more"/> more">
Memaknai Natal dalam Keadilan dan Damai Sejahtera
Last Updated : Dec 23, 2022  |  Created by : Administrator  |  63 views

“Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.”

Lukas 2:14


 

“Merayakan Natal?! Bah, aku muak dengan istilah merayakan!” ungkap Bimo dengan setengah tersengal. “Kekristenan kita sudah terlalu berpihak kepada kaum mapan dan berduit! Malas aku datang ke apa itu? Perayaan Natal PMK? Natal kog isinya selebrasi-selebrasi terus, tanpa peduli kepada banyak orang yang susah. Sori, Lisa. Aku tidak bisa menemanimu memenuhi undangan Natal PMK kampusmu. Kamu datang sendiri saja, ya.” 

“Ih, pikiranmu terlalu complicated, Bim… Masak datang ke acara Natal kampus saja harus dikaitkan dengan pemihakan kaum berduit?” Pertanyaan Elizabeth lebih terdengar sebagai keluhan bagi Bimo. Maklum, setelah dua tahun menjadi kekasih Bimo, Lisa – demikian Elizabeth biasa dipanggil, sebenarnya mulai mengerti idealisme dan kegelisahan Bimo terhadap aktivitas persekutuan kampus. PMK sering disebut Bimo penuh dengan aktivitas yang terlalu “vertikalis” dan tidak “membumi”.

“Coba kamu pikir dengan akal sehat, Lisa… Yesus Kristus lahir ke dunia dalam segala kesederhanaan, bahkan bisa disebut kemiskinan. Tidak ada kaum berduit dan borjuis di masa itu yang menerima Dia. Tidak ada itu perayaan dan selebrasi-selebrasi. Bahkan Dia terancam dibunuh oleh kekuasaan kotor pada waktu itu. Nah, sekarang yang aku lihat, kekristenan termasuk persekutuan mahasiswa Kristen malah lebih mirip orang-orang yang pada waktu kelahiran Kristus menolak Dia.” 

Dengan gaya analisisnya sebagai mahasiswa Kristen aktivis sosial, Bimo berusaha meyakinkan Lisa. Lisa hanya bisa terdiam, karena hampir semua “kuliah privat” Bimo itu adalah buah dari pengamatan konteks Alkitab dan konteks masa kini yang sangat tajam dan jujur.

“Baik, Bimoku Sayang… Kalau kamu ogah datang di Natal PMK besok, nggak papa… Aku sih bukannya tidak setuju pemikiranmu… Cuman aku juga harus menghargai teman-teman pengurus PMK yang sudah mengundang, Ok?” ungkap Lisa dengan sedikit bermanja-manja, mencoba mengurangi ketegangan Bimo. Sebagai seorang mahasiswi pengurus persekutuan, Elizabeth memiliki pemikiran dan nilai-nilai Kristen yang sederhana, cenderung konservatif. Baginya, menjadi mahasiswi Kristen itu berarti menjadi pengikut Kristus yang dengan tulus hati mau belajar kebenaran dan melayani di manapun Tuhan tempatkan. Baik di gereja maupun di kampus, Lisa hampir selalu menyediakan diri untuk melayani sebagai aktivis rohani. Bahkan kecakapannya berkomunikasi dan memperhatikan rekan-rekan di persekutuan menjadikan Lisa secara alamiah mampu untuk memimpin kelompok kecil.

Berbeda dengan Bimo. Meski sama-sama mencintai Tuhan dan suka bertumbuh dalam kebenaran Alkitab, Bimo sangat kritis terhadap aktivitas serta kegiatan gereja dan persekutuan. Kecerdasan dan minatnya pada dunia sosial dan politik, menjadikan Bimo secara alamiah sangat sensitif dengan fenomena ketidakadilan dan kemiskinan yang terjadi di tengah negeri +62 ini. Meski tidak sembarangan turun ke jalan, Bimo tak segan untuk ikut dalam unjuk rasa mahasiswa, memprotes pemerintah dan pejabat dalam isu-isu ketidakadilan sosial. Ketajaman analisisnya terasah dengan bacaan-bacaannya di literatur teologi publik dan ilmu sosial. Meski keras, Bimo berhati sangat lembut. Ia dengan mudah akan menolong teman-temannya yang mengalami kesulitan. Bahkan secara aktif dia selalu menyediakan makanan gratis bagi orang-orang miskin di sekeliling rumah kosnya. 

Beberapa hari setelah acara Ibadah dan Perayaan Natal di kampus mereka, Bimo dan Lisa terlihat duduk di sebuah kafe. Menikmati makan siang bersama, sambil menikmati musik yang mengalun lembut adalah kebiasaan Bimo dan Lisa dalam mengisi kebersamaan mereka. 

“Lisa, aku tadi pagi membaca Injil Lukas di bagian kisah para gembala yang didatangi para malaikat di malam Natal pertama. Terus terang aku suka gaya penulisan Injil Lukas yang mengangkat kaum terpinggirkan seperti para gembala ini. Hanya Lukas lho yang menceritakan kisah para gembala yang akhirnya menjadi saksi pertama akan kelahiran Yesus Kristus. Keren, enggak Lis?” Seperti biasa, diskusi mereka berdua selalu diisi dengan tema-tema Alkitab dan kepedulian sosial Bimo.

Lisa menatap kagum Bimo, “Hhmm… Iya, Bim. Aku baru sadar, ternyata kisah para gembala yang dijumpai para malaikat ini eksklusif hanya dalam Injil Lukas ya?” Mata Lisa berbinar, mencerminkan satu kebenaran yang baru saja menyirami kepala dan hatinya. “Yang menarik, aku melihat sebuah kontras di sini. Makhluk sorgawi yang begitu agung… lalu para gembala yang identik dengan kaum rendahan… Wow…! Sebuah lukisan kontras yang indah, Bim!”

“Yes!” pekik Bimo, “Bahkan pujian malaikat itu adalah sebuah kontras yang indah: ‘Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.’ Kemuliaan Allah di tempat yang mahatinggi, dibandingkan dengan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya!” 

“Sebentar, Lis…,” mata Bimo menyipit, tanda ia sedang memikirkan satu temuan kebenaran, “damai sejahtera bagi manusia yang berkenan kepada-Nya. Siapa yang berkenan kepada-Nya? Bukankah pujian ini dilantunkan para malaikat di depan para gembala? Wuiiih… Orang-orang yang rendah seperti para gembala inilah yang disebut ‘orang yang berkenan kepada-Nya’. Jadi, bagi merekalah damai sejahtera Natal dinyatakan!”

“Wow…! Tafsiranmu keren, Bim!” sorak Lisa sambil sedikit bertepuk tangan, campuran antara kekaguman dan kegembiraan karena ia juga merasa dicelikkan dengan narasi dalam Lukas 2:14 itu. 

“Lisa, tiba-tiba aku punya ide,” Bimo setengah berbisik menyondongkan tubuhnya ke arah Lisa yang duduk di depannya. Lisa hanya menatap, memberi tanda perhatiannya pada apa yang akan diucapkan Bimo.

“Bagaimana kalau kita adakan satu momen Natal dengan cara mengamen di depan beberapa gereja pada waktu bubaran ibadah? Nanti aku dan teman-teman yang jago main musik akan menyiapkan beberapa lagu Natal yang populer, dan kamu sama tim vokal grup mu bisa menyanyikan lagu-lagu itu bergantian atau bersama-sama. Kita buat poster semacam ‘Natal bagi Kaum Papa’, lalu jemaat kita beri kesempatan memberikan uang seikhlas mereka di kotak yang kita sediakan. Lalu uang yang sudah terkumpul, kita bisa siapkan untuk memberikan nasi bungkus gratis untuk anak-anak jalan dan para pengemis yang biasa mangkal di lampu merah.” Bimo begitu bersemangat menggambarkan idenya untuk aksi Natal yang ia sebut “Natal untuk Kaum Papa” itu.

“Setuju, Bim! Ide-idemu seperti ini makin membuat hatiku makin sayang sama kamu, Bim… He..he…” Sambil bertopang dagu menatap Bimo dengan tersenyum, Lisa tak tahan untuk tidak menumpahkan isi hatinya.

“Hedeeeh…! Cewek sok romantis…! Sudah ah… Ayo kita kumpulin teman-teman..!” Bimo malah merespons dengan mengacak-acak rambut Lisa, sambil beringsut dari tempat duduknya, lalu berdiri menarik tangan Lisa. 

“Iiiih… Kacau nih rambutku…” protes Lisa yang tak mampu menutupi rasa sukanya atas perlakuan Bimo yang baginya malah terasa mengayomi. Kedua insan itupun meninggalkan kafe itu beriringan dengan canda.

(Yusuf Deswanto adalah staf mahasiswa Perkantas Jember yang aktif menjadi menulis sekaligus sebagai penggerak di komunitas menulis Pena Murid. Dapat dihubungi melalui @ydeswanto)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES