more"/> more">
Berjalan Bersama Allah
Last Updated : Feb 07, 2019  |  Created by : Administrator  |  405 views

Anthon Katobba Mapandin, M.Div


Renungan ini terinspirasi dari seorang tokoh Alkitab, seorang jenderal bernama Naaman yang dicatat dalam 2 Raja-raja 5. Kisahnya sederhana dan juga cukup aneh. Dikisahkan bahwa Naaman adalah seorang jenderal yang cukup hebat dan selalu memenangkan peperangan, namun mengidap penyakit kusta. Dia sudah mencoba berobat ke mana-mana, namun tidak kunjung sembuh; sampai akhirnya seorang bujangnya menyuruh dia untuk pergi ke Israel, bertemu nabi Tuhan yang bernama Elisa. Perjumpaan dengan Elisa membuat egonya tertantang sebagai seorang panglima perang. Bagaimana tidak? Sebagai seorang petinggi, dia mungkin berharap diperlakukan layaknya bangsawan.

Namun yang terjadi adalah; Elisa hanya menyuruh bujangnya untuk menemui dia di luar pintu, lalu menyuruh Naaman untuk masuk ke dalam Sungai Yordan. Dalam tahap inilah ego Sang Jenderal diuji.  Mungkin dalam benaknya dia berpikir, “Memangnya di negeri saya tidak ada sungai  yang jauh lebih baik daripada Sungai Yordan? Di negeri saya masih banyak sungai. Kalau hanya dengan cara ini saya akan sembuh, saya bisa saja mandi di salah satu sungai-sungai itu.“ Kira-kira seperti itulah kecamuk pikiran Sang Jenderal. Tetapi bujangnya menenangkan emosinya sehingga akhirnya Sang Jenderal luluh dan mau mentaati perintah Elisa. Keajaiban pun terjadi. Saat Naaman keluar dari dalam sungai, penyakitnya hilang. Dia disembuhkan dari penyakit kusta yang memalukan. Di sinilah pikiran sang jenderal diubahkan.

Sekarang Sang Jenderal mulai berpikir bahwa hanya Allah Israel-lah Allah yang benar dan hebat. Sebagai tanda terima kasih, dia ingin memberikan hadiah kepada Elisa karena sudah membebaskannya dari penyakit kusta, tetapi Elisa menolaknya. Naaman lalu mengajukan satu permintaan kepada Elisa supaya diijinkan untuk membawa pulang tanah sebanyak dua muatan keledai, sehingga dia dapat menyembah Allah melalui tanah tersebut. Dia akan masuk dalam negerinya yang dipenuhi dengan penyembahan berhala.

Dia membawa tanah itu agar dapat terus mengingat dan berpaut kepada Allah yang hidup dan benar itu; Allah yang telah melepaskannya dari penyakit yang dianggap orang sezamannya sebagai penyakit kutukan. Dia telah dibebaskan dari kutukan. Dalam konsep Perjanjian Lama, keselamatan bisa diartikan sebagai disembuhkan dari penyakit. Inilah yang dialami Naaman, yang akhirnya mengubah seluruh arah dan totalitas hidupnya, yang mengubah akal budinya tentang siapa sesungguhnya Allah yang hidup, dan bagaimana menyembah Allah yang hidup ini di tengah dunia yang dipenuhi penyembahan berhala dan kompromi.

Kisah Naaman ini menunjukan kepada kita bagaimana berjalan bersama Allah di tengah dunia yang penuh dengan kompromi dan penyembahan berhala. Naaman tidak meninggalkan negaranya, Siria, tetapi kembali ke sana dengan kesadaran akan berhadapan dengan semua praktek penyembahan berhala.

Naaman tahu dan sadar akan semua itu. Itu sebabnya ia membawa tanah itu supaya ia terus mengingat Allah Israel, karena dalam konsep orang di zaman Perjanjian Lama yang menganggap setiap tanah memiliki allahnya sendiri-sendiri.

Dia membawa tanah dari Israel supaya hati dan pikirannya terus mengingat Allah Israel secara permanen, karena dalam Perjanjian Lama tanah bukan hanya sekedar tempat untuk tinggal, tetapi juga tempat permanen untuk beribadah kepada Allah.

Kita diutus ke dalam dunia yang dipenuhi penyembahan berhala dan kompromi. Seperti Naaman yang membawa tanah itu, kita juga harus membawa Yesus ke dalam seluruh kehidupan kita, ke manapun kita pergi supaya DIA memengaruhi seluruh kehidupan kita sepanjang hidup kita.

Kita gagal untuk menyembah Dia dalam perjalanan kita mengikut Dia karena kita meningggalkan Yesus di tempat-tempat ibadah kita. Berjalan bersama Allah, artinya membawa Yesus Kristus dalam seluruh keseharian kita. Amin.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES