more"/> more">
Psycology Corner - Toxic Relationship dalam Relasi Berpacaran
Last Updated : Feb 26, 2021  |  Created by : Administrator  |  215 views

Oleh Kristin Nita.,S.Psi*)

“Kasih adalah penawar dari toxic relationship yang hanya mementingkan diri sendiri dan menghancurkan. Kasih selalu membangun dan memulihkan”

 

Dalam bukunya yang berjudul “The Interpersonal Communication Book,” Joseph A. Devito mengutip pendapat Stenberg tentang cinta, “Cinta adalah sebuah perasaan yang dibangun dari kedekatan dan kepedulian, juga intimacy, passion dan komitmen.” Orang yang merasakan perasaan cinta akan merasa ingin hidup bersama orang yang dia cintai. Rasa ingin bersama dengan orang yang dicintai kemudian membuat orang yang jatuh cinta memberikan label “milikku” pada pasangannya. Mereka pun menjadi pasangan kekasih. Namun, meskipun ada rasa cinta yang mengikat, membangun hubungan tidak luput dari masalah. Toxic relationship merupakan salah satu contoh bagaimana sebuah masalah mempengaruhi hubungan seseorang dengan pasangannya.

Apa itu toxic relationship? Istilah ini merujuk pada suatu hubungan yang cenderung merusak satu sama lain baik secara fisik, mental, bahkan spiritual. Tidak jauh berbeda dengan pandangan Dr. Lilian Glass, dalam times.com, toxic relationship dipandang sebagai hubungan yang tidak saling mendukung, menunjukkan konflik dalam hubungan, dan berusaha untuk merusak pasangannya. Suatu hubungan dikatakan mengarah pada ciri-ciri toxic relationship apabila, pertama, merasa tidak cukup baik, segala sesuatu yang dilakukan salah, sampai harus mencari pengakuan orang lain. Indikasi toxic relationship yang lain adalah tidak bisa menjadi diri sendiri, kerap takut salah, sehingga harus berhati-hati dalam berperilaku. Tanda-tanda lainnya adalah: harga diri kerap dijatuhkan, kerap disalahkan, dan akhirnya mulai menarik diri dari suatu kegiatan atau lingkup sosial, karena merasa takut atau kuatir.

Penyebab seseorang melakukan toxic relationship terhadap pasangannya dapat disebabkan oleh banyak hal. Menurut psychology.com, baik pelaku maupun penerima perlakuan pada umumnya memiliki penyebab yang relatif sama; yaitu masa lalu atau latar belakang dibesarkan dengan kondisi minim kasih sayang. Selain itu, hal ini dapat juga disebabkan oleh pengalaman masa lalu yang pernah mendapatkan perundungan (bullying). Gangguan mental seperti depresi dan kecemasan yang tidak tertangani juga dapat menjadi penyebab toxic relationship.

Ketika kita berada dalam suatu relasi yang toxic, kita tidak dapat mengubah pasangan. Namun, kita bisa mengubah diri kita yang kemudian akan mengarahkan perubahan perilaku pada pasangan. Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengidentifikasi perilaku toxic yang dilakukan oleh pasangan. Setelah itu, kita harus bisa mengkomunikasikan kepada pasangan bahwa perlakuannya tidak bisa kita terima lagi. Barulah kemudian, kita mencari jalan keluar yang sesuai untuk tetap mempertahankan hubungan.

Berada dalam toxic relationship bukan berarti kita serta merta mengakhiri hubungan atau memutuskan relasi. Namun, hal ini tetap harus dilakukan jika pasangan sudah melakukan hal-hal yang makin merusak, seperti mengancam dan bersikap abusive baik secara fisik maupun verbal. Kita tidak boleh dengan sengaja membiarkan diri kita terjebak dengan orang yang salah. Amsal 13:20 mengatakan “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.” Membiarkan diri terjebak dalam toxic relationship bukanlah sebuah keputusan yang bijak dalam menjalani kehidupan.

Penting bagi kita untuk mengidentifkasi pasangan kita. Dibutuhkan kasih, komunikasi dan komitmen untuk memperbaiki toxic relationship. Selain itu, support system yang baik merupakan hal yang wajib kita miliki untuk menemukan arah dari penyelesaian masalah toxic relationship. Keempat unsur itulah yang kemudian bahu-membahu membantu kita menyelesaikan toxic relationship. (*Penulis melayani sebagai Konselor di GPA)

 

Referensi:

  1. times.com (5 Juni 2018)What is  Toxic Relationship and How to Deal With It.
  2. psychology.com (22 Desember 2009) How To Handle Toxic Relationship.

 

Griya Pulih Asih

“Pusat Pemulihan dan Pengembangan Diri”

Mendampingi Menggapai Potensi Efektif

Telp.                 :+62 857 9115 2570

Alamat              : Jl. Tenggilis Mejoyo KA-12, Tenggilis Mejoyo, Surabaya, Jawa Timur 60292, Indonesia

Email                : griyapulihasih@gmail.com

Web                  : https://griyapulihasih.com

Ig                     :griyapulihasih (rumah pemulihan)

You Tube           : Griya Pulih Asih

 

Layanan:

Psikotes

  • Bakat-Minat dan Penjurusan
  • Seleksi dan Penempatan Kerja
  • Rekomendasi/Evaluasi dan Pengembangan Karyawan Pelatihan dan Seminar
  • Pelatihan/Seminar Komunikasi, Konseling, Parenting, Kepemimpinan, Self Development, dll.

Konseling dan Intervensi

  • Konseling karir, keluarga, pasutri, relasi, pranikah, dll.
  • Intervensi medikasi, kognitif, perilaku, konsentrasi, verbal-komunikasi, dll.

Child Care Center “Griya Anak”

  • Day Care, pengukuran psikologis anak, intervensi permasalahan anak, dll.

Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES