more"/> more">
Menghidupi Kewarganegaraan Ganda
Last Updated : Mar 26, 2019  |  Created by : Administrator  |  223 views

Oleh :  Victor Kurniawan P. *)

Hari-hari ini merupakan masa-masa yang ramai bagi bangsa Indonesia, sebab dua bulan lagi, tepatnya pada tanggal 17 April 2019, kita akan merayakan pesta demokrasi, yaitu Pemilihan Umum (Pemilu). Pada kesempatan ini, rakyat Indonesia dari Sabang sampai Merauke akan memilih Presiden dan wakilnya, yang akan memimpin Indonesia untuk lima tahun ke depan, beserta para anggota legislatif, yaitu: Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD) , Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten/Kota, yang akan menjadi wakil rakyat Indonesia untuk lima tahun ke depan.

                Nuansa kompetisi untuk memenangkan Pemilu sudah terasa sejak tahun 2018. Narasi-narasi politik digaungkan oleh para elite politik di ruang publik. Acapkali narasi-narasi ini menjadi sumber perdebatan yang mengakibatkan suasana kompetisi semakin terasa. Realitas ini menunjukkan bahwa Pemilu dimaknai oleh para elite politik, dan juga oleh seluruh masyarakat Indonesia bukan hanya sebuah rutinitas semata, tetapi sebuah momen penting, yang harus direspons dengan serus. Hal ini wajar, sebab piala bagi pemenang Pemilu adalah kekuasaan.

                Bagi umat Kristen, momen ini, merupakan sebuah kesempatan untuk memikirkan kembali peran dan tanggung jawab sebagai seorang Kristen di tengah bangsa, dan selanjutnya mengambil tindakan yang diperlukan untuk kebaikan bangsa, tempat yang sudah ditentukan Allah bagi umat Kristen untuk berakar dan hidup.

               

Menggali Identitas

Orang Kristen memiliki kewarganegaraan ganda! Pernyataan  ini, diungkapkan oleh dr. Johanes Leimena dalam ceramah yang ia sampaikan dalam konferensi Studi Pendidikan Agama Kristen pada tahun 1955 di Sukabumi. Dalam ceramah yang diberikan judul “Kewarganegaraan Bertanggung Jawab”, Leimena menyatakan bahwa seorang Kristen diberikan satu posisi (kedudukan) yang “paradoxaal”. Di satu sisi, kita dipanggil menjadi menjadi warga negara dari sebuah bangsa, tetapi di sisi yang lain, kita merupakan warga negara dari Kerajaan Kristus. Dr. Johanes Leimena menyebutkan posisi yang “paradoxaal” ini dengan istilah double citizenship (dwi kewarganegaraan).

                Selanjutnya, dalam ceramahnya, Leimena menjelaskan, bahwa dalam status kita yang pertama, sebagai warga negara dari sebuah bangsa, seorang Kristen harus dengan sungguh-sungguh memandang bangsa tersebut dengan penuh keyakinan, sebab bagi Leimena bangsa adalah sebuah tempat yang ditentukan Allah bagi orang Kristen, untuk menjawab panggilan-Nya. Dasar dari pemikiran ini adalah Kisah Para Rasul 17:26, “Dari satu orang saja Ia telah menjadikan semua bangsa dan umat manusia untuk mendiami seluruh bumi...”.  Sedangkan, dalam status yang kedua, menurut Leimena,  perspektif bahwa kita sebagai seorang warga negara Kerajan Kristus sangat dipengaruhi oleh perspektif ekstologis, sebagaimana yang dikatakan dalam Filipi 3:20 yang mengatakan, “Karena kewarganegaran kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus...”  

                Dua identitas ini, menurut Leimena, memiliki konsekuensi nyata bagi umat Kristiani dalam kehidupan berbangsa. Kita tidak hanya bisa berpangku tangan, tetapi harus terlibat. Kita tidak bisa diam, tetapi berbuat dan berkarya dengan semangat kecintaan kepada Tuhan, dan didasarkan pada nilai  kebaikan, keadilan,  dan kebenaran. Leimena menjelaskan konsekuensi dari kewarganegaraan ganda  tersebut  demikian :

“Dalam hal kecintaan, kesetiaan, ketaatan kepada dan pengorbanan bagi tanah air, bangsa dan negara, orang Kristen tidak dan tidak boleh kurang dari pada orang-orang lain, bahkan ia harus menjadi teladan bagi orang lain sebagai pencita tanah air, warga negara yang bertanggung jawab, dan nasionalis sejati. Segala sesuatu adalah refleksi dari pada kecintaan, kesetiaan, dan ketaatan pada Tuhannya, dengan pengertian : ‘Soli deo Gloria’ – Segala Kemuliaan Hanya Bagi Tuhan”

               

Orang Kristen, Indonesia sekarang dan Pemilihan Umum

Sebentar lagi Pemilu, dan ini merupakan salah satu kesempatan untuk kita menghidupi kewarganegaraan ganda kita sebagai warga negara dunia, dan warga negara Kerajaan Kristus. Momen Pemilu bukanlah peristiwa biasa, sebab hasil dari pesta demokrasi ini akan menentukan masa depan Indonesia dalam lima tahun kedepan. Ini sekaligus menjadi kesempatan untuk memperjuangkan hadirnya nilai-nilai Kerajaan Kristus dengan memilih pemimpin yang tepat bagi bangsa ini.

 Konon untuk menunjukkan nilai krusial dari Pemilu, Franz Magnis Suseno pernah mengatakan demikian, “Pemilu bukan untuk memilih yang terbaik, tetapi mencegah yang buruk berkuasa”. Ungkapan ini bermakna ganda dan mendalam.  Makna pertama, untuk menunjukkan dengan sederhana dan lugas nilai istimewa dan strategis dari Pemilu, salah memilih pemimpin berarti menjerumuskan negeri kita dalam kegentingan. Makna yang kedua, ungkapan sekaligus merupakan sebuah undangan bagi setiap warga negara Indonesia, termasuk orang Kristen untuk menggunakan hak pilihnya dengan bertanggung jawab dan dengan akal sehat.

                Mengingat pentingnya Pemilu bagi nasib bangsa, maka keterlibatan di dalamnya tidak dapat ditawar bagi umat Kristiani. Keterlibatan kita adalah sebuah praktik nyata dari menghidupi status orang Kristen yang memiliki kewarganegaraan ganda.(* Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa Malang)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES