more"/> more">
Life-Time Learner Membangun Etos Belajar Sepanjang Hidup
Last Updated : Jan 29, 2021  |  Created by : Administrator  |  167 views

Oleh Bonan Imanuel.R,S.T*)

 

Your behaviors are usually a reflection of your identity. Secara sadar atau tidak, segala sesuatu yang kita kerjakan menunjukkan tipe pribadi yang kita yakini tentang siapa diri kita. Ketika seseorang meyakini aspek tertentu dalam identitas diri mereka, mereka akan bertindak selaras dengan keyakinan tersebut. Sebagai contoh, seseorang yang meyakini dirinya seorang olahragawan, akan lebih mudah untuk terus berlatih dan mengkonsumsi makanan sehat. Begitupun dalam hal belajar, seseorang yang meyakini bahwa dirinya adalah seorang pembelajar, akan melihat kehidupan yang multidimensional ini adalah suatu proses untuk terus belajar memperbaiki diri dari waktu ke waktu, mengalami kemajuan, dan menjadi seseorang yang dia inginkan.

Identitas tidak dapat dipisahkan dari kebiasaan, karena identitas kita berasal dari kebiasaan. Sehingga untuk membangun suatu kebiasaan yang baik “membangun etos belajar sepanjang masa” adalah suatu pergumulan bagi banyak orang. Bagaimana mereka harus memulai ? hal pertama dan utama apa yang harus saya ubah ? Banyak orang berupaya mengubah sesuatu tetapi mereka salah sasaran, banyak juga yang berupaya mengubah kebiasaan tetapi dengan cara yang salah. Dalam tulisan ini saya akan berbagi beberapa hal untuk “membangun etos belajar” dari perspektif praktis dan teologis.

  • Berawal dari kesadaran akan Identitas

Hasrat dan kerinduan untuk berubah akan meluap-luap ketika kita memberi makna terhadap suatu identitas. Langkah pertama bukan apa atau bagaimana, melainkan siapa. Kita perlu ingin menjadi seperti siapakah kita, putuskan tipe seperti apa yang kita cita-citakan. Tentunya ada berbagai macam faktor yang akan mempengaruhi penentuan tesebut, prinsip dan nilai-nilai seperti apa yang kita yakini. Sebagai contoh “Aku tipe mahasiswa yang kritis dalam isu lingkungan” penentuan ini akan mempengaruhi buku apa yang dibaca, seminar apa yang diikuti, aktivitas perkuliahan apa yang diikuti, bahkan tokoh publik siapa yang diikuti di sosial media, dsb.

Teringat salah satu pesan Paulus kepada Timotius yang relevan dengan pembahasan ini, dimana Paulus memberi nasihat kepada Timotius “Awasi hidupmu dan Awasi Ajaranmu” (1 Timotius 4:16) seorang murid Kristus selalu memiliki linieritas antara apa yang Dia yakini terhadap Allah melalui pengajaran dengan gaya hidup yang ia hidupi. “Kebiasaan Anda akan membentuk identitas Anda, dan identitas Anda akan membentuk kebiasaan-kebiasaan Anda”

 

  • Mengubah Sistem Belajar

Kegagalan dalam membangun etos belajar yang lebih baik seringkali bukan karena kita tidak ingin berubah “masalahnya bukan terletak pada diri tetapi karena kita memiliki sistem yang keliru” untuk melakukan suatu perubahan atau kemajuan dalam belajar. Jadi kebanyakan dari kita mungkin memiliki tujuan dan sasaran yang jelas, tetapi kita tidak memiliki sistem untuk mencapai sasaran tersebut.

Contohnya jika kita ingin menjadi pemusik yang handal, mungkin sasaran kita adalah untuk memainkan instrumen dengan indah. Sistem kita adalah seberapa sering untuk belajar, berlatih, bagaimana metode untuk memecahkan setiap kesulitan dan metode untuk menerima setiap feedback dari teman atau pelatih.

1 Korintus 14:40 “Tetapi segala sesuatu harus berlangsung dengan sopan dan teratur” Jika kita menginginkan hasil yang lebih baik dalam setiap proses belajar, maka jangan hanya berfokus terhadap sasaran, fokuslah juga terhadap sistem. Tidak salah untuk berfokus terhadap sasaran atau hasil akan tetapi jangan menggantungkan sukacita dan kepuasan terhadap sesuatu diakhir karena sesungguhnya sukacita dan kepuasan dapat kita nikmati saat ini, ketika sistem kita berjalan. Disinilah komitmen dan kesetiaan kita terhadap proses diuji.

 

  • Memilih lingkungan yang tepat untuk sukses

Lazlo Polgar seorang penulis asal Hunggaria pernah menuli “Seorang genius tidak dilahirkan, tetapi merupakan hasil pendidikan dan pelatihan” Ia berpandangan bahwa kultur dimana kita tinggal akan mempengaruhi gaya hidup, perilaku, dan etos kita dalam melakukan aksi. Kita seirngkali meniru dan mengadopsi kebiasaan, harapan, standar hidup yang ditawarkan oleh kultur tempat kita tinggal.

            Firman Tuhan dalam 1 Korintus 15:33 sudah mengingatkan kita bahwa “Pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik”. Jadi untuk memiliki kualitas hidup yang lebih baik adalah bergabung dengan kultur tempat dimana perilaku yang kita inginkan dianggap sesuatu yang berharga dan kita memiliki sesuatu yang juga dimiliki oleh sekelompok tersebut.

 

  • Memberi Petunjuk Terhadap pikiran

Untuk meningkatkan tingkat kesadaran kita perlu dengan sengaja memberikan petunjuk (pointing) terhadap pikiran dan mengumumkan (sounding) kepada diri. Pikiran kita akan terus menganalisis segala situasi, baik internal maupun eksternal. Penting bagi kita untuk melihat dan mencatat dengan jujur setiap rangkaian peristiwa dalam keseharian : kebiasaan yang “buruk” yang menghambat kebiasaan kita untuk terus belajar dan  kebiasaan yang “baik” yang memberikan kemajuan. Sebagai contoh : menyimpan salah satu buku disamping bantal tidur, membuat saya untuk konsistensi dalam membaca atau lupa merapikan tempat tidur pada pagi hari menghambat saya untuk menjadi produktif.

 

  • Menentukan kapan dan dimana untuk melakukan aksi

Seseorang yang membuat rencana spesifik untuk kapan dan dimana mereka akan melakukan suatu aksi akan lebih memiliki kesanggupan dan konsistensi untuk membangun etos belajar yang lebih gigih. Banyak orang mengevaluasi bahwa mereka kurang motivasi, padahal sebenarnya rencana mereka yang kurang jelas, “Kapan dan dimana” tidak begitu jelas.

Yakobus 2:17 “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya mati”. Begitu rencana telah dicanangkan, kita tidak perlu menunggu sampai inspirasi datang atau menghabiskan seluruh waktu hidup untuk menunggu kapan waktu yang tepat untuk beraksi. Ketika saat beraksi telah tiba, bukan waktunya untuk mempertimbangkan, cukup mengikuti setiap rencana yang telah dibuat. Contoh praktis : aku akan mengambil waktu saat teduh dan pendalaman Alkitab selama 30 menit jam 06.00 di ruang kamar.

            Segala tindakan yang kita upayakan untuk membangun etos belajar sepanjang hidup mengungkapkan apa yang menjadi kerinduan terdalam kita dan betapa besar untuk mencapai setiap keinginan yang ada. Dan seharusnya demikian, kekristenan tidak membunuh setiap keinginan yang ada dalam diri, menjadi pengikut Kristus bukan lah pengikut tanpa gairah “desireless” melainkan “full of holy desire”. “Love Your God and do whatever you want to do” ketika kita mengasihi Tuhan dengan sungguh, setiap kerinduan dan kehendak secara simultan akan diselaraskan dengan kehendak Tuhan. Jadi biarlah nama Tuhan dipermuliakan dan hati Tuhan disenangkan dari apa yang timbul dalam hati dan pikiran, serta apapun yang diwujudnyatakan dalam bentuk tindakan. Amin…

(* Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa Surabaya)

* Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/s/photos/learning


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES