more"/> more">
STRENGTHENING CHRISTIAN FAMILY - Kolose 3:12-14
Last Updated : Oct 09, 2020  |  Created by : Administrator  |  122 views

Oleh Iis Acsha,S.Th,M.K

 

Betulkah masa pandemi ini dapat mengoyahkan keharmonisan keluarga sehingga setiap keluarga perlu diperkuat? Apakah keluarga Kristen juga tidak aman dari “serangan” pandemi ini?

BADAI YANG MENERPA KELUARGA DI MASA PANDEMI

Sheridan Prasso (31 Maret 2020 di bloomberg.com) melaporkan hasil temuannya dari berbagai kota di Tiongkok. Ia mencatat, ada lonjakan pengajuan perceraian di Maret 2020 ketika suami istri harus tinggal sepanjang hari selama berminggu-minggu di masa lockdown. Pengacara masalah perceraian Shanghai, Steve Li di Gentle & Trust Law Firm mengatakan, kasusnya meningkat 25% sejak lockdown.

Fakta ini juga terjadi di Indonesia. Dari laman resmi Pengadilan Agama Bandung, Sikabayan (kabayan.pta-bandung.go.id) tercatat Hingga 29 Agustus 2020, terjadi 55.876 perceraian di Jawa Barat. Lonjakan angka gugatan dan permohonan cerai terjadi pada masa awal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilakukan, yakni pada rentang Mei-Juni-Juli. Dari semua satuan kerja Pengadilan Agama se-Jawa Barat lonjakan gugatan cerai melonjak dari angka 2.734 pada Mei 2020 ke angka 12.617 pada Juni, begitu pun pada Juli tercatat angka gugatan mencapai 11.797 gugatan.

Tapi ada laporan yang lain justru di masa pendemi ada pasangan menemukan kembali kebahagiaan pernikahan berkat pandemi. “Tetap tinggal di rumah dan PSBB mengingatkan saya betapa saya mencintai orang yang saya nikahi,” kata Rachel Smith, seorang seniman Kanada di Hong Kong.

Jika kita belajar dari studi terhadap orang-orang di Hong Kong setelah epidemi SARS 2002-03, menunjukkan “satu tahun setelah wabah, mereka yang selamat dari SARS masih mengalami peningkatan stres dan kecemasan yang serius,” termasuk depresi dan kecemasan; perceraian pada tahun 2004, 21% lebih tinggi dari tingkat tahun 2002.

Fakta-fakta ini memberi gambaran bahwa pademi ini memang bisa menjadi terpaan badai yang dapat mengancam keharmonisan semua keluarga, juga pada keluarga Kristen. Bagaimana kita menghadapi nya?

MENEMUKAN SUMBER MASALAH DAN MENATA KEMBALI POLA RELASI DALAM KELUARGA

Setiap keluarga unik, unik sejak dari proses pembentukan dan pola komunikasi yang terjalin, demikian juga titik rawannya. Oleh sebab itu, di masa badai pendemi ini, setiap keluarga perlu memiliki waktu khusus untuk menemukan bersama hal-hal yang bisa dan sudah menjadi sumber permasalahannya.

Paling tidak ada empat sumber masalah di masa pandemi, pertama berkaitan dengan uang. Uang yang menjadi lebih sedikit yang berdampak pada kekuatiran banyak hal berkaitan dengan masa depan. Kedua, waktu untuk diri sendiri yang sangat berkurang karena suami istri dan anak-anak yang di berada rumah relative sepanjang hari yang membutuhkan perhatian. Ketiga, pekerjaan. Tidak semua orang terampil bekerja di rumah, apalagi bagi seorang ibu yang bekerja sambil mengerjakan urusan rumah tangga dan menemani anak belajar di rumah. Keempat, komunikasi. Seringkali komunikasi menjadi jauh dari efektif karena masing-masing anggota keluarga mengalami banyak tekanan dan tuntutan, apalagi jika ada banyak harapan atau masalah yang selama ini terpendam dan belum terselesaikan.

Komunikasi adalah sumber masalah yang paling serius dari empat sumber masalah keluarga. Salah satu cara efektif untuk mengembalikan komunikasi keluarga menjadi efektif adalah mengembalikan pola relasi dalam keluarga berdasarkan firman Tuhan yaitu Kristus sebagai dasar dan penyatu keluarga (Ef. 1:9-10; 5:21-6:9; Kol.3:18-4:1; 1 Tim.2:8-15; 6:1-2; Tit.2:1-10; 1 Pet.2:18-3:7).

Langkah berikutnya adalah menciptakan pola relasi dan komunikasi yang sehat (Kol 3:12-14) dimulai dengan memastikan setiap anggota dalam keluarga menjalankan peran dan fungsinya sebagai mana seharusnya.

SARAN PRAKTIS MENEMUKAN TUHAN DI TENGAH BADAI

Tidak seorang bisa menyebutkan bilamana badai pandemi ini akan berakhir dan seberapa kuat badai pandemi ini menerpa keluarga kita. Oleh sebab itu, menemukan dan dekat dengan Tuhan adalah cara terbaik.

  1. Berteduh di hadapan Tuhan dan refleksi diri. Ambil waktu untuk mengeksplorasi dan mengidentifikasi pikiran dan perasaan diri. Bagaimana perasaan Anda dalam ketidakpastian dan perubahan karena pandemi ini ? Apa Anda takut, kuatir? Takut dan kuatir apa? Mengapa? Amati reaksi perasaan dan carilah dukungan jika perlu.   
  2. Komunikasi. Komunikasi dengan pasangan adalah kunci dalam keluarga. Terbukalah untuk apa yang ada di dalam pikiran dan perasaan Anda, dan secara aktif dengarkan pikiran dan perasaan pasangan dan anak-anak Anda. Jangan minimalkan ekspresi pasangan dan anak-anak Anda dan jangan terlalu cepat memberi solusi.
  1. Menjaga Rutinitas yang teratur. Dalam kondisi yang tidak pasti, rutin dan teratur (waktu makan, tidur, olahraga, dan bekerja – WFH atau belajar SWH) membantu orang merasa aman dan terjamin karena tidak perlu beradaptasi lagi. Usahakan menyelesaikan hal-hal rutin bersama pasangan dan atau anak.
  1. Seimbangkan Waktu keluarga dengan Waktu untuk diri sendiri. Jangan salah mengartikan waktu untuk sendiri sebagai mengabaikan. Suami baca buku, main game; istri dan atau anak chatting dengan temannya. Setiap orang membutuhkan waktu untuk menjadi diri sendiri bersama Tuhan.
  1. Meneduhkan Reaksi Stres. Reaksi emosi setiap orang berbeda pada waktu stres, kadang mudah marah, menangis, menyalahkan orang atau diri. Maka masing-masing anggota keluarga perlu menerima kondisi ini, apalagi jika sebelumnya ada gangguan kecemasan atau depresi. Carilah bantuan jika perlu.
  1. Belajarlah beradaptasi dan berpikir Positif. Setiap anggota pasti  merasa tertekan (walau dengan kadar berbeda) menghadapi tantangan pandemi ini. Usahakan ada waktu untuk membahas masalah, membaca Firman Tuhan & berdoa bersama-sama seluruh keluarga. Ambillah Langkah yang produktif sesuai kesepakatan. 

PENUTUP

Keluarga merupakan tempat untuk setiap anggota keluarga bertumbuh secara jasmani, akal budi, relasi sosial, kasih dan rohani. Oleh sebab itu, setiap kita perlu berperan aktif membangun dan menguatkan keluarga, apapun kondisinya sekarang. Tuhan Yesus memberkati.

(*Penulis adalah Konselor Griya Pulih Asih Surabaya)

Ilustrasi gambar diambil dari http://wwepc.org/how-to-strengthen-family-relationships/


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES