more"/> more">
Student Writing - Merawat Jiwa yang Patah
Last Updated : Oct 23, 2020  |  Created by : Administrator  |  243 views

Oleh Sheylia Leka *)

 

Namanya William, seorang remaja berusia 17 tahun suka mengurung diri di kamar, menghindari setiap kegiatan sosial, berhenti menyukai sekolah dan bertengkar dengan anggota keluarganya. Selain itu, jam makan dan jam istirahatnya pun berantakan, kamarnya tidak terurus, penampilannya kumal dan seringnya bangun kesiangan menambah serangkaian perilaku tidak normal darinya. Tampaknya, jiwa anak ini sedang patah dan orang tuanya tidak memahami dengan baik situasi yang dihadapi oleh anaknya.

Akibat dari perilaku William, orang tuanya mulai dicari pihak sekolah karena ia terancam tidak bisa mengikuti Ujian Tengah Semester.. Orang tua berpikir bahwa William membangkang dan malas ! Namun, sebenarnya William merasa diabaikan oleh orang tuanya yang sibuk bekerja. Memang kebutuhannya secara jasmani terpenuhi dan mendapatkan fasilitas terbaik. Tetapi kebutuhannya secara emosional tidak! Sehingga, ia mengekspresikan kebutuhannya tersebut dengan  cara-cara di atas

Hal serupa mungkin sudah atau sedang terjadi pada jutaan remaja dan orang tua lainnya di dunia yang bersikeras akan setiap perspektifnya. Orang tua berpikir bahwa sudah memberikan semua yang dibutuhkan anak. Namun, William melihat bahwa orang tuanya tidak memenuhi kebutuhannya yang lain, yaitu kebutuhan emosional. Dalam kasus ini, tampak ada perbedaan pandangan antara anak dan orang tua yang mengakibatkan  perang argumentasi antara orang tua dan anak. Dan pada akhirnya, pemenangnya ditentukan oleh yang dapat memenangkan argumentasi tersebut.

Tetapi sayangnya, ini bukan berbicara tentang pertarungan argumen dan melanggengkan debat tiada henti dalam kehidupan William dan orang tuanya. Hal ini  berbicara sangat dalam mengenai luka kompleks yang jika dibiarkan akan menjadi kepahitan. Rentetan peristiwa traumatis dalam diri William dapat menciptakan kepahitan yang meledak suatu hari nanti. Sedangkan orang tua pasti menjadi kebingungan dan kewalahan menghadapi hal tersebut

Lalu bagaimana solusi dari argumentasi yang terjadi antara orang tua dan anak ini? Adakah solusi yang bisa diberikan ?

Kita perlu memahami anak pada usia 17 tahun berada dalam tahap perkembangan yang tidak stabil masa transisi untuk menjadi orang dewasa dan menyesuaikan atas pola yang baru (Hurlock, 1980) Sehingga, kondisinya rentan untuk mengalami kemarahan, depresi, kesulitan mengatasi emosi. hal ini memicu kenakalan remaja, kesulitan akademis, penyalahagunaan obat, gangguan makan dan tidur (Santrock, 2007) sedangkan  menurut teori dari Hurlock (1980) usia orang tua william berada dalam tahap dewasa madya yang sudah memiliki kestabilan dalam mengatur emosi. selain itu termasuk golongan usia yang paling sehat, tenang, pengontrolan diri yang tinggi dan bertanggung jawab (Santrock, 2007) ciri khas masa perkembangan yang berbeda ini cukup kontras dan membutuhkan energi lebih dalam menghadapi remaja seperti William. Resiko perdebatan mengenai emosi dapat memicu luka tanpa adanya penyelesaian hanya melahirkan luka baru.

Tanggung jawab menjadi orang tua tidak diajarkan secara formal dalam institusi pendidikan. Di sisi lain, dari sisi William, ia pasti tidak ingin terus menerus lari dari dirinya sendiri dengan mengecewakan orang tuanya sendiri. Lingkaran tersebut perlahan bisa terputus apabila orang tua dan anak bisa saling belajar. Orang tua dan anak adalah pantulan dari cerminan luka dan kebutuhan terdalam antara anak dan orang tua. Sekolah terbaik untuk orang tua adalah anaknya sendiri dan begitu pula sebaliknya anak harus belajar dari orang tua.

Namun kemauan saling belajar antara orang tua dan anak tidaklah cukup, dalam kasus yang tertentu, perlu keterbukaan untuk didampingi dari pihak profesional, yaitu Psikolog atau Psikiater. Pengecekan kondisi mental keseluruhan dengan mendatangi tenaga profesional bisa membantu orang tua untuk memutuskan langkah penanganan yang tepat. Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan dalam seminar memperingati Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2011 menyebutkan bahwa dari penduduk usia dewasa di Indonesia yang mencapai 150 juta jiwa, sekitar 11,6% atau 17,4 juta jiwa mengalami gangguan mental emosional atau gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi. Pemahaman yang benar juga dapat diteruskan pada anggota keluarga lainnya sehingga bisa bersama-sama mengasihi sang anak. Selain mengetahui kondisi mental, kebutuhan spiritual juga sangat diperlukan. Pemuka agama yang sesuai dengan kepercayaan orang tua dan anak bisa didatangi. Hal ini bertujuan untuk mendukung perjalanan spiritual sang anak dalam penyembuhan total dan mengenal kasih yang kekal.

Selain itu, juga diperlukan dukungan dari sekolah terutama guru-guru dan juga lingkungan pergaulan. Mengapa demikian? Sebab, kehadiran guru-guru yang berempati pada anak didiknya dapat membantu proses pemulihan. Sedangkan, kehadiran teman sebaya dapat memberikan dukungan yang kreatif kepada sang anak sehingga ia dapat mendapat dukungan sosial yang cukup

Akhir kata, merawat jiwa yang patah sebagaimana yang dialami oleh William memang membutuhkan kerja keras, tetapi bukan berarti hal tersebut mustahil untuk dilakukan.

(*Penulis adalah mahasiswa Psikologi Universitas Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES