more"/> more">
Memandang Kasih Ilahi di Tengah Penderitaan yang Dialami
Last Updated : Feb 12, 2021  |  Created by : Administrator  |  44 views

 

 

When You don&'39;t move the mountains
I&'39;m needing You to move
When You don&'39;t part the waters
I wish I could walk through
When You don&'39;t give the answers
As I cry out to You
I will trust, I will trust
I will trust in You

Demikian penggalan lagu berjudul Trust in You oleh Lauren Daigle yang aku putar di sepanjang hari, beberapa waktu lalu. Setelah semalaman menangis karena mendengar kabar beberapa rekanku positif covid-19, Tuhan melalui cara-Nya mengingatkanku pada lagu ini. Ketika Tuhan tidak memindahkan ‘gunung’ yang aku minta kepada-Nya untuk dipindahkan, ketika Dia tidak memilah ‘air’ supaya aku dapat berjalan, ketika Dia tidak memberi jawaban atas segala seruanku, aku akan terus percaya. Aku akan terus percaya kepada-Mu. Begitulah arti dari lirik lagu ini.

Hatiku dipenuhi dengan kekhawatiran. Rasa takut kehilangan itu begitu nyata. Terutama ketika seorang bapak yang aku hormati dan teladani mengalami kondisi yang kritis karena Covid-19 telah menggerogoti tubuhnya. Kami tidak memiliki relasi yang dekat, hanya sebatas beberapa pertemuan singkat. Namun aku tahu, betapa pelayanan beliau sangat mempengaruhi kegerakan yayasan di mana aku melayani. Lagu itu terus berkumandang di dalam hati dan pikiranku. Seakan mempersiapkanku pada hari di mana aku mendengar kabar bahwa beliau telah tiada. Ya, beliau telah dipanggil oleh Tuhan, Sang Pemilik kehidupan.

Kejadian ini membuatku menyadari, betapa rentan dan terbatasnya manusia. Kita bisa mengalami rasa sakit, takut, dan segala macam jenis penderitaan lainnya. Betapa tidak berdayanya manusia itu. Ketika hati ini terasa begitu pilu, sulit rasanya bernyanyi ‘aku percaya kepada-Mu Tuhan’.

Mengapa Allah mengizinkan semuanya ini terjadi? Mengapa harus kami? Mungkin kita tidak akan pernah tahu dengan pasti jawaban dari semua pertanyaan itu. Ketika membaca kembali firman Tuhan dan mengingat akan kasih Allah melalui pengorbanan Yesus, aku disadarkan bahwa tidak ada penderitaan dan berbagai macam perasaan yang tidak pernah Dia alami.

Dalam bukunya Walking with God Through Pain and Suffering, Timmothy Keller berkata bahwa paling tidak kita perlu tahu bahwa semua penderitaan itu terjadi bukan karena Tuhan tidak peduli. Dia telah menderita hingga mati di kayu salib untuk menebus umat manusia dari maut. Jika Allah memperdulikan kehidupan kita di kekekalan, apalagi hal lainnya di dalam kehidupan di dunia ini?

“Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal. Jika tidak demikian, tentu Aku mengatakannya kepadamu. Sebab Aku pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu. Dan apabila Aku telah pergi ke situ untuk menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada…” (Yohanes 14:1-3)

Ketika Yesus memberitahukan kabar bahwa kematian-Nya sudah dekat, Dia dapat merasakan kegelisahan para murid-Nya. Kemudian Yesus mengatakan kalimat di atas. Yesus tahu bahwa jalan yang akan dialami oleh para murid nantinya tidak akan mudah. Namun, inilah kerinduan hati-Nya “Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamu pun berada.”

Betapa besar keinginan Allah untuk bisa bersama-sama dengan kita! Bukankah itu akan menjadi penghiburan kita selama hidup di dunia? Mari kita rengkuh dan akui semua ini: rasa takut kehilangan orang terkasih, kekhawatiran dan berbagai macam dukacita yang kita alami. Dalam kesadaran bahwa kita memang rapuh dan tidak berdaya, namun kita percaya ketika tubuh yang rapuh ini telah kembali bersatu dengan tanah, kita akan mendapat tubuh kebangkitan yang mulia, bersama dengan Allah di kekekalan. Allah adalah bagian terbaik kita selama-lamanya.

Betapa besar kasih Allah melalui karya Anak-Nya, Yesus Kristus. Meski ada permohonan kita yang tidak dikabulkan oleh Tuhan, kita tahu bahwa semuanya itu demi kebaikan. Meski kita tidak akan tahu sampai kita mati mengapa sesuatu hal terjadi, hal itu tidak akan mengubah iman percaya kita bahwa Allah itu sempurna dalam setiap rencana-Nya.

Pada akhirnya saudara-saudaraku, di tengah banyaknya ketidakpastian dalam hidup ini, kiranya kasih dan damai sejahtera Allah selalu turun atas kita semua. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya. Di dalam suka mau pun duka, biarlah pujian bagi-Nya tetap mengalir dari hati kita. Maranatha!

(* Penulis melayani Pelayanan Siswa di Banyuwangi)

Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/s/photos/the-cross


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES