more"/> more">
Standing in The Gap (Yehezkiel 22:30)
Last Updated : Aug 28, 2020  |  Created by : Administrator  |  94 views

Oleh Yusuf Deswanto,M.Div*)

 

            Mungkin tampak kurang elok jika peringatan hari kemerdekaan republik ini diberi tajuk yang kurang “mengindonesia.” Seorang rekan staf pernah bergumam dengan nada kritik saat ia mendengar seorang Indonesia berbicara dengan rentetan kata-kata asing yang ditujukan bagi pendengar (yang seluruhnya) Indonesia. Sejujurnya kritikannya selalu mengusik pikiran saya ketika hendak menulis atau berbicara dengan ungkapan-ungkapan asing. Namun kali ini saya harus menyerah. Tema “Standing in the Gap” mungkin kurang “mengindonesia.” Namun, memang sulit menemukan ungkapan Indonesia yang berpadanan dengan ungkapan ini.

            Ungkapan “Standing in the Gap” di dalam terminologi biblikal diambil dari Yehezkiel 22:30. Menarik untuk disimak bahwa ungkapan “weomed bapperez” dalam Bahasa Ibrani kemudian diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) sebagai: “mempertahankan negeri itu” (Terjemahan Baru), atau “berdiri di celah pagar” (Terjemahan Lama), dan “berdiri di tempat-tempat yang tembok-temboknya runtuh” (Bahasa Indonesia Sehari-hari). Jadi, apa yang dimaksud “standing in the gap” atau “berdiri di celah” dalam konteks Yehezkiel pasal 22 ini?

Jika kita membaca seluruh pasal 22, kita akan segera mendapatkan gambaran pernyataan murka Allah atas Israel/Yehuda karena dosa mereka yang luar biasa keji. Yehezkiel, yang disebut Allah sebagai “anak manusia,” dipanggil Allah sebagai saksi akan kejahatan penduduk dan pemuka-pemuka kota (Yerusalem). Pada puncak kemurkaan-Nya, Allah mencari seseorang di tengah mereka (penduduk Yerusalem) “yang hendak mendirikan tembok” dan “berdiri di celah” berhadapan dengan Allah. Kata “celah” (Ibrani: perez) sebenarnya bisa dimaknai sebagai “keruntuhan” (tembok atau moral), dan juga “pelanggaran.” Jika kita mengacu penggunaan istilah yang sama di dalam Mazmur 106:23, kita akan segera mendapatkan gambaran dari Musa, pemimpin besar Israel yang sering berdiri membela umat Allah di hadapan Allah. Hal ini dilakukan pula oleh Abraham, yang “berani” bernegosiasi dengan Allah dalam konteks penghancuran kota Sodom. Dengan demikian, ungkapan “berdiri di antara celah” menunjuk kepada peran seseorang yang dekat dengan hati Allah (seperti Abraham dan Musa), yang berani bersyafaat membela umat Allah, dan semuanya dilakukan demi nama baik (kemuliaan) Allah sendiri.

            Matthew Henry mengomentari Yehezkiel 22:30 sebagai berikut: “Ketika Allah tampil melawan bangsa yang berdosa untuk menghancurkannya, Dia berharap ada orang yang bersyafaat untuk mereka, dan mencari-cari jika ada satu orang saja yang melakukannya. Demikianlah besarnya kerinduan dan kesukaan Allah untuk menunjukkan belas kasihan. Jika ada satu orang saja yang berdiri di celah itu, seperti Abraham untuk Sodom, Dia akan mencarinya dan berkenan kepadanya.”

            Pada momen Peringatan HUT RI ke-75 ini, setiap Anda; siswa, mahasiswa, alumni, Staf Perkantas dan Pengurus, sedang dicari oleh Allah untuk menjadi orang yang sanggup “berdiri di celah” dosa bangsa Indonesia. Mari kita adakan puasa di setiap komponen pelayanan, kota, dan seluruh daerah pelayanan Perkantas. Ini waktunya bersyafaat bagi negeri yang sedang menuju keterpurukan; belum saja benar-benar bangkit dari berbagai masalah, “gelombang tsunami Covid-19” telah menerpa seluruh negeri ini. Sediakan waktu untuk berdiri bagi bangsa ini. Berdoa dan berpuasalah bagi pemulihan negeri ini. (*Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Jember)

 

 

Let us all stand in the gap before GOD

 

Ilustrasi gambar dari https://www.goodnewsfromindonesia.id/2020/07/19/

 


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES