more"/> more">
Renungan - KABAR BAIK BAGI DUNIA
Last Updated : Dec 11, 2020  |  Created by : Administrator  |  231 views

Oleh: Francisca Riswandani, M.Div.*)

 

"Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera b  di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya."

(Lukas 2:8-20)

 

Kabar baik bagi dunia (baca: seluruh manusia) adalah kabar yang mengandung kebaikan dan kebenaran universal. Kabar itu begitu agung dan berkuasa, menjadi satu-satunya jawaban terhadap persoalan mendasar manusia.

Manusia dan Masalah Utamanya

Manusia di dunia punya banyak persoalan tetapi dialami secara berbeda oleh masing-masing individu. Namun, ada satu persoalan yang pasti dimiliki—disadari atau tidak—oleh setiap orang, yaitu dosa. 

Dosa bukan hanya perbuatan yang merugikan dan jahat tetapi juga pemberontakan kepada Allah dalam pelanggaran-pelanggaran hukum-Nya. Akibatnya, gambar dan rupa Allah di dalam diri manusia mengalami kerusakan, dan kerusakan itu tergambar jelas dalam seluruh perbuatannya.

Dosa mendatangkan ketakutan, penderitaan, kematian, dan pada akhirnya penghakiman. Dosa telah menjadi pokok persoalan yang memisahkan dan melemparkan manusia jauh dari hadirat Sang Pencipta, sebab manusia berdosa tidak dapat lagi tinggal dengan Allah Mahakudus! Dosa adalah jurang pemisah yang lebar dan dalam di antara manusia dan Sang Pencipta.

Dalam narasi Lukas 2:8-20, bentangan jurang dosa yang tak terperi itu kini terjembatani dalam semarak terang kabar baik yang diterima oleh para gembala. Malaikat utusan Allah  menyampaikan berita kesukaan, bahwasanya Juruselamat dunia (Yunani: Kristus, Ibrani: Mesias) telah datang.

Mesias telah lama dinanti-nantikan orang Yahudi. Meskipun mereka tinggal di tanah air sendiri, tetapi sekian lama ada di bawah penjajahan Romawi membuat mereka menderita. Mereka merindu kebebasan. Mereka mendamba keselamatan, jasmani maupun rohani. Kini, masa penantian itu telah berakhir, Sang Raja-Mesias telah lahir. Inilah kabar baik itu!

Sejumlah besar bala tentara sorgawi memuji-muji Allah segera setelah kabar baik dinyatakan. Momen itu merupakan sebuah penghormatan dan pujian yang dahsyat, karena kelahiran Kristus bukan kelahiran biasa tetapi berdampak di bumi dan di sorga. Sebagaimana dikutip oleh Lukas, kelahiran Kristus membawa “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang bekenan kepada-Nya” (Luk. 2:14)

Kemuliaan Allah di tempat mahatinggi

Allah mulia dalam rancangan dan tindakan-Nya. Allah yang berinisiatif, bertindak dan menyelesaikan perkara manusia. Ia tahu bahwa manusia yang sebaik, sesaleh, sekeras apapun berusaha, tidak bisa menyelesaikan persoalan dosa yang diwarisinya dari Adam dan Hawa. Putera-Nya yang kudus menjadi satu-satunya pribadi yang sanggup menebus seluruh hukuman manusia berdosa. Ia menjadi jalan dan kebenaran yang menuntun manusia kepada Allah. Ia juga membawa kehidupan baru, manusia kembali berdampingan dengan Allah.

Kemuliaan Allah di tempat yang mahatinggi itu dikerjakan dalam kerendahan yang serendah-rendahnya. Pengorbanan itu dimulai bukan pada waktu penyaliban Kristus, tetapi pada waktu penjelmaan-Nya dalam wujud manusia. Ia—dengan sengaja—lahir melalui sebuah keluarga kecil dan terbaring dalam sebuah palungan pakan ternak. Hal yang lebih jauh dari kata sederhana untuk menyatakan totalitas perendahan diri-Nya yang luar biasa.

Seorang tuan yang membopong budaknya yang pingsan di jalan berlumpur dapat membuat orang ternganga. Seorang Presiden yang rela masuk gorong-gorong kumuh bisa membuat rakyat terpana. Betapa lebih mengagumkan pilihan Kristus untuk mengosongkan diri-Nya mengambil rupa seorang hamba. Sebuah pengorbanan besar yang membuat Allah layak dipuji, dimuliakan, diagungkan karena kedalaman hikmat yang tak terselami oleh manusia.

Damai di bumi bagi orang yang berkenan kepada-Nya

Kelahiran Sang Penyelamat juga membawa damai sejati di bumi bagi orang yang berkenan kepada-Nya. Damai sejati tidak tergoyahkan oleh apapun, bahkan jika manusia kehilangan segala sesuatu: harta, pekerjaan, keluarga, atau bahkan nyawanya sendiri. Damai itu muncul ketika manusia kembali dapat berekonsiliasi dengan Allah dan hidup di dalam kerajaan-Nya yang penuh damai sejahtera. Damai yang kekal, karena dimateraikan dan dijaminkan melalui Anak-Nya.

Damai itu—sekali lagi dengan sengaja—Ia peragakan seperti cahaya terang malaikat utusan yang menembus dan menerangi pekatnya malam di padang penggembalaan. Saksi yang Allah pilih sungguh unik, sekelompok gembala yang sedang menjaga domba di padang. Sarat kesan bahwa berita yang datang dari tempat Yang Mahatinggi itu turun menyentuh ke dasar bumi (baca: ke strata bawah kemasyarakatan Yahudi masa itu).

Bagaimana tidak, gembala dalam tingkatan sosial kemasyarakatan Yahudi berada di tataran rendah, setara dengan para pemungut cukai dan pelacur.  Di lekuk bawah itu mereka mendapat sebuah kehormatan untuk mendengar secara langsung dari malaikat. Bisa Anda bayangkan? Memangnya siapa yang dapat berjumpa dengan malaikat? Bahkan seorang bangsawan, pamong praja, atau pejabat negara pun belum tentu mendapat kehormatan sedemikian rupa.

Dalam setiap detail narasi pendek ini, Allah mendesainnya begitu rupa, supaya pesan yang hendak disampaikan-Nya dapat diterima secara utuh, lengkap dan sempurna: kabar baik itu diperuntukkan bagi dunia! Bukan karena dunia layak, tetapi karena Allah memang memperkenannya.

Implikasi

Dunia memiliki kabar baiknya sendiri, berupa materi, kedudukan, prestasi dan kebanggaan diri. Kefanaan yang dijunjung tinggi dianggap menjadi jawaban bagi kehidupan setiap insani. Faktanya, semua itu terbukti tidak mampu menjawab persoalan di dalam kehidupan dan kekekalan. 

Kabar baik itu akan menjadi sungguh baik jika dunia menerima Kristus. Jika tidak, dunia hanya merayakan sebuah kabar yang katanya baik. Atau, sekadar perayaan tanpa sambutan atas Pribadi agung Juruselamat dunia. Masih tergetarkah hati untuk memuliakan Allah di tempat yang mahatinggi, mengagumi kembali kasih pengorbanan-Nya yang begitu besar untuk kita yang layak dihukum mati?

Narasi Lukas ini juga menjadi ingatan akan kelamnya masa silam yang sekarang telah diterangi oleh kasih ilahi. Hendaknya dunia sadar untuk berterima kasih karena hidup saat ini adalah anugerah semata. Kembali bersyukur dengan berjuang dalam kehidupan baru, dalam pertobatan, dalam panggilan menjadi dan menjadikan bangsa-bangsa murid-Nya.

Bagi Kristen masa kini, mari kita menyelidik hati kembali, sudahkah kita memiliki damai sejati. Atau hidup kita masih sama seperti orang lainnya yang tanpa harapan, ciut nyali dan mudah putus asa. Hati sunyi tanpa gempita sorga, hanya terisi dengan keluhan “aku tak bisa itu, aku tak punya ini.” Seakan kehadiran Kristus tak mengubah apapun dalam diri, hanya pajangan dan bingkai, “aku adalah anak-Nya.”

Kabar baik ini perlu kita alami setiap hari supaya teguh kita menjadi penyembah-Nya. Karena penyembahan kita akan menjadi penyembahan yang hidup yang terbaca oleh dunia—belum semua menerima-Nya. Dari situlah kita bisa bersaksi bahwa Kristus adalah Sang Kabar Baik. Kesaksian itulah yang akan menggerakkan mereka untuk mengenal dan menerima kasih pengampunan-Nya.

Alamilah kabar baik itu dan bawalah kepada keluarga, teman, rekan, tetangga, follower, masyarakatmu—dunia.  Kemuliaan Allah akan nyata dan damai di bumi akan sempurna. Soli Deo Gloria.

(*Penulis melayani Pelayanan Alumni di Malang)

* Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/s/photos/joy-christmas

 


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES