more"/> more">
FRUITFULNESS IN THE FRONTLINE
Last Updated : Nov 21, 2019  |  Created by : Administrator  |  95 views

Oleh Airin Levina, S.Gz *)

              Ada seorang pemuda yang lahir pada tahun 1927 dan mati di usia 28 tahun. Pemuda ini lahir di lingkungan keluarga Kristen, sehingga ia sudah mengenal Kristus sejak kecil dan selalu membagikan tentang Kristus kepada teman-teman sebayanya. Di masa remajanya, hal sama tetap dilakukannya: yaitu tetap membagikan Injil di lingkungan sekolahnya.

Di setiap weekend, dia pergi ke suatu kota kecil dengan kereta dan membagikan Injil kepada orang-orang yang duduk dengannya. Hatinya selalu berkobar untuk membagikan Injil, namun suatu ketika muncul pertanyaan dalam hatinya: “Sudah banyak orang yang saya beritakan Injil, tapi mengapakah baru 1-2 orang saja yang terima. Kenapakah pekerjaan pemberitaan Injil yang saya lakukan tidak produktif dan tidak efektif?”

              Singkat cerita, pertanyaan dalam hatinya tersebut menemani kehidupannya yang tetap giat memberitakan Injil dan memperlengkapi dirinya. Di masa kuliahnya, ia adalah pengajar yang handal dan pengkotbah yang giat.

Ia memenangkan lomba gulat dan prestasi akademisnya pun bagus. Ia menikah pada 1953 dengan seorang wanita yang sama taatnya di hadapan Allah, dan sama-sama memiliki beban melayani suku terabaikan, yaitu Suku Auca di bagian timur Ekuador. Pemuda ini adalah Jim Elliot, yang bersama 4 rekannya tiba di ladang misi dan langsung ditombak sampai mati oleh orang-orang Auca di Januari 1956. Perjuangan pemberitaan Injil tidak berhenti. Elisabeth Elliot – istri Jim – dan rekan-rekannya tinggal melayani Suku Auca, hingga akhirnya seluruh suku ini bertobat dan menerima Kristus.

              Menjadi fruitfulness in the frontline bukan satu hal yang instan. Buah dapat dirasakan ketika ada proses yang benar,  dan proses itu membutuhkan ketekuanan dan ketaatan, serta sangkal diri yang mutlak. Jim Elliot tekun dan taat menghidupi nilai-nilai Kristen. Walau banyak pilihan di waktu kecil dan remajanya – di saat teman-temannya lain bermain dan berpesta, ia tetap memilih memegang Amanat Agung dan memberitakan Injil kepada banyak orang. Walau sering ditolak dan sempat merasa dirinya tidak produktif dan efektif, ia tetap giat mengerjakannya.

Di usianya yang baru menikah, di kala orang lain mungkin memilih zona aman dengan tinggal tetap bersama keluarga, Jim memilih menaati Allah yaitu pergi ke suku Auca – yang tidak terjamah. Hingga akhirnya, respon ketaatan yang sama dilakukan istrinya. Hingga perubahan terjadi, Suku Auca hingga saat ini menerima Kristus dan bahkan buahnya terasa, ada banyak orang dari Suku Auca yang menjadi misionaris dan memberitakan Injil ke suku-suku tak terjamah lainnya. Perubahan hidup, perubahan kekal, dan perubahan yang berarti akan dirasakan oleh banyak orang.

              Yohanes 15:5 berbunyi demikian: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” Yesuslah pokoknya, kitalah rantingnya. Untuk berbuah, kita butuh asupan nutrisi yang sehat, yang kita dapat dengan melekat pada pokoknya. Melekat pada Allah berarti kita tunduk dengan setiap kehendakNya. Untuk tahu kehendakNya, kita harus peka dengan pimpinan-Nya dan bergaul dengan firman-Nya.

Apapun yang kita lakukan adalah “tentang dan bagi Dia”. Ini bukan berarti kita melakukannya dengan terpaksa, justru kita melakukannya dengan hati yang gembira, sukacita, dan bersyukur karena Dialah Allah yang sudah terlebih dahulu menyelamatkan hidup kita. Seperti Jim Elliot, buahnya terasa hingga saat ini karena ia melekat kepada pokok anggurnya. Ia menggantungkan dirinya sepenuhnya pada Allah.

              Apa frontline Saudara saat ini? Apapun frontline Saudara, panggilannya sama. Ia mau kita berbuah, melakukan perubahan di seluruh aspek hidup kita. Entah Saudara sebagai mahasiswa di lingkungan kampus, atau staf di lingkungan pelayanan kaum intelektual, atau pebisnis, atau tenaga kesehatan, atau pegawai negeri sipil, atau pegawai swasta – apapun itu, identitas dan panggilan kita tetap sama.

Identitas dan panggilan orang percaya adalah untuk menjadi berkat bagi bangsa-bangsa, untuk membawa perubahan kepada dunia – dengan menjalankan mandat budaya dan mandat Injil secara berdampingan. Kita, orang yang dulunya berdosa, diampuni, dan dipakai menjadi mitra Allah untuk memperbaharui dunia. Sungguh status yang luar biasa, dan untuk menghidupinya dibutuhkan ketekunan dan ketaatan, serta pengangkalan diri yang mutlak.           

Bisakah tanpa Allah kita melakukan perubahan? Tidak bisa, karena di luar Allah kita tidak mampu berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Kalaupun banyak penemuan di luar sana yang dilakukan oleh orang atheis atau agnostik, itupun semata-mata karena Allah mengijinkannya sebagai anugerah umum. Yohanes 15:7 menasihatkan kita untuk tetap tinggal dalam firman-Nya dan meminta kepada-Nya, sehingga kita menerimanya.

Ketika kita tinggal di dalam firman, yang kita minta dan terima pun pasti akan sesuai dengan kehendak-Nya. Ketika kita tinggal dalam Firman, Allah yang memampukan kita untuk melakukan perubahan yang benar dan baik seturut dengan kehendakNya. Soli Deo Gloria. Tuhan memberkati.( * Penulis adalah Alumni PMK Kota Surabaya)

 

 

*

Info picture

https://www.licc.org.uk/ourresources/fruitfulness/


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES