more"/> more">
Kejenuhan Rohani dan Cara Mengatasinya
Last Updated : May 24, 2019  |  Created by : Administrator  |  234 views

Kita hidup di dunia yang sangat sibuk. Sering kali kita mengalami kejenuhan sehingga akhirnya hidup kita menjadi tidak produktif. Jenuh bisa berarti capek, sumpek, bosan, malas mau berbuat apapun dan segala yang dikerjakan menjadi tidak bergairah. Ketika mengalami kejenuhan rohani dampaknya bisa banyak, kita bisa jadi malas ke gereja, jikapun pergi firman Tuhan yang didengar  dan dibaca terasa hambar tidak menjamah hati kita. Pokoknya semua terasa sumpek dan hambar.

Kejenuhan rohani juga bisa dialami oleh kita sebagai anak-anak Tuhan yang notabene sudah lahir baru dan sudah aktif melayani Tuhan. Semua aktivitas pelayanan yang dilakukan akhirnya menjadi hanya sebuah rutinitas belaka yang tidak memberi dampak. Student Corner kali ini akan membagikan pendapat beberapa teman-teman mahasiswa  yang aktif melayani di pelayanan mahasiswa maupun pelayanan siswa. Topik yang kami angkat adalah apakah mereka pernah mengalami kejenuhan rohani ? Dan bagaimana cara mereka mengatasinya .Yuk, kita baca sharing mereka !

 

Theresia Aloina Siregar  (Fakultas Ekonomi dan Bisnis Univ. Brawijaya/Pengurus PMK Maleakhi)

Setiap orang memiliki pundi-pundi kasih yang harus terus diisi. Pundi-pundi itu memang dapat diisi oleh sesama, namun tidak akan pernah penuh. Manusia bisa lalai, bisa pergi, bahkan bisa merusak pundi-pundi itu sendiri. Hanya Yesus, Sang Pengasih itu, yang akan selalu ada dan mengisi pundi-pundi kasih kita. Menyadari bahwa pundi-pundi saya sudah diisi oleh Dia membuat saya ingin membagikan lagi kepada orang lain, agar orang lain dapat mengisi pundi-pundi mereka juga. Maka ketika ditanya, “apakah saya pernah mengalami kejenuh?”, dengan sukacita saya akan menceritakan bahwa Dia yang telah memberikan kasih itu kepada saya begitu banyaknya, maka saya tidak bisa berdiam diri tanpa membagikannya kepada orang lain.

 

Raja Doli Tampubolon (Mahasiswa Universitas Brawijaya/TPS Kota Malang)

Di tengah padatnya kegiatan, saya sering mengalami kejenuhan rohani dan kering. Itu yang membuat saya sering tidak menikmati relasi dengan Tuhan dan pelayanan yang dikerjakan. Menyediakan waktu secara rutin untuk fellowship bersama sahabat dalam satu komunitas pelayanan menjadi satu cara saya untuk menghilangkan kejenuhan rohani. Makan bersama, sharing pergumulan satu sama lain, dan menonton bioskop menjadi cara untuk me-refresh kembali kelelahan fisik dan jenuh secara rohani.

 

Nathanael Joe Farell (Mahasiswa Unive.Negeri Malang/TPS Kota Malang)

Saya pernah mengalami kejenuhan rohani. Saya mempunyai beberapa cara untuk mengatasinya. Yang pertama saya lakukan adalah saya akan melakukan kegiatan rohani dengan tidak monoton. Misal ketika saya melakukan saat teduh, saya akan melakukan berbeda dengan yang biasa saya lakukan.  Yang kedua, saya akan melakukan "aksi nyata." Yang saya maksud adalah melakukan tindakan nyata sebagai bentuk tindakan nyata dari saat teduh yang saya lakukan. Hal itu akan membuat saya lebih dapat mengatasi kejenuhan rohani, serta memberikan semangat baru bagi saya.

 

Yohanes Paskah (Mahasiswa Universitas Brawijaya/TPS Kota Malang)

Saya pernah mengalami di suatu waktu tidak bisa menikmati firman Tuhan melalui saat teduh. Tidak ada firman Tuhan yang bisa saya renungkan. Kesibukan yang padat membawa saya pada kejenuhan dan rasa capai. Akhirnya saya memutuskan untuk berdoa di malam hari. Dalam doa hingga menangis tanpa tahu mengapa saya menangis, akhirnya saya mulai dipulihkan.

 

Tabitha Azharia Chrissy (Fakultas Teknik Industri Univ. MaChung/Mantan Pengurus PMK Oasis)

Sama dengan kebanyakan orang Kristen, aku pun pernah mengalami kejenuhan. Kejenuhan bisa disebabkan banyak hal. Ada jenuh akan rutinitas, jenuh akan relasi, jenuh akan belajar, dan jenuh akan pelayanan. Kejenuhan-kejenuhan dapat saling berhubungan satu dengan yang lain. Ketika rohani mengalami penurunan, hal itu akan berdampak juga terhadap aktivitas lainnya. Ketika jenuh berdoa, kita dapat lupa bersyukur dan memohon pengampunan kepada Tuhan. Pada gilirannya, kita akan melupakan Tuhan dan mencari kepuasaan duniawi.

Ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk mengatasi kejenuhan. Pertama, kita harus menenali diri sendiri. Mengenali diri adalah penting, agar kita dapat mawas diri kapan dan mengapa kita bisa senang atau sedih. Aku dapat kembali merasa senang dan bersemangat setelah melakukan apa yang aku senangi seperti membaca webtoon, nonton drama Korea, atau yang lain. Agar rasa jenuh tidak mudah merasuki, pembagian waktu juga sangat penting.

Jangan isi semua waktu kita hanya dengan aktivitas pelayanan atau belajar secara terus menerus. Sediakan waktu untuk berisitirahat, rekreasi, atau kegiatan positif lain. Hal ketiga yang perlu kita lakukan untuk mengatasi kejenuhan adalah berdiam diri. Berdiam diri perlu dilakukan untuk meringankan “rasa penuh’ akibat terlalu padatnya aktivitas. Kita perlu memiliki waktu bagi diri sendiri. Aku sendiri biasanya mengisi waktu berdiam diri dengan berada di dalam rumah, tanpa keluar kemana-mana. Dengan berdiam diri di rumah, aku mendapatkan stamina baru ketika memulai hari berikutnya. Hal terakhir namun sangat penting adalah berdoa.

Di dalam kejenuhan dan bermalas-malas diri melakukan aktivitas, jangan pernah melupakan doa. Waktu berdoa adalah waktu yang paling berharga untuk kita dapat membangun relasi yang intim dengan Tuhan dan mengalami pemulihan dari Allah. Akui diri dihadapan Tuhan jika memang mengalami kejenuhan karena yang dapat menolong melewati fase kejenuhan adalah Tuhan. Jika sehari saja melewati doa, kita akan terbiasa melakukan di hari-hari selanjutnya. Jadi, jangan pernah melewati doa walaupun dalam keadaan yang sangat terpuruk.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES