more"/> more">
Student Writing - PANDEMI, TANTANGAN KLASIK PEMURIDAN
Last Updated : Mar 12, 2021  |  Created by : Administrator  |  117 views

Oleh Christa Adeline

Pandemi COVID-19 yang datang tak terduga ini menguasai seluruh aspek kehidupan manusia. Gereja, lembaga pemuridan, dan persekutuan pun tidak kebal terhadap dampak yang ditimbulkan oleh penyakit infeksi ini. Berbagai pelayanan terhambat. Relasi interpersonal menjadi kering, karena tidak bertatap muka. Belum lagi kejenuhan yang selalu mengintip di balik pintu, siap memberi tekanan kepada siapa pun yang tidak berjaga-jaga dengan baik. Di saat seperti ini, rasanya “pantas” jika pelayan-pelayan Tuhan menyiapkan 1001 alasan atas kurangnya performa pelayanan, baik secara kuantitas maupun kualitas.

Harus diakui, salah satu bidang pelayanan yang paling terkena dampak buruk pandemi adalah pemuridan. Sentuhan interaksi manusia yang begitu erat dalam pemuridan harus ditiadakan demi menjaga kesehatan diri sendiri dan sesama. Tidak heran, pandemi mengubah paradigma mengenai pelayanan ini. Pemuridan yang identik dengan pertemuan fisik dalam kelompok kecil “terpaksa” dikemas dengan maneuver lain, agar tidak jalan di tempat.

Salah satu cara agar tetap mempelajari firman Tuhan dalam kelompok sambil menaati protokol kesehatan adalah bertemu secara daring. Awalnya terasa canggung berbincang dalam ruang virtual, tetapi lama-kelamaan menjadi lebih terbiasa. Kendati demikian, tidak dapat dipungkiri ada keterhilangan besar dalam pemuridan di tengah kondisi seperti ini. Mungkin sebagian dari kita mulai mempertanyakan, apakah ini efektif? Apakah pemuridan yang kukerjakan ini berdampak terhadap orang-orang yang dimuridkan, dan terhadap diriku sendiri? Mengapa ada rasa jenuh dan terpaksa? Pertanyaan-pertanyaan ini biasanya muncul di benak orang yang mengupayakan pemuridan, hanya saja teramplifikasi dalam keadaan krisis seperti ini.

Saya pun bergumul dengan pertanyaan dan keraguan yang sama. Kasih mula-mula saya terhadap pemuridan perlahan terkikis sejak awal tahun 2020. Timbul rasa nyaman ketika ada alasan untuk tidak perlu memuridkan atau dimuridkan, seperti “tidak boleh keluar rumah dan harus meminimalisir kontak langsung dengan orang lain.” Namun setelah pemuridan melalui aplikasi video call mulai marak, alasan itu berganti menjadi, “sepertinya tidak efektif, tidak ada relasi yang autentik jika hanya bertemu secara daring.” Jujur, keadaan ini menarik semua orang keluar dari zona nyaman, dan saya mencari alasan agar tetap berada di situ. Tapi di satu sisi, tidak akan ada pertumbuhan di dalam zona nyaman. Dan saya harus keluar dari kenyamanan semu ini kalau saya ingin bertumbuh dalam iman dan melaksanakan Amanat Agung Tuhan Yesus (Mat. 28:18-20).

Teringat ketika remaja, dalam suatu khotbah saya diperkenalkan pada pemikiran Dietrich Bonhoeffer. Pemikiran itu terus saya bawa sampai bertahun-tahun kemudian. Setelah saya menjadi mahasiswa kedokteran semester 5 dan terlibat dalam pelayanan Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) di bidang pemuridan, saya berkesempatan untuk berkata kepada adik-adik tingkat saya, “Kekristenan tanpa pemuridan adalah kekristenan tanpa Kristus.”1 Kata-kata Bonhoeffer ini begitu berkesan di benak saya. Setiap saya memperkenalkan pemuridan, saya selalu mengutip kata-kata ini yang seakan-akan berkata, Mau kenal Yesus? Tidak ada cara lain: Anda harus dimuridkan.

Kutipan Bonhoeffer itu menjadi salah satu pendorong bagi saya untuk bertahan dalam kelompok pemuridan mahasiswa kedokteran yang memiliki tantangan tersendiri, baik sebagai yang dimuridkan maupun yang memuridkan. Tantangan eksternal seperti jadwal kuliah yang padat, kesibukan mahasiswa dalam organisasi, dan upaya mempertahankan pergaulan serta rekreasi, telah menggeser pemuridan dari prioritas mahasiswa Kristen. Belum lagi tantangan internal seperti belum memiliki kerelaan untuk dimuridkan atau memuridkan, yang semakin menjauhkan mahasiswa dari kelompok pemuridan. Ditambah dengan keunikan PMK, yaitu interdenominasi, yang jika dipahami dari perspektif yang salah, akan menimbulkan masalah lainnya. Sesungguhnya, jika bukan karena kasih karunia Allah, mustahil seorang mahasiswa kedokteran menginginkan pemuridan di tengah segala tantangan yang ada.

Jika kita percaya, bahwa tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari (Pkh. 1:9), seharusnya sikap kita pun demikian terhadap tantangan dalam pemuridan. Tidak ada sesuatu yang baru, termasuk pandemi. Mungkin kemasannya saja yang terlihat baru, padahal di zaman mana pun kesulitan akan tetap ada. Kesulitan membuat jadwal untuk belajar firman Tuhan bersama, itu pun bukan muncul sejak pandemi. Itu adalah masalah klasik dalam pemuridan mahasiswa. Kesulitan menghidupkan suasana dalam kelompok pemuridan juga sudah ada sejak dahulu, bukan semata-mata karena pertemuan daring. Keengganan dan kemalasan untuk terlibat dalam pemuridan selalu dapat ditemukan kapan pun dan di mana pun, bukan dipicu oleh terlalu lama diam di rumah. Jika kita benar-benar beriman kepada Allah yang berdaulat, selayaknya kita menghadapi pandemi dengan pemahaman bahwa ini bukanlah hal baru yang menakutkan. Ini adalah masalah dan dosa kronis yang diberi kemasan baru. Dan berita baiknya: kemasan seperti apa pun dapat dikalahkan.

Agaknya kita perlu terus-menerus mengingatkan diri kita akan perkataan John Piper, bahwa hidup ini bukanlah permainan dengan peluang.2 Pengharapan kita bukanlah dalam peluang; mungkin bulan depan kita akan terbebas dari COVID-19, mungkin vaksin akan menyelamatkan keadaan Indonesia, mungkin, mungkin, mungkin. Walaupun perhitungan matematik itu ada untuk menolong manusia, kehidupan sama sekali tidak ditentukan oleh hal tersebut. Pengharapan kita hanyalah di dalam Allah. Seharusnya tak ada satu tantangan pun yang mampu memadamkan api semangat para penggiat pemuridan. Allah yang berdaulat atas pandemi, berdaulat juga atas pemuridan yang dikerjakan oleh anak-anak-Nya.

Salah satu bukti nyata bahwa Allah berkuasa dan tetap memelihara pemuridan pada masa pandemi ini adalah bangkitnya kelompok-kelompok pemuridan yang sudah lama tidak berjalan. Sebelum pandemi, mungkin banyak pemuridan yang berhenti karena anggota-anggotanya berpindah domisili dan tertelan kesibukan masing-masing, sehingga relasi yang begitu erat perlahan memudar. Tetapi pandemi ini menunjukkan, bahwa pemuridan dan relasi tetap dapat dibangun melalui pertemuan virtual. Saya merasakannya secara pribadi. Saya meninggalkan kelompok pemuridan yang saya miliki semasa remaja, ketika saya harus tinggal di luar kota untuk kuliah. Di masa pandemi ini, kami memulai lagi kelompok pemuridan ini. Saya akui, kalau bukan karena pandemi, cara ini mungkin tidak akan terpikirkan. Cara yang dahulu dianggap remeh dan tidak efektif, kini menjadi jalan keluar yang sangat disyukuri. Siapa sangka bahwa kelompok-kelompok pemuridan yang sudah tidak berjalan sebelum pandemi dapat dibangkitkan kembali, apalagi melalui metode daring yang dulu dipandang sebelah mata?

Sungguh bersyukur, di saat saya membuat tulisan ini, saya masih bergumul dalam pemuridan. Menyadari dan bergantung pada kedaulatan Allah tidak berarti mengubah kenyataan bahwa situasi tetap sulit. Meskipun semua anggota kelompok yang saya muridkan berada di satu kota yang sama, kami tetap bertahan menggunakan aplikasi video call untuk mengurangi risiko penyebaran COVID-19. Saya harus memilih untuk fokus pada berkat yang Tuhan sediakan, yaitu pemuridan yang masih dapat berjalan, daripada kesulitan-kesulitan yang dihadapi. Allahlah yang menjamin pertumbuhan rohani; bukan saya sebagai guru, bukan pertemuan tatap muka, ataupun faktor lain.

Yang saya pelajari dari pemuridan yang saya perjuangkan saat pandemi ini adalah: Apa lagi alasanmu untuk berhenti memuridkan atau dimuridkan? Sejak Yesus memberikan teladan melalui gaya pemuridan yang relasional dan kental berbagi hidup, sekitar 2000 tahun yang lalu, sampai sekarang ini, manusia telah begitu banyak melewati perubahan zaman. Di dalamnya terkandung masa kelam seperti penyiksaan terhadap orang Kristen, wabah penyakit yang mendunia (seperti black death,yang bahkan lebih mematikan daripada COVID-19, ditambah kurangnya pengetahuan dan sarana medis pada waktu itu)3, penyelewengan terhadap firman Tuhan secara sistematis dan masif, dan masih banyak yang lain. Tapi toh, pemuridan boleh tetap bertahan sampai zaman ini. Hal ini membuktikan bahwa Allah berdaulat atas segala zaman dan Ia mampu memelihara pemuridan pada masa sesulit apa pun, tidak terkecuali pada pandemi COVID-19 ini.

Kiranya hal ini menjadi pengingat bagi setiap penggiat pemuridan, Allah tentu tidak bermaksud memusnahkan pemuridan ketika Ia mengizinkan pandemi terjadi. Kita yakin, Ia mengajarkan bahwa kita sepenuhnya bergantung kepada Dia; bukan pada keadaan yang baik, kemampuan dalam memuridkan, kemudahan untuk berkumpul, atau apa pun juga. Ia juga mengajarkan bahwa tidak ada satu alasan pun yang layak untuk menghentikan seseorang dibina atau membina melalui pemuridan, karena Ia menyediakan jalan keluar bagi setiap masalah. Roh Kudus masih dan akan terus memimpin setiap orang percaya untuk melayani dan membawa orang-orang mengenal Allah yang benar melalui pemuridan. ( Mahasiswa profesi dokter, Fakultas Kedokteran UNS, Surakarta)

*) Ilustrasi gambar diambil dari https://www.faithward.org/how-people-can-help-you-follow-god


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES