more"/> more">
Menjangkau dan Memuridkan Mahasiswa dalam Masa Pandemi dan Pasca Pandemi
Last Updated : Jun 12, 2020  |  Created by : Administrator  |  334 views

Oleh Akhung B.Ina,ST*)

 

Dalam sebuah diskusi santai bersama beberapa staf Perkantas sebelum pandemi, kami berbincang tentang masa depan dimana akan banyak kampus membuka peluang kuliah online, yang akan berjalan paralel dengan kuliah tatap muka. Akan banyak peluang global bagi mahasiswa untuk belajar dari universitas-universitas terbaik tanpa perlu hadir langsung di kampus tersebut. Dalam kondisi itu, akan sangat mungkin kita tidak lagi menjumpai banyak mahasiswa di kampus, dan kami perlu untuk mempersiapkan bentuk pelayanan pemuridan yang berbeda. Tak disangka, prediksi kami terjadi jauh lebih cepat. Bukan lagi beberapa tahun ke depan, tapi kini sudah terjadi. Walaupun sifatnya masih darurat karena kondisi pandemi, dan kampus masih melakukannya sebagai respons darurat, namun manusia selalu beradaptasi. Hanya tinggal menunggu waktu, kondisi ini akan menjadi bentuk yang normal. Dengan demikian, pelayanan siswa dan mahasiswa perlu merespons dengan tepat. Bukan lagi melihat kondisi ini sekedar sebuah kondisi darurat, tapi memang dunia sedang menuju bentuk tersebut.

Pemuridan dan Social Distancing

Prinsip pemuridan yang dikerjakan Perkantas adalah seorang murid mempelajari pengajaran Kristus dengan pendampingan langsung dari pembimbing rohani. Di dalam proses ini, bukan saja transfer pengetahuan, tapi ada transfer pola hidup terjadi. Ada kehidupan bersama, ada sasaran yang ingin dicapai sebagai seorang murid. Kunci utamanya adalah adanya relasi dan interaksi yang intensional. Kondisi social distancing menyebabkan keterpisahan secara fisik. Apakah artinya pemuridan tidak bisa dikerjakan? Tentu tidak. Rasul Paulus tetap menulis surat dan memberikan semangat kepada jemaat dan beberapa murid utamanya selama dia di penjara. Hal ini menunjukan bahwa semangat pemuridan itu tidak bisa terkendala oleh kondisi keterpisahan fisik sekalipun. Konteks bisa berubah, tapi esensi pemuridan tetap bisa dikerjakan dalam berbagai konteks. Dalam beberapa bulan mengerjakan pelayanan pemuridan di tengah social disctancing, berikut beberapa hal yang dapat menjadi rekomendasi.

Yang pertama harus dicatat adalah bahwa pemuridan itu memperjuangkan relasi dan interaksi antar pribadi maupun komunal. Di tengah banyaknya komunitas/gereja yang berlomba-lomba mengadakan ibadah online (webinar), suara gembala dalam bentuk video harian, dan lain-lain, pemuridan berbicara mengenai relasi dan interaksi langsung, bukan satu arah. Oleh sebab itu, membuat acara online dengan mengundang banyak orang itu baik, tapi memperjuangkan interaksi di dalam komunitas menjadi hal yang jauh penting untuk diperjuangkan. Mengkombinasikan persekutuan besar dengan kelompok kecil menjadi hal yang tidak bisa diabaikan. Lebih dari pada itu, memperjuangkan interaksi inter-personal dengan menghubungi atau mengunjungi secara pribadi, menjadi pendengar untuk berjalan bersama, juga menjadi hal yang penting.

Selanjutnya, pemuridan adalah proses belajar meneladani Kristus secara nyata. Di Dalam pemuridan, kita menolong para murid mengaplikasikan pengajaran Yesus dengan tidak hidup untuk diri sendiri, melainkan hidup berbagi di manapun dia berada. Jangan sampai siswa/mahasiswa hanya fokus ke persoalan diri atau kerohanian pribadi, tanpa tindakan apapun di tengah kondisi pandemi. Dari sebuah survei yang diadakan staf Perkantas Surabaya, didapatkan data 65 % keluarga siswa/mahasiswa terdampak secara ekonomi karena wabah Covid-19. Ini menjadi sebuah kesempatan untuk melatih mahasiswa untuk mampu bergerak bersama, mengambil bagian untuk menolong mereka yang kesulitan. Bagi mereka yang tidak mampu, mereka bisa mengambil bagian dengan cara hadir dan mendengarkan, serta memberikan penghiburan bagi orang-orang yang dalam kesulitan.

 

Prinsip pemuridan berikutnya adalah berfokus kepada orang kunci. Di masa pandemi ini saya menemukan banyak Pemimpin Kelompok Kecil mengalami kebingungan, terkait bagaimana beradaptasi dengan kuliahnya, sembari terus memperjuangkan kelompok kecil. Mengadakan forum untuk bisa berbagi antar PKK, memberi perhatian khusus kepada orang-orang kunci, termasuk di dalamnya mengambil bagian dalam kebutuhan mereka seperti paket data, bantuan ekonomi, dan lain-lain menjadi hal yang harus dikembangkan. Dengan demikian kita dapat menolong mereka untuk efektif dalam pemuridan.

 

Pemuridan masa kini harus menemukan integrasi antara pertumbuhan iman dengan bidang studi akademis. Siswa dan mahasiswa hidup di tengah dunia yang penuh dengan persaingan. Hal ini membentuk mereka untuk memilih apa yang bagi mereka berguna dan terkait dengan bidang studi mereka. Pemuridan seringkali bukan menjadi pilihan karena dirasa tidak terlalu terkait dengan keilmuan. Kami mencoba membuat forum group discussion yang fokus untuk menelaah isu-isu keilmuan dari kacamata firman Tuhan, dan banyak mahasiswa tertarik untuk mengikuti. Hal ini tentu saja menjadi sebuah kesempatan untuk memperkenalkan tentang pemuridan bagi mahasiswa.

 

Membangun dan Memanfaatkan Jaringan Pelayanan Global untuk Efektifitas Pemuridan

Sebuah kelompok bible study mahasiswa yang dibentuk dalam masa pandemi ini, dapat diikuti oleh mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia. Ini menjadi sebuah kesempatan, dimana sangat mungkin seseorang bisa dijangkau secara online dari mana saja.  Tetap perlu diingat bahwa seorang murid tetap membutuhkan pendampingan secara lokal/langsung. Karena itu pelayanan online ini tidak bisa berdiri sendiri, namun perlu membangun jejaring di daerah-daerah, sehingga menjadi pelayanan bersama. Hal ini berarti sangat penting untuk membangun sinergi pelayanan dengan berbagai jaringan di daerah,  untuk mengefektifkan bagian ini.

Dalam perjumpaan Yesus dengan perempuan Samaria, Yesus berkata bahwa : saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem... Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran (Yohanes 4:21;23). Tempat bukan lagi menjadi masalah. Online atau offline bukan lagi menjadi penghalang. Pada akhirnya esensi dari pemuridan adalah memimpin orang untuk menyembah Allah dalam Roh dan Kebenaran.(* Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES