more"/> more">
Menapak Tahun Baru Dengan Semangat Baru
Last Updated : Jan 30, 2021  |  Created by : Administrator  |  83 views

Oleh: Marisa Ria Filnanti, S.Psi.

 

Covid-19 telah mempengaruhi semua sektor kehidupan umat manusia. Dampak perubahan yang ditimbulkan pun cukup ekstrim, karena harus mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun. Dalam dunia pekerjaan, sebelum pandemi Covid-19 minimal kita menghabiskan waktu selama delapan jam di kantor.  Karena pandemi, semua harus dikerjakan di rumah. Mau tidak mau kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Bagi sebagian orang yang tidak siap dengan kondisi ini, muncullah masalah stress.

            Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, stress adalah gangguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor luar atau lingkungan. Potter dan Perry (2005) mengatakan bahwa stress merupakan segala situasi dimana tuntutan nonspesifik mengharuskan individu untuk merespon dan melakukan tindakan.  Dari kedua definisi di atas dapat disimpulkan bahwa stress merupakan respons tubuh kita terhadap sesuatu yang kita hadapi dan berasal dari lingkungan di luar diri kita. Covid-19 membuat sebagian orang menjadi stress atau memiliki kecemasan yang lebih tinggi dibandingkan sebelumnya. Menurut Freud (dalam Alwisol, 2007), “kecemasan akan timbul dalam kondisi atau situasi dimana seseorang tidak siap menghadapi ancaman atau bahaya dari luar. Kecemasan adalah fungsi Ego untuk memberi peringatan kepada seseorang tentang sesuatu yang akan mendatangkan bahaya, sehingga individu harus mempersiapkan diri untuk bertindak menghadapinya.”

            Kondisi stress dan cemas akan menimbulkan respons yang berbeda dari tiap-tiap orang atau individu, tergantung seberapa berat ancaman atau kesulitan yang dihadapi. Kondisi yang sulit ini memberi pengaruh, seperti lingkaran rantai makanan yang saling terhubung dan mempengaruhi satu dengan yang lain. Sebagai contoh, seorang ibu rumah tangga yang juga bekerja, yang selama ini tidak memahami dunia pendidikan, harus menjadi guru “dadakan” bagi anak-anak mereka di rumah. Tuntutan mereka yang lain adalah bekerja juga dari rumah. Peran berlipat ini makin berat karena harus dilakukan semuanya dari rumah. Orangtua yang bekerja pasti kelelahan menghadapi situasi yang terjadi. Tetapi semua profesi mengalami tantangan yang kurang lebih sama dalam hal itu. Mereka yang bertahan adalah mereka yang terus memikirkan hal-hal baru atau hal-hal kreatif yang bisa dilakukan dalam berkarya. Menciptakan susana atau kreativitas dalam memenuhi kebutuhan atau membuat anak-anak tidak bosan di rumah adalah salah satu usaha positif untuk tidak terus didera stress dan kecemasan. Hati yang gembira adalah obat. Maka saat seseorang tenang dan bahagia, pasti ada jalan keluar membuat seseorang terhindar dari stress yang berkepanjangan.

            Dampak dari stress dan kecemasan yang lain adalah imunitas tubuh menurun. Tidak sedikit juga yang mengalami stress dan kecemasan akan mengalami insomnia atau sulit tidur. Di sisi lain, cemas pada taraf tertentu membuat seseorang makin aware dengan kondisi yang ada, serta mencari cara bagaimana bisa memutus rantai penularan Covid-19 ini.  Sebagai orang yang percaya dalam Kristus, letak kekuatan kita bukan pada diri melainkan Allah. Mazmur 118 : 14 menyatakan: “Tuhan itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.” Kekuatan bagi kita umat percaya adalah Tuhan Yesus yang menopang kehidupan umat-Nya. Tuhan adalah setia meski manusia kerap kali tidak setia. Tuhan menyertai kita melalui Firman Tuhan yang kita baca setiap hari, kotbah di hari Minggu, PA (Pendalaman Alkitab) dengan kelompok atau KTB (kelompok tumbuh Bersama). Ketika kita bisa melewati hari demi hari bersama Firman Tuhan yang menguatkan kita, maka kita akan dimampukan untuk melawan Covid-19 dengan penyertaan Roh Kudus.

Di saat-saat seperti ini kita tetap memerlukan komunitas yang membangun. Di masa pandemi ini kita membutuhkan komunitas yang membangun hidup kita dan mampu menjadi support system yang positif, agar kita bisa terhindar dari stress dan kecemasan yang berlebihan. Kekuatan bagi seseorang yang tertimpa masalah atau musibah adalah ketika mereka tidak merasa sendirian, dan terus ada orang-orang yang hadir memberi dukungan. Teknologi menjadi media yang baik untuk kita terus terhubung satu dengan yang lainnya. Meski sementara waktu tidak bisa berkumpul, yakinlah bahwa kita mampu menghadapi masalah bersama-sama, dalam kekuatan Allah.

Manusia diberi Tuhan akal budi agar mampu memikirkan hal-hal yang membuat diri lebih efektif. Mulailah dengan setiap hari berdoa meminta hikmat dan belas kasihan dari Kristus, supaya kita tidak berlama-lama berada dalam kecemasan memikirkan hari esok. Teruslah menjadi support system bagi mereka yang terdampak. Tetap patuhi anjuran pemerintah dalam menghentikan penyebaran Covid 19 dengan melakukan 3M (memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak/menjauhi kerumunan). Tuhan Yesus memberkati kita semua.

( *Penulis melayani di Griya Pulih Asih)

*) Ilustrasi gambar diambil dari https://unsplash.com/photos/U3C79SeHa7k


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES