more"/> more">
Menerjemahkan Yesus Ke Dalam Bahasa Budaya Masa Kini
Last Updated : Apr 17, 2024  |  Created by : Administrator  |  368 views

Oleh: Berman Noel Christian*)

 

Saya lahir dan tumbuh besar di dalam keluarga Kristen dengan tradisi Kristen. Yesus adalah Pribadi yang saya dengar dan rayakan sejak sekolah Minggu, tetapi mengenal Dia secara pribadi baru terjadi pada waktu saya kuliah di Universitas Brawijaya, Malang. Saya yakin pengalaman saya merupakan realitas yang juga terjadi pada banyak orang Kristen saat ini, akrab dengan cerita Yesus Kristus tetapi tidak mengenalnya secara pribadi. Salah satu alasan utama saya menjadi Staf Perkantas Malang adalah, agar para mahasiswa Kristen dapat mengenal Allah secara pribadi dan menjadi Kristen yang sejati. Satu pertanyaan yang selalu menjadi pergumulan adalah bagaimana saya dapat memperkenalkan Yesus sejati kepada mereka yang sudah terbiasa dengan “Yesus” sejak masa kecilnya? Saya yakin pertanyaan ini adalah pertanyaan yang relevan dalam usaha pemberitaan Kabar Baik kepada beragam orang di berbagai tempat, budaya, dan zaman yang berbeda.

Salah satu pelajaran menarik yang saya temui ketika menyelesaikan studi teologi adalah mata kuliah Injil dan Budaya. Di dalam kelas ini saya diperkenalkan kepada Teologi Dalit, sebuah teologi Kristen yang berkembang di antara kaum Dalit di India pada sekitar tahun 1980.[1] Teologi ini mengidentifikasikan Yesus sebagai bagian kaum Dalit, yaitu “hamba yang menderita” sebagaimana yang dinubuatkan dalam Yesaya 53. Hal ini memberikan pengharapan pembebasan kepada kaum Dalit, sebagaimana Yesus nyatakan dalam Lukas 4:18. “Yesus” dalam teologi Dalit memberikan kepada kita wajah lain dari Yesus sejati, yang lebih dekat dengan hati dari kaum ini. Hal yang serupa juga pernah dilakukan oleh Paulus dalam pelayanannya di Athena (Kis. 17:16-34). Paulus dengan baik menggunakan mezbah yang diperuntukkan bagi “Allah yang tidak dikenal” sebagai jembatan untuk mengenalkan Yesus Kristus yang telah mati dan bangkit.  Ia juga menyampaikan panggilan pertobatan dari Allah kepada mereka. Di sini Paulus menggunakan hal yang sudah dikenal sebagai jembatan untuk memberitakan hal yang tidak dikenali dalam memberitakan Yesus Kristus kepada budaya yang berbeda dengannya.[2]

Seperti Paulus, kita pun harus memberitakan Injil Yesus Kristus di dalam bahasa dan konteks budaya mereka yang mendengarkan berita Injil. Yesus lahir dua ribuan tahun yang lalu, di dalam konteks budaya dan latar belakang agama Yahudi pada waktu itu. Menurut Alister McGrath, realitas Injil perlu dijelaskan di dalam kategori-kategori kontemporer agar mendapatkan akses pada pikiran dan kehidupan dari mereka yang mendengar berita Injil.[3] Pribadi Yesus dan berita Injil perlu untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang digunakan dan dipahami oleh para pendengarnya. Hal ini pula yang dilakukan oleh Don Richardson ketika dia menggunakan analogi Anak Perdamaian, sebagai jalan untuk memberitakan tentang Allah sebagai Bapa yang bersedia mengorbankan Anak-Nya agar orang suku Sawi dapat berdamai dengan Allah.[4] Bagi Don, setiap suku bangsa memiliki tradisi atau cerita rakyat yang dapat dijadikan jembatan bagi pemberitaan Injil.[5] Bagian kita dalam hal ini adalah menemukan jembatan yang tepat untuk dapat mengkomunikasikan berita Injil.

Kita tentu pernah mendengar bahwa keseluruhan hidup orang Kristen adalah kitab terbuka yang dapat menarik perhatian orang kepada Yesus Kristus. Akan tetapi bagi saya hal ini tidaklah cukup, karena interpretasi setiap orang terhadap Yesus bisa sangat berbeda, bergantung pada latar belakang dan budaya yang ada. Karena itu saya setuju kepada Shauna Pilgreen yang menyatakan bahwa untuk dapat memberitakan Yesus dengan baik orang Kristen perlu belajar dua bahasa, yakni bahasa Kristus dan budaya. [6] Bahasa Kristus adalah doa, dalam hal ini penting bagi kita untuk terus berkomunikasi dengan Allah di dalam doa, mendoakan orang lain, dan meminta kepekaan dari Allah atas situasi yang dihadapi. Bahasa budaya adalah perhatian, tindakan di mana setiap masyarakat terkoneksi satu dengan lainnya. Di dalam bahasa Kristus, kita mencari pimpinan dan kepekaan dari Allah atas situasi dan kondisi yang kita hadapi. Di dalam bahasa budaya, kita memberi perhatian yang dibutuhkan untuk dapat memahami budaya mereka dengan baik, sembari menemukan jembatan yang tepat untuk membagikan kisah Yesus. Maka kunci dalam menerjemahkan Kristus ke dalam bahasa budaya saat ini adalah dengan terus terkoneksi dengan Allah dan sesama.

            Kiranya Tuhan mendorong kita untuk terus berdoa kepada-Nya, mendoakan orang-orang di sekitar kita, dan mencari pimpinan Tuhan dalam setiap situasi yang kita hadapi. Semoga Tuhan juga memberikan kepada kita hati untuk memperhatikan dan mengenal mereka yang telah Tuhan percayakan, sehingga berita Injil boleh didengar dan diterima dengan baik.

(*Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Perkantas Malang)

 

[1] “Teologi dalit”. Wikipedia. https://id.wikipedia.org/wiki/Teologi_dalit'cite_note-Amaladoss-1 (diakses pada 20 Maret 2024)

[2] Charles R. Swindoll. Insights on Acts (Illinois: Tyndale House Publishers, 2016)

[4] https://misi.sabda.org/don-richardson-suku-sawi-di-irian-jaya

[5] https://www.alkitab.or.id/layanan/berita-detail/anak-perdamaian

[6] Shauna Pilgreen. Translating Jesus: How to Share Your Faith in Language Today’s Culture Can Understand. (Grand Rapids: Revell, 2023), hlm 16.


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES