more"/> more">
Mempertanyakan Tuhan di Tengah Pandemi Covid-19
Last Updated : May 22, 2020  |  Created by : Administrator  |  188 views

Oleh Marlia Ernawati,M.Div

Iman dan pengenalan seseorang akan Tuhan, berbanding lurus dengan respos-responnya ketika ia menghadapi situasi yang penuh tekanan

 

Di masa pandemi  Covid-19 yang berlangsung lebih dari dua bulan ini, banyak orang sudah merasa jenuh dan bosan berada di rumah saja baik itu bekerja atau belajar. Banyak yang sangat ingin keluar rumah. Apalagi menjelang lebaran seperti ini, banyak orang tetap mudik dengan tidak terkendali, dan bahkan berbelanja di mal-mal dan pasar-pasar. Hal ini akan mengakibatkan jumlah pasien covid-19 melonjak, sehingga tenaga medis serta rumah sakit rujukan sangat mungkin akan kewalahan.

Di sisi yang lain, banyak orang kehilangan pengharapan karena kesulitan hidup yang makin menekan, misalnya karena kehilangan pekerjaan atau kehilangan orang-orang yang dikasihi. Orang-orang yang harus bekerja di luar rumah, seperti pedagang kaki lima, ojek online, serta pekerja harian yang lain makin sulit mendapatkan penghasilan. Orang miskin akan makin bertambah miskin dan terpuruk, tidak tahu bagaimana mereka bisa makan setiap harinya.  

Kondisi-kondisi di atas membuat orang-orang mempertanyakan Tuhan. Pertanyaan-pertanyaan seperti: “Mengapa Tuhan membiarkan situasi ini terjadi? Mengapa Tuhan seolah-olah diam? Mengapa Tuhan tidak menghentikan virus ini atau setidaknya memberikan obat penawarnya?”, mungkin akan muncul di situasi seperti saat ini. Pertanyaan-pertanyaan ini bisa dibilang wajar karena tekanan kesulitan hidup yang begitu berat. Namun di balik pertanyaan-pertanyaan itu sebenarnya tersirat pemahaman setiap orang tentang siapa Tuhan yang diyakininya. Bagaimana sikap kita sebagai orang percaya di masa pandemik ini? Apakah kita juga mempertanyakan hal-hal yang sama?

Para murid Yesus pernah mengalami kondisi serupa dengan yang kita hadapi saat ini, ketika mereka berada di tengah badai angin ribut saat menyeberang Danau Galilea (Markus 4:35-41). Pada saat itu Yesus tidur di buritan di atas sebuah tilam, sementara taufan mengamuk dengan dahsyat yang menyebabkan ombak menghempas ke dalam perahu, sehingga perahu itu penuh dengan air.

Para murid panik dan ketakutan karena nyawa mereka terancam, mereka kemudian membangunkan Yesus dengan sebuah pertanyaan, “Guru, Engkau tidak peduli kalau kita binasa?” Di dalam pertanyaan itu tersirat sejauh mana pengenalan para murid terhadap Tuhan Yesus. Kemungkinan mereka belum sungguh-sungguh mengenal Yesus sebagai Tuhan, dan hanya mengangap bahwa Yesus adalah guru biasa.

Tuhan Yesus kemudian menghardik angin ribut itu dengan berkata, “Diam! Tenanglah!” Dan seketika angin dan danau itu menjadi teduh kembali. Selanjutnya Tuhan Yesus berbalik bertanya kepada para murid: “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Melalui pertanyaan ini, Tuhan Yesus mengungkapkan sejauh mana iman dan pengenalan para murid terhadap diri-Nya. Iman dan pengenalan seseorang akan Tuhan, berbanding lurus dengan respons-responsnya ketika ia menghadapi situasi yang penuh tekanan. Seorang penafsir mengatakan bahwa dalam situasi tersebut Tuhan Yesus ingin melatih serta membentuk iman dan pengenalan para murid tentang diri-Nya. Tuhan Yesus ingin dikenal bukan hanya sebagai guru biasa, melainkan sebagai Tuhan yang berkuasa atas penyakit, setan-setan, dan bahkan atas alam semesta.

Terkait dengan dampak pandemi ini, apakah Tuhan tidak peduli dengan kesulitan hidup kita? Masih menjadi misteri mengapa Tuhan mengizinkan kesulitan hidup akibat pandemi ini. Tetapi satu hal yang pasti, bahwa di tengah kesulitan yang kita hadapi sekarang, Tuhan ingin kita makin mengenal Dia, makin mengandalkan Dia, dan makin percaya bahwa Tuhan sanggup menolong dengan cara-cara-Nya yang ajaib dan tidak terpikirkan oleh kita. Dalam kondisi ini kita diminta terlibat lebih jauh dalam menyatakan kepedulian dan kasih kepada sesama yang sedang dalam kesulitan dan membutuhkan.

John Piper mengatakan dalam bukunya Coronavirus and Christ, bahwa Virus corona adalah panggilan Tuhan kepada umat-Nya untuk mengatasi ketakutan dan kecenderungan mengasihani diri sendiri, dan dengan berani melakukan perbuatan-perbuatan kasih yang memuliakan Tuhan. Kiranya iman dan pengenalan kita akan Tuhan makin bertumbuh, demikian juga kasih kita kepada sesama makin bertambah di tengah pandemi ini. Tuhan memberkati kita. (*Penulis melayani Pelayanan Siswa di Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES