more"/> more">
Renungan - BERDAMAI DENGAN TOXIC THOUGHTS!
Last Updated : Nov 04, 2022  |  Created by : Administrator  |  162 views

Oleh Ekawaty Ranteliling, S.Psi

 

Ah, aku gak akan pernah cukup baik. Orang lain memang lebih baik dari aku. Aku gak dicintai. Aku memang bodoh. Aku payah sekali. Tuhan gak sayang sama aku.

Pernah memikirkan hal-hal yang serupa? Apakah sudah mencoba untuk membuangnya jauh-jauh tetapi tetap muncul lagi? Mungkin Anda sedang terjebak toxic thoughts!

 

Apa itu toxic thoughts? Istilah toxic (racun) merupakan ujaran yang cukup sering muncul belakangan ini. Umumnya toxic disandingkan dengan kata yang lain, lalu menghasilkan sebuah terminologi, misalnya toxic relationship, toxic people, toxic positivity, dan lain sebagainya. Penambahan istilah toxic pada suatu kata tertentu pada dasarnya ingin menekankan sisi negatif dari kata tersebut. Jadi toxic thought, sebenarnya adalah pikiran negatif yang dapat menjadi racun dalam hidup seseorang. Dengan kata lain, toxic thought merupakan gambaran sebuah pola pikir yang tidak sehat, dan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Toxic thought bisa disebabkan oleh perasaan malu dan rasa bersalah yang sering dialami pada masa kanak-kanak. Hal ini kemudian menjadi pola untuk merespons suatu kondisi, yang terbawa hingga dewasa.

 

Seseorang dengan toxic thought, cenderung berpikiran negatif tentang dirinya sendiri, maupun orang lain. Sulit untuk melihat hal-hal baik dalam dirinya, sehingga menghambatnya untuk berkembang dan maksimal mengerjakan suatu hal. Pikiran negatif yang muncul pun dapat berpengaruh terhadap emosi dan tingkah laku seseorang. Penelitian menemukan bahwa toxic thoughts merupakan sumber penyakit yang terjadi dewasa ini. Toxic thought dapat pula memengaruhi relasi dengan orang lain. Seseorang dengan toxic thought bisa menaruh curiga atau berasumsi negatif, sulit percaya, memandang rendah, hingga menciptakan jarak dengan orang lain. Jika dampaknya begitu buruk, lalu bagaimana menyikapinya? Mungkinkah kita terbebas dari belenggu pikiran beracun itu?

 

Pikiran memang sulit dikendalikan, utamanya pikiran negatif. Manusia juga punya kecenderungan yang lebih besar untuk memikirkan hal yang negatif, dibanding hal yang positif. Alkitab banyak membicarakan mengenai pikiran manusia. Pikiran dapat membentuk hidup kita, sehingga dalam Roma 12:2, Rasul Paulus menasehati untuk jemaat berubah oleh pembaharuan budi (pikiran). Rasul Paulus menyadari peperangan yang terjadi di dalam pikiran, dan bagaimana pikiran dapat melemahkan iman dan pengharapan kita. Pikiran dapat menjadi area pertempuran, sebab telah rusak oleh dosa. Pikiran manusia berdosa disebut “telah menjadi tumpul” (2 Kor. 3:14), “dibutakan oleh ilah zaman” (2 Kor. 4:4), “tidak sehat” (1 Tim. 6:5), dan “menjadi bobrok” (2 Tim. 3:8).

 

Menariknya, Paulus memberikan pernyataan yang berani bahwa pikiran dapat ditawan dan ditaklukkan kepada Kristus (2 Kor. 10:5). Jika Paulus menasihatkan untuk berubah oleh pembaharuan pikiran (Roma 12:2), ini juga mengindikasikan adanya harapan untuk mengubah dan mengatur pikiran kita. Lalu, bagaimana agar toxic thoughts kita dapat diperbaharui?

 

Pertama, kita perlu menyadari pola pikir tidak sehat yang muncul dalam diri kita. Perlu juga mengenali penyebab dan pencetus munculnya pikiran tersebut, lalu mengakui dan menerima pikiran-pikiran negatif tersebut. Dengan mengenali, mengakui, dan menerima, kita akan belajar berdamai dengan pikiran negatif itu, sehingga lebih mudah untuk mengelola dan mengaturnya.

 

Seringkali, kita adalah orang yang paling berpotensi melukai diri kita sendiri. Salah satunya, dengan mengembangkan pola-pola berpikir yang beracun terhadap diri sendiri. Karena itu, cara kedua untuk mengatasi pola pikir tidak sehat ini, adalah dengan mengembangkan self-compassion dan mengasihi diri sendiri. Jika kita terbuka untuk menerima dan mengasihi diri sendiri, kita pun dapat belajar untuk menerima dan mengasihi orang lain dengan lebih tulus. Dengan begitu, kita dapat mengatur pikiran kita agar tidak menjadi racun bagi sesama, khususnya orang-orang dalam komunitas kita.

 

Di sisi lain, sering kali semakin kita mencoba membuang atau melawannya, pikiran negatif itu justru makin kuat. Maka hal ketiga yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah mengganti pikiran negatif tersebut dengan kebenaran firman Tuhan. Rasul Paulus menasihatkan dalam Filipi 4:9, untuk memikirkan semua yang benar, yang mulia, yang adil, yang suci, yang manis, yang sedap didengar, yang disebut kebajikan, dan patut dipuji. Dengan memikirkan hal-hal yang baik ini, kita dapat mengganti pikiran-pikiran negatif yang kerap menguasai kita.

Toxic thoughts bukan sekadar masalah psikologi, tetapi juga perkara spiritual. Ini juga tentang relasi kita dengan Allah. Karena pikiran kita sudah tercemar oleh dosa, maka hal keempat yang bisa kita lakukan adalah mengarahkan pandangan kepada Kristus, Sang Kemenangan kita. Kematian dan kebangkitan Kristus telah membebaskan kita dari belenggu dosa, termasuk dari belenggu  yang beracun. Karenanya, kita perlu menaklukkan pikiran kepada Kristus dan kebesaran-Nya, melalui ucapan syukur. Dengan mengucap syukur, kita akan memikirkan hal-hal baik yang Tuhan kerjakan di dalam diri kita, sehingga pikiran-pikiran negatif kita juga tergantikan. Kiranya kita dapat berdamai dengan pikiran kita yang beracun, dan belajar mengembangkan pola pikir yang sehat, sehingga kita tidak menjadi toxic juga bagi orang di sekitar kita.( Penulis melayani di Griya Pulih Asih , saat ini sedang menyelesaikan studi M.Th di STTRI Jakarta)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES