more"/> more">
Bumi yang Tidak Selaras dengan Sorga
Last Updated : Jan 31, 2020  |  Created by : Administrator  |  167 views

Oleh Arianto Pakaang,M.Div *)

Sejak waktu itulah Yesus memberitakan: 

“Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!”

(Matius 4:17)

 

Kedatangan Sang Raja 2000-an tahun yang lalu menembus garis batas yang memisahkan antara keagungan dan kehinaan. Sang Raja Agung itu menembus garis batas untuk menyatu dalam label kehinaan manusia, membuat perubahan, mendefinisikan ulang kehinaan itu. Raja di atas Segala Raja itu berinisiatif datang menjumpai umat-Nya yang tak berpengharapan, tanpa ada jalan keluar kecuali binasa. Kerajaan Sorga sedang mendobrak bumi. Sang Raja semesta melangkah masuk mendekat, mencari kepunyaan-Nya yang berpaling dan menolak-Nya

“Bertobatlah!” merupakan seruan pertama Yesus saat memulai pelayanan-Nya. Sejak awal Yesus sudah menyentak bumi. “Bertobatalah! Sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” Bumi sedang tidak selaras dengan Sorga. Bumi harus bertobat; berbalik arah 180o, berubah secara radikal dan revolusioner. Kerajaan Sorga, frasa yang sering disamakan dengan Kerajaan Allah memiliki beberapa pengertian, antara lain yaitu “Pemerintahan Allah” dan “keselamatan yang sempurna.” Pemerintahan Allah yang memiliki tiga dimensi: sudah datang secara persuasif masa kini, belum datang,  dan yang akan datang (menghancurkan segala pemerintahan manusia dan bertahta selamanya).

Yang menjadi perenungan kita adalah mengapa “seruan pertobatan” ini dikaitkan dengan Kerajaan Sorga? Mengapa “seruan pertobatan” dikaitkan dengan “pemerintahan Allah”? Alasan pertama,  manusia harus menyelaraskan tujuan hidupnya dengan tujuan Kerajaan Sorga; tujuan rancangan Sang Khalik. Dengan kata lain, “pemerintahan Allah” membawa setiap orang berbalik dari tujuan hidup yang menyimpang, kepada tujuan hidup yang Allah rancangkan.

Berjumpa dengan dua orang pemuda di kereta cepat sebuah negara maju, menimpali pujian saya terhadap keindahan dan kecanggihan bangsanya: “Ah, tampak luar maju, indah dan canggih, tetapi jiwa kami kosong.” Mereka bercerita kalau tiap weekend, mereka berusaha mencari kesenangan untuk mengisi kekosongan jiwanya. Punya segalanya, bisa melakukan apa saja namun hidup mereka tak bermakna, hidup tanpa tujuan yang hakiki. Itulah dunia yang sedang tidak selaras dengan sorga.

Sesungguhnya tujuan hidup “versi rancangan ilahi” secara eksplisit tercantum dalam Yesaya 43:7: “...semua orang yang disebutkan dengan nama-Ku yang Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku, yang Kubentuk dan yang juga Kujadikan!” Sangat mendasar dan terlalu sering terdengar lantang dan bahkan terngiang dalam benak kita, sampai-sampai maknanya meredup. Alih-alih memancarkan kemuliaan Tuhan, malah kemilau dunia yang menghiasi posting, status, kicauan, selfie kita di akun media sosial kita. Tanpa sadar, kita kehilangan arah, mendaki puncak kesuksesan versi “pengabdi Mamon.”  Tak asing lagi dalam kebusukan dunia, dan justru terserap dalam kegelapannya.

Alasan kedua mengapa seruan pertobatan dikaitkan dengan Kerajaan Sorga adalah karena kita harus menyelaraskan nilai-nilai hidup kita dengan nilai-nilai Kerajaan Sorga. Pemerintahan Allah yang sedang datang menuntut kita untuk hidup berbalik dari nilai-nilai dunia yang kita hidupi, kepada nilai-nilai Kerajaan Allah. Yesus datang menembus batas keagungan dan kehinaaan itu. Ia datang dalam kondisi manusia yang memberi label kepada sesamanya: miskin, budak, tidak terpelajar, tidak diperhitungkan, dan segala istilah yang memandang rendah. Namun Yesus datang memakai label itu, dan mencoba mendefinisikan ulang maknanya. Ia terlahir dalam kondisi miskin, terabaikan, dan kumuh.  Ia mengenakan label kemiskinan yang disematkan manusia kepada sesamanya yang tidak memiliki materi yang memadai, jauh dari kemewahan dan kenyamanan. Ketika “Sang Raja Segala Raja” mau mengenakan label itu, Ia sedang menyatakan kepada dunia, kemiskinan materi bukanlah sebuah kehinaan. Kehinaan yang sesungguhnya adalah ketika kita mengenakan brand ternama, atau bahkan memiliki semua materi dan akses di dunia ini, kita mengenakan brand ternama, namun batiniah kita keropos, kosong tak bermakna, busuk bagai bangkai walau dibungkus dengan indah.

Sang Raja itu tidak kehilangan keagungan-Nya meski terlahir dan hidup dalam kemiskinan. Ia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya. Lahir hingga mati tanpa memiliki rumah yang indah. Ia bahkan sangat mungkin tidak memiliki kas keuangan yang memadai. Sebagai Guru, Ia bahkan tidak menulis buku. Di sinilah, Yesus justru sedang menantang nilai-nilai dunia yang semarak dengan kemewahan, kepongahan, dan kesuksesan. Sorga sedang mendobrak nilai dunia ini; apa yang berharga, apa yang sukses dan yang hina dijungkir-balikkan. Berharga bukan soal apa yang kita pakai/miliki, melainkan siapa yang memiliki kita atau untuk siapa kita hidup. Identitas kita sebagai “anak Allah” atau “anak Raja” itulah yang menjadikan kita berharga. 

Alasan ketiga mengapa seruan pertobatan dikaitkan dengan Kerajaan Sorga adalah, karena kita diminta menyelaraskan impian masa depan kita dengan “kehendak dan rencana Ilahi.” Pemerintahan Allah berkaitan dengan kehendak dan rencana Tuhan yang tergenapi dalam sepanjang dan akhir dari sejarah. Kita harus bertobat dari ambisi dan rancangan hidup kita sendiri. C. T. Studd, seorang misionaris Inggris ke China dan Afrika (2 Desember 1860-16 Juli 1931), pernah berkata: “Hidup hanya sekali dan akan segera berlalu. Yang bertahan hanya segala sesuatu yang dikerjakan demi Kristus.”

Seorang mahasiswa kedokteran dicelikkan ketika membaca Filipi 2:10-11: “...supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: ‘Yesus Kristus adalah Tuhan, bagi kemuliaan Allah, Bapa!’” Segala sesuatu berjalan maju, semua akan bermuara pada Yesus sebagai Raja yang layak disembah segala bangsa. Mahasiswa itu tergetar menyadari bahwa akhir dari sejarah dunia seperti itu. Sebuah kesadaran menyeruak dari hatinya, menyesali ambisinya selama ini. Berbalik arah untuk mengubah tujuan hidup, nilai-nilai dan impian hidupnya, agar selaras dengan kemuliaan Allah dalam Ending sejarah dunia ini.

Hidup ini bukan soal impian untuk bisa diperhitungkan sesama dalam dunia yang fana ini. Bukan soal berapa followers, likes, subscribers, destinations, incomes yang bisa kita banggakan. Ketika bisa mencapai yang tertinggi, kekosongan batiniah akan rakus meminta lebih lagi dan jiwa akan terkungkung dalam nafsunya yang menjijikkan.

Sebuah ayat hafalan di tahap KTB Pembinaan Dasar mengalir diingatan saya: “… Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah dibangkitkan untuk mereka” (2Kor. 5:15). “I am broken Inside”, sebuah tulisan singkat yang ditemukan ketika seorang artis muda Korea berbakat, yang sudah mencapai impiannya, menikmati riuh kegemilangan dunia, namun mengakhiri hidupnya dengan mengenaskan. Realita sederhana dan kekinian ini sekadar mengingatkan kita akan impian yang lebih bermakna dan bernilai kekal yang patut kita kejar. Hal ini sekaligus menyadarkan kita, banyak jiwa-jiwa merana yang membutuhkan Kabar Baik: tujuan, nilai-nilai dan impian yang bermartabat dan memuliakan Tuhan. Bertobatlah, selaraskan hidupmu dengan getaran dan kerinduan hati Sang Pemilik hidup kita. Selaraskan hidup kita dengan nilai-nilai serta tujuan Kerajaan-Nya. (*Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES