more"/> more">
Out of the Salt Shaker into the World
Last Updated : Mar 13, 2020  |  Created by : Administrator  |  167 views

Oleh Robert William Musung, S.T*)

Berbicara soal garam, kita tentu sangat mengenal garam dan kegunaannya. Garam dapat mengasinkan berbagai jenis asinan, melezatkan masakan, mengawetkan makanan, dan bahkan mengamankan kita dari ular saat berkemah. Namun pertanyaannya kapankah garam bisa berguna? Kapan garam berguna? Garam tidak akan berguna jikalau hanya berada di dalam kemasan atau di dalam Salt Shaker. Garam baru berguna saat keluar dari wadahnya. Saat meresap dan lenyap, serta bercampur dengan makanan. Garam akan tidak terlihat, namun apa yg dilakukannya akan terlihat. Kita tidak akan menemukan garam di dalam makanan kita, namun kita tetap akan merasakan asinnya garam tersebut. Demikian pula hidup kita.

Karena kita adalah garam dunia ini (Mat 5:13), maka kita juga harus berdampak bagi dunia ini. Kita tidak perlu terlihat atau terkenal. Yang terpenting adalah Allah yang dikenal melalui kita. Sehingga orang lain tidak memuji kita yang baik atau luar biasa, melainkan memuji, dan menyembah Allah yang menjadikan kita seperti demikian. Inilah yang disebut bersaksi. Sebagaimana garam selalu berguna di dalam keseharian hidup, maka demikian pulalah kita harus berdampak dalam keseharian kita untuk memuliakan Allah. Inilah yang disebut bersaksi sebagai gaya hidup.

Berbicara soal bersaksi sebagai gaya hidup, ini adalah slogan yang banyak digembar-gemborkan orang dan berbagai pelayanan Kristen. Namun kenyataannya seringkali lebih menjadi sekadar mimpi belaka. Mengapa? Mungkin karena kita memisahkan bersaksi dengan kehidupan sehari-hari, atau menganggap kehidupan sehari-hari bukanlah sebuah kesaksian. Ini berbeda dengan filosofi garam. Setelah saya membaca buku “Liturgy of the Ordinary” saya mendapat kesimpulan dari buku tersebut, bahwa keseluruhan hidup kita adalah sebuah kehidupan yang sakral, kehidupan bersama sesama yang Allah hadir di dalamnya, kehidupan yang merupakan cara Allah membentuk kita dan cara kita mengenal Allah. Jadi buku ini ingin menyampaikan bahwa keseluruhan hidup kita sebenarnya adalah untuk memuliakan dan menyaksikan Allah.

Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Alkitab di dalam Kolose 3:18-23, bahwa apapun yang kita perbuat dalam relasi kita dengan orang lain merupakan hal yang seharusnya menggambarkan relasi kita dengan Allah. Hal ini mewujudkan apa yang menjadi isi hati Allah. Demikian pula halnya dengan Efesus 2:10 yang mengajarkan bahwa sebagai orang yang telah diselamatkan, kita sudah seharusnya melakukan pekerjaan baik yang Allah siapkan bagi kita secara spesifik. Pekerjaan baik ini bisa berarti profesi apapun yang merupakan panggilan kita. Allah menginginkan kita menghidupinya dan memuliakan Dia melalui panggilan itu.

Memuliakan Allah tidaklah cukup hanya dengan melakukan perbuatan baik, berintegritas, dan profesional. Hal itu hanya akan memunculkan secercah kemuliaan Allah, yang perlu dilanjutkan dengan kesaksian verbal agar orang-orang yang melihat hidup kita, dan dengan jelas melihat alasan kita melakukan pekerjaan baik tersebut. Mereka perlu tahu mengapa kita melawan arus dunia ini dan ‘bersusah-susah’ karenanya.

Roma 10:17 mengungkapkan bahwa Iman itu timbul dari pendengaran akan Firman Tuhan, bukan dari kesaksian hidup kita. Kesaksian hidup kita hanyalah jalan pembuka agar Injil dapat diberitakan. Kesaksian hidup adalah ketika siswa dan mahasiswa berjuang belajar dengan baik, tidak mencontek, menghormati orangtua, guru, dan teman, berelasi secara sehat, serta berprestasi. Kesaksian bagi alumni adalah bekerja dengan bertanggung jawab, penuh integritas dan pengabdian, ambil peran serta dalam kehidupan bermasyarakat dan bergereja, memiliki keluarga yang harmonis dan jadi berkat, dan lain sebagainya. Hal-hal itu akan menjadi kesaksian hidup yang luar biasa, namun hanya akan membawa kekaguman, bagi kita atau mungkin juga bagi Allah. Namun kekaguman akan Allah tidaklah menyelamatkan. Ketika kita mengasihi sesama kita, tentu kita tidak ingin menikmati anugerah Allah sendiri. Kita perlu membagikannya melalui hidup dan juga perkataan kita. Sebagai rekan sekerja Allah kita harus mengingat bahwa Amanat Agung, yaitu menjadikan semua bangsa murid Kristus, adalah sebuah keharusan. Hal itu hanya bisa diwujudkan dengan menolong orang lain menerima Kristus.

Bagaimana kita bisa menjadikan bersaksi sebagai sebuah gaya hidup kita sehari-hari di tengah dunia ini? Ulangan 6:7-10 memberikan cara yang menurut saya akan sangat efektif. Jika diringkas dalam satu kata, maka kata itu disebut “membiasakan.” Hubungan yang intim dengan Allah, menghidupi firman Tuhan setiap hari, menggunakan nilai-nilai rohani dalam segala hal, berteman dan mengasihi siapa saja, merupakan pembiasaan yang perlu dibangun untuk jembatan Injil. Setelah diperlengkapi dan bertumbuh dalam KTB, kita perlu keluar.

Mereka yang di luar perlu mendengar Injil. Berjuang hidup kudus dan berintegritas setiap hari akan membuka banyak pintu kesempatan berbagi Injil dengan siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Mari, kita jadikan bersaksi tidak hanya slogan melainkan kehidupan yang membawa hidup. Tuhan Yesus memberkati kita semua.(* Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa Mataram)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES