more"/> more">
Usaha di Tengah Pandemi Covid-19 -Sebuah Opini-
Last Updated : Jun 12, 2020  |  Created by : Administrator  |  19 views

Oleh Alexander. O, SKom.*)

 

Pandemi Covid-19 menjadi kejadian luar biasa yang mengarahkan kita pada pola kehidupan baru. Sebagian orang bereaksi dengan mengingat lagi kondisi di masa sebelum pandemi. Sebagian lagi buru-buru melakukan prediksi dan mengambil tindakan preventif. Tidak sedikit pula yang hanya dapat tertegun melihat kenyataan ini begitu cepat merampas sukacitanya. Pandemi ini bukan hanya mengancam kesehatan diri dan keluarga, namun juga kesehatan finansial atau ekonomi keluarga. Bahkan, kondisi ekonomi perusahaan, masyarakat, pemerintah Indonesia, dan juga dunia terancam terpuruk.

Pada saat berita pandemi ini menghangat di berbagai media, saya teringat masa-masa sulit saat peristiwa Lumpur Lapindo. Saat musibah Lapindo diberitakan, saya berpikir itu hanya kejadian sementara yang dapat segera ditanggulangi, dan dampaknya tidak akan saya alami karena dapat dipulihkan dengan cepat. Lokasi yang jauh dan berbagai faktor lainnya membuat saya “tenang-tenang saja.” Namun ketika masalah itu semakin kompleks, perlahan tapi pasti dampaknya terasa bagi pekerjaan dan usaha saya saat itu. Saya baru menyadari bahwa  saya salah dalam merespons peristiwa musibah Lumpur Lapindo tersebut.

Demikian juga dalam merespons Pandemi Covid-19, setidaknya ada 3 misi yang saya pikirkan : pertama, sebagai orang beriman bagaimana kita dipanggil merespons zaman di tengah persimpangan – antara mengesampingkan Tuhan dan mencari Tuhan. Kedua, kita juga dipanggil untuk membantu pencegahan penyebaran yang meluas dari virus ini. Ketiga, kita dipanggil juga untuk terlibat memajukan perekonomian bagi kesejahteraan negeri ini.

Bagaimana respons masing-masing kita sebagai pribadi, pekerja maupun pengusaha dalam menyikapi kondisi pandemi ini? Kunci utama kombinasi 3 misi di atas dapat bergerak secara simultan. Di masa sebelum pandemi, peluang keberhasilan usaha yang terbesar ditentukan oleh lamanya jam operasional. Situasi ini membuat para pengusaha dan pekerja tidak lagi memiliki pembagian waktu yang jelas antara bekerja, keluarga, kesempatan pelayanan dan bahkan persekutuan dengan Tuhan. Pada saat “badai” menerpa tidak sedikit yang oleng dan kehilangan arah. Dimasa Pandemi hingga pasca-pandemi ke depan akan memberi ruang dan waktu untuk semakin selaras maksud-maksud Tuhan bagi hidup ini. Kurangnya jam bekerja di luar rumah dan penghematan waktu perjalanan ke kantor dan tempat pertemuan, akan memberi kesempatan Baca Gali Alkitab semakin leluasa – karena sebagian pekerjaan juga dapat dilakukan secara online.

Pembelajaran terhadap karakteristik Covid-19 sampai kepada penemuan vaksin masih terus diupayakan. Ada bingkai waktu tertentu yang telah ditetapkan untuk membuahkan kesimpulan, namun tetap banyak faktor diluar kuasa manusia. Kenyataan dan harapan tersebut nampaknya belum bertemu. Hal ini menumbuhkan daya kreatif dan inovatif para pengusaha dan pekerja untuk mencari segala kemungkinan, yang mengarah pada bentuk teknis operasional usaha dan industri. Hampir semua jenis pekerjaan beralih ke sistem online, meski tentu saja belum menyeluruh dan memiliki fondasi yang kuat. Setidaknya upaya sudah dilakukan, meski sistem online juga tidak 100% handal dan kebal dari segala gangguan. Berbagai faktor gangguan terhadap sistem online bisa terjadi, misalnya tiba-tiba ada pemicu system down, security, energy, mobility, dan lain-lain.

Perbedaan menyolok antara bencana alam seperti gempa, gunung meletus, longsor, banjir dengan pandemi Covid-19 ini adalah perlunya menjaga stabilitas ekonomi yang mempengaruhi jenis-jenis bantuan kemanusiaan. Dalam konteks bencana alam umumnya, secara langsung melumpuhkan segala sarana dan prasarana penunjang perekonomian yang sifatnya terlokalisir. Normalisasinya relatif tidak sulit untuk dapat diprediksi. Sedangkan dalam kondisi pandemi ini, justru sarana dan prasarana tetap eksis dan tersebar, namun normalisasinya sangat sulit diprediksi.

Bagi dunia usaha, berbagai analisa sangat penting. Tidak kalah pentingnya, berbagai pihak membantu roda perekonomian wilayah dan daerah, untuk diberikan potensi bertumbuh yang semakin lancar. Contoh, maraknya berbagi peduli kasih dan kemanusiaan dalam kondisi bencana alam tentu akan lebih tepat bila berupa barang yang praktis dan siap pakai. Sedangkan dalam kondisi pandemik, bila menggunakan pola yang sama akan membuat pedagang kecil eceran, pasar tradisional, dan berbagai unit usaha di wilayah-wilayah kecil justru berpotensi semakin terpuruk. Pada dasarnya pasar mereka terbatas, sarananya terbatas, pelanggannya terbatas. Bantuan stimulus terhadap mereka juga terhalang bahkan berbagai ketahanan lainnya juga sangat minim. Mungkin bantuan tunai akan dirasakan lebih natural untuk menstimulus roda perekonomian setempat, kemudian menggairahkan pasar daerah hingga nasional.

Dengan opini tiga misi ini, saya yakin kita dapat bergandengan erat dalam kasih.  Persekutuan di dalam dan bagi Kristus menjadi kekuatan Duta Injil dalam kehidupan nyata; baik di dunia kerja, maupun di masyarakat. Menikmati sukacita di dalam keluarga yang senantiasa menghadirkan dan melibatkan Tuhan dalam segala situasi dan kondisi adalah sebuah tuntutan. Inovasi, kreativitas dan jejaring memang dibutuhkan namun tanpa kehadiran dan keterlibatan Tuhan maka segala strategi, kolaborasi dan solusi menjadi tidak ada artinya, bagai membangun diatas pasir. Kiranya Tuhan Yesus Kristus terus menjadi kekuatan dan sumber hikmat bagi kita semua, Amin.(* Penulis adalah seorang pengusaha Kristen, Alumni pelayanan Siswa Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES