more"/> more">
Menyikapi New Normal Berdasarkan Sudut Pandang Kekristenan
Last Updated : Jun 26, 2020  |  Created by : Administrator  |  83 views

Kebijakan New Normal atau Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) telah diterapkan di beberapa daerah di Indonesia. Secara khusus, AKB diterapkan di empat provinsi dan 25 kabupaten/kota (Kompas.com, 29/05/2020) dengan menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) atau Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, pengurangan Pembatasan Sosial Berskala Besar atau pelaksanaan AKB pada suatu daerah dapat dilakukan apabila angka reproduksi efektif (Rt) COVID-19 di daerah tersebut berada di bawah 1 selama 14 hari (Setkab.go.id, 20/05/2020).

Adapun urgensi pelaksanaan AKB diakibatkan oleh dampak sosial ekonomi yang tidak bisa lagi terus-menerus dikorbankan di tengah-tengah ketidakpastian pandemi COVID-19 ini. 
Sejatinya terdapat dua mazhab dalam merespon pelaksanaan AKB: ekonomi dan kesehatan. Kelompok masyarakat yang pro ekonomi menilai bahwa pembatasan sosial dan fisik secara ekstrem akan menimbulkan dampak resesi yang luar biasa. Hal ini dikarenakan adanya penutupan massal pada pabrik, industri, dan sentra perbelanjaan sehingga aktivitas ekonomi mengalami kemandekan. Oleh karena itu, pelaksanaan AKB  bak angin segar yang dapat kembali menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat walaupun harus diikuti dengan pelaksanaan protokol kesehatan yang ketat.

Sementara itu, kelompok masyarakat yang pro kesehatan justru menilai kebijakan ini akan semakin memperparah sistem kesehatan nasional. Sebab, jika timbul ketidakpatuhan publik selama new normal, maka akan terjadi lonjakan kasus yang dapat menciptakan bencana ekstrem pada ketahanan sistem kesehatan. 
Akan tetapi terdapat permasalahan mendasar dibalik perdebatan terkait kedua mazhab tersebut, yakni budaya masyarakat. Sebagaimana diketahui bersama bahwa budaya masyarakat Indonesia masih bersifat pragmatis, sehingga melahirkan konstruksi sosial yang tidak integratif dan disiplin ketika menghadapi bencana, termasuk pandemi COVID-19.

Ketidakmampuan masyarakat untuk berjejaring guna memperkuat ketahanan sosial secara kolektif justru telah meregresi upaya penanganan COVID-19 yang telah diupayakan oleh Pemerintah selama ini. 
Menanggapi kondisi tersebut, maka diperlukan pembangunan tatanan sosial masyarakat yang berbasis komunal. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan pendekatan komunitas untuk membangun narasi berdamai dengan new normal. Tentunya diperlukan suatu reformasi substansial dan struktural demi merombak tatanan komunitas yang tidak integratif saat ini. Dibutuhkan suatu pembaharuan metanarasi (worldview) untuk menghadirkan komunitas yang inklusif sekaligus integratif dalam menghadapi situasi krisis. 
Kekristenan kemudian hadir sebagai jawaban yang solutif untuk membangun budaya komunitas yang baik.

Sebagai contoh penerapan pendidikan judeo-christian telah melembagakan nilai-nilai berjejaring yang baik sejak inidividu berada dalam komunitas terkecil, yakni keluarga. Di dalam keluarga, metanarasi kekristenan dalam melihat dunia sudah mulai dibentuk. Manifestasi metanarasi tersebut dibangun melalui dialog-dialog sederhana untuk mengajarkan soundness atau kekukuhan dalam hal karakter dan apologetika.

Melalui hal tersebut, individu sedari kecil mengerti manakah yang benar dan salah sesuai dengan ajaran Firman Tuhan. Pada akhirnya dialog akan membentuk ide, lalu ide membentuk budaya yang baik. Budaya yang baik itulah yang akan diekspresikan ke dalam komunitas yang besar sehingga terintegrasi menjadi satu-kesatuan sistem yang dapat mapan dalam menghadapi permasalahan dunia, termasuk situasi krisis akibat pandemi COVID-19 ini.  
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pendekatan komunitas memiliki peran penting untuk membangun budaya masyarakat yang disiplin dalam menyukseskan era new normal.

Prinsip dasar kekristenan kemudian menjadi jawaban yang solutif dalam membangun pendekatan komunitas yang baik. Hal ini dikarenakan di dalam iman Kristen terdapat metanarasi yang benar dan utuh terkait kehidupan yang ada di dunia ini hingga kekekalan, sehingga kita dapat memiliki respon yang benar ketika menghadapi situasi krisis.

Kebenaran inilah yang perlu dihidupi oleh individu-individu dalam komunitas keluarga, sehingga dapat dimanifestasikan kepada komunitas eksternal demi menciptakan kebaikan bersama di tengah-tengah masyarakat. 
Oleh Charisma Omega Nafu( Mahasiswa Fisip Universitas Airlangga Surabaya)
Tulisan ini merupakan intisari dari  FGD(Forum Group DIscussion) Sosial Politik &'39;2: New Normal, New Habit: Tinjauan Sosiologi, Ekonomi, dan Politik – Minggu, 21 Juni 2020

Referensi:
Kompas.com. 2020. “INFOGRAFIK: Daftar Daerah yang Bersiap Terapkan New Normal” [Online] tersedia 
dalam: https://www.kompas.com/tren/read/2020/05/29/173100565/infografik--daftar-daerah-yang-bersiap-terapkan-new-normal (Diakses pada tanggal 22 Juni 2020).
Setkab.go.id. 2020. “Pemerintah Rumuskan Protokol Masyarakat Produktif dan Aman Covid-19” [Online] 
tersedia dalam: https://setkab.go.id/pemerintah-rumuskan-protokol-masyarakat-produktif-dan-aman-covid-19/ (Diakses pada tanggal 19 Juni 2020). 


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES