more"/> more">
MUNGKINKAH MELAYANI SISWA DI TENGAH PANDEMI?
Last Updated : Jun 26, 2020  |  Created by : Administrator  |  65 views

Oleh Wahyu Dwijayati,M.Div*)

2 Timotius 4:2

Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah  dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.

 

Tantangan hidup dan pelayanan dari waktu ke waktu tidak pernah berhenti. Di tahun-tahun sebelumnya para pelayan siswa putar otak bagaimana melayani siswa di tengah kesibukan mereka yang padat. Belum juga usai berbagai upaya dicoba untuk menarik perhatian siswa agar mereka mau terlibat dalam persekutuan maupun KTB, di tahun 2020 muncul tantangan baru yang  tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Pandemi covid-19 melanda dunia. Makhluk tak kasat mata ini mampu men-shut down aktifitas sehari-hari secara komunal termasuk kegiatan di sekolah, di tempat kerja bahkan pertemuan rohani seperti persekutuan atau ibadah di sekolah/kampus/gereja. Pelayan siswa seolah-olah dipaksa untuk berubah dalam menjangkau dan memuridkan siswa di tengah pandemi. “Jika di masa offline saja kesulitan untuk dapat menjangkau siswa, apalagi harus menjangkau secara online,” pikiran negatif seperti ini bisa saja timbul. Tantangan boleh datang silih berganti, namun iman kepada Allah yang berdaulat itu tidak boleh mengebiri keyakinan kita.

Allah masih menyertai dan akan memampukan kita melayani dalam masa krisis ini. Karena itu sebagai pelayan siswa sudah seharusnya meneladani sikap Paulus, “…kami habis akal, namun tidak putus asa” (2Kor. 8:4).

 

BERITAKAN FIRMAN (2 Timotius 4:2)

                Rasul Paulus saat menjelang ajalnya di penjara Roma masih berkobar-kobar bagi Tuhan. Paulus berpesan dengan sungguh-sungguh kepada Timotius agar memberitakan Firman baik atau tidak baik waktunya. Dari ayat-ayat ini kita bisa tarik beberapa pelajaran.

 

  1. Pemberitaan Firman mendesak dilakukan.

Berita Injil begitu penting sehingga harus terus menerus dikabarkan.  Saya menangkap kesan seolah-olah Paulus hendak berkata kepada Timotius, “Aku akan menghadapi hukuman mati, namun berita Injil harus kau teruskan. Tidak boleh berhenti karena kematianku.” Firman Tuhan harus tetap diberitakan sepanjang zaman apa pun kondisinya. Apalagi jemaat yang dilayani Timotius menghadapi tantangan dari pengajar-pengajar palsu.

Tanpa dasar pengajaran Firman yang benar jemaat Efesus akan mudah diombang-ambingkan ajaran-ajaran sesat.

Kata “ephistemi” yang berarti mendesak, diterjemahkan LAI “baik atau tidak baik waktunya”. Sehingga dalam situasi apapun termasuk saat pandemi covid-19, pemberitaan Firman mendesak untuk diberitakan agar siswa memiliki pengharapan di dalam Tuhan.

Tidak sedikit siswa mengalami kecemasan, kekuatiran karena berita-berita tentang kematian, kegetiran hidup karena masalah relasi dan ekonomi orang tua selama stay at home. Pelayan siswa sebagai pemberita Firman harus siap sedia dengan situasi baru yang menantang untuk memikirkan strategi pemberitaan firman yang efektif di masa pandemi.

Bersyukur karena Firman Tuhan yang diberitakan lewat pembinaan/KTB online justru dapat menggerakkan aksi-aksi sosial siswa dan mahasiswa. Ada proyek-proyek ketaatan berbagi kasih bagi sesama di masa covid-19: membagi masker, nasi kotak, atau sembako. Ada juga persekutuan siswa yang melakukan gerakan untuk memviralkan kabar baik dan kabar positif di media sosial. Mereka merasakan pengalaman berharga bersama Tuhan justru ketika mereka berani taat atas respon firman yang diberitakan saat pandemi.

 

  1. Pemberitaan Firman membutuhkan kesabaran

Rasul Paulus mengingatkan juga Timotius akan tantangan jemaat di Efesus menghadapi guru-guru palsu. Karena itu Timotius  perlu menyatakan apa yang salah, menegor dan menasihati dengan ajaran Firman yang benar. Kesabaranlah yang dibutuhkan. Sabar untuk hadapi setiap tantangan. Sabar untuk mengajar, meski hasilnya tidak langsung nampak. Sabar untuk terus melayani.

Pembinaan dan pemuridan siswa memang terhenti secara offline selama pandemi. Para pelayan siswa seperti dipaksa berubah untuk menggunakan media online baik melalui zoom, IG live, youtube, dan sebagainya. Tentu banyak kesulitan ketika mencoba hal baru. Mulai dari hal teknis karena gaptek atau kuota siswa maupun pelayan yang terbatas. Belum lagi jika harus hadapi siswa yang sibuk dengan pelajaran online sehingga tidak sedikit siswa menolak untuk ikut dalam pembinaan.

Pelayan siswa dituntut sabar terhadap kondisi tersebut. Juga harus sabar dengan diri sendiri: mencoba hal baru, mencari strategi untuk memikirkan konten-konten pengajaran kreatif di medsos. Serta sabar menantikan karya Roh Kudus dengan doa-doa yang tidak pernah terputus.

Meski pemberitaan Firman mendesak dilakukan, tapi harus hati-hati dan panjang sabar menunggu. Waktu memberitakan Firman secara online, kita tidak boleh mengintimidasi orang yang kita ajarkan. Mungkin kita sudah berusaha mengundang siswa untuk join, mendorong untuk terlibat, berusaha menyampaikan pesan Injil lewat konten-konten yang menarik; berharap para siswa yang kita layani segera berubah atau bertobat lewat pelayanan tersebut. Hal ini wajar, namun ingat tanggung jawab kita ialah ketaatan memberitakan firman dengan setia. Berhasil atau tidak itu tanggung jawab Roh Kudus. Para pelayan siswa harus bersabar walau tidak akan segera melihat hasilnya. 

 

PEMBINAAN DAN PEMURIDAN DI MASA PANDEMI

Bagaimana pembinaan dan pemuridan bisa dilakukan di masa pandemi ini? Prinsipnya sama sebenarnya baik di masa sebelum maupun sesudah pandemi covid-19. Yaitu bagaimana pelayanan dan pemuridan yang kita lakukan itu dapat memiliki kedalaman relasi.

Fakta yang terjadi di beberapa pelayanan siswa di beberapa kota yaitu jika sebelum pandemi relasi antar pelayan siswa (Staf/TPS/PKK) dengan siswa sudah terjalin dengan baik, maka hal ini menjadi faktor pendukung berjalannya pembinaan dan pemuridan secara online saat pandemi. Sehingga pembinaan  secara online masih relevan, dibutuhkan dan bisa dijalankan.

Masalah muncul, bagaimana ketika akan menjangkau siswa baru di era new normal dimana banyak sekolah yang masih melakukan pelajaran secara daring hingga akhir tahun ini. Apakah siswa akan tertarik untuk terlibat dalam pemuridan secara online, padahal sebelumnya belum ada bonding (ikatan) dengan para pelayan siswa? Beberapa strategi penjangkauan siswa yang bisa direncanakan di semester new normal ini,  antara lain:

  • Mencari data siswa baru bekerja sama dengan orang-orang kunci di sekolah, seperti guru PAK, guru beragama Kristen, pengurus persekutuan maupun pengurus OSIS. Data yang diperoleh dapat difollow up dengan mendekati siswa maupun orang tua mereka dan sebagai jembatan bagi penginjilan.
  • Membantu guru-guru agama Kristen dalam membuat kelas agama atau persekutuan doa bersama.
  • Melibatkan influencer yang dikenal siswa dalam membuat konten-konten di medsos atau dalam membuat video penyambutan agar menarik siswa bergabung dalam persekutuan dan pemuridan.

Sesulit apapun kondisi ini, kita perlu mengingat bahwa perintah Tuhan Yesus untuk memuridkan harus terus dilakukan hingga akhir zaman. Meski penjangkauan siswa di masa pandemi tidak mudah, namun janji penyertaan-Nya memberi dorongan untuk terus berjuang dan bersabar dalam memuridkan di masa yang “tidak baik” ini.

(*Penulis melayani pelayanan Siswa di Mojokerto dan membantu pelayanan Alumni di Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES