more"/> more">
STUDENT WRITING - Apakah Orang Kristen dapat Merayakan Imlek?
Last Updated : Feb 12, 2021  |  Created by : Administrator  |  32 views

Oleh: Syahsapdya Agapeatama S.*)

 

Beberapa tahun terakhir, bulan Februari diidentikan dengan perayaan Imlek. Kita tahu bahwa hari raya ini erat kaitannya dengan masyarakat Tionghoa yang tinggal dan menetap di Indonesia. Momen ini tak kalah meriahnya dengan perayaan Natal ataupun Tahun Baru sehingga banyak orang yang memanfaatkannya untuk berkumpul bersama keluarga besar atau pergi berlibur.

Di Indonesia sudah banyak orang Tionghoa yang memeluk agama Kristen sehingga menimbulkan perbedaan pandangan terhadap perayaan Imlek. Ada sebagian orang Kristen yang turut menyambut Imlek dengan sukacita, namun ada sebagian lagi yang memilih untuk tidak merayakannya sama sekali. Bagi kelompok yang tidak turut merayakan ini, perayaan Imlek dianggap bertentangan dengan ajaran-ajaran di dalam firman Tuhan. Benarkah demikian?

Kita memang harus mengakui bahwa asal-usul perayaan ini berhubungan erat dengan kisah-kisah mitologis. Apabila kita membaca sejarah perayaan Imlek, kita akan menemukan tentang praktik penyembahan kepada dewa-dewa dan tradisi pengusiran roh-roh jahat dengan media lampion dan petasan. Sangat jelas bahwa hal ini kurang tepat secara perspektif Kristen dan bertentangan dengan Alkitab.

Dari fakta tersebut apakah berarti kita harus menolak perayaan Imlek? Tentu saja tidak! Kita perlu menyadari bahwa umat Kristen hadir dan dipanggil untuk mentransformasi budaya (Kej. 1:26; Yoh. 17:15-19). Perlu diketahui bahwa tidak ada budaya yang bebas dari distorsi dosa. Tiap-tiap budaya memiliki elemen tertentu yang rusak akibat dosa. Tugas kita sebagai orang Kristen bukan untuk meniadakan semua elemen budaya tersebut, melainkan mengubah elemen yang telah rusak itu dengan kebenaran firman Allah. Dengan kata lain, kita memberikan landasan filosofi Kristiani pada setiap elemen budaya.

Orang-orang Kristen juga terpanggil untuk menjadi saksi Kristus di tengah dunia. Salah satu caranya adalah beradaptasi dengan budaya yang ada. Artinya, di mana pun kita berada, kita berupaya untuk tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain dengan cara menghargai budaya setempat. Inilah yang dilakukan oleh rasul Paulus di dalam pelayanannya (1 Kor. 9:19-23) sehingga ia rela menjadi segala-galanya bagi semua orang demi menjadi saksi Kristus di tengah dunia.

Namun, apakah rasul Paulus hidup persis seperti orang yang dilayaninya secara mutlak? Tentu saja tidak! Hal ini dibuktikan dengan tegurannya yang ditujukan kepada jemaat Korintus yang hidup seperti orang-orang dunia (1 Kor. 5:1; 15:33). Rasul Paulus hanya mengikuti unsur-unsur budaya tertentu yang selaras dengan kebenaran firman Allah. Apabila suatu unsur budaya tersebut dinilai salah, baik secara konsep maupun secara praktik, maka hal itu jelas tidak boleh diikuti. Misalnya, praktik percabulan atau penyembahan berhala di di kuil-kuil pada jaman rasul Paulus.

Kembali kepada perihal perayaan Imlek, masih ada unsur yang baik yang dapat kita ikuti dalam perayaan terserbut seperti makan bersama keluarga dan berbagi angpao. Kedua hal ini tentu tidak bertentangan dengan perspektif Kristiani. Kita bahkan harus menyediakan waktu untuk berkumpul bersama keluarga dan berbagi kasih. Tanpa perayaan Imlek pun kita selalu mengupayakannya, apalagi pada saat momen Imlek seperti ini. Momen berkumpul dengan keluarga dapat diisi dengan persekutuan rohani yang saling menguatkan.

Dalam hal berbagi kasih, kita dapat melakukannya dengan berbagi angpao. Motivasi pemberian angpao ini dapat kita landasi dengan nilai Kristiani yaitu kita mengasihi karena Allah lebih dahulu mengasihi kita (1 Yoh. 4:7-12). Dengan demikian, kita tidak perlu kuatir lagi sebagai umat Kristen dalam merayakan Imlek. Hal-hal tertentu seperti lampion, pohon angpao, atau baju jibao tidak perlu dipermasalahkan. Karena yang terpenting adalah tidak memercayai mitos-mitos yang ada dibaliknya. Jika kita menghilangkan benda-benda tersebut bisa saja kita menjadi batu sandungan bagi sesama kita yang sedang merayakan Imlek.

Jadi, orang Kristen yang merayakan Imlek merupakan hal wajar dengan menganut nilai-nilai Kristiani dan hal tersebut tidak perlu dipertentangkan sehingga menimbulkan dilema bagi orang Kristen yang turut merayakan Imlek. Adalah pilihan yang bijaksana apabila turut merayakannya dengan menggunakan konsep Kristiani dan memanfaatkannya sebagai kesaksian untuk memberitakan iman kita. Sebab apabila kita masih memiliki keluarga yang rutin merayakan Imlek, namun kita bersikap apatis dan ofensif terhadap mereka justru kita menjadi orang Kristen yang menjadi batu sandungan. (* Penulis Mahasiswa S-1 Psikologi Universitas Merdeka Malang)

 

REFERENSI OPINI
 

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Tahun_Baru_Imlek . Diakses 08 Januari, 2021.

https://tuhanyesus.org/orang-kristen-merayakan-imlek . Diakses 08 Januari, 2021.

https://www.google.com/amp/s/psbobby.wordpress.com/2010/02/09/bolehkah-orang-kristen-merayakan-imlek/amp/. Diakses 08 Januari, 2021.

https://www.google.com/amp/s/yohnahuway.wordpress.com/2019/02/07/tahun-baru-imlek-menurut-iman-kristen/amp/. Diakses 08 Januari, 2021.

 

Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/photos/iO0BFK5GMyA


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES