more"/> more">
“Courage to Love”
Last Updated : Feb 14, 2019  |  Created by : Administrator  |  486 views

Oleh Fransisca Riswandari,M.Div *)

1 Yohanes 3:11-18

Kasih Allah bagi manusia adalah kasih yang total dan sempurna. 1 Yohanes 3:16 menyatakannya sebagai satu rahasia besar bagi dunia. Ia menjawab kebutuhan paling dasar dari manusia meskipun manusia tidak merasa membutuhkannya, kebutuhan itu adalah keselamatan. Semua manusia berdosa, dan akibatnya mereka terpisah dari Allah selamanya. Itulah yang menyebabkan penderitaan kekal dalam hidup manusia.

Hukuman dosa bukan hanya penderitaan jasmani seperti yang digambarkan di komik-komik tentang neraka, tetapi keseluruhan jiwa dan roh yang menderita karena terpisah dari Allah. Kebanyakan manusia merasa bisa hidup tanpa Allah, dan menyelesaikan masalah dosanya dengan usaha sendiri. Tapi hal tersebut adalah solusi naif dan seperti ilusi belaka. Sejuta kebaikan tidak bisa menghapus 10 kejahatan, dan racun tetaplah racun meski ribuan liter susu murni dicampurkan ke dalamnya. Demikian dosa berakibat fatal dan permanen; yaitu kematian.

Sesungguhnya, semua jawaban tentang keselamatan ada di tangan Allah. Allah membuat satu rancangan yang sempurna supaya manusia bisa memperolehnya. Misi Allah adalah mengirim satu-satunya utusan yang mampu menjadi jawaban dunia, yaitu anak-Nya sendiri. “…Ia telah menyerahkan nyawa-Nya,” yang di dalamnya ada keikhlasan, kerelaan dan pengorbanan diri yang tertinggi. Ini bukan sebuah misi bunuh diri, melainkan sebuah kematian kudus.  Hanya Allah yang kudus, tetapi Allah adalah Roh sehingga Ia tidak bisa mati. Itulah sebabnya Kristus “mengambil rupa manusia” agar Dia bisa mati menggantikan kita di atas kayu salib. Bagi dunia ini adalah kebodohan, tetapi sebenarnya ini adalah anugerah yang sangat besar.

Kematian-Nya menjadi pengganti bagi seluruh penghukuman manusia di dunia. Demikianlah salib menjadi satu-satunya jawaban bagi semua permasalahan dosa manusia. Siapa yang mengakui karya kematian dan kuasa salib Kristus, serta menerima-Nya sebagai Tuhan, pada akhirnya akan menerima keselamatan kekal.

Jika Yesus rela menyerahkan nyawa-Nya sebagai bukti kasih-Nya, maka manusia yang menerima kasih itu wajib memberikan “nyawanya” kepada manusia lainnya (1 Yoh. 11). Pribadi yang sudah dikasihi pasti mampu mengasihi, karena ia sudah pernah mengalami kasih dan Allah terus meneruskan mencurahkan kasih itu dalam hidupnya. Akan tetapi, ayat 12-13 mengingatkan kita bahwa dunia ini membenci kita, dan bahwa mengasihi itu penuh risiko. Kasih tidak selalu menuai senyuman dan ucapan terima kasih, sebaliknya seringkali malah menuai cacian, kehilangan, dan bahkan kematian. Namun di dalam segala situasi, kasih tetap relevan untuk diberikan kepada sesama kita. Mengasihi bukan tentang perasaan, sehingga bisa berhenti ketika perasaan terluka atau tidak suka.

Mengasihi adalah sebuah tindakan dan dilakukan dalam kebenaran (1 Yoh. 3:18). Sehingga apapun situasinya, mengasihi adalah keputusan penuh kebenaran.

Menunjukkan kasih yang sesungguhnya dilakukan dengan menyatakan kebaikan kepada orang yang tidak baik, kemurahan hati kepada yang memerlukan, dan kesabaran kepada mereka yang menjengkelkan. Kematangan diri, tidak iri dengan kelebihan orang lain, penguasaan diri untuk tidak memegahkan diri, keberanian untuk tidak opportunis dan mencari kepentingan sendiri, adalah demonstrasi kasih penuh keberanian. Kedewasaan mengelola kemarahan dan keberanian untuk mengampuni, keberanian untuk tidak mudah kawatir tetapi percaya kepada segala sesuatu, juka merupakan kasih yang terwujudkan dalam tindak nyata.

Kita bisa menjadi pribadi yang terus berani mengasihi jika kita terus-menerus hidup dalam kasih Allah; semakin mengenal dan mengalami kasih Allah. Siapa yang tidak bisa mengasihi, ia tetap di dalam maut (1 Yoh. 3:14). Ini berarti ia tidak bisa mengasihi karena ia belum hidup di dalam kasih, dan masih hidup di dalam manusia lamanya yang kelam. Kita sudah memiliki hidup yang penuh kasih dari Allah. Maka, merawat relasi kita dengan Allah (yang adalah Kasih dan Sumber Kasih) menjadi kekuatan untuk kita bisa mengasihi dunia dengan tanpa syarat. Dari sanalah hikmat terus menerus muncul untuk menjawab mengapa kita bisa berani mengasihi. Sehingga, dunia mengenal Allah dan kasih-Nya melalui kita. Soli Deo Gloria.

 (* Penulis melayani di Pelayanan Alumni Malang)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES