more"/> more">
JODOH UNTUK APA?
Last Updated : Sep 27, 2019  |  Created by : Administrator  |  387 views

Kejadian 24: 1-21

Oleh Johan Dereta,M.A *)

 

Menurut R. Paul Stevens (Down to Earth Spirituality), hanya ada dua cara untuk memasuki pernikahan: pertama, dengan mengatur sendiri pernikahan itu melalui courting/pendekatan persuasif/perkencanan; kedua, dengan menjalani pernikahan yang telah diatur oleh orang lain, yang berperan mendekatkan pria dengan wanita (yang akan menikah). Sebagian orang berpikir ada cara ketiga, yakni dengan doa dan sesuatu yang bersifat adikodrati, yang melaluinya Allah dengan menakjubkan mengirim seorang pasangan hidup tanpa usaha dari manusia. Namun itu tampaknya tidak didukung oleh Kitab Suci atau pengalaman yang ada.

Abaraham, sang bapa orang beriman memilih model pertama untuk mendapatkan jodoh terbaik bagi anaknya, Ishak. Sekalipun sebelumnya – tatkala belum mempunyai keturunan –  Abraham sempat berpikir bahwa Eliezer-lah yang akan menjadi pewaris dari segala miliknya, ia kemudian berubah setelah kehadiran keturunan darah dagingnya. Ishaklah yang akan menjadi pewarisnya, bahkan yang akan mewarisi janji Tuhan. Wajar jika Abraham mencarikan istri terbaik bagi anaknya.

Sebagai hamba kepercayaan Abraham, Eliezer mendapat tugas tidak mudah: mencarikan jodoh bagi Ishak. Tugas ini maha penting, karena terkait masa depan keturunan anak tuannya. Pemilihan Eliezer (sebagai “pencari jodoh Ishak”) dapat dipastikan sangat tepat. Selain karena adalah hamba paling senior, Eliezer memiliki kualitas yang sangat istimewa. Hal ini bisa didasarkan pada fakta bahwa ia ‘nyaris’ terpilih menjadi pewaris dari segala kekayaan Abraham.

Abraham menetapkan kriteria bagi jodoh Ishak: yang pertama adalah bukan perempuan Kanaan. Kriteria ini oleh narator sengaja diposisikan pertama, seakan mengingatkan pembaca tentang kutukan yang disampaikan Nuh kepada Kanaan (Kej:25). Bagi Abraham, sebagai bapa dari bangsa yang besar yang dipanggil untuk menjadi berkat, tidak mungkin lagi ia hidup bersama-sama dengan bangsa yang dikutuk.

Berkat dan kutuk tidak boleh berjalan bersama di tengah keturunannya. Kriteria kedua adalah “dari negeri asal,” negeri sanak saudaranya. Tentang hal ini, Abraham tampaknya melihat bahwa keturunan saudaranya merupakan pilihan terbaik sebagai jodoh Ishak.

Jika kita kesulitan membenarkan pilihan Abraham karena di Mesopotamia juga telah terjadi penyembahan yang rusak (Kej 31:19), kita bisa membenarkannya dengan melihat dari cara pandang kemurnian ras.  Kriteria ketiga tidak membawa Ishak kembali ke tanah leluhurnya. Ini merupakan penegas bahwa Abraham benar-benar meyakini janji Tuhan.  Diambilnya perempuan calon jodoh Ishak itu dari keluarganya – bukan membawa Ishak kembali ke sana – merupakan tindakan memutus perempuan tersebut dari penyembahan yang telah rusak.

Ketiga kriteria tersebut menyajikan kisah tentang penghayatan yang mendalam dari seorang ayah akan tujuan jodoh bagi anaknya. Sekalipun mungkin berbeda model dengan cara Abraham mendapatkan jodoh bagi anaknya, pemikiran tentang jodoh  yang sangat mendalam dari Abraham layak menjadi patokan bagi generasi Kristen kini dan ke depan. Allah dan Janji-Nya menjadi pusat dari prokreasi umat Allah.

 

Saking pentingnya kriteria Abraham, hingga perlu jaminan bahwa tiga kriteria yang ditetapkan itu benar-benar dipenuhi oleh hambanya; dua kali Abraham harus “mengikatnya” sumpah dengan Eliezer. Eliezer harus bersumpah dengan memegang pangkal paha Abraham. Sekalipun sulit memastikan maksud dari langkah yang diambil Abraham ini, sangat mungkin hal ini terkait dengan wilayah reproduksi pria. Mencarikan jodoh bagi Ishak, bukan sekadar mencari perempuan untuk menjadi istri, tetapi terkait dengan keberlanjutan janji TUHAN bagi keturunan Abraham.

Pemikiran Abraham ditangkap tepat oleh Eliezer. Perempuan yang akan menjadi jodoh bagi tuan muda Ishak bukan asal perempuan. Dari tanah Mesopotamia saja tidak cukup. Ia berdoa dan menetapkan tanda perempuan yang akan jadi jodoh bagi Ishak. Perempuan itu haruslah berkarakter lebih dari murah hati. Memberikan air minum kepada orang asing, sekaligus kepada unta-untanya (ayat 14).  

Luar biasa yang didapatinya: seorang perempuan yang benar-benar lebih dari murah hati. Tanda yang ditetapkan Eliezer menjadi kenyataan! Tindakan perempuan berparas cantik, yang kemudian kita ketahui bernama Ribka tersebut, menunjukkan karakter yang istimewa. Lebih jauh kita mendapatkan data, bahwa Ribka menyediakan tempat menginap dan makanan bagi unta-utanya. Tanda yang ditetapkan Eliezer telah dijawab melebihi harapannya. Tentu saja harus diingatkan disini, peristiwa ini sangat khusus, dan tidak serta merta akan tepat terjadi demikian pada kita.

Demikianlah upaya Abraham, perjalanan Eliezer mencari jodoh bagi Ishak berhasil. Sebagai refleksi bagi kita, sungguh jodoh bukanlah sekadar mencari laki-laki atau perempuan untuk hidup bersama sampai mati, berbagi bersama, teman suka atau suka. Jodoh adalah mitra seumur hidup untuk melanjutkan janji Allah serta menyampaikan berkat-berkat-Nya bagi generasi selanjutnya.(* Penulis melayani pelayanan Alumni di Jember )


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES