more"/> more">
“Jesus, Me, and the World”
Last Updated : Sep 11, 2020  |  Created by : Administrator  |  120 views

Oleh Ekawaty Rante Liling, S.Psi.*)

Pernahkah kita berjumpa dengan seorang Kristen yang hidupnya berbeda saat berada di lingkungan komunitas sesama orang percaya, dengan hidupnya ketika di luar komunitas Kristen? Atau mungkin kita sendiri pernah mengalami hal yang demikian? Rupanya, kita mencoba hidup berbeda sebab kita takut dianggap “sok suci”, atau “sok rohani”. Selain itu, kita juga canggung jika berbicara mengenai hal-hal rohani dalam pergaulan sehari-hari karena takut mengalami penolakan. Tak jarang pula komitmen kita untuk taat kepada Kristus, menjadi  seolah-olah tidak berdampak bagi hidup keseharian kita. Dengan kata lain, seperti ada dualisme antara kehidupan yang kita beri label “rohani” yaitu yang berkaitan dengan hidup beriman, dan hidup yang kita beri label “sekular" yaitu hidup yang berkaitan dengan studi, pekerjaan, dan atau relasi kita dengan orang lain.

Akan tetapi, kehidupan kita sebagai murid Kristus, tidak semestinya dipisahkan demikian. Sebuah kata dalam bahasa latin, “Coram Deo” yang berarti “in the Presence of God”, mengandung makna bahwa hidup ini sesungguhnya dijalani atau diperagakan seluruhnya di hadapan Allah. Hal ini berarti, tak semestinya terjadi dualisme dalam kehidupan kita sebagai pengikut Kristus. Jika kita telah menerima Kristus sebagai Juruselamat pribadi kita, sesungguhnya seluruh aspek hidup kita telah diserahkan dalam otoritas Kristus dan firman-Nya. Artinya, tak ada lagi bagian hidup yang berusaha untuk kita kontrol dan atur secara pribadi.

Tentu saja, ini bukanlah hal yang mudah, sebab secara natural kita ingin dan lebih suka mengatur hidup kita sendiri. Namun, Firman Tuhan dalam Yohanes 15: 1-8 memberikan petunjuk untuk tinggal di dalam Kristus dan membiarkan Kristus tinggal di dalam kita. Kita diminta untuk memiliki hidup yang melekat pada Kristus sebagai pokok anggur yang benar. Tinggal dan melekat pada Kristus, berarti hidup kita diatur oleh-Nya dan bersedia untuk makin ditransformasi, sehingga menghasilkan buah yang banyak. Apa artinya hidup yang berbuah banyak? Ini adalah hidup yang memberi dampak nyata bagi orang lain. Ya, hidup yang melekat pada Kristus tidak hanya mentransformasi hidup kita secara pribadi, tetapi juga menghasilkan hidup yang akan memberi dampak bagi orang lain dan dunia di sekitar kita.

Kita juga perlu mengingat identitas kita sebagai seorang murid Kristus, yang di utus ke dalam dunia (Yoh 17:18), untuk menjadi garam dan terang bagi dunia. Karena itu, hidup seorang murid bukan hanya bicara tentang “Jesus and Me” tetapi tentang “Jesus, Me, and the World”. Namun, dengan diri kita sendiri yang berdosa ini, tentu tidak akan mampu menjangkau dan memberi dampak bagi orang dan dunia di sekitar kita. Oleh karena itu, mari kita terus memelihara relasi pribadi kita dengan Tuhan, dengan terus tinggal di dalam Firman-Nya, dan membiarkan Firman-Nya tinggal di dalam kita hingga Firman itu mengubahkan hidup kita. Soli Deo Gloria

( Penulis melayani di Griya Pulih Asih, saat ini sedang menempuh Studi M.Th di STTRI Jakarta)

 

Ilustrasi gambar di ambil dari  https://www.dreamstime.com/stock-photo


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES