more"/> more">
Beranikah Kita?
Last Updated : Jul 26, 2019  |  Created by : Administrator  |  130 views

Oleh Berman Silalahi *)

Dalam perbincangan dengan alumni beberapa waktu lalu, mereka bercerita tentang keputusan-keputusan kompromistis atas dosa yang pernah mereka buat dalam pekerjaan mereka. Dari percakapan tersebut timbul pertanyaan, apa yang harus kami lakukan ketika kami sudah terlanjur berkompromi? Lalu apa yang dapat kami lakukan agar tidak berkompromi lagi? Ironisnya, mereka yang berdialog ini adalah mereka yang dulu bertumbuh di dalam persekutuan mahasiswa Kristen, yang tentunya sudah belajar mengenal Allah dan kuasa-Nya. Seharusnya mereka sudah memiliki iman yang teguh, dan dapat mengambil keputusan serta sikap yang tepat di tengah tantangan dan godaan untuk berkompromi. Kenyataannya, semua proses pembelajaran ini tidak serta merta membuat keputusan-keputusan yang dibuat bebas dari kompromi terhadap dunia. Nampaknya ada disiplin yang perlu kembali dilatih di dalam perjalanan iman alumni yang sudah terjun di dalam pergumulan dunia kerja.

Disiplin penting yang perlu dilatih oleh alumni adalah proses pengambilan keputusan yang mengikutsertakan Allah dalam setiap prosesnya. Hal ini perlu dilakukan, karena yang seringkali menjadi pertimbangan dasar dalam pengambilan keputusan kompromis adalah kondisi nyata yang dihadapi, dan tekanan mengambil solusi reakistis. Kenyataan bahwa kita hidup dalam dunia yang tidak ideal (dunia yang masih berdosa) telah menjadi dasar pertimbangan dalam mengambil keputusan realistis dan kompromis. Daripada melawan arus untuk mengubah kebiasaan dan tradisi yang ada, lebih baik mengambil keputusan yang “menguntungkan semua pihak.”

Pemikiran yang realistis akan kondisi dunia adalah hal yang baik, karena akan menolong kita memahami kondisi yang ada. Akan tetapi keberadaan Allah yang adalah Pencipta dan Perancang dunia tempat kita hidup, yang di dalamnya termasuk diri kita, merupakan hal penting yang harus menjadi pertimbangan utama ketika membuat keputusan. Ketika sikap realistis mendominasi pertimbangan keputusan kita, tanpa kesadaran dan pengakuan akan keberadaan Allah, maka sikap kompromi menjadi tidak terhindarkan. Maka tindakan ini akan berpotensi membawa pada kompromi terhadap dosa yang lebih jauh lagi.

Dalam melatih disiplin mengikutsertakan Allah kita perlu belajar dari sikap Raja Yosafat di dalam menghadapi serangan gabungan bani Moab, Amon, dan pasukan Meunim (2 Tawarikh 20). Dalam serangan ini Yosafat berhadapan bukan hanya dengan pasukan yang berjumlah besar, tetapi juga harus menghadapi kondisi dirinya yang sudah tua, serta anaknya Yoram yang hidup jahat di mata Allah (2 Raja-raja 1:17; 3:1). Dalam kondisi ini, keputusan yang paling menggoda untuk diambil adalah dengan berkompromi menyerahkan diri, atau meminta pertolongan pada kerajaan lain. Menghadapi kondisi ini Yosafat mengambil langkah pertama dengan mencari Tuhan, dan meminta petunjuk atas kondisi yang mereka hadapi. Bahkan, bukan hanya dirinya sendiri yang mencari, tetapi seluruh penduduk Yehuda juga ikut berpuasa serta meminta pertolongan dari TUHAN.

Dari bagian ini, kita dapat belajar untuk berdisiplin mencari TUHAN sebagai langkah pertama yang harus dilakukan, ketika menghadapi kondisi yang menggoda untuk berkompromi. Allah yang mencipta dunia ini adalah Allah yang berkuasa dan berdaulat penuh atas segala sesuatu yang terjadi di dalamnya. Maka tidak ada sesuatu pun yang terjadi, yang tidak berada dalam kuasa atau ijin TUHAN. Karena itu, datanglah kepada Allah yang berdaulat dan berkuasa tersebut, dan mintalah petunjuk dan pimpinanNya, maka Dia akan menyatakan diri-Nya dan memimpin langkah kita dalam menghadapi kondisi tersebut.

Hal selanjutnya yang perlu dilatih adalah kepercayaan dan ketundukan penuh pada kehendak Allah yang telah dinyatakan bagi kita. Doa dan puasa Yosafat dijawab Tuhan melalui Yahaziel, orang Lewi yang dipenuhi oleh Roh TUHAN. Melalui Yahaziel, Allah menyatakan kehendak-Nya agar mereka tidak takut dan putus asa, dan terus menyerang mereka. Hal ini tentulah sesuatu yang sangat tidak masuk akal untuk dilakukan, terlebih ketika rasa takut telah lebih dahulu menghinggapi orang Yehuda. Akan tetapi, kepercayaan dan ketundukan Yosafat serta rakyatnya kepada perintah Allah dan janji-Nya telah membawa perubahan yang nyata dalam kondisi buruk yang dihadapi. Mereka menyaksikan bagaimana Allah sendiri yang memberikan kemenangan dalam pertempuran yang mereka hadapi. Ketika kita menaruh kepercayaan dan ketundukan penuh pada Allah, maka Allah sendiri yang akan bekerja dan menyatakan kuasa dan kedaulatan-Nya atas kondisi yang menggoda dan menekan kita.

Pertanyaan dan tantangan bagi kita adalah, beranikah kita mendisiplinkan diri mengikutsertakan Tuhan dalam setiap pertimbangan keputusan yang kita buat? Jika kita ingin belajar lepas dari ikatan kompromi atas dosa, dan mengalami kuasa Allah yang tidak pernah kita pikirkan, maka beranilah menantang iman kita kepada Tuhan, serta terus menerus mengikutsertakan Dia. Belajarlah mendisiplinkan diri untuk datang kepada Tuhan dan meminta pertolongan-Nya, serta membangun kepercayaan dan ketundukan penuh kepada Allah dan kedaulatan-Nya. Jika kita mau mengalami karya Allah yang ajaib dan melampaui ketidakmungkinan, maka belajarlah melatih iman kita dengan sungguh-sungguh.( * Penulis Melayani Pelayanan Mahasiswa di Malang)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES