more"/> more">
MEMURIDKAN DENGAN KUASA
Last Updated : Mar 12, 2021  |  Created by : Administrator  |  252 views

“Aku hanya tahu satu hasrat… dan itu adalah Dia”

Ludwig von Zinzendorf

 

Oleh Akhung Berithel Ina,S.T

Zinzendorf (1700-1760), seorang pelopor misi Kristen yang dikenal sebagai seorang yang penuh hasrat dan berapi-api dalam kegerakan misi kaum Moravia. Ia memiliki kerinduan untuk memobilisiasi pekerja misi ke tempat-tempat terjauh di bumi. Ia memulai gerakan doa 24 jam untuk bersyafaat bagi dunia, dan tak putus selama 100 tahun. Dan hasilnya, hanya dalam 20 tahun, kaum Moravia telah mengutus lebih banyak misionaris dibanding kelompok Protestan dan Anglikan dalam 200 tahun sebelumnya. Sebuah teladan tentang bagaimana “kuasa” hadir justru dalam ketekunan akan doa.

Strategi dalam pemuridan sangat penting! Apalagi masa-masa ini kesadaran gereja dan komunitas Kristen terhadap pentingnya pemuridan bertumbuh pesat, dimana semakin banyak pelatihan, seminar, hingga uji coba penerapan model dan strategi pemuridan. Namun segala strategi itu akan menjadi program kering dan tidak ada artinya tanpa kuasa, karena esensi pemuridan adalah mengubahkan hidup murid menuju keserupaan dengan Kristus, yang pada dasarnya membutuhkan kuasa untuk melakukan perubahan dari dalam. Lantas bagaimana kuasa transformatif dari pemuridan bisa dialami oleh murid Kristus?

 

Kristus : Sang Empunya Kuasa

“Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi…” (Matius 28:18)

Amanat untuk pergi dan menjadikan murid dimulai dengan pernyataan Yesus akan otoritas dan kuasa-Nya di sorga dan bumi. Dan di bawah otoritas dan kuasa-Nya lah para murid di utus untuk memberitakan injil dan menjadikan murid. Dalam budaya kerajaan, seorang utusan tidak pergi atas nama dirinya sendiri, tapi atas nama sang raja pemilik otoritas. Penerimaan maupun penolakan terhadap sang utusan sama dengan penerimaan atau penolakan terhadap raja. Betapa pentingnya kita sebagai murid menyadari hal ini, bahwa panggilan menjadikan murid diberikan oleh Sang Empunya Kuasa, sehingga kita mengerjakannya bukan dengan takut atau enggan, namun dengan penuh hasrat dan ketaatan. Tidak berhenti di situ, Amanat Agung diakhiri dengan sebuah janji dan jaminan yang indah: “….Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman (Mat. 28:20)”.

 

Doa : Kuasa dari Kebergantungan

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman… Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya…“ (Lukas 6:12-13)

Doa menjadi salah satu ciri utama pelayanan Yesus. Tepat sebelum Yesus memanggil murid-murid-Nya, Dia memulainya dengan doa. Dia memulai pelayanannya dengan berpuasa 40 hari. Yesus pun berdoa sebelum Dia beralih dari satu kota ke kota lain untuk memberitakan injil (Markus 1:35-38).

Hudson Taylor, seorang tokoh misi memiliki semboyan “kami ingin melihat orang-orang digerakkan oleh Allah – hanya melalui doa.” Di dalam 15 tahun pelayanan saya dalam  pemuridan, saya menemukan bahwa  justru di dalam gerakan dan ketekunan berdoa, seringkali Tuhan sudah bekerja terlebih dahulu  untuk mempersiapkan calon-calon murid yang kelak menjadi penggerak pelayanan, dan hidup mereka dipakai Tuhan di dalam profesi mereka.

Jika Yesus, Allah yang menjadi manusia begitu bergantung di dalam doa ketika Dia memilih murid dan melakukan misi-Nya di dunia, apalagi kita?

 

Roh Kudus : Pemberi Kuasa, Penggerak dan Pengutus

“Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8)

Anda telah diberikan kuasa! Kini kuasa itu bukan hanya milik Kristus. Tapi kehadiran Roh Kudus memberikan para murid kuasa untuk menjadi saksi-Nya. Hal itu yang nampak dengan jelas dalam kitab Kisah Para Rasul, dimana kitab ini menjadi bukti penggenapan janji Kristus akan kuasa, dimana para murid digerakan untuk bersaksi, berapapun harga yang harus dibayar. Roh Kudus yang sama juga akan senantiasa menggerakan dan mengutus murid masa kini untuk berjuang demi Injil, bukan dengan ketakutan, namun dengan penuh kuasa.

 

Firman Tuhan : Kuasa Untuk Mentransformasi

“Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran…. diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Timotius 3:16-17)

Dalam banyak kasus, pemuridan sering dimaknai hanya sebagai program kelompok kecil yang sekedar menjadi semacam “klub rohani” dan tempat sharing yang nyaman, tanpa penundukan diri untuk ditransformasi oleh Firman. Komitmen dan konsistensi untuk mempelajari dan mengaplikasikan firman Tuhan melalui disiplin-disiplin rohani dasar seperti saat teduh, PA, dan proyek ketaatan berdasarkan Firman adalah esensi dasar yang tidak boleh hilang dan terus menerus diperjuangkan, karena dari situlah sumber transformasi murid, guna memperlengkapi kita untuk setiap perbuatan baik. 

 

Kuasa Pemuridan : Perintah untuk Menghadirkan Kerajaan Allah di Bumi

Yesus hadir bagi mereka yang termarginalkan pada masanya: para pendosa, pemungut cukai, perempuan, anak-anak, hingga orang asing. Gereja mula-mula dikenal akan kasih dan tindakan membagi-bagikan harta kepada para janda dan orang miskin. Zinzendorf dikenal sebagai tokoh yang mengkritik perbudakan pada masanya. Dan masih banyak lagi kisah-kisah sejenis. Semua itu adalah buah dari transformasi hidup orang percaya, dimana Terang Kristus begitu jelas bersinar, hingga tidak mungkin disembunyikan. Pada akhirnya kuasa pemuridan tidak hanya sekedar membawa orang ke sorga, namun justru menghadirkan kerajaan Allah di muka bumi. (*Penulis melayani Pelayanan Mahasiswa di Surabaya)

*) Ilustrasi gambar diambil dari  https://www.friendshiptaipei.com/discipleship-classes


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES