more"/> more">
Kasih yang Tidak Pernah Menyerah
Last Updated : Feb 10, 2023  |  Created by : Administrator  |  437 views

Oleh Marlia Ernawati, M.Div*)

“Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia.” (Mazmur 103:8) 

Selalu ada jalan pulang bagi setiap kita yang tersesat

karena Tuhan tidak pernah menyerah mengasihi kita untuk memulihkan kita.

 

Memasuki bulan Februari, banyak orang merasa memasuki suasana romantis karena mereka menganggap bulan ini adalah bulan kasih sayang. Benarkah demikian? Apakah bulan yang lain tidak penuh kasih sayang?

Bagi generasi “zaman now”, hari-hari di bulan Februari “musti” diabadikan dalam momen-momen terindah dan termanis bersama dengan orang tersayang. Definisi “yang tersayang” pun bisa bermacam-macam, misalnya keluarga, sahabat, kekasih, teman nongkrong, teman jalan, atau yang lainnya. Konon, di bulan Februari ini, ungkapan kasih sayang menjadi begitu berarti rasanya, karena disertai dengan “gift,” entah itu coklat, mawar, angpao, atau yang lainnya.  

Seiring berjalannya waktu, setiap orang semakin cerdas memahami bahasa kasih dengan berbagai cara kreatif pengungkapannya. Menurut Gary Chapman, setidaknya ada lima bahasa kasih, yakni kata-kata penegasan (words of affirmation), waktu yang berkualitas (quality time), sentuhan fisik (physical touch), tindakan pelayanan (acts of service), dan menerima hadiah (receiving gifts). Setiap orang bisa memiliki lebih dari satu bahasa kasih.

Kata pertama yang digunakan Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:4 adalah sabar (patient). Alkitab The Message menerjemahkan sabar sebagai never gives up, artinya tidak pernah menyerah. Pengertian “kasih yang tidak pernah menyerah” mungkin tidak begitu akrab bagi kita. Kasih seperti ini seringkali dinyatakan dalam relasi interpersonal yang sangat dekat; misalnya kasih ibu kepada anaknya yang kurang didikan, atau kasih istri kepada suami yang tidak setia. Kasih ini senantiasa dinyatakan oleh Allah Bapa kepada setiap anak-anak-Nya yang memberontak kepada-Nya.

Dalam perjalanan kemuridan kita, seringkali kita tidak setia dan mengambil jalan kita sendiri. Namun kasih Allah Bapa tidak pernah menyerah kepada kita, anak-anak-Nya yang sangat dikasihi-Nya. Dalam Roma 5:8 dikatakan, “Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” Kebenaran Firman Tuhan ini menunjukkan bahwa di tengah keberdosaan kita, Allah mengasihi kita tanpa syarat. Pengorbanan Kristus di atas kayu salib lebih daripada cukup untuk menyatakan bahwa Allah Bapa sangat mengasihi kita dan tidak ingin kita dihukum dalam kengerian kekal.

Salah satu kisah yang mengharukan dalam Alkitab terjadi antara Yesus dan Petrus. Tuhan Yesus memperingatkan Petrus tentang pencobaan Iblis yang akan dihadapinya, namun Allah akan melindunginya. Akhirnya Petrus kalah dalam pencobaan itu dan menyangkal Tuhan Yesus sebanyak tiga kali. Petrus sadar dan menyesal telah menyakiti hati Tuhan Yesus, tetapi dia tidak tahu harus bagaimana. Ia memilih kembali ke pekerjaannya semula sebagai nelayan. Tanpa diduga oleh Petrus, Sang Gurunya berinisiatif menemui dan memanggilnya kembali untuk mengasihi dan melayani Dia. Tuhan Yesus tidak pernah menyerah mengasihi Petrus, dan memberinya kesempatan kedua untuk melayani-Nya. Yesus yang sama juga tidak pernah menyerah mengasihi kita dan memberikan kita kesempatan kedua, ketiga, keempat, untuk kembali kepada-Nya, serta melayani Dia.  

Bagaimana dengan kehidupan kemuridan kita? Tidak jarang kita menjumpai adik-adik yang kita muridkan membuat kesabaran kita habis, atau rekan pelayanan kita cukup menguras emosi kita. Namun apakah kita tetap mau mengasihi mereka, seperti Tuhan yang tidak pernah menyerah mengasihi kita? Di satu sisi, sangat mungkin kita adalah orang-orang seperti Petrus, yang menyebalkan, atau bahkan menyakitkan bagi orang-orang di sekitar hidup kita. Maukah kita bertobat, belajar menundukkan diri, dan memberi diri untuk dipimpin serta dimuridkan oleh orang-orang yang Tuhan percayakan untuk melayani kita?

Kabar baik bahwa, “Tuhan adalah penyayang dan pengasih, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” dari Mazmur 103:8, kiranya terus menyadarkan kita bahwa kasih Tuhan tidak pernah menyerah kepada kita dari kekekalan sampai kekekalan. Selalu ada jalan pulang bagi kita yang tersesat, karena Tuhan tidak pernah menyerah mengasihi kita untuk memulihkan kita.(* Penulis melayani di Pelayanan Siswa Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES