more"/> more">
From Geographic Campuses to Cyberspace
Last Updated : Nov 27, 2020  |  Created by : Administrator  |  204 views

oleh Bonan Imanuel.R ,S.T *)

 

Krisis Covid-19 telah memperluas wilayah pelayanan mahasiswa yang awalnya kegerakan penginjilan dan pemuridan berfokus pada letak geografis kampus sekarang berfokus kepada dunia maya. Suatu pertanyaan yang mendasar bagi setiap aktivis pelayanan mahasiswa, bagaimana kita akan terus bergerak menjangkau mahasiswa dengan Injil jika mereka tidak berada di kampus ?

Pada masa awal pandemi, kita mungkin berfikir bahwa ini adalah sebuah kondisi yang sulit untuk menjangkau mahasiswa kepada Injil. Tetapi jika kita melihat dan merenungkan pengalaman Paulus yang saat ia dipenjara, bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa keadaannya membawa “kemajuan Injil yang lebih besar” (Fil.1:12). Kisah kita serupa dengan kisah Paulus, terisolasi, social distancing, hanya berbeda tempat lokasi isolasinya.

Saya bersyukur dengan rekan pelayanan saya, tim staf dan PMK Kota Surabaya yang terus berdoa dan bergerak untuk menjangkau mahasiswa dengan cara-cara yang kreatif dan relevan bagi mahasiswa. Salah satu contoh, pada saat kampus-kampus menyambut kedatangan mahasiswa baru angkatan 2020, tim kami juga berupaya menjala mereka melalui sosial media : membuat brosur tawaran bantuan pencarian kos, tempat makan strategis, dan mempromosikan komunitas PMK, yang dimana promosi tersebut disebarluaskan melalui sosial media. Ide dan strategi yang holistik, dimana kita tidak hanya berfokus kepada “Beritakan Injil” tetapi juga tergerak untuk menolong mahasiswa baru dalam kebutuhan jasmani mereka. Pada akhirnya ide tersebut ditindaklanjuti dengan membentuk grup “Bible Study” berdasarkan latar belakang jurusan atau fakultas. Didalam kelompok inilah kami memulai berdiskusi tentang peran mahasiswa Kristen bagi dunia dan topik tersebut menjadi jembatan untuk pemberitaan Injil serta kesempatan untuk membagikan visi pemuridan kepada mahasiswa baru.

Inilah kabar sukacitanya, keadaan boleh berubah, metode penginjilan boleh beragam, akan tetapi prinsip dan semangat pengnjilan tetaplah sama. Krisis ini banyak mendatangkan tantangan sekaligus peluang untuk mewartakan kasih Injil yang lebih terstruktur, sistemastis, dan masif. Bukan tanpa alasan, jika kita membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, kegerakan penginjilan tahun ini jauh lebih rapi, mulai dari tahap penjangkauan, pendekatan pribadi, pendekatan komunitas, pemberitaan Injil, dan sampai pada tahap pembentukan kelompok KTB baru.

Banyak kisah menarik bagaimana menginjili di masa pandemi ini, ada salah satu PMK yang sebelumnya sangat sulit menjangkau mahasiswa tetapi pada masa pandemi bisa menjangkau teman-teman yang belum terlibat hanya karena mereka rajin mendokumentasikan setiap KTB-KTB online, persekutuan online yang berlangsung dan tampilkan di story IG maupun WA. Diluar dugaan, komunitas ini menjadi dikenal banyak mahasiswa di kampus tersebut dan mereka menjadi tertarik untuk terlibat. Dari ruang zoom yang participant sangat sedikit, bergerak ke sosial media, dan berakhir di ruang zoom untuk pemberitaan Injil. Kisah ini mengingatkan saya kepada jemaat mula-mula di dalam Kisah Para Rasul 2:42-47 dimana jemaat yang masih sangat sedikit terus bertekun didalam doa, pengajaran, berbagi kasih bersama, bertekun di dalam ibadah, dan mereka akhirnya disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kis.2:47). Inilah kekuatan Injil yang menyelamatkan, Injil yang memiliki daya tarik dan daya ekspansi.

Tidak ada alasan lagi untuk tidak mewartakan Injil. Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, (2Tim.4:2). Tentu inilah peran dan tanggungjawab staf maupun pemimpin mahasiswa untuk memobilisai penginjilan dan memperlengkapi setiap mahasiswa dalam membagikan kisah mereka dengan Injil. Ada pepatah lama yang mengatakan, "Jika Anda memberi seseorang ikan, Anda memberinya makan selama sehari; tetapi jika Anda mengajarinya cara memancing, Anda memberinya makan seumur hidup." Kami terus berupaya untuk memperlengkapi mahasiswa untuk membagikan kisah mereka dan kisah Injil dengan cara yang kreatif dengan konteks saat ini. Hudson Taylor  mengatakan “The Great Commission isn’t a suggestion, it’s a command”, Amanat Agung bukanlah saran, itu perintah. Kita semua dipanggil untuk menjadi saksi apapun kondisi kita saat ini. Soli Deo Gloria. (*Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Surabaya)

Ilustrasi gambar diambil dari https://images.unsplash.com/


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES