more"/> more">
Maximum Disciples in the Time of Crisis
Last Updated : Mar 26, 2021  |  Created by : Administrator  |  76 views

Oleh Rabea Merry.S,STh, M.Th

 

Saat ini banyak gereja dan lembaga pelayanan Kristen kembali memperhatikan pelayanan pemuridan. Di masa pandemi ini, pemuridan dalam kelompok kecil menjadi program pilihan favorit.  Namun apa sebenarnya yang dipahami gereja dan lembaga-lembaga Kristen tentang pemuridan? Apakah pemuridan hanya dipahami sebagai sebuah pertemuan rutin seminggu sekali, yang diisi dengan doa, membaca Alkitab, dan sharing tentang kehidupan? Pemuridan yang sesungguhnya lebih dari itu.

Yesus tidak menetapkan waktu pertemuan dengan para murid-Nya untuk percakapan singkat seminggu sekali selama tiga tahun. Yang dilakukan-Nya adalah mentransfer hidup-Nya kepada murid-murid agar mengikuti Dia dan menjadi serupa dengan-Nya. Pemuridan merupakan arena untuk mencetak pria atau wanita agar memiliki arah hidup baru sebagai murid Kristus, yang memiliki hubungan intim dengan-Nya, memiliki perubahan karakter ke arah kepenuhan-Nya, dan sanggup menjangkau orang lain dengan Injil-Nya.

Pemuridan adalah proses membagi Injil Allah dan juga membagi hidup kepada setiap orang yang terlibat dalam proses ini. Itu sebabnya Rasul Paulus memberitahu jemaat Tesalonika, “Demikianlah kami, dalam kasih sayang yang besar terhadap kamu, bukan saja rela membagi Injil Allah dengan kamu, tetapi juga hidup kami sendiri dengan kamu, karena kamu telah kami kasih” (1 Tes.2:8). Namun yang menjadi pertanyaan, apakah dalam masa krisis pandemik pemuridan dapat dikerjakan secara maksimal? Bagaimana caranya sehingga pemuridan dapat maksimal dalam waktu krisis?

Rasul Paulus mengatakan kepada Timotius  “Beritakan firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktu, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran” (2 Tim. 4:2). Paulus mengingatkan Timotius untuk tetap memberitakan firman Tuhan karena akan ada waktunya, dimana orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat. Karena itu Paulus juga mengatakan kepada Timotius Apa yang telah engkau dengar dari padaku di depan banyak saksi, percayakanlah itu kepada orang-orang yang dapat dipercayai, yang juga cakap mengajar orang lain.” (2 Tim 2:2). Inilah proses pemuridan yang terjadi dari Paulus kepada Timotius, dan dari Timotius kepada orang-orang yang cakap untuk mengajar. Paulus memberikan surat penggembalaan ini sebagai suatu arahan standar untuk digunakan dalam kondisi apapun. Tujuannya supaya terjadi pelipatgandaan dan pelayanan semakin maksimal dalam menjangkau banyak jiwa. Nasihat Paulus ini juga berlaku untuk kita saat ini. Lalu bagaimana memaksimalkan pemuridan dalam masa krisis bisa dilakukan?

 

Menghidupi Visi Pemuridan

Visi pemuridan adalah menjadikan semua bangsa murid Kristus, sebagaimana dinyatakan Matius 28:19, “Karena itu pergilah, jadikalah semua bangsa murid-Ku...” Visi Kerajaan Allah dapat terwujud melalui visi pemuridan ini. Menghidupi visi pemuridan terus menerus dalam masa-masa krisis akan memaksimalkan pelayanan ini. Visi menggerakkan kita untuk melakukan hal yang melampaui kondisi sulit. Hal itu ditunjukkan oleh Paulus Ketika ia berhadapan dengan Raja Agripa: “Sebab itu ya raja Agripa, kepada penglihatan yang dari sorga itu tidak pernah aku tidak taat” (Kis. 26:19). Visi memberikan keberanian kepada Paulus untuk berhadapan dengan segala situasi termasuk situasi krisis.

Visi juga memberi semangat bagi Paulus untuk setia memuridkan Timotius. Ketika Paulus sedang dalam penjara, ia mengirimkan surat-surat penggembalaannya serta nasihat-nasihat kepada anak-anak rohaninya. Situasi sulit dalam penjara yang membatasi ruang geraknya tidak menghalanginya untuk terus memuridkan, hal itu terjadi karena Paulus menghidupi visi pemuridan.

 

Menjalankan Visi Pemuridan

Visi tanpa misi hanyalah sebuah mimpi. Karena itu visi pemuridan harus dikerjakan dan diwujudkan. Memaksimalkan pelayanan pemuridan dalam masa krisis tidak cukup hanya menghidupi visi, tetapi juga harus menjalankan misi pemuridan tersebut.  Misi pemuridan bisa dilakukan melalui pembinaan, pelipatgandaan serta pengutusan. Namun dalam masa pandemi diperlukan terobosan-terobosan agar misi dikerjakan tepat sasaran, dan visi bisa tercapai.

Beberapa hal yang dapat dilakukan agar misi pemuridan dapat berjalan dengan baik. Yang pertama, memaksimalkan pelayanan pemuridan dalam masa krisis dapat dilakukan dengan membangun inisiatif. Inisiatif artinya membuat langkah pertama dalam mengusahakan sesuatu. Langkah awal yang bisa dilakukan adalah tetap terhubung dengan Tuhan dalam doa. Proses pemuridan yang berjalan harus diserahkan kepada Tuhan, agar Dia memelihara setiap murid yang kelak akan menjadi pembuat murid. Paulus pun mengingat orang-orang yang telah dimuridkan dalam doanya: “Dan inilah doaku, semoga kasihmu makin melimpah dalam pengetahuan yang benar dan dalam segala macam pengertian…” (Fil.1:9). 

Selain itu, Paulus juga membangun inisiatif untuk tetap terhubung dengan orang-orang yang dimuridkan, dengan cara mengirimkan surat kepada mereka. Surat-surat kepada jemaat yang dikirim Paulus merupakan cara yang dapat memaksimalkan pemuridan dalam masa krisis yang dia alami.

Yang kedua adalah menciptakan kreatifitas. Ketika berada dalam suatu tekanan biasanya akan muncul banyak kreatifitas. Kreatifitas adalah proses mental yang melibatkan pemunculan gagasan atau konsep baru, atau hubungan baru antara gagasan dan konsep yang sudah ada. Pemuridan dapat dikerjakan secara maximal dalam masa krisis apabila kita memiliki dan mengembangkan kreatifitas. Contoh pelayanan pemuridan dari pertemuan face to face diganti dengan virtual. Proses belajar kebenaran firman Tuhan, transfer hidup, bahkan nilai-nilai pemuridan seperti listening, engagement, trustworthy, dan obedient dapat diterapkan secara kreatif dalam pelayanan online.   

Yang terakhir adalah memanfaatkan media. Pandemi membawa banyak perubahan dalam pola pelayanan pemuridan. Pelayanan pemuridan yang biasanya dikerjakan dalam pertemuan-pertemuan tatap muka langsung telah berubah menjadi pertemuan online, yaitu perjumpaan di layar virtual. Semua ini tidak menjadi kendala dalam memaksimalkan pemuridan dalam masa krisis, sebab pemanfaatan media yang tepat akan memberi dampak dan pengaruh baik bagi pemuridan. Media menjadi sarana untuk memaksimalkan pelayanan pemuridan.

Rasul Paulus pun memanfaatkan media untuk menyampaikan surat-suratnya. Ia memanfaatkan media yang berkembang saat itu, yaitu menulis surat. Melalui surat-surat penggembalaanya kita dapat mengetahui kebenaran tentang Yesus Kristus, yang menjadi inti dari pemberitaannya. Karena itu, masa krisis bukan penghambat bagi pemuridan. Justru murid yang berkembang dalam masa krisis akan menjadi murid yang kuat dan tahan uji. 

(* Penulis adalah Pimpinan Cabang Perkantas NTT dan melayani Pelayanan Siswa)

*Ilustrasi gambar diambil dari https://churchcommunications.com/3-ways-to-do-online-discipleship/


Subscribe To Our Newsletter
Subscribe to catch our monthly newsletter, latest updates, and upcoming events
RELATED UPDATES