more"/> more">
Pengharapan Kepada Allah Yang Telah Terbukti
Last Updated : Jul 24, 2020  |  Created by : Administrator  |  57 views

Oleh Lidya Sanoebari *)

 

Nome, kota terpencil di Alaska pernah dilanda wabah difteri pada tahun 1925. Diperkirakan angka kematian bisa mencapai 100% dari lebih 20.000 jiwa penduduk, jika tanpa antitoksin. Kondisi cuaca ekstrim di kota yang terpencil itu menyebabkan akses 1.085 km untuk memperoleh antitoksin di kota Nenana menjadi sulit. Dengan jarak sejauh itu, diperlukan perjalanan cepat untuk memperoleh antitoksin. Sementara kondisi musim dingin minus 42 derajat Celcius akan mengakibatkan serum, yang hanya bertahan enam hari, sangat rawan rusak. Sedangkan perjalanan dari Nenana ke Nome membutuhkan waktu sembilan hari. Dr. Curtis Welch terpaksa menggunakan serum kadaluarsa untuk menolong pasien yang sedang sekarat. Namun nyawanya tak tertolong. Seperti tak ada jalan keluar, kecuali menyaksikan korban bergelimpangan.

Kereta salju anjing yang pernah memenangkan perlombaan lari cepat akhirnya menjadi pilihan. Anjing jenis Huskies Siberia bernama Balto dan Togo di bawah pimpinan Leonhard Seppala dan Kaasen berlari menarik kereta, menembus bahaya salju yang ekstrim. Ancaman nyawa atau setidaknya kebutaan dapat dialami Seppala dan Kaasen saat melintasi badai salju. Dengan kekuatan dan karunia buluh yang lebat serta kemampuan mereka menghindari bahaya, anjing-anjing Huskies itu berhasil membawa serum dari Nenana ke Nome dalam waktu tidak lebih dari 4 hari. Wabah difteri akhirnya berhasil divaksinasi.

Dalam Mazmur 42-43, pemazmur mengalami hal yang serupa: nyaris tak menuai pertolongan ketika berada dalam pembuangan, dan tertawan oleh bangsa yang tidak mengenal Allah. Ia tidak bisa menjalani kehidupan normal; tidak bisa masuk ke dalam Rumah Allah di Yerusalem, tidak bisa berziarah ke Bait Suci, dan tidak merasakan kedekatan dengan Allah-nya. Rumah Allah merupakan simbol keintiman relasi umat dengan Allah. Ketika pemazmur tidak dapat melakukan perjalanan spiritual ke Bait Suci, maka jiwanya merasakan kekeringan, kekosongan dan ia sangat merindukan Allah.  Ia terdesak dan berkabung karena mengingat Allahnya. Ia dirundung kemalangan: “air mataku menjadi makananku siang dan malam.” Keadaan ini sangat menyedihkan, sehingga refrein dua pasal Mazmur ini diulang sebanyak 3 kali: “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” (ay. 6, 12 dan 43:5).

Situasi sulit yang dialami pemazmur dan umat Tuhan dalam pembuangan dan tawanan merupakan tantangan iman. Ia berlarut-larut dalam penantian akan pembebasan. Imannya mulai goyah, dan orang-orang di sekeliling mereka memperburuk keadaan dengan bertanya “dimana Allahmu?” Dalam kegundahan, pemazmur bertanya-tanya “dimana gerangan Allah Israel yang pernah menunggangbalikkan kereta kuda Firaun ke dalam laut?” “Dimana gerangan Allah Israel yang pernah menulahi Mesir dengan sepuluh tulah untuk membuktikan kekuasaanNya kepada umatNya?” “Dimana gerangan Allah yang pernah memberikan manna ketika mereka kelaparan di Padang Gurun?” “Dimana gerangan Allah yang pernah membawa jutaan umat dari perbudakan di Mesir menuju Tanah Kanaan?” “Apakah mungkin Allah sedang lupa kepada umatNya?” Sepertinya Allah berlambat-lambat menolong pemazmur. Ia sangat melankoli di dalam kerinduannya yang mendalam akan kehadiran Allah.

Namun yang menarik adalah, meskipun Mazmur ini padat dengan keluhan, namun penyaiir tidak pernah melupakan pengalamannya bersama dengan Allah (ay. 5). Pengalaman memuji-muji Allah di dalam bait-Nya merupakan kekuatan spiritual yang menjadi penopang untuk jiwanya yang lemah saat ini. Pengalamannya bersama dengan Allah ketika merayakan kebaikan Allah di masa lampau merupakan dorongan yang membangkitkan jiwanya di saat mengalami kepedihan di masa kini. Pengalamannya dengan Allah membawa dia untuk melihat Allah yang merupakan Penolong di masa silam. Ketika kesuraman dialami, Pemazmur tahu kepada siapa ia harus mengaduh. Imannya meyakinkan bahwa kepada Allahlah ia harus meletakkan segala pergolakan batinnya dan meraih harapan besar untuk bersorak-sorak, sebab Allah telah terbukti sebagai Gunung Batu di dalam sejarah. Ia tidak hanya memberikan makanan bagi umatNya ketika mereka kelaparan di padang gurun, tetapi juga yang membawa mereka ke air yang tenang. Ia pun membaringkan umat-Nya di padang berumput hijau, dan menyegarkan jiwa umat-Nya.

Kepada siapa kita menggantung harapan kita? Seperti warga Nome yang menggantungkan harapan untuk terbebas dari virus difteri kepada Anjing Huskies Siberia, kita harus bergantung kepada Pencipta daripada ciptaan-Nya? Bukankah lebih meyakinkan bergantung kepada Dia yang telah terbukti menolong daripada terus mengeluhkan keadaan yang menekan? Pengalaman kita bersama dengan Penolong kita akan menjadi kekuatan baru ketika pergolakan hidup mengancam nyawa kita. Ketika mengalami kemerotosan batin, jiwanya terancam, gelisah, takut dan gundah gulana, iman pemazmur meneguhkan hatinya: “berharaplah kepada Allah! Sebab aku akan bersyukur lagi kepadaNya, Penolongku dan Allahku.”

(* Penulis melayani pelayanan Administrasi dan juga Mahasiswa di Mataram)

 


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES