more"/> more">
Renungan Natal - Paceklik di Setiap Zaman.
Last Updated : Dec 26, 2022  |  Created by : Administrator  |  79 views

“Kak, kapan ya ini akan berakhir?” tanya Srikandi. Di sebelahnya, ada Sinta yang tengah sibuk menggoreng tempe untuk makan malam mereka. Sementara Srikandi dengan cekatan membersihkan sayur kangkong yang tadi ia beli di pasar. 

“Berakhir apanya?”

“Masa paceklik ini.”

“Paceklik?”

“Ya paceklik, karena tahun ini kita diserang bertubi-tubi dengan banyak masalah dan penderitaan.”

“Covid maksudnya?” tanya Sinta lagi, karena ia masih belum bisa mengerti arah pikiran adiknya itu.

“Tidak hanya itu, Kak. Banyak tragedi yang terjadi, termasuk di Kanjuruhan kemarin. Lihat berita juga kok marak pembunuhan pun juga bunuh diri. Banyak perusahaan melakukan PHK besar-besaran. Padahal aku tahun ini baru lulus, Kak. Nanti kalau aku tidak dapat kerja bagaimana?”

Sinta akhirnya manggut-manggut. 

Srikandi melanjutkan. “Masak lho Kak, kemarin aku lihat di Twitter, terhitung sudah lima kali aku lihat berita soal pelecehan seksual dan perselingkuhan. Iki zaman edan, Kak.”

Sinta menanggapinya dengan tertawa. “Kamu lho.. Kalau terlalu banyak lihat Twitter jadi stres sendiri. Kapan terakhir kali kamu buka Alkitab-mu?”

Srikandi hanya meringis, menampilkan senyum yang dibuat-buat karena perkataan kakaknya itu jelas menohoknya. 

“Sri, kamu tahu tidak.. dari sejak Adam jatuh dalam dosa, umat manusia itu selalu dalam kondisi paceklik.”

“Kok bisa, Kak?”

Sinta tidak segera menjawab, melainkan memilih untuk meniriskan tempe-tempe yang sudah matang di wajannya. Setelah mengelap tangannya dengan kain, Sinta pun berucap, “Karena bumi dan isinya telah tercemar dari dosa. Kita terpisah dari Allah, Sang Damai sejati. Manusia terus-menerus mengerjakan perbuatan jahatnya, padahal jiwa manusia merindukan Penciptanya. Ya itulah kenapa mau di zaman dulu maupun zaman sekarang, masalah hidup umat manusia akan selalu ada, karena dosa terus ada sampai nanti kesudahannya.”

“Kapan kesudahannya itu Kak?”

“Waktu Yesus datang kedua kali.”

Srikandi ber-oh ria. 

Sinta melanjutkan. “Tapi Allah itu baik, makanya Ia mengutus Yesus, Anak-Nya yang Tunggal, untuk datang ke dunia dalam rupa manusia supaya menyelamatkan kita dari dosa. Itu yang kita rayakan dan renungkan di masa-masa ini, yaitu Natal.”

“Tapi kenapa ya Kak paceklik-nya masih tetap ada padahal Yesus sudah pernah hadir sebagai manusia? Maksudnya kenapa menunggu sampai kedatangan yang kedua?” tanya Srikandi. Dari nadanya, Srikandi nampaknya benar-benar penasaran dengan pemikiran semacam itu.

Sinta mencoba menjawab dengan sabar. “Misi Allah memang belum selesai, Sri. Ketika Yesus lahir, mati, bangkit dan kemudian naik ke Sorga, kita diberikan sebuah bukti bahwa Allah itu hadir dan turut merasakan kelemahan seperti kita. Kita yang masih hidup di bumi dapat hidup dalam damai sejahtera karena Ia memberikan kita Roh Kudus di dalam kita. Kita diingatkan bahwa tujuan kita bukanlah bumi ini, tetapi bumi yang baru. Bumi yang sudah diperbaharui oleh Allah. Jadi kita hidup dalam pengharapan.”

Srikandi mencoba memahami tiap penjelasan kakaknya itu. Memang, tidak mudah untuk menerima bahwa penderitaan masih terjadi di muka bumi. Bagi Srikandi, seharusnya Allah bisa memusnahkan segala penderitaan itu. Pemikiran itu ditepis oleh penjelasan Sinta selanjutnya.

“Kalau semua penderitaan itu dihilangkan dari muka bumi, ya bisa saja, Sri. Tapi itu artinya kita kehilangan kehendak bebas. Allah yang menentukan dengan mutlak bagaimana manusia hidup, kita tidak boleh memilih sama sekali. Allah akan membuat kita seperti robot yang bergerak sesuai perintah-Nya. Namun kita bersyukur lho, Allah tidak demikian. Penderitaan masih terjadi salah satunya ya karena masih ada dosa yang merajalela. Di dalam dunia yang gelap dan selalu mereka-rekakan yang jahat, Allah masih bekerja bagi kita untuk mendatangkan damai sejahtera.”

Srikandi pun tersenyum. Tiba-tiba merasa lega mendengar penjelasan kakaknya. “Tahu depan bakal terjadi apalagi ya, Kak? Penderitaan tahun ini saja sudah sangat berat.”

“Apapun yang terjadi, kita harus percaya bahwa Allah masih dan akan terus berdaulat, Sri.”

“Berarti Kak, kalau tahun depan aku tidak segera mendapat pekerjaan, gak papa kan?” 

Sinta mengelus pelan puncak kepala Srikandi. “Tidak apa-apa. Damai sejahtera kakak itu bukan dengan kamu dapat pekerjaan, tapi dari kebenaran bahwa Allah tidak akan meninggalkan kita. Dia pasti memelihara kita, Sri. Jangan khawatir.”


 

Yemima GP

Staf Literatur Perkantas Jatim yang aktif menulis di sosial media dan penggerak di komunitas Pena Murid. Bisa dihubungi di Instagram @mima.gp


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES