesia. Karena, jika tidak ada yang menanamkan benih korupsi, darimana korupsi tersebut dapat muncul. Biarlah kejadian seperti pohon kelapa yang terlambat dilakukan upaya pelurusannya tidak terjadi. Tidak terjadi karena Indonesia telah melakukan usaha yang maksimal saat korupsi itu masih menjadi tunas atau bahkan berbentuk benih. Semoga dengan begitu, korupsi Indonesia hanya menjadi sejarah kelam masa lalu. Indonesia dapat terbebas dari korupsi karena orang-orang masa depan tidak lagi mengenalnya. Hidup Indonesia yang bersih dari korupsi!

 

 


0 Komentar
Anda harus Login untuk memberi komentar

| Find Us on Facebook  

Loading
LENGKAPI DATA ANDA

BERITA

1566892

Saat ini ada 95 tamu dan 0 online user
KOMENTAR TERBARU
asw...
   Hacked D4RK FR13NDS, 2017-11-04 01:56:02
Saya ingin memesan Buku ...
   BOWO, 2016-04-03 22:32:16
Sebarkan Apinya...
   Mas Ucup, 2014-05-08 13:01:16
next generation...
   ronal, 2011-11-30 15:21:27
foto......
   Akhung, 2011-10-31 13:25:09