more"/> more">
Refleksi E-Murid - Kerendahan Hati Menghadirkan Ketaatan
Last Updated : Apr 06, 2023  |  Created by : Administrator  |  533 views

Oleh Eri Iwantoko, SIP.M.Div

 

Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, akhirnya saya tiba di tempat pertemuan kelompok kecil.  Waktu pertemuan yang telah saya sepakati dengan beberapa siswa itu telah tiba, namun mereka belum datang.  Saya menunggu beberapa saat, mereka belum juga muncul.  Akhirnya saya mencoba menghubungi mereka.  Balasan pesan mereka membuat saya kaget; mereka memutuskan tidak datang, karena bermain futsal dengan temen-temen yang lainnya. Ada rasa kecewa, marah, dan jengkel di hati saya. Mengapa mereka menggagalkan pertemuan yang penting itu?  Mengapa mereka tidak memberi kabar terlebih dahulu?  

Mungkin kita semua pernah mengalami pengalaman yang kurang mengenakkan seperti itu.  Sudah membuat janji dengan seseorang, tapi ia tidak datang, tanpa kabar pula.  Meskipun pengalaman seperti itu berungkali terjadi, tetapi kita tetap mendekati mereka.  Kita tetap mendoakan dan terus merangkul mereka.  Seakan melupakan rasa jengkel, kecewa atau kesal yang pernah muncul.  Mengapa kita terus melakukannya?  Hal itu karena kita mau taat mengerjakan panggilan, atau karena kita mengasihi mereka.  Untuk taat dan mengasihi, kita membutuhkan kerendahan hati.

 

Yesus Teladan Sejati.  

Tuhan Yesus pergi ke sebuah kota dengan perjalanan yang tidak pendek.  Di kota itu, Dia bertemu dengan seorang yang kerasukan setan.  Orang tersebut membuat orang lain di kota itu enggan dan takut melewati tempat di mana ia berada.  Tidak ada yang sanggup mengikat orang itu, sehingga keberadaannya dianggap membahayakan orang lain.  Rantai belenggu pun diputuskannya. Bagi orang-orang di kota itu, bertemu dengan orang kerasukan itu menjadi momen yang mengerikan.

Tuhan Yesus akhirnya menyembuhkan orang yang kerasukan itu.  Seharusnya masyarakat di tempat itu bersyukur dan membuat pesta, karena orang yang ditakuti itu telah sembuh.  Alih-alih mau membuat mengucap syukur dan berterima kasih, Yesus justru diusir dari daerah mereka.  Orang-orang itu justru marah telah kehilangan babi-babi ternak mereka.  Yesus Kristus yang makin populer pada saat itu, justru terusir dari sebuah kota yang tidak penting, karena Dia menyembuhkan seorang yang kerasukan roh jahat.

Bukan penguasa atau tokoh masyarakat di daerah itu yang Yesus sembuhkan, melainkan seorang yang kerasukan.  Seorang yang dikucilkan, dihindari banyak orang, dan tidak diperhitungkan lagi. Tidak ada potensi apapun dalam diri orang yang kerasukan roh jahat. Bukankah melayani orang-orang dari kelompok marginal dan tidak dianggap masyarakat seperti orang yang kerasukan itu membutuhkan kerendahan hati? Menjangkau masyarakat yang dianggap rendah, tidak berpotensi, dan tidak menguntungkan membutuhkan satu ketaatan yang besar.  Ketaatan yang juga didorong oleh kerendahan hati untuk menjangkau mereka.  

Yesus taat menjalankan misi-Nya, menjangkau orang-orang terpinggirkan. Dengan rendah hati Dia melayani, meski diabaikan orang-orang sekitarnya.  Dalam melayani, kita sangat mungkin juga akan diabaikan orang yang kita layani, yang bahkan ghosting (=menghindari) kita.  Kita berusaha menjangkau mereka, meskipun mungkin tidak menguntungkan kita atau lembaga dimana kita melayani.  Kita hanya perlu taat melakukan kehendak-Nya.  Untuk taat dibutuhan kerendahan hati.  Kerendahan hati menghadirkan ketaatan untuk mengerjakan panggilan-Nya.

Ketika Allah berinisiatif mencari Adam dan Hawa yang bersembunyi karena dosanya, Ia merendahkan Diri-Nya untuk mencari dan menemui mereka.  Allah terus berinisiatif menjangkau umat-Nya yang tegar tengkuk dengan mengutus nabi-nabi-Nya.  Seharusnya manusia yang mencari Allah, tetapi justru Alllah yang berinisiatif mencari manusia berdosa.  Hingga akhirnya Yesus turun ke dunia .  “Dia datang ke milik-Nya, tetapi milik kepunyaan-Nya itu menolak Dia” (Yoh. 1:10-11).  Dia mengosongkan diri-Nya, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankkan.  Dia mengambil rupa seorang hamba, menjadi sama dengan manusia, bahkan Dia merendahkan diri-Nya hingga mati disalibkan ( Fil.2:2-8).  Kerendahan hati-Nya itulah yang membuat Yesus mengasihi manusia, dan taat mengerjakan kehendak Bapa yang mengutus-Nya. Dia rela mati disalibkan untuk menebus dosa manusia.

Latihan Rendah Hati

Kita bisa melatih otot-otot kerendahan hati dengan melakukan beberapa hal. Kita bisa belajar mendengarkan orang yang sedang mencurahkan isi hatinya, dengan tidak cepat berkata-kata atau memberikan komentar.  Kita juga bisa menolong orang yang sudah tua untuk menyeberang jalan, atau sekadar membawakan barang bawahannya. Bisa juga kita pergi dan menolong mereka yang tidak diangggap oleh orang kebanyakan.  Kita juga dapat berlatih untuk tidak menganggap diri lebih baik ketimbang orang lain.  Belajar firman Tuhan, meskipun itu kita anggap sepele atau pernah kita kerjakan.

Mari kita terus belajar untuk rendah hati dengan meneladani Kristus yang rela mati disalibkan bagi kita.  Kerendahan hati yang kita miliki akan menolong kita untuk memiliki ketaatan panggilan-Nya, dimanapun kita ditempatkan.(* Penulis melayani Pelayanan Siswa Surabaya)


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES