more"/> more">
Mengubah Perilaku Yang Buruk
Last Updated : Oct 25, 2019  |  Created by : Administrator  |  254 views

Oleh Agung Kurniawan, M.Psi ., Psikolog*)

... yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya (Efesus 4:22-24).

 

Melalui ayat ini, kita sebagai orang percaya didorong untuk hidup dalam kebenaran dan kekudusan, baik dalam pikiran maupun dalam perilaku kita. Perilaku yang telah diubahkan merupakan suatu bukti dari penanggalan manusia lama kita, dan pengenaan manusia baru di dalam hidup kita. Perubahan perilaku kita merupakan tanggung jawab kita, sehingga kita perlu mengusahakannya setiap hari. Namun proses perubahan tersebut bukan hanya bergantung usaha kita, tetapi juga intervensi Allah sehingga ada kerjasama dengan Allah dalam perubahan perilaku kita.

Perilaku manusia adalah sesuatu yang kompleks dan dinamis. Disebut kompleks karena perilaku manusia dipengaruhi oleh banyak faktor: stimulus, analisa kognitif, kebutuhan, nilai, emosi, dan kebiasaan setiap hari. Disebut dinamis karena setiap perilaku manusia tidak selalu didasarkan pada satu faktor yang selalu sama setiap hari. Misalnya, tadi pagi saya makan pagi karena kebutuhan lapar, tetapi siang harinya saya makan karena diajak rekan makan siang meski belum lapar.

Suatu perilaku bisa dinilai positif jika perilaku tersebut membangun diri dan orang lain, sehingga lebih efektif dalam kehidupan (menjadi serupa Yesus). Namun jika suatu perilaku tidak mengefektifkan diri sendiri dan orang lain (menjadi serupa Yesus), maka perilaku tersebut adalah perilaku yang negatif. Jika perilaku negatif telah menjadi kebiasaan, budaya, atau gaya hidup seseorang, maka perilaku tersebut dapat mendatangkan malapetaka baginya. Karena itu, kita harus selalu mengevaluasi dan berusaha memperbaiki setiap perilaku kita menjadi lebih baik, agar perilaku kita menjadi lebih efektif (menjadi serupa Yesus).

Selain menilai suatu perilaku positif atau negatif berdasarkan keefektifan, perilaku positif atau negatif juga dinilai berdasarkan Alkitab dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Penilaian ini menentukan apakah seseorang berkenan kepada Allah, dan bisa diterima atau tidak dalam masyarakat tersebut. Perkenan Allah dan penerimaan masyarakat akan membawa kepada kebahagiaan kita. Namun penolakan dari Allah dan masyarakat akan membawa kepada malapetaka bagi diri kita. Sekali lagi, perlu untuk menilai perilaku kita apakah positif atau negatif. Perilaku negatif atau buruk merupakan awal dari suatu kebiasaan yang buruk. Kebiasaan buruk adalah suatu kebiasaan yang kurang efektif dan kurang sesuai dengan Alkitab atau norma yang berlaku dalam masyarakat.

Suatu perilaku diulang jika menghasilkan suatu konsekuensi positif bagi seseorang. Konsekuensi positif ini adalah hal-hal yang membawa kesenangan, atau menghindarkan seseorang dari suatu peristiwa yang tidak diinginkannya. Namun, meski suatu perilaku dapat menghasilkan konsekuensi positif, namun perilaku tersebut belum tentu efektif dan sesuai dengan Alkitab atau norma masyarakat. Misalnya: seks bebas, minum minuman beralkohol, dan sebagainya. Maka suatu kebiasaan seringkali sulit diubah karena telah memberikan suatu konsekuensi positif bagi seseorang. Sehingga suatu kebiasaan dapat diubah jika si pelaku memiliki visi pribadi dan kesadaran moral yang kuat (sikap takut akan Tuhan). Mazmur 119:9 menyatakan: “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? Dengan menjaganya sesuai dengan firman-Mu.”

Visi dan moral yang kuat (sikap takut akan Tuhan) ibarat jangkar yang kuat, yang mampu menahan seseorang terjerumus ke dalam suatu kebiasaan yang buruk, dan bahkan memudahkan seseorang mengubah kebiasaan buruknya. Misalnya, uang dapat memberikan suatu konsekuensi positif bagi seseorang. Demi memperoleh uang, maka seseorang mengembangkan suatu perilaku kerja, lalu memperoleh uang dengan mudah dengan mengedarkan narkoba. Jika seseorang telah memperoleh pengalaman memperoleh uang yang sangat banyak hanya dengan menjual narkoba, maka uang yang banyak itu menjadi konsekuensi positif yang kuat bagi orang tersebut. Perilaku kerja tersebut akan sulit diubah. Lain halnya jika orang tersebut memiliki kesadaran moral yang kuat (sikap takut akan Tuhan). Orang tersebut akan berubah/bertobat.

Hal terakhir yang mempengaruhi seseorang untuk mengubah kebiasaan buruknya adalah komitmen. Komitmen dihasilkan berdasarkan kesadaran apakah suatu perilaku itu penting atau tidak. Komitmen diperlukan agar sebuah perilaku baru yang telah berubah dapat terus dipertahankan hingga menjadi suatu kebiasaan yang baik. Melalui kuasa kebangkitan Yesus Kristus, orang percaya akan lebih mudah mengubah perilaku buruknya, karena kesadaran bahwa hidup yang lama telah dibuang dan digantikan oleh hidup yang baru. “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang” (2 Korintus 5:17).(* Penulis melayani sebagai Konselor dan Psikolog di Perkantas Jawa Timur dan Yayasan Insan Indonesia Mengabdi)

 

*illustrasi gambar: https://lesliewolgamott.com/courage-free-bad-habits/


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES