more"/> more">
Unconditional Love: Loving The LGBTIQ
Last Updated : Feb 28, 2020  |  Created by : Administrator  |  320 views

oleh Syahsapdya Agapeatama S.*)

 

Semenjak dihapuskannya homoseksual dari daftar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM) – buku daftar gangguan jiwa dan cara penanganannya, fenomena LGBTIQ kian marak terjadi akhir-akhir ini. Hal ini membuat gereja dan sekolah-sekolah teologi gencar melakukan seminar untuk menangani kaum LGBTIQ, karena perilaku ini jelas bertentangan dengan standar Firman Tuhan. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, kemudian memberkati mereka dan diberikan perintah untuk beranak cucu. Dari hal sederhana ini kita dapat mengetahui bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan orientasi seks hetero. Namun para aktifis LGBTIQ dengan mudahnya mengubah konsep yang telah ada tersebut. Mereka beranggapan bahwasannya manusia juga memiliki orientasi homo-sex. Untuk memperkuat anggapan tersebut, dimunculkan hasil-hasil penelitian untuk meyakinkan bahwa homo-sex itu benar adanya. Dampaknya krmudian,timbul bermacam-macam pandangan terhadap hal ini. Ada yang menyatakan bahwa LGBTIQ itu normal karena itu bukan merupakan sebuah penyakit dan merupakan sebuah pilihan hidup seseorang. Ada pula yang beranggapan bahwa LGBTIQ adalah perilaku menyimpang karena tidak tidak sesuai dengan kaidah-kaidah keagamaan yang berlaku. Populasi kaum LGBTIQ di dunia mencapai angka 1,6%. Angka yang tidak banyak namun lama-kelamaan akan menjadi ancaman besar bagi mereka yang menganggap bahwa ini adalah suatu penyimpangan. Data yang dihimpun oleh Pew Research Center menyebutkan sudah ada 25 negara yang telah melegalkan pernikahan sejenis per tahun 2017. Aktifis LGBTIQ tentu yang mengambil peran penting terhadap pelegalan ini.

            LGBTIQ merupakan singkatan dari Lesbian, Gay, Biseksual, Transgender, Intersex, Queer. Untuk lebih memahaminya, LGBTIQ sebenarnya dapat dibagi ke dalam empat kelompok yaitu kelompok LGB, T, I, dan Q. LGB – Lesbian, Gay, Bisexual adalah kelompok yang memiliki orientasi seksual non-hetero. Mereka memiliki ketertarikan seksual kepada sesama jenis. Penyebabnya bisa karena pola asuh orang tua, kehilangan sosok orang tua (kehilangan ayah bagi yang laki-laki, kehilangan ibu bagi yang perempuan), dan pengaruh lingkungan sosial (sosio-psikologis). T – Transgender merupakan kelompok yang menerapkan kebebasan identitas gender. Mereka berpandangan bahwa gender identity adalah pilihan orang yang bersangkutan. Karena itu mereka yang merasa mengalami ketidaksesuaian gender dalam dirinya dapat mengubahnya sesuai dengan apa yang mereka rasakan dan yang mereka anggap benar.

I – Intersex adalah kelompok yang berbeda dengan LGB maupun I, karena intersex timbul dari gangguan fisik yang dapat terlihat dengan jelas. Dalam dunia medis, intersex disebut dengan DSD – Disorder of Sex Development atau lebih dikenal dengan istilah kelamin ganda di kalangan masyarakat awam. Dari waktu ke waktu penatalaksanaan DSD terus mengalami perkembangan. Bukan hanya disebabkan oleh perkembangan teknologi medis saja akan tetapi hal ini juga mendapatkan pengaruh dari politisasi aktifis LGBTIQ. Para aktifis tersebut menyarakan kepada ahli medis untuk tidak langsung memperbaiki kelamin bayi yang lahir dalam keadaan DSD. Karena mereka memiliki paham bahwa seks itu pilihan. Jadi biarkan bayi dengan DSD itu tumbuh dan biarkan dia menentukan gender identity saat dewasa nanti. Setelah ditentukan, maka orang yang mengalami DSD akan dioperasi sesuai dengan jenis kelamin yang diinginkan.

Q – Queer merupakan kelompok yang tidak dapat masuk ke dalam kategori heteroseks, gay, lesbian, biseksual, transgender, dan interseks. Contohnya adalah polyamory. Polyamory merupakan perilaku romantisme yang ditujukan kepada lebih dari satu orang. Sehingga perilaku tersebut termasuk ke dalam kelompok Queer karena tidak ada indikasi yang mengarah kepada kelompok-kelompok sebelumnya. Perilaku ini diterapkan untuk menekan angka perselingkuhan dan perceraian yang terjadi di Amerika Serikat. Gambaran perilaku polyamory adalah sebagai berikut; ada dua orang laki-laki yang mencintai satu perempuan. Untuk menghindari perselingkuhan dan perceraian mereka bersepakat untuk tinggal di dalam satu rumah. Dan di dalam rumah tersebut si perempuan ini bebas untuk berhubungan dengan kedua laki-laki tersebut. Di Amerika hal ini sedang diteliti oleh APA (American Psychological Association) Div. 44 untuk dilegalkan.

LGBTIQ merupakan kondisi yang tidak normal namun dapat ditolong untuk normal kembali. Penanganan LGBTIQ bergantung pada pemahaman seseorang terhadap pemahamannya terkait LGBTIQ. Jika orang itu memahami LGBTIQ adalah sebuah pilihan dan hak masing-masing orang maka orang tersebut sudah menolongnya namun tidak secara total. Berbeda dengan orang yang memahami bahwa LGBTIQ itu merupakan hal yang melanggar kaidah-kaidah yang benar. Disini kita akan membahas bagaimana cara menolong serta mengasihi orang-orang yang terjebak dalam LGBTQ, karena kita tahu bahwa Intersex dapat ditolong dengan bantuan medis. Dalam menolong seseorang yang tengah terperangkap dalam lingkaran LGBTQ, ada tiga area yang perlu kita perbaiki dalam hidupnya. Yaitu area spiritual, area sosial, dan area psikis.

Area spiritual adalah gerbang pemulihan LGBTQ adalah dimensi spiritualnya yang harus dilakukan dalam dua tahap, yaitu Creating New Identity dan Progressive Transformation. Pertama Creating New Identity, mayoritas orang-orang yang terlibat dalam LGBTQ merupakan orang-orang yang memiliki identitas diri yang terkoyak. Kondisi tersebut terkait dengan masa tumbuh kembang dan kehidupannya yang dijalani sebagai LGBTQ. Di samping itu juga, LGBTQ terbentuk karena sinful nature yang dimilikinya. Jadi apabila mereka tetap berada di dalam identitas diri mereka yang lama sebagai orang berdosa, maka tidak ada harapan lagi mereka untuk mengalami perubahan. Karena itu mereka perlu diberikan identitas diri yang baru. Identitas diri yang baru akan membuka pintu perubahan sekaligus memberikan sasaran yang harus dituju. Kedua Progressive Transformation, setelah seseorang LGBTQ memiliki New Identity maka langkah selanjutnya ialah diberikan Progressive Transformation. Dalam Progressive Transformation standarnya adalah kebenaran yang pada akhirnya Tuhan Yesus yang menjadi tujuan akhir. Firman Tuhan menyediakan panduan langkah demi langkah dalam Progressive Transformation yang akan berlaku seumur hidup.

Area selanjutnya adalah Area sosial. Dalam proses Progressive Transformation mutlak perlu berada di dalam komunitas orang percaya yang dewasa rohani, yang dengan tekun memberikan bimbingan kepada mereka. Pada saat yang sama mereka harus keluar dan memutus hubungan dengan komunitas LGBTQ yang lain. Selanjutnya adalah  area psikis. LGBTQ terbentuk oleh luka-luka dalam jiwa penganutnya. Luka-luka inilah yang membuat kecenderungan-kecenderungan yang salah dalam hidup mereka. Dalam Progressive Transformation, LGBTQ harus membuka diri dan berani mengaku semua dosa yang pernah dilakukan, inilah yang akan menyembuhkan. Hal ini termasuk berdamai dengan masa lalunya dan bersedia mengampini orang-orang yang pernah melukainya. Semoga kita dapat berperan aktif untuk menolong mereka dengan cara yang tepat dan sesuai dengan landasan firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati.(* Penulis adalah Mahasiswa semester 9, Psikologi UNMER~ Malang)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES