more"/> more">
Sebuah Refleksi di Tengah Pandemi
Last Updated : Mar 27, 2020  |  Created by : Administrator  |  367 views

Imamat 25:4-5

..tetapi pada tahun yang ketujuh haruslah ada bagi tanah itu suatu sabat, masa perhentian penuh, suatu sabat bagi TUHAN. Ladangmu janganlah kautaburi dan kebun anggurmu janganlah kaurantingi.

Dan apa yang tumbuh sendiri dari penuaianmu itu, janganlah kautuai dan buah anggur dari pokok anggurmu yang tidak dirantingi, janganlah kaupetik. Tahun itu harus menjadi tahun perhentian penuh bagi tanah itu.

Oleh Victor Kurniawan. P, M.IKom*)

Hari-hari ini, Covid-19 atau lebih dikenal dengan virus Corona begitu populer dan menyebabkan kepanikan dan kecemasan di seluruh dunia. Situs worldometers.info mencatat ada 468,667 kasus virus Corona di 198 negara, dengan 114.218 ribu sembuh, dan 21.191 diantaranya meninggal dunia.[1]

Penyebaran virus Corona yang begitu masif di seluruh dunia, menyebabkan WHO (World Health Organization) mengumumkan Corona sebagai pandemi. Pengumuman ini direspons secara bervariasi oleh berbagai negara, tergantung tingkat keparahan penyebaran virus ini. Ada negara yang melakukan lockdown, tidak ada akses keluar masuk dari negara tersebut. Ada juga negara yang masih baru melakukan pembatasan parsial dan melakukan anjuran untuk menjaga jarak fisik ketika bersosialisai. Apapun kebijakannya semuanya adalah usaha untuk menghentikan penyebaran virus Corona.

Dampak dari kebijakan-kebijakan pembatasan yang timbul karena Corona ini menimbulkan kabar buruk secara ekonomi, sebab mengurangi aktivitas ekonomi. Dalam analisis Asian Development Bank (ADB) pandemi Covid-19 ini akan menimbulkan kerugian berkisar UU$ 77 miliar hingga US$ 347 miliar. Angka yang fantastis, bukan? Tidak hanya ekonomi, pendidikan juga terdampak. Ribuan bahkan mungkin jutaan siswa dan mahasiswa harus belajar di rumah masing-masing. Situasi ini, tentu membuat kita berharap pandemi ini segera selesai.

 

Bukan Hanya Tentang Kabar Buruk

Keberadaan virus Corona tidak hanya mengenai kabar buruk. Ada juga kabar yang menghibur. Pertama, tentu saja banyaknya jumlah orang yang dapat sembuh dari virus ini. Tercatat persentase ancaman kematian akibat virus ini menurut WHO (World Health Organization) ada dikisaran 2-5 %, artinya lebih tinggi dari flu yang persentasenya sebesar 0,1 % dan lebih rendah dari SARS yang persentasenya 9,5 %[2]

Kabar baik kedua adalah, berkurangnya polusi karena berkurangnya aktivitas produksi dan manusia karena keberadaan virus ini. Penghentian aktivitas produksi dan manusia karena Corona paling tidak menurunkan kadar CO2 sebanyak 100 juta ton dan juga menurunkan kadar NO2 sebanyak 39 persen. Hal ini dibuktikan dengan gambar foto udara yang dilansir oleh NASA, dimana kota-kota yang melakukan pembatasan aktivitas seperti Wuhan, langitnya tampak lebih cerah jika dibandingkan sebelum ada pembatasan aktivitas yang disebabkan oleh Corona. Hongkong pun menikmati penurunan polusi udara hampir sepertiganya, terhitung sejak Januari hingga Februari 2020. Italia menikmati hal yang sama, bahkan Emamuele Masseti, seorang ahli Ekonomi Perubahan Iklim di Georgia Tech University, mengatakan, “Dalam beberapa hari mereka (warga Italia) akan menikmati udara yang terbersih di Italia utara.[3]

Bagi saya, hal ini menunjukkan bahwa virus Corona “memaksa” kita untuk memberi bumi kesempatan beristirahat. Tentu saja ini kabar baik bagi bumi. Mengapa? Sebab bumi sedang krisis. Pada bulan November 2019, para ahli menetapkan bahwa bumi sedang mengalami krisis iklim. Satu kondisi darurat yang membutuhkan aksi radikal untuk mengurangi atau menahan perubahan iklim dan mencegah kerusakan lingkungan yang tak bisa diperbaharui akibat perubahan iklim[4]. Krisis ini harus dicegah sebab mengancam kehidupan. Krisis iklim mengakibatkan bencana, kenaikan suhu, serta mengancam kesehatan manusia.

Salah satu yang berandil besar dalam krisis iklim adalah “rutinitas bisnis” manusia.  Menurut John Bellamy Foster, dalam bukunya What Every Environmentalist Needs to Know About Capitalism, menuliskan bahwa melanjutkan “rutinitas bisnis” lambat laun akan menyebabkan bencana global. Maka, bagi saya Corona adalah sebuah interupi terhadap rutinitas manusia tetapi memiliki dampak untuk memperpanjang nafas bumi, karena manusia dipaksa untuk mengambil langkah radikal untuk mengurangi “rutinitas bisnis”  demi keberlanjutan hidupnya.

 

Saatnya Diam

Saat ini, relakan rutinitas kita diinterupsi oleh virus Corona. Tidak usah frustasi. Mari beristirahat dan tetap penuh pengharapan, sembari mengevaluasi diri, apakah kita sudah bersikap adil terhadap sesama dan bumi yang kita tinggali. Anggaplah momen ini adalah kesempatan untuk beristirahat dari kebisingan rutinitas kita dan ruang istirahat bagi bumi kita, sembari berdoa semoga ini tidak terlalu lama.

(*Penulis melayani sebagai staf mahasiswa di Perkantas Malang)

 

 

 

Diakses dari worldometers.info pada tanggal 26 Maret 2020

Sebayang, Rehia. Jangan Panik, Ternyata Resiko Kematian Karena Corona rendah. diakses dari https://www.cnbcindonesia.com/news/20200302133312-4-141715/jangan-panik-risiko-kematian-corona-ternyata-rendah pada 26 Maret 2020

Pratama, Rizki. Lockdown karena Corona, Polusi Udara di China dan Italia Berkurang drastis. Diakses dari https://kumparan.com/kumparansains/lockdown-karena-virus-corona-polusi-udara-di-china-dan-italia-berkurang-drastis-1t32bwLvQts pada 26 maret 2020

Makinudin, Niel & Sari, Dianing. Wabah Virus Corona, Tamparan Pahit Kesehatan Manusia dari Krisis Iklim. Diakses dari https://sains.kompas.com/read/2020/03/02/120300523/wabah-virus-corona-tamparan-pahit-kesehatan-manusia-dari-krisis-iklim?page=all pada tanggal 26 Maret 2020


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES