more"/> more">
Revive Your Spirit
Last Updated : May 10, 2019  |  Created by : Administrator  |  207 views

Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?

Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, Penolongku dan Allahku! (Mazmur 42:12)

Oleh Akhung Berithel Ina,S.T*)

 

Tak ada jaminan bagi pengikut Kristus bahwa ia akan imun dari perasaan tertekan, kekhawatiran, atau kekeringan rohani. Berhadapan dengan kondisi zaman yang penuh dengan segala tuntutan yang terkadang tanpa batasan, kegagalan, konflik, doa yang tidak terjawab, kehilangan orang terkasih, dan tekanan pekerjaan, kondisi stress dan kekeringan rohani merupakan sesuatu yang tak terhindarkan bagi siapapun.

Bahaya terbesar dari kondisi tersebut adalah ibarat kita sedang menggunakan kacamata gelap untuk melihat dunia, sehingga pandangan kita pada dunia menjadi gelap. Kita menjadi lelah,  tiada pengharapan, menjadi lebih sensitif, dan melihat semuanya dengan sudut pandang yang keliru. Akhirnya kita dapat terjebak pada perasaan mengasihani diri sendiri, terlalu terfokus kepada perasaan pribadi, yang akhirnya mengaburkan kita dari melihat Pribadi Allah. Jika masalah ini tidak segera diselesaikan, tinggal menunggu waktu untuk kita menjadi burn out, atau bahkan depresi dan kejatuhan dosa yang lebih dalam. Hal ini akan membutuhkan waktu lebih lama untuk dipulihkan. Pertanyaannya kemudian, bagaimana kita bisa mengalami pemulihan di saat-saat yang kelam dari kehidupan kita?

 

Memelihara Sabat

....apabila engkau menyebutkan hari sabat “hari kenikmatan”.... maka engkau akan bersenang-senang karena Tuhan, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi..(Yesaya 58:13-14).

Tuntutan zaman membuat manusia merasa perhentian sebagai sesuatu yang tidak produktif. Hasrat untuk terus mencapai dan menghasilkan sesuatu menjadi “berhala modern” yang justru menghancurkan jiwa manusia. Sabat adalah fasilitas standar yang Tuhan berikan kepada setiap manusia untuk dilayani oleh Allah, sekaligus memberikan sebuah perspektif bahwa pengatur sesungguhnya kehidupan kita adalah Allah yang berdaulat, bukan diri kita.

Sabat tidak boleh dimaknai secara legalis, menjadi sekadar hari untuk kita beribadah dan melakukan segala ritual keagamaan. Lebih daripada itu, sabat harus menjadi waktu untuk istirahat lebih lama, merenungkan Firman Tuhan lebih lama, memenuhi hari dengan mengingat kebaikan Tuhan. Pergilah berolah raga, lakukan hobi Anda, dengan sebuah kesadaran bahwa Allah sedang melayani Anda dan menyediakan “hari kenikmatan” bagi Anda. Maka Tuhan akan menepati janjinya: “maka engkau akan bersenang-senang karena Tuhan, dan Aku akan membuat engkau melintasi puncak bukit-bukit di bumi.

 

Mengenali dan menguji perasaan-perasaan yang sedang bergejolak

Seseorang terkadang bingung dengan apa yang sebenarnya menyebabkan dirinya tertekan. Menulis perasaan-perasaan kita bisa menolong kita untuk mengenali apa sebenarnya yang sedang terjadi dengan diri kita. Jangan berhenti pada fase menuliskan perasaan-perasaan kita, namun melangkahlah lebih jauh untuk melihat apakah daftar itu fakta atau hanya perasaan. Di dalam Mazmur 42:10 pemazmur berkata: Aku berkata kepada Allah, gunung batuku: "Mengapa Engkau melupakan aku? Mengapa aku harus hidup berkabung di bawah impitan musuh?” Pemazmur mengakui bahwa dia merasa Tuhan sedang melupakan dia.

Namun yang menarik adalah, dia tetap datang dan mengatakan itu di hadapan Tuhan dengan sebuah pengakuan bahwa Allah adalah Gunung Batunya. Namun pemazmur tidak berhenti di titik meragukan Tuhan. Di ayat 12, pemazmur berkata Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku? Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku (Mazmur 42:12)! Di titik ini pemazmur menguji dan menundukkan perasaan ragunya dengan fakta bahwa pengharapan dan pertolongannya adalah dari Allah.

 

Mencari rekan yang mampu memberikan perspektif yang benar

Di saat pikiran kita penuh dengan persepsi yang terdistorsi oleh perasaan-perasaan negatif, menilai atau menguji secara pribadi saja tidak terlalu efektif, dan dapat membuat kita terjebak dengan perasaan subjektif. Di saat seperti itu, kita membutuhkan orang lain yang menyatakan kebenaran kepada kita. Sahabat rohani dapat menjalankan peran sebagai kompas yang menolong kita untuk melihat arah yang tepat. Di saat-saat tertekan, seringkali kita menutup diri dari orang lain. Hal ini justru berpotensi makin menghancurkan. Di saat-saat tergelap dalam hidup, ragukanlah perasaan Anda, dan datanglah kepada sahabat rohani yang berani mengatakan kebenaran, namun bersedia juga untuk berjalan bersama Anda melewati fase-fase kelam.

 

Mengingat kebaikan Tuhan di masa lalu

Mudah bagi kita untuk mencurigai Tuhan pada momen terberat hidup kita. Jika perasaan-perasaan ini dibiarkan berkembang, maka tinggal menunggu waktu, kita akan meninggalkan Tuhan. Mengingat kebaikan Tuhan di masa lampau menolong kita untuk mengkalibrasi kembali pemikiran kita yang keliru. Dalam pengalaman pribadi saya, saya sering disegarkan kembali ketika membaca catatan saat teduh dan kebaikan Tuhan. Di sini pentingnya kita membangun kebiasaan untuk mencatat kebaikan Tuhan yang pernah terjadi di masa yang lampau. Kitab-kitab Musa tidak sekedar berisi perintah dan hukum Tuhan, namun juga mencatat setiap karya Tuhan bagi bangsa Israel, yang kemudian hari bermanfaat bagi generasi selanjutnya untuk memiliki perspektif yang benar tentang Allah Israel. 

 

Jangan meninggalkan disiplin rohani dasar: Firman Tuhan dan Doa

Di saat Tuhan seakan diam dan membiarkan kita berjalan sendiri, mudah bagi kita untuk meninggalkan Firman Tuhan dan doa. Langkah ini justru akan mempercepat kejatuhan yang lebih dalam, karena kita menutup kesempatan Tuhan menguatkan kita melalui firman-Nya. Pemazmur berkata bahwa orang yang merenungkan taurat Tuhan siang dan malam seperti pohon yang ditanam di dekat aliran air.... yang tidak layu daunnya... (Mazmur 1:2-3). Firman Tuhan sesungguhnya mempunyai kuasa untuk menyegarkan dan menghindarkan kita dari kekeringan rohani.

 

Iman sejati memampukan untuk terus berpengharapan

Ibrani 11 memberikan gambaran jelas tentang rahasia para saksi iman di dalam mengikut Tuhan. Henokh, Abraham, Yusuf, Musa, dan saksi-saksi iman lain menunjukan dua ciri yang sangat jelas: ketaatan dan kesetiaan. Ketaatan memampukan para saksi iman untuk mengambil langkah-langkah besar (yang seringkali nampak tidak masuk akal), dengan berpedoman pada janji Tuhan.

Sedangkan kesetiaan memampukan mereka untuk tidak kehilangan pengharapan di saat-saat yang terberat dalam kehidupan mereka. Ketaatan kepada Tuhan memampukan Abraham untuk keluar dari negeri leluhurnya yang nyaman, serta berani mengorbankan anaknya ketika Tuhan memintanya.

Kesetiaan memampukan Yusuf melewati fase-fase terkelam sebagai budakdan orang penjara di Mesir. Iman sejati memampukan mereka untuk bertahan di tengah kondisi terburuk sekalipun. Apapun kondisi Anda saat ini, jangan pernah berhenti untuk taat dan setia, dan jangan pernah kehilangan pengharapan Anda kepada Allah, karena pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita (Ibrani 6:19). (* Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES