more"/> more">
Student Writing - KETIDAKWARASANKU SAAT PANDEMI
Last Updated : Jul 24, 2020  |  Created by : Administrator  |  155 views

Oleh.Calvin Nathan Wijaya

 

"Allah bentengku yang teguh, perisai dan pelindungku,menolong bila &'39;ku jatuh, dan jadi pengharapanku."

(Martin Luther)

 

Apakah judul tulisan ini terlalu berlebihan? Saya tidak tahu. Anda bisa menilainya setelah selesai membaca tulisan ini. Memang benar, saya tidak waras pada masa pandemi ini. Waktu-waktu yang banyak dihabiskan di rumah membuat saya bersyukur, sebab saya dapat lebih memberikan waktu bagi keluarga saya. Tapi hal ini sekaligus memberikan ruang bagi pikiran saya untuk terus bekerja tanpa istirahat. Dalam keseharian sebelum pandemi, biasanya saya banyak menghabiskan waktu untuk beraktivitas di kampus, baik berkuliah maupun melayani mahasiswa Kristen. Pergi pagi pulang malam, seperti itulah kira-kira. Hal tersebut banyak menguras tenaga saya, sehingga tidak ada waktu bagi pikiran saya untuk bekerja ketika sampai di rumah karena sudah terlalu lelah. Namun, tidak dengan masa pandemi ini.

              Terlebih, saat ini saya sudah berada pada masa-masa akhir studi saya di kampus. Hal ini memberikan tekanan batin yang lebih terhadap saya, terutama bila berbicara masa depan dan kehidupan pasca-kuliah. Apakah melanjutkan studi pasca-sarjana? Apakah langsung bekerja? Belum lagi dengan tuntutan-tuntutan dari orang tua untuk segera memperoleh penghasilan dan hidup secara mandiri. Berbagai pertanyaan dan pergumulan ini menyusahkan diri saya karena saya memikirkannya terlalu keras. Dan inilah yang saya sebut sebagai ketidakwarasan saya.

 

Perintah Tersulit

Bila kita memikirkan mengenai bagian Alkitab mana yang paling sulit untuk dilakukan, mungkin jawaban kita akan bervariasi. Ada yang berkata mengasihi musuh adalah yang tersulit. Ada pula yang menyatakan bahwa perintah untuk tidak menurut hawa nafsu adalah hal yang paling sulit. Namun, bagi saya ⸻ dalam konteks pandemi ini ⸻ perintah jangan khawatir merupakan perintah tersulit.

              Tenyata hal ini bukan dialami oleh saya saja. Beberapa teman saya menceritakan bagaimana kekhawatiran melanda mereka pada masa pandemi ini. Seorang mengatakan pada saya bahwa banyaknya waktu kosong yang ada membuat ia memiliki waktu untuk memikirkan masa depannya, khususnya mengenai rencana untuk studi lanjut di luar negeri. Ia mencari informasi-informasi di internet mengenai universitas yang ingin ditujunya. Namun, bukannya motivasi belajar dan mempersiapkan diri, justru ia dilanda kekhawatiran dan ketakutan. "Saya takut tidak dapat mencapai impian tersebut," ujarnya. Seorang yang lain bercerita mengenai ketakutan-ketakutan yang muncul dalam konteks pelayanan mahasiswa Kristen di kampus. Ada potensi &'39;krisis keteladanan&'39;, dimana teladan yang sejati tidak dapat diberikan kepada generasi yang lebih muda bila persekutuan dilakukan terus menerus secara daring. Belum lagi persoalan-persoalan seperti penurunan penghasilan orang tua, potensi tertular Covid-19, dan masih banyak lagi yang menambah "ketidakpercayaan" kita pada Tuhan.  Hal ini menunjukkan betapa sulitnya menuruti perintah "jangan kamu kuatir", apalagi bila kita ada pada kondisi yang sulit dan tidak menentu.

              Bila dapat dirangkum, maka persoalan kekhawatiran sangat terkait dengan ketiadaan kepastian (uncertainty) dan ketiadaan harapan (no hope). Ketiadaan kepastian sangat mengganggu pikiran kita. Kapan pandemi Covid-19 akan berakhir? Akankah aku kembali mendapatkan pekerjaanku setelah aku terkena PHK? Akankah mahasiswa baru 2020 dapat terbina dengan baik? Bagaimana dengan masa depanku, apakah semuanya akan baik-baik saja? Apakah aku dapat mencapai impian-impianku? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menggambarkan situasi ketiadaan kepastian. Apa kemudian yang kita lakukan? Seringkali kita mulai menyusun perencanaan-perencanaan bagi hidup kita sendiri ⸻ rencana A–Z  ⸻ dan tanpa sadar bahwa Tuhan yang mengetahui segalanya tidak dilibatkan disana. Alih-alih memberikan ketenangan, justru beban pikiran kita semakin bertambah. "Bagaimana kalau Covid-19 tidak berhenti pada awal semester depan?" "Bagaimana kalau saya tidak bisa menyelesaikan tugas akhir saya tepat waktu?" "Bagaimana kalau? Bagaimana kalau? Bagaimana kalau?" Kita berputar-putar pada ketidakwarasan tersebut. Pada akhirnya, kita mencapai kesimpulan bahwa tidak ada harapan. Disinilah Iblis berkuasa, dan manusia dikelabuinya dalam lingkaran ketidakwarasan tersebut. Ah, sungguh sulit menaati perintah itu!

              Pada bagian selanjutnya, saya akan mencoba membagikan perenungan saya bagi kekhawatiran yang seringkali melanda diri kita. Saya berdoa agar bagian selanjutnya dapat membantu setiap kita untuk bukan melihat pada keadaan dunia yang terus menerus berubah melainkan pada tangan Allah yang tidak berubah yang berdaulat dan memegang sejarah umat manusia.

 

Allah Israel, Allah Perjanjian

Pernahkah terpikir dalam benak Anda mengapa kitab-kitab nabi perjanjian lama ditulis dengan begitu panjang? Seringkali kita meremehkan kitab-kitab tersebut dan enggan untuk membacanya, bukan? Sebab ada suatu asumsi bahwa kitab-kitab ini tidak relevan dengan kehidupan kita saat ini. Sungguh sebuah kerugian yang besar! Semoga kisah yang saya persingkat ini membuat Anda dapat mulai untuk menikmati kisah-kisah perjanjian lama ketika membacanya.

              Bangsa Israel merupakan bangsa pilihan Allah untuk dapat menjadi teladan bagi bangsa barbar lain. Namun dalam perjalanannya, bangsa Israel gagal dalam menjalankan tugas tersebut. Akhirnya, Allah mengutus para nabinya untuk mengingatkan bangsa Israel bahwa penghukuman akan datang  kepada mereka karena kegagalan mereka dalam menjalankan tugas tersebut. Mereka akan dibuang! Terserak dari tanah mereka. Namun, hal ini tidak berhenti sampai disana. Allah juga mengutus para nabi-Nya untuk menghibur bangsa yang dibuang tersebut bahwa penghukuman tidak akan lama. Mereka tidak akan selamanya dihukum. Mereka akan dibebaskan. Sesungguhnya, hal inilah yang menjadi pengharapan (hope) bagi bangsa Israel. Pengharapan akan datang. Dan Tuhan benar-benar menepati janji-Nya akan kebebasan yang memberikan pengharapan itu. Oleh sebab itu, dalam konteks masa kini, ketika kita membaca kisah-kisah dan nubuat-nubuat dalam perjanjian lama, hal tersebut akan memberikan peringatan yang indah kepada kita: Allah Israel, yang adalah Allah kita juga, adalah Allah yang memegang sejarah umat manusia. Hal inilah yang membawa penghiburan bagi kita yang khawatir dan tidak waras ini.

              Kesadaran bahwa Allah yang kita sembah adalah Allah yang berdaulat dan memerintah atas sejarah umat manusia merupakan cara paling ultimat untuk mengatasi kekhawatiran kita. Ia menciptakan bumi, sekaligus menopang dan memelihara bumi dan segala isinya. Ia terus bekerja dan tidak pernah berhenti bekerja (Yoh. 5:17). Bukan hanya sampai disana, bila kita melihat kisah Yusuf, dapat dilihat bahwa mungkin kejahatan boleh saja terlihat berkuasa, namun sesungguhnya Tuhan merancangnya untuk kebaikan (Kej. 50:20; bdk. Roma 8:28). Ia adalah Raja yang memerintah atas segala sesuatu, dan pemeliharaan-Nya sungguh nyata berdasar pada janji-janji, belas kasihan dan anugerah-Nya. Bukankah ini merupakan penghiburan yang besar bagi kita, hai orang-orang yang kurang beriman? Sesungguhnya, Ia adalah sumber pengharapan dan kepercayaan. Dari sejarah orang-orang kudus di masa lampau, kita dapat melihat bahwa Ia adalah Allah yang patut untuk kita sandari.

              Namun, ada saja yang tetap ragu dan mengatakan: "Saya tahu bahwa Allah adalah Allah yang berdaulat atas segala sesuatu. Tapi, terkadang himpitan di dunia terlalu mengganggu pikiran saya, sehingga kekhawatiran saya kembali melanda." Saya setuju bahwa selama hidup manusia, kekhawatiran pasti akan muncul, sebab memang kita tidak tahu kepastian masa yang akan datang. Tetapi, ingat satu hal, Tuhan yang mahatahu menuntun kita yang tidak tahu dalam setiap langkah kita. Bukankah itu yang pemazmur katakan? Firman-Mu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalan-jalanku (Mzm. 119:105). Keadaan dunia yang gelap membuat kita takut untuk melangkah, namun firman-Nya merupakan penerangan bagi kita untuk berani melangkah ditengah segala ketidakpastian yang ada. Corrie Ten Boom pernah mengatakan, "Never be afraid to trust an unknown future to a known God" (Jangan takut untuk mempercayakan masa depan yang tidak dikenal kepada Allah yang dikenal). Sehingga, bagian ini dapat disimpulkan pada kalimat ini: Memang saya tidak tahu apa masa depan yang sedang datang kepada saya, memang saya tidak melihat bagaimana akhir hidup saya, namun satu hal yang saya tahu bahwa Raja yang berdaulat itu memegang tangan saya.

 

Akhir kata, sama seperti Daud, kita dapat masuk dalam perhentian dari ketidakwarasan (baca: kekhawatiran yang berlebihan) kita, dan berkata: "Aku membaringkan diri, lalu tidur; aku bangun, sebab TUHAN menopang aku!" (Mzm. 3:6).

 

(* Penulis Mahasiswa Tingkat  Akhir Jurusan FIsip Unair dan Aktivis Pelayanan Mahasiswa)

 


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES