more"/> more">
Loving LGBTIQ: Mengasihi Ciptaan-Nya, Menolak Perbuatannya
Last Updated : Feb 14, 2020  |  Created by : Administrator  |  76 views

Oleh Robin Ignatius Chandra,S.Psi*)

Isu LGBTIQ (sebuah akronim dari istilah lesbian, gay, bisexual, intersex, queer; istilah yang mengacu kepada orang-orang yang berperilaku/mempraktikkan homoseksualitas dan transgender), bukanlah sebuah peristiwa yang terjadi jauh di luar negara kita. Isu ini sangat dekat dan nyata dalam hidup kita sekarang. Pro-kontra terhadap isu ini seringkali membuat umat Tuhan bimbang dalam menentukan sikap.

Jika kita kembali kepada Alkitab, dengan jelas dikatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah, diciptakan laki-laki dan perempuan (Kejadian 1:27). Pada mulanya Allah mendesain dengan bahwa hanya ada dua jenis kelamin, dan Tuhan menambahkan perintah di ayat 28: “beranakcuculah dan bertambah banyak.” Perintah beranak cucu tentu tidak mungkin dapat dikerjakan oleh orang dengan perilaku homoseksual. Dua bagian ini seharusnya menggerakkan kita untuk menolong mereka kembali pada desain Allah yang sebenarnya, yaitu sebelum manusia jatuh ke dalam dosa.

Ketika kita berbicara tentang kasih Allah, tentu bagian ini tak dapat dipisahkan dari keadilan-Nya. Sebagai orang yang telah jatuh ke dalam dosa – bukan hanya sekedar tindakan namun juga menyangkut aspek pikiran yang dibuahi (Efesus 4:17-18; Yak 1:15) – maka kita perlu menyadari bahwa kecenderungan mereka untuk memikirkan hal tersebut bisa jadi tidak mudah dihilangkan. Sama seperti ketika kita memiliki pergumulan akan dosa amarah, bisa jadi hal itu  juga menjadi pergumulan bahkan hampir seumur hidup. Namun prinsip yang perlu dipegang adalah apakah kelompok LGBTIQ ataupun orang yang mudah marah, cepat sombong, ataupun memiliki hawa nafsu yang lain tersebut mau mengakui dosanya, dan terus berjuang untuk memerangi dorongan yang tak sesuai dengan Firman Allah tersebut?

Bagi kelompok LGBTIQ yang menyadari kesalahannya dan mau terus berbenah, maka kasih Allah perlu dinyatakan dalam dan melalui kita orang Kristen, karena mereka juga ciptaan Allah yang telah jatuh ke dalam dosa namun mau kembali kepada-Nya (1 Yoh 1:9). Kasih Allah yang perlu dinyatakan bukan sekadar menerima mereka kembali, namun juga tidak menggunjingkan mereka secara langsung maupun tidak langsung. Yang terpenting adalah menolong mereka agar iman mereka terus bertumbuh ke arah Kristus, mereka mau menerima fakta bahwa dirinya butuh kasih dan anugerah Allah, untuk kemudian memahami identitas dirinya di hadapan Allah, kembali berelasi dengan Allah melalui Firman dan doa, serta terus berjuang untuk semakin serupa dengan Dia. Maukah kita sebagai umat Allah melihat kaum LGBTIQ sebagai orang yang perlu mendapatkan kasih sayang dari Allah, dan kita terdorong untuk membagikan Kasih itu tanpa mengorbankan kekudusan Allah? Selamat mengasihi.

*) Penulis melayani Pelayanan Siswa Surabaya


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES